
Selamat, membaca š¤
āØšššāØ
Rombongan dokter Ardi tiba di lokasi. Dan karena mereka tiba di malam hari, dokter Ardi pun meminta mereka untuk langsung beristirahat selama beberapa menit sebelum melakukan tugas merawat dan mengobati beberapa pasien di tenda medis.
"Beristirahatlah ke tenda yang sudah disediakan untuk kalian, sebelum kita memulai pekerjaan."
"Baik Dok,"sahut mereka secara bersamaan.
"Rana, sebaliknya kamu langsung menemui Seno saja, sebelum dia meneror ku,"ujar Ardi pada Rana yang akan mengikuti temanya menuju tenda.
"Baik Dok, aku akan menyimpan barang-barang ku terlebih dahulu."
Ardi mengagguk.
"Rana tunggu!"cegahnya di saat Rana ingin kembali melangkah,"Boleh aku meminta sesuatu?"
Rana mengerutkan keningnya.
"Meminta sesuatu! Apa?"
"Boleh aku minta nomor ponsel temanmu yang beberapa waktu lalu aku temui di Rumah Sakit?"
Seperti apa yang Aurel perediksi, Ardi yang merasa penasaran akan mengatakan ini pada Rana.
"Padahal aku sudah memberinya kartu nama, tapi aku tidak mendapatkan pesan atau panggilan darinya, mungkin dia kehilangan kartu nama ku sehingga tidak bisa menghubungi ku,"sambungan Ardi.
Dan seperti apa yang sudah di pesankan oleh Aurel, Rana langsung memberikan nomor ponsel sahabatnya itu tanpa mengatakan apapun lagi.
"Terima kasih,"ucap Ardi, setelah di menerima apa yang dia inginkan.
"Sama-sama dok, kalau begitu aku permisi."
"Silahkan, jangan lupa untuk langsung menemui Seno,"sahut Ardi kembali mengingatkan Rana.
***
"Kau mau kemana?"tanya Dika, yang melihat Seno memakai mantel menandakan bahwa ia ingin keluar tenda.
"Ke tenda, aku ingin memeriksa data korban yang kita evakuasi hari ini."
"Apa aku perlu membantumu?"
"Tidak perlu, bukankah malam ini kau berencana ingin menghabiskan waktu bersama Gadis incaranmu lewat telepon."
"Aah, benar juga. Baiklah selamat bekerja."
Setelah siap, Seno keluar tendanya menuju tenda medis tempat di mana para Zenajah di identifikasi.
***
"Rana kau mau kemana?"tanya rekan kerjanya, melihat Rana yang ingin keluar tenda.
__ADS_1
"Aku ingin ke tenda Tim SAR."
"Oo, kau pasti ingin menemui suamimu kan, aku dengar dia bertugas di sini."
"Benar,"sahut Rana sambil tersenyum.
"Berhati-hatilah, jalan ke sana gelap. Aku tadi mendengar jika beberapa pengarengan di luar mati."
"Baik, terima kasih. Aku pergi dulu."
****
"Seno!"panggil Windy dengan raut wajah senang ketika melihat Seno memasuki tenda di mana dia dan satu rekan dokternya tengah bekerja di tenda tersebut.
Seno hanya membalas dengan senyum singkat, lalu dia beralih pada dokter kaki-kaki yang baru saja selesai mengidentifikasi korban.
Windy sudah terbiasa di perlakukan cuek seperti ini oleh Seno, dan ia menjadi tertantang untuk kembali meluluhkan hati Seno.
Windy memperhatikan dengan lekat, Sosok Seno yang tengah berbicara dengan rekan dokternya.
"Sungguh aku benar-benar tidak bisa melupakan wajah ini, meskipun aku sudah melakukannya sebisa yang aku bisa dengan berbagai cara tapi tetap aku tidak bisa melupakannya. Maafkan aku Seno, semoga kamu bisa mengerti dengan perasaan dan keadaanku saat ini."
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi dulu."Ujar Seno setelah dia selesai berbicara mengenai data-data korban.
"Tunggu pak Seno, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada Anda."Cegah dokter laki-laki itu. Dan terpaksa membuat Seno tertahan sementara waktu di sana.
***
Sementara di sisi lain, Rana di antar salah satu relawan menuju Tenda SAR karena beberapa lampu penerangan di sana padam.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."
Rana mengangguk dan ia berdiri tepat di depan tenda di mana tempat Seno dan beberapa temannya beristirahat.
Rana sengaja tidak menghubungi Seno terlebih dahulu dan memberitahu lelaki itu karena sama seperti kakek Arif, dia ingin memberi kejutan untuk Seno.
"Apa Mas Seno akan terkejut, saat melihat aku memasuki tenda ini,"gumam Rana,"Aah, tapi aku malu jika langsung masuk. Pasti di dalam banyak orang."
"Maaf, Anda cari siapa? Apa ada sesuatu yang Anda butuhkan?"tanya seseorang yang berada di sana dan melihat Rana yang berdiri dengan kebingungan di depan tenda.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Seno dari Tim SAR, dan saya perawat dari rumah sakit BAKTI."
"Kalau begitu, biar saya panggilan beliau, sepertinya Tim SAR sedang beristirahat di dalam."
"Baik, terima kasih."
**
"Siapa? Apa kau tidak tanya siapa namanya?"tanya Dika. Yang pertama kali di temui pria tadi.
"Saya lupa menayangkan itu, tapi dia ingin bertemu dengan pak Seno, dan dia perawat dari rumah sakit BAKTI."
Dika yang merasa tidak asing dengan nama RS itu langsung beranjak.
__ADS_1
"Biar saya yang menemuinya karena Pak Seno sedang berada di tenda medis."
***
"Rana! aku tidak salah lihat kan? apa aku sedang berhalusinasi karena sedang merindukan Aurel, tapi seharusnya aku berhalusin melihat Aurel ada di sini, tapi kenapa kau?"tanya Dika karena terkejut.
"Iya ini aku, kau tidak salah melihat."
Dika segera mendekat untuk memastikan wujud yang berdiri di hadapannya.
"Benar ini asli, kapan kau datang ke sini? apa Seno tahu kalau kau datang, dan pertanyaan yang paling penting yang harus kau jawab segera adalah! apa kau datang bersama Aurel?"
"Aku datang bersama perawat dan dokter dari Rumah Sakit Bakti. Tentu saja aku tidak datang bersama Aurel, dan Mas Seno juga tidak tahu kalau aku bertugas di sini, apa jawabanku sudah cukup!"
Dika mengangguk.
"Aku tahu maksudmu yang tidak memberitahu Seno kalau kau bertugas di sini, baiklah! buat lelaki itu terkejut kalau bisa, buat dia sampai pingsan tidak sadarkan diri agar dia tidak terus marah-marah padaku karena merindukanmu. Tapi sayang sekali kenapa kau tidak ajak Aurel, setidaknya kau juga harus membantuku meredam rasa rinduku ini."
Rana yang tidak ingin mengatakan kepada Dika bahwa Gadis itu sudah memiliki pria idaman. Memilih untuk bertanya.
"Lalu di mana Mas Seno?"
"Dia tidak ada di sini, dia sedang di tenda medis untuk memeriksa data korban yang sedang diidentifikasi. Apa kau ingin aku menyuruhnya kembali atau kau ingin aku antar ke sana?"
"Tidak, dia sedang bekerja. Kalau begitu aku menunggu nya di tendaku saja,"sahut Rana.
"Eh, tunggu dulu. Apa kau akan pergi begitu saja! Sudah sampai sini, tanggung sekali kejutan yang kau berikan untuk si pemarah itu."Cegah Dika.
"Mas Seno sedang bekerja. Aku tidak mungkin mengganggunya kan, aku bisa menemuinya nanti, kalau dia sudah selesai."
Dika mengingat jika di tenda identifikasi ada Windy yang sedang bertugas.
"Kau harus bertemu dengannya sekarang jangan ditunda-tunda lagi, kasihan dia sudah sejak pagi tadi uring-uringan. Mari aku antar kau ke sana, pasti dia akan terkejut, terlonjak ,dan aku berharap dia pingsan di sana, tapi jangan! Karena kalau dia pingsan aku tidak kuat mengangkatnya, buat dia terkejut saja jangan sampai pingsan. Dan di sana juga ada seseorang yang harus kau beri pengertian."Ujar Dika, dia sengaja ingin membawa Rana langsung ke sana untuk melihat apa yang dilakukan Windy, dan dengan begitu semoga bisa menyadarkan wanita itu agar tidak melangkah dan bertindak lebih jauh.
"Apa itu tidak menggangu?"
"Tentu saja tidak, kau tunggu sebentar aku ambil senter. Karena jalan kesana gelap."
"Baiklah!"
Dika bergegas masuk kembali ke tenda untuk mengambil alat penerangan yang akan ia gunakan untuk menuju tenda di mana Seno dan Windy berada.
****
Bersambung..
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø