4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Tidak Akan Ada Yang Berubah, Ibu Dan Seno Akan Tetap Dan Selalu Menyayangimu


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


Setelah menyelesaikan makan malam bersama. Rana membuka pembicaraan dengan mengatakan jika tadi sore dia pergi ke Rumah Aurel.


Dan Rana juga menceritakan jika dia telah melakukan pemeriksaan pada dokter kandungan.


Dan tentu saja hal ini membuat semua terkejut.


"Kenapa kau tidak bilang padaku, aku kan bisa menemani mu,"kata Seno.


"Benar Nak, kenapa kau juga tidak bilang pada ibu, ibu juga akan menemani jika ibu tau kau melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan."Antusias Lina, karena sejak dulu wanita ini ingin mengajak menantu dan anaknya ke dokter kandungan. Guna konsultasi. Tapi Lina takut ajakannya akan membuat Seno dan Rana tidak nyaman.


"Maaf, Bu, Mas. Sebelumnya aku tidak merencanakan ini, jadi aku tidak mengatakannya."


"Lalu apa yang dokter katakan?"


Tanya Lina. Dan pertanyaan ini membuat dada Rana berdenyut. Tapi dia harus menjawab pertanyaan itu dengan sebenar-benarnya.


Rana mengeluarkan amplop putih yang berlogo nama rumah sakit tempatnya bekerja sekaligus melakukan pemeriksaan.


Dia meletakkannya di atas meja dan mendorongnya di hadapan Seno.


"Apa ini?"tanya Seno.


Dengan dada yang bergemuruh, Rana menjawab.


"Di situ, hasil dari pemeriksaan yang aku lakukan siang tadi."


Seno meraih Amplop putih tersebut, dan secara perlahan dia membukanya.


Seno membaca setiap tulisan yang tersusun rapih di kertas putih itu, kertas yang menunjukkan hasil detail pemeriksaan atas nama Kirana.


Bola mata lelaki itu naik turun di saat dia menggulir setiap baris kata demi kata yang ada di sana.


Sementara Rana hanya tertunduk, dia tidak sanggup melihat ekspresi kecewa di wajah suami dan juga mertuanya.


"Seno, bagaimana dengan hasilnya? Semua baik-baik saja kan?"tanya Lina.


Seno tidak menjawab, dia malah menghela nafas panjang lalu melipat kembali kertas itu dan meletakkannya di atas meja. Lina yang penasaran langsung meraihnya lalu membaca dengan sangat teliti.


*


*


*


*


Hening!


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari keempat manusia yang tengah duduk di sana.


Dan Rana pun masih belum berani mengangkat wajahnya, karena dia tidak sanggup untuk melihat semuanya.


Lina memasukan kembali kertas itu kedalam amplop, dan memberikannya pada Seno setelah sebelumnya kakek Arif pun membaca hasil yang ada di sana.


"Jadi, karena ini kau menjadi murung dan sedih, bahkan kau sampai pergi tidak mengabari ku,"ucap Seno yang memecahkan suasana hening di meja makan itu.


Rana langsung mengangkat wajahnya dan menatap Seno.


"Mas! Aku...!"


KREEEKK..


Suara kursi terdorong menghentikan ucapan Rana.


Seno bangkit dari duduknya, itu yang membuat kursi terdorong.


Lelaki itu berjalan memutari meja untuk menuju ke Rana yang berada di hadapannya, yang hanya terhalang meja besar.


Rana sudah menduga, sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ya, pasti ini terjadi, Mas Seno pasti akan kecewa. Begitu juga dengan ibu, beliau pasti jauh lebih kecewa. Batin Rana.


Seno langsung memeluk istrinya dari belakang. Membuat Rana yang tengah berfikir buruk terkejut.


"Mas!"


"Kenapa? Kenapa kau bersedih karena hasil dari pemeriksaan itu? hal buruk apa yang kau pikirkan sampai kau menghilang selama 3 jam, membuatku hampir mati karena mengkhawatirkan mu."


Rana terdiam, dia tengah merasakan pelukan hangat dari Seno yang mampu menenangkan hatinya, setelah beberapa saat Rana kembali bersuara.


"Aku takut Mas, aku takut kau dan ibu kecewa padaku, dan aku juga takut kalian tidak lagi menyayangi dan menerimaku, karena kondisiku yang sulit mendapatkan momongan. Bahkan sangat sulit."Kata Rana dengan suara parau.


"Kecewa? Kenapa aku harus kecewa dengan diagnosis dokter? Aku tidak perduli dengan diagnosis dokter itu."


"Mas!"


Seno membalikkan badan Rana agar menghadap kearahnya.


"Sayang! Aku tidak perduli dengan apapun yang Dokter katakan di kertas itu, dan aku tidak akan mengharap apapun dari mu selain kau tetep bersamaku untuk selamanya,dan tetep mencintaiku. Ada dan tidak ada kehadiran anak di antara kita, itu tidak akan membuat rasa cinta dan sayangku memudar walau hanya sebutir debu. Aku akan tetep mencintai dan menyayangimu. Apapun yang terjadi."


Seno mengusap wajah istrinya, lalu dia mendaratkan ciuman di kening Rana.


"Tolong! Jangan buat aku seperti di ujung kematian karena melihatmu bersedih."


Rana sungguh tidak menyangka jika seperti ini jadinya, apa yang dikatakan Aurel benar, semua ketakutan yang meliputi hatinya tidak akan terjadi. Seno menerima apa yang terjadi dengan kondisinya saat ini.


Tapi.. Bagaimana dengan Lina.


Rana melihat kearah ibu mertuanya yang masih duduk di tempat semula.


Dan saat Rana menatapnya, Lina bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri Rana.

__ADS_1


"Kenapa? apa kau juga berpikir ibu akan kecewa, dan tidak akan menyayangimu lagi hanya karena selembar kertas yang diberikan dokter kepadamu?"


"Bu, aku minta maaf!"kata Rana dengan suara pelan.


"Kenapa harus minta maaf? kau tidak mempunyai salah apapun kepada ibu, dan kau sama sekali tidak pernah membuat ibu kecewa."Lina meraih tangan Rana.


"Nak, ibu minta maaf, mungkin karena ibu yang terlalu berlebihan mengharapkan cucu membuatmu jadi sedih seperti ini. Tapi harus kau tahu, tidak ada hal yang jauh lebih membahagiakan ibu selain kau menerima Seno kembali dalam hidupmu, kau menerima Seno dengan sangat tulus setelah apa yang Seno lakukan padamu dulu. Dan ibu sangat berterima kasih, ibu sudah bahagia akan hal itu. Ibu tidak akan mengharapkan apapun darimu selain kau tetap bersama Seno dan berbahagia selalu."


Lina mengusap air mata yang mengalir di pipi Rana.


"Bukankah, keluarga kita sudah cukup bahagia saat ini. Apakah ibu harus menjadi manusia yang serakah dengan melawan takdir Tuhan hanya karena keinginan ibu. Rana jangan pikirkan apapun, bahagia lah selalu dengan Seno karena itu sudah sangat membuat ibu bahagia lebih dari apapun. Sekalipun Tuhan tidak mengijinkan ibu untuk memiliki cucu dari kalian, itu tidak akan merubah segalanya. Ibu dan Seno akan tetap menyayangi dan mencintaimu. Kau akan tetap menjadi menantu kebanggaan dan kesayangan itu tidak akan ada yang berubah."


Rana benar-benar terharu dengan kebaikan dan ketulusan hati ibu mertuanya.


Rana merutuki dirinya sendiri yang sempat meragukan ketulusan Lina dengan mengira Lina akan marah dan kecewa padanya. Padahal Rana tahu setulus apa dan se sayang apa Lina kepada dirinya.


Rana langsung menghamburkan diri memeluk Lina.


"Terima kasih Bu, Terima kasih karena selama ini ibu selalu menyayangiku dan mendukungmu."


"Ibu juga berterima kasih padamu, untuk semuanya."


"Apa kalian hanya akan berpelukan bertiga saja!"


Kakek Arif yang sejak tadi diam menyaksikan suasana harus di depan matanya kini bersuara karena ingin masuk ke suasana bahagia itu. Dan mereka bertiga pun segera langsung memeluk kakek Arif.


✨✨✨


Beberapa hari berlalu.


Semua yang ditakutkan Rana benar-benar tidak terjadi, bahkan Seno dan Lina semakin menyayanginya.


Tapi Seno dan Lina tetap meminta Rana untuk melakukan pengobatan seperti yang disarankan oleh dokter. Ini Seno lakukan demi kesehatan istrinya, karena Rana sangat terganggu dengan nyeri haid yang berlebihan bahkan sampai membuat Dia demam.


Seno yang semakin cinta, selalu siap siaga untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.


Karena dokter menyarankan Rana untuk beristirahat dengan baik dan mengurangi aktivitasnya, Seno meminta istrinya itu untuk tidak lagi bekerja. Dan Rana pun mengiyakan permintaan Seno karena ini demi kesehatannya.


***


"Aku pergi bekerja dulu ya sayang! Seperti biasa, aku akan makan siang di Rumah."Kata Seno sambil mencium kening istrinya.


"Iya Mas, siang nanti kau mau makan apa?"


Mendengar pertanyaan itu Seno langsung berekspresi seperti sedang berpikir keras.


"Siang nanti, sepertinya aku ingin memakan mu!"


Rana menggeleng, karena lagi-lagi Sono seperti ini.


"Mas, aku sedang serius."


"Aku juga serius."


Rana menyesal karena mempertanyakan itu.


"Bagaimana apanya?"


"Menu makan siang ku."Sahut Seno sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku akan masak seperti kemarin."Jawab Rana dengan cepat.


"Tidak apa-apa kau mau memasak makanan apapun, aku akan menghabiskan. Tapi sebelumnya itu aku minta menu yang pertama tadi. Yaaa..!"Rengek Seno.


"Mas...!"


"Ok!"potong Seno cepat. Menandakan sepihak jika Istrinya itu menyetujui dengan menu pertamanya,"Terima kasih sayang!"sambungnya.


*


*


*


*


"Mas, sore nanti aku pergi dengan ibu untuk berbelanja."Pamit Rana.


"Baik, aku akan mengantarnya."


"Tidak perlu Mas, hari ini kau ada latihan sampai malam kan! Lakukan saja pekerjaanmu, aku pergi bersama ibu diantar dengan Pak sopir, aku janji akan baik-baik saja."


Seno mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya."


"Iya Mas, berhati-hatilah di jalan."


"Iya sayang!"


Seno segera melangkah keluar dari pintu, namun baru saja dia mengayun kakinya lelaki itu kembali berhenti.


"Ada apa Mas? Apa ada sesuatu yang tertinggal?"


"Tidak ada."


"Lalu kenapa, ayo cepat masuk kedalam mobil, kau bisa terlambat."


"Sayang, bagaimana kalau aku tidak usah berangkat kerja?"


Seketika Rana mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Aku merindukan mu, aku ingin di rumah saja."

__ADS_1


Rana menghela nafas panjang. Bagaimana bisa keluar kata merindukanmu itu, sedangkan setiap hari mereka selalu bertemu.


"Mas, kau harus tetap bekerja."


"Tidak harus sayang, uangku sudah cukup banyak. Tidak bekerja selama beberapa tahun pun kita tidak akan kelaparan."Jawab Seno, yang semakin membuat Rana sakit kepala.


"Tapi kau harus tetep berangkat Mas, bukankah Dika sedang berada di luar kota. Tidak akan ada yang memimpin Tim-mu nanti, dan banyak yang membutuhkanmu di luar sana."


"Baiklah!"Pasrah Seno, dan dengan langkah gontai, Seno menuju mobilnya.


***


Sore hari.


Seperti apa yang dia katakan pada Seno Jika sore ini Rana pergi berbelanja dengan ibu mertuanya.


"Rana, apa kabar yang ibu dengar ini benar, jika Aurel dan Ardi akan menikah?"tanya Lina, di saat dia dan Rana tengah memilih bahan-bahan makanan di Supermarket.


"Iya Bu, tapi aku tidak tahu kapan hari dan tanggalnya, karena Aurel belum memberi tahu ku, dia hanya mengatakan jika kemarin Ardi melamarnya. Dan Aurel menerima pinangan Ardi."


"Semoga, semua niat baik mereka dilancarkan. Tapi Ibu kasihan dengan Dika, semoga saja dia bener-bener bisa melupakan Aurel."


Rana mengaguk.


"Iya Bu, semoga saja."


BUG!


Di saat sedang berjalan pelan, Lina tidak senaja di tabrak seseorang.


"Maaf! Maaf saya tidak senaja." Panik orang yang menabrak Lina.


"Iya tidak apa-apa, saya juga salah karena tidak hati-hati."Sahut Lina.


"Ibu Lina!"panggil orang yang menabraknya dengan ekspresi terkejut.


"Ibu Winda."Dan ternyata orang itu adalah Winda.


"Ya ampun, sudah lama kita tidak bertemu ya Bu, senang bisa bertemu kembali dengan anda di tempat ini,"sapa Winda dengan ramah lalu dia beralih kepada Rana yang berdiri di sebelah Lina.


"Rana, Bagaimana dengan kabarmu sekarang sudah lama tante tidak bertemu denganmu, kau tahu kan kabar tentang Windy yang pindah ke luar negeri?"


"Aku tahu Tante, dan aku baik-baik saja."Sahut Rana dengan singkat.


"O.. Iya, beberapa hari yang lalu Tante melihatmu di rumah sakit, dan kau tengah berada di ruangan spesialis kandungan. Tante pikir saat ini kau sedang hamil, tapi ternyata tidak! Tante turut prihatin dengan apa yang terjadi kepadamu Rana,"kata Winda yang entah dari mana dia mengetahui kabar itu.


Meskipun bingung dan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dari Winda, Rana tetap mencoba tersenyum dan menjawabnya dengan kata terima kasih.


Tidak cukup dengan Rana, Winda beralih kepada Lina.


"Bu, sayang sekali di usia tua ini Anda tidak akan pernah merasakan memiliki cucu, saya sangat prihatin dan bersedih, jika saya yang ada di posisi Anda pasti saya tidak sekuat Ibu Lina."Kata Winda dengan raut wajah yang ia buat sedih.


Sama seperti Rana, Lina pun menimpalinya dengan biasa-biasa saja.


"Ayo Bu kita kesana."Ajak Rana pada Lina, dia tidak ingin berlama-lama dengan wanita yang sudah pasti akan memancing emosinya.


"Kenapa buru-buru sekali Rana, apa kau merasa tersinggung dengan kata-kata Tante? Bukankah itu benar jika kau tidak akan bisa memberikan cucu pada Mertuamu ini!"


Kata-kata tajam tanpa filter dari Winda, sukses memancing Rana.


"Sabar Rana, tahan emosimu ini tempat umum." Batin Rana.


Namun Winda tidak memperdulikan jika mereka sedang berada di tempat umum bahkan beberapa pasang mata memperhatikan mereka karena Winda bicara dengan nada tinggi. Karena dia kembali berucap.


"Sayang sekali, Istri yang di bangga-banggakan Seno ternyata tidak sempurna dia seorang wanita yang tidak bisa melahirkan ke....!"


PLAK!


Suara tamparan begitu kuat terdengar dan langsung memotong ucapan Winda.


Semua mata terbelalak!


Winda memegangi pipinya yang merah bahkan terlihat membiru dengan mata yang menyalang menatap Lina.


Kerena Lina lah yang melayangkan tampar kuat di wajah wanita itu.


"Jaga ucapanmu! Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berhak menyudutkan dan menghina menantu saya. Dengan segala kebaikan dan ketulusan yang Rana miliki dia sudah sangat sempurna di mata saya. Kaulah wanita hina yang hanya bisa menghina seseorang bahkan anak kandungmu sendiri."Kata Lina, tepat di hadapan Winda.


"Kau!"geram Winda.


"Ada apa? Apa kau tidak terima, bukankah benar apa yang saya katakan! Kau menghinakan putri kandungmu sendiri demi keegoisanmu."


"Cukup!"bentak Winda.


Tapi, Lina yang sudah benar-benar kehabisan stok sabar semakin mencecar wanita itu dengan berbagai fakta yang membuat Winda malu.


"Ibu tenang!"ucap Rana, dengan menyentuh lengan Lina.


"Tidak apa Rana. Wanita jahat ini memang pantas di beri sedikit pelajaran."Sahut Lina.


Winda yang malu, memutuskan untuk pergi dari sana, tapi sebelum itu Dia mengancam Lina dan Rana.


"Kalian sudah melakukan kekerasan kepada saya, dan saya perkarakan ini."


Lina terkekeh!


"Kau seharusnya beruntung hanya berhadapan dengan saya Winda, jika Seno yang mendengar kau menghina istrinya, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu."


Bersambung..


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2