
Selamat membaca š¤
ššš
"Luar biasa! Bahkan sekarang kau sudah ahli berbohong, Dika, ini sungguh sangat tidak layak di banggakan,"ucap Dika pada dirinya sendiri,"Tapi, siapa lelaki itu! Keluarganya? Atau kekasihnya?"sambungannya sambil berfikir sampai keningnya berkerut.
Tidak ingin menciptakan kerutan di wajahnya, Dika menyudahi proses berpikir. Dia kembali melangkahkan dan menaiki Lift menunju lantai dasar.
**
"Waaaah.. Selamat, Pak Seno. Kami senang mendengarnya."
"Iya kami senang karena sebentar lagi Anda akan menjadi Ayah."
"Iya saya juga sangat senang, Anda benar-benar hebat!"
Ucapan selamat dari Tim SAR, saling bersahutan, dan ucapan itu tentu di persembahkan untuk Seno yang akan menyandang gelar barunya. Sebenarnya ini bukan kali pertama para anggota SAR memberikan ucapan selamat pada Seno. Tapi, karena setiap hari Seno menyampaikan kabar bahagia itu setiap hari juga mereka memberikan selamat. Dan ucapan selamat itu terus terulang selama satu Minggu ini. Mereka tidak akan berhenti mengucapkan selamat karena Seno pun tidak pernah berhenti mengabarkan jika dia akan menjadi Ayah.
Ya, terserah Mas Seno sajalah!
"Seharusnya kalian juga memberiku selamat, karena akupun akan menjadi Paman,"Sahut Dika yang baru saja sampai.
Namun tidak ada satupun yang menimpali Dika, karena mereka takut dengan Seno.
"Kenapa kalian Diam! Ya sudahlah, yang penting kakak ipar sudah memberikan aku ijin untuk menjadi Paman."
"Siapa yang kau maksud kakak ipar?"sahut Seno.
"Siapa lagi, tentu saja Rana."
"Rana! bahkan usiamu jauh lebih tua darinya,"Seno yang tidak terima.
"Memangnya kenapa, menjadi kakak ipar tidak harus lebih tua kan?"Dika yang tidak mau menyerah.
"Tidak bisa. Aku tidak mengizinkannya."
"Tapi kakak ipar sudah mengizinkan aku."
Seno langsung menatap tajam ke arah Dika.
"Jangan panggil dia kakak ipar, karena dia bukan Kakak iparmu. Sudah cepat bersiap, 15 menit lagi kita akan mulai latihan."Kata Seno yang sudah tidak mau berdebat dengan temannya itu.
"Baik, Pak!"jawab rekan yang lainnya secara bersamaan setelah beberapa saat mereka menikmati perdebatan antara Seno dan Dika.
"Seno, Aku ingin bicara denganmu,"ujar Dika.
"Katakan."
__ADS_1
"Seno, Apa kau tidak bisa mencarikan solusi untukku. Waktunya sudah semakin mepet Seno, kurang dari 2 bulan lagi."
"Kenapa kau tidak berkencan saja dengan Cilla, bukankah dia menyukaimu."
"Kau sungguh tidak mengerti perasaanku Seno, bagaimana bisa aku menjadi adik ipar dari lelaki yang sudah memenangkan hati wanita ku."
"Yasudah, kalau begitu kau turuti saja permintaan ibumu dan menerima kembali perjodohan antara kau dan gadis yang bernama Olivia itu."Sahut Seno.
Mendengar nama Olivia, seketika Dika mengingat pengintaiannya selama satu Minggu ini. Dengan penuh semangat dia menceritakan kepada Seno tentang apa kejanggalan yang ditemukan dari gadis itu.
Seno menggeleng.
"Dengan terang-terangan kau menolak Gadis itu tapi secara diam-diam kau memperhatikannya."
"Aku tidak memperhatikannya,"Dika mengelak.
"Jika bukan memperhatikan, lalu apa yang kau lakukan selama satu minggu ini di Apartemen?"
Dika terdiam, dia juga tidak tahu kenapa dia diam di Apartemen dengan tujuan untuk mencari tahu apa dan siapa itu Olivia.
"Selagi kau mencari jawaban atas pertanyaan ku, lebih baik kau bantu aku untuk mencari tempat kursus memasak yang sudah terjamin dan bersertifikat."
"Tempat kursus memasak! untuk apa?"tanya Dika sedikit bingung.
"Apa lagi, tentu saja untuk belajar memasak."
Mendengar kata Kakak ipar, Seno langsung mendelik.
"Iya-iya. Maksudku Rana."Ralat Dika.
"Bukan untuk Rana, tapi Untukku."
"APA!"
"Kenapa kau berteriak seperti itu, mengejutkan saja!"ujar Seno sambil mengusap dadanya yang tersentak karena suara Dika yang menggelegar.
"Seno, kau tidak sedang sakit kan? kenapa tiba-tiba kau ingin kursus memasak? apakah kau sudah ingin beralih profesi dari petugas SAR menjadi seorang Koki?"
"Tentu saja tidak! Seno akan tetap menjadi petugas SAR, tapi aku juga ingin pandai memasak hidangan yang lezat dan bergizi. Bukankah itu akan jauh lebih keren?"
"Iya, tapi untuk apa kau melakukan ini semua?"
Dengan wajah yang serius, Seno menepuk pundak Dika.
"Dika, mungkin saat ini kau belum mengerti, tapi aku sangat yakin jika kau sudah mempunyai istri dan istrimu hamil lalu dia ingin makan makanan yang kau masak. Kau pasti akan mengerti posisiku saat ini, oleh karena itu, selain aku ingin pandai memasak aku juga ingin menyelamatkanmu di masa depan."
"Menyelamatkan di masa depan! Kenapa jadi seram seperti ini? Seno, ada apa? ceritakan padaku."Dika yang penasaran.
__ADS_1
Dan Seno pun menceritakan kejadian beberapa waktu lalu, di saat di memasak Nasi Goreng. Dan itu gagal total, padahal sang istri sangat berharap dengan Nasi Goreng buatannya, membuat Seno merasa bersalah karena tidak bisa memberikan Nasi Goreng terbaik untuk istrinya.
Saat ini Rana sedang hamil, dan istrinya itu susah sekali untuk makan. Membuat Seno bertekad untuk menjadi Koki pribadi istri dan calon anaknya. Dia akan memberikan makanan terbaik dan enak untuk kesayangan itu.
**
Setelah mendengar cerita panjang lebar dari Seno. Dika yang bergantian menepuk pundak temannya itu.
"Sungguh tragis! Untung saja kau tidak dipecat sebagai menantu oleh ibu Kartika, bersabarlah Seno. Aku sebagai teman yang luar bisa pintar dan sebagainya calon paman yang baik akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Tapi dengan satu syarat!"
"Katakan syarat apa yang kau inginkan wahai Dika?"tanya Seno.
"Tidak banyak, izinkan aku untuk menjadi Paman dari anakmu."
Seno menghela nafas, tapi tidak ada pilihan lain daripada temannya itu tidak membantunya. Tidak ada salahnya mengangkat Dika sebagai Paman untuk anaknya kelak.
"Baiklah, aku setuju. Tapi aku tetap tidak setuju jika kau memanggil Rana sebagai kakak ipar."
"Baik tidak masalah, sepakat!"ucap Dika Seraya mengulurkan tangan bertanda jika mereka sudah menyepakati gelar masing-masing.
"Sepakat!"sahut Seno, seraya menjabat tangan Dika.
***
Di tempat lain.
"Mawar, Cilla, Koki yang bertugas di kursus memasak Cempaka, cuti untuk beberapa Minggu kedepanan. Dan saya minta kalian berdua yang menggantikan Koki di sana untuk sementara waktu."Ujar Seorang Pria Tua yang menjadi pimpinan Restoran Cempaka.
"Apa bapak yakin memilih kita berdua?"tanya Mawar antusias.
"Tentu saja, bukankah kalian berdua ingin mengikuti kompetisi memasak terbesar di kota ini! Jadi anggap saja kalian menguji Skill yang kalian miliki."
Cilla dan Mawar mengagguk penuh dengan semangat.
"Baik Pak, kami akan bertugas dengan sangat baik di sana. Terima kasih atas kesempatan yang sudah bapak berikan kepada kami."
"Mulai Besok, kalian bertugas di sana."
Bersambung..
šššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø