
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØš
CKLEK...
Pintu kamar mandi terbuka, dan Seno segera menatap istrinya yang baru saja keluar dengan kimono yang membalutnya tubuhnya, Seno meneliti tubuh istrinya itu dari ujung kaki sampai kepalanya dengan serius dan fokus.
"Ada apa Mas?"Bingung Rana.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa denganmu, aku sudah merasa sangat khawatir karena ku sangat lama di dalam kamar mandi. Lain kali jika ada aku di dalam kamar dan rumah kau tidak perlu mengunci pintunya."Lega Seno.
"Khawatir! Aku hanya 10 menit saja di dalam kamar mandi, apa itu lama."
Rana melihat gurau kekhawatiran dari mata Seno.
"Tentu saja. Ayo kemari lah, aku akan membantu untuk memakai baju."Ujar Seno dan langsung menuntun tangan Rana.
Rana yang mengingat bahwa dirinya sedang marah kepada Seno menolak.
"Aku bukan bayi yang harus dibantu hanya untuk memakai baju, aku bisa sendiri. Lebih baik kau segera mandi, Mas. Ini sudah malam kau bisa masuk angin jika mandi terlalu larut."
"Baiklah, tapi tunggu! aku sudah membuat sesuatu untukmu."Kata Seno dan dia segera mengambil satu Mangkuk Mie yang baru dia masak.
"Apa ini untuk ku?"tanya Rana yang heran.
"Tentu saja ini untukmu, memangnya untuk siapa lagi, aku memasaknya dengan sepenuh hati dan cinta hanya untukmu. Aku tahu kau sangat menyukai Mie rebus."
"Terima kasih Mas, tapi seharusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Bukankah kita baru saja selesai makan."
Seno melupakan itu, beberapa menit yang lalu ia baru saja menyudahi makan malamnya bersama Rana, dan saat itu juga dia mulai menyalahkan Dika yang merekomendasikan agar dia memasak sesuatu untuk istrinya.
"Tapi, tidak apa-apa. Aku akan memakannya, sekarang lebih baik kau segera mandi."Ujar Rana yang tidak mau membuat Seno kecewa karena sudah susah payah memasak Mie untuknya, meskipun dia masih merasa sangat kenyang.
Seno mengangguk.
"Apa kau masih Marah?"Tanya Seno.
"Tidak!"
"Jika tidak, kenapa wajahmu masih cemberut saja?"
"Aku tidak cemberut, mungkin kau salah lihat."
"Benarkah, coba aku lihat."Seno langsung menangkup Wajah Rana dengan kedua tangannya lalu ia meneliti setiap Inci wajah putih itu.
CUP! CUP! CUP!
Seno memberikan beberapa kecupan di wajah itu sambil berkata.
__ADS_1
"Di bagian sini aku melihat cemberut, dan di sini juga, seharusnya tidak usah cemberut jika aku sudah memberi kecupan di sini."
"Mas, sudah! cukup!"
"Aku tidak akan berhenti jika kau masih marah."Sahut Seno dan masih melakukan apa yang tadi dia lakukan, menghinggapi seluruh wajah istrinya bahkan sudah sampai ke bawah.
"Cukup! Mas!"
"Apa kau masih marah? jika kau masih marah aku tetap tidak akan berhenti bahkan sampai besok pagi sekalipun."
"Baiklah! Aku mengalah! aku tidak akan marah lagi kepadamu, sekarang hentikan."
Seno mengulas senyum kemenangan.
"Ternyata seperti ini cara membujuknya agar tidak marah lagi."
"Terima kasih, Sayang! aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kalau begitu aku mandi dulu kita akan memakan mie itu bersama-sama."
Seno kembali mengecup kening Rana, lalu ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
**
Di saat Rana tengah memakai perlengkapan tidurnya, perhatiannya teralihkan dengan ponsel Seno yang berkedip-kedip tapi tidak bersuara, menandakan bahwa ada panggilan masuk di ponsel lelaki itu.
Rana tidak ingin tahu karena ponsel itu adalah benda pribadi milik Seno dan dia pikir, yang menghubungi Seno adalah rekan kerjanya.
"Mas, ada yang menelpon, ponselmu sejak tadi berkedip!"panggil Rana dari balik pintu kamar mandi.
"Kau angkat saja, mungkin itu Dika atau Ibu."Sahut Seno dari dalam.
Meskipun sudah mendapatkan ijin dari si pemilik ponsel, Rana tetep tidak mau mengangkat panggilan yang tidak berdering itu. Karena Seno mematikan nada dering di ponselnya.
Karena penasaran dan ponsel terus berkedip. Rana meraihnya untuk melihat siapa si penelpon.
Tidak ada nama. Karena Seno memang tidak menyimpan nomor ponsel yang sedang menghubunginya, tapi Rana bisa melihat dari foto profil siapa si penelepon itu.
"Windy! ini Windy kan? kenapa dia menghubungi Mas Seno di malam seperti ini? apa ada sesuatu yang ingin dia tanyakan dan itu penting?"gumam Rana bertanya-tanya sambil menatap ponsel yang masih terus berkedip-kedip.
Rana kembali meletakkan ponsel itu, dia tidak berniat untuk mengangkatnya meskipun hatinya diliputi rasa penasaran untuk apa Windy menelpon Seno. Bukankah gadis itu yang mengklaim sendiri, bahwa dia sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Seno tapi kenapa Windy bisa memiliki nomor ponsel pribadi Seno, dan dia menghubungi lelaki itu secara berulang-ulang.
CKLEK..
Pintu kamar mandi terbuka dan Seno keluar dengan menggunakan handuk putih yang terlilit di separuh badannya.
"Siapa yang menelpon? apa itu Dika atau Ibu?"tanya Seno sambil menggunakan baju tidur yang sudah disiapkan Rana.
"Aku tidak tahu Mas, tidak ada nama di nomor itu."
"Kau tidak mengangkatnya?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Kalau begitu biarkan saja. Mungkin itu hanya orang iseng."
"Apa kau tidak berniat melihat atau menghubunginya kembali barangkali itu panggilan penting?"
"Tidak! itu ponsel pribadiku yang menghubungi nomor itu hanya Dika dan kau saja serta orang-orang terdekatku. Jika ada panggilan darurat dia pasti menghubungi ponsel kerjaku,"sahut Seno.
"Ponsel pribadi! jika ponsel itu ponsel pribadi Mas Seno lalu kenapa Windy bisa mengetahui nomor itu, dan Mas Seno, mengatakan jika hanya orang-orang terdekatnya lah yang mengetahui nomor pribadinya."
"Aku sudah rapih, bagaimana kalau kita makan mie nya sekarang,"ajak Seno. Dan dia langsung memeluk Rana dari belakang.
Rana mengangguk.
***
"Apa ini terlalu pedas?"tanya Seno.
Rana menggeleng, dan dia masih menyantap mie itu.
"Tapi kenapa menurutku ini sangat pedas."ujar Seno sambil mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas.
"Mungkin itu hanya perasaan mu saja Mas."
"Kau juga pasti merasa kepedasan kan, lihatlah wajahmu merah dan berkeringat seperti ini."
Seno menarik beberapa lembar tisu dan melap wajah istrinya.
Meskipun Mie itu memang terasa sangat pedas, tapi entah kenapa lidah Rana seperti kebal tidak merasakan kepedasan sedikitpun apa mungkin karena hatinya yang panas karena mendapati Windy menelpon suaminya sehingga ia mati rasa di lidahnya.
Pandangan Rana kembali teralihkan ketika dia melihat ponsel yang berada di atas nakas kembali berkedip-kedip dan Rana sudah bisa menduga jika yang menelpon adalah orang yang sama, yaitu Windy.
"Mas, kau angkat saja panggilan itu sepertinya sangat penting sejak tadi dia menghubungi mu."
Setelah membersihkan keringat di wajah istrinya, Seno berlalu. Berniat untuk menjawab panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di ponselnya.
Seno menautkan kedua alisnya meneliti foto profil yang ada di nomor tersebut lalu ia melirik ke arah Rana .
Bersambung...
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1