
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØāØš
"Aku sangat yakin, ada sesuatu yang dia inginkan sampai datang menemui mu. Benarkan?"tanya Dika. Setelah Windy pergi dari sana.
"Tidak ada apa-apa, sudahlah kau jadi mentraktirku makan tidak?"ucap Aurel.
"Tentu saja, aku datang dengan penampilan sempurna seperti ini, masa kau tidak mengerti."
"Kalau begitu, cepat berangkat. Aku tidak terbiasa makan malam lewat dari jam 19.00."Ajak Aurel, dan dia sudah berjalan terlebih dahulu menuju garasi mobil.
"Kau mau kemana? mobilku ada di situ."Panggil Dika.
"Aku tau mobilmu ada di situ, Aku ingin mengambil mobilku."
"Mengambil mobilmu, apa maksudnya?"Dika segera berlari menyusul Aurel,"Kita akan makan malam bersama kan?"
"Iya."
"Lalu, kenapa kau membawa mobilmu sendiri?"
"Kita hanya makan malam bersama, tapi tidak pergi bersama."Sahut Aurel.
Dika, bingung dia sedang mencerna apa yang baru saja Aurel katakan.
"Apa bedanya?"
"Tentu saja beda, masa begitu saja kau tidak bisa membedakannya."
"Tidak bisa seperti ini, kita pergi bersama. Ayolah! Masa kita berangkat masing-masing."Rengek Dika.
Dan membuat Aurel meringis melihat kelakuannya.
"Ayolah! kita perginya bersama jangan terpisah-pisah seperti ini, sendal jepit saja berpasangan ketika pergi keluar rumah. Masa kita terpisah."
"Jadi kamu menyamakan aku dengan sandal jepit?"
"Tidak-tidak. Astaga kenapa aku jadi asal ngomong seperti ini,"gerutu Dika pada dirinya sendiri lalu ia kembali membujuk Aurel agar bersedia pergi bersama dirinya.
"Tentu saja kau tidak bisa disamakan dengan apapun yang ada di dunia ini, karena kau jauh lebih indah, bahkan jika di bandingkan dengan Tugu Selamat Datang, kau jauh lebih indah dan sempurna dari itu."
Mendengar gombalan Dika Aurel semakin kesal. Dan daripada dia terus-terusan mendengar gombalan yang terdengar menusuk di telinganya itu, Aurel pun mengalah, dia bersedia berangkat dengan satu mobil yang sama.
__ADS_1
"Tapi, bukan menggunakan mobilmu. Kita pergi menggunakan mobilku dan aku yang menyetirnya bagaimana apa kau setuju?"
Dika terdiam sejenak. Sebenarnya dia tidak mau jika harus wanita yang menyetir. Tapi tidak apa-apalah daripada dia tidak jadi pergi, lebih baik dia mengalah.
"Baik tentu tidak jadi masalah, aku akan menuruti semua permintaanmu dan....!"
"Cukup, kau jangan bicara apa-apa lagi."Potong Aurel yang tidak mau kembali mendengar gombalan dari Dika.
***
"Apa untuk tempat kita berkencan, kau yang akan menentukannya?"tanya Dika.
"Siapa yang Berkencan? kau jangan salah paham, kita tidak sedang kencan. Kita hanya pergi makan malam bersama, itu juga kamu yang memaksa karena sebenarnya aku lebih senang makan malam di rumah."Ujar Aurel yang meralat kata-kata Dika.
"Baiklah, kita memang tidak terkencang, kita hanya pergi makan malam bersama. Jadi Bagaimana apa kau yang akan menentukan tempatnya?"tanya Dika kembali.
"Kau saja, karena aku tidak tahu tempat makannya yang baik di mana, karena aku jarang keluar rumah hanya untuk makan malam saja."
Dika tersenyum.
Lalu dia mengarahkan Aurel untuk berbelok ke kiri.
***
"Kau yakin ini jalan ke tempat makan yang baik dan enak?"hanya Aurel sambil meneliti sekitaran jalan yang sepi dan gelap.
"Kau ini lebay sekali. Apa kau sudah sering datang ke tempat ini? kenapa tempat ini terlihat sangat menyeramkan, tidak seperti tempat-tempat lainnya, bukankah seharusnya tempat makan itu seperti restoran yang ramai?"tanya Aurel mulai merasa ketakutan karena semakin jauh mobilnya melaju semakin sepi pula tempat itu.
"Tentu saja aku sudah sering makan ke tempat ini, oleh karena itu aku bisa mengatakan padamu bahwa tempat ini tempat yang nyaman. Aku sering pergi ke sana bersama Seno."
"Sepertinya, kau tidak pernah bisa lepas dari Seno."
"Haha.. Kau benar sekali, aku dan Seno memang selalu bersama, layaknya Toples dan Nastar. Aku nastarnya, Seno toplesnya."
Tanpa di sadari, Aurel tertawa mendengar gurauan dari Dika.
"Apa kau tidak bisa mengibaratkan dengan sesuatu yang lain?"
"Aku rasa itu sangat cocok untuk kami."
**
Candaan yang terus saja dilontarkan Dika mengiringi perjalanan mereka, hingga Aurel sudah tidak merasa takut di tempat sepi yang sedang Ia lalu lalui, karena ia tertawa terus-terusan setiap mendengar kata-kata aneh tapi cukup menghibur dari Dika.
__ADS_1
Hingga tidak terasa. Mereka pun sampai di tempat yang dipilih oleh Dika.
"Dika, apa kau tidak salah pilih tempat?"
"Tidak,"jawab Dika dengan yakin.
"Lalu, apa tidak ada tempat lain yang bisa kau pilih selain tempat ini?"
"Ini tempat satu-satunya yang sangat nyaman bagiku dan Seno. Lagi pula kau sendiri kan yang memintaku untuk memilih tempat kita makan malam di mana?"
"Tapi tidak harus di tempat seperti ini juga kan?"
"Memangnya kenapa dengan tempat ini, apa kau tidak suka?"
"Bukannya tidak suka, tapi tempat ini membuat ku merasa semakin dekat dengan kematian, dan membuatku seketika menghitung dosa-dosa yang sudah aku lakukan selama hidupku."
Sahut Aurel, dengan nafas yang naik turun dan rasa ketakutan luar biasa.
Bagaimana tidak!
Dika mengajaknya makan malam di warung kecil yang lokasinya persis, bersebelahan dengan pemakaman umum, bahkan untuk menuju warung itu ia harus melewati beberapa batu nisan.
"Itulah yang menjadi alasanku dan Seno memilih tempat ini sebagai tempat favorit, ketika kita sedang senang dan gajian. Kita pasti pergi ke tempat ini."
"Apa aku tidak salah dengar? seharusnya kalau kau banyak uang kau pergi ke restoran mewah bukan di tempat seperti ini."
"Justru itu yang salah, dengan kita pergi ke tempat seperti ini disaat kita sedang senang dan memiliki banyak uang, itu akan membuat kita mampu introspeksi diri bahwa kita akan berada di posisi mereka yang sudah mendahului kita. Dengan begitu kita akan berhati-hati dalam menggunakan uang untuk tidak menghambur-hamburkan nya, apalagi menggunakannya untuk hal-hal buruk, dan akan lebih banyak menggunakan uang itu untuk hal-hal baik seperti bersedekah dan membantu orang yang membutuhkan."
Aurel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikirannya sungguh tidak sampai melampaui pikiran lelaki yang ada di hadapannya saat ini, yang sudah di luar galaxy.
"Bagaimana menurutmu? aku benar kan? kau tenang saja, saat pertama kali aku mengajak Seno ke tempat ini, dia pun bereaksi sepertimu. Tapi setelah terbiasa, dia jadi menikmatinya, bahkan dia senang saat aku ajak pergi ke tempat ini."Sambung Dika.
"Iya, kau sangat benar. Lalu kita makan di mana?"tanya Aurel dengan sangat kesal. Karena ini baru pertama kali dia makan malam di tempat pemakaman umum. Dengan suasana yang gelap dan menyeramkan.
Dengan perasaan senang, Dika mengarahkan Aurel masuk kedalam warung yang nyaris tidak terlihat karena penerangan yang terbatas.
Bersambung..
šāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø