
Selamat, membaca š¤
šāØāØāØāØš
Seno yang mendapat perintah dari ketuanya bergegas turun untuk membantu seniornya yang bernama Rian.
Kondisi mobil yang sudah ringsek dan kedua korban di mobil itu terjepit, menyulitkan Seno dan Rian mengeluarkan korban.
Wanita yang ada di mobil itu sudah tidak sadarkan diri sementara si lelaki masih tersadar.
Susah payah, kedua orang ini berjuang sebisa mereka untuk mengeluarkan kedua korban, yang juga harus menjaga posisi mobil tetep aman.
KREEEEK...
Suara mobil tergeser, tentu membuat mereka panik.
"Tahan!"seru Seno, kepada Rian ketika mobil itu bergerak.
"Salah satu diantara kita harus ada yang naik di atas mobil, kita tidak bisa berdua menaikinya karena akan membuat mobil semakin kehilangan keseimbangan."Ujar Rian setelah mengamati, bagaimana cara dia mengeluarkan korban.
"Biar aku yang akan naik,"sahut Seno.
"Kau yakin? ini akan sangat membahayakan keselamatanmu."
"Keselamatan kedua korban yang ada di mobil jauh lebih penting apalagi wanita itu sedang mengandung, wanita itu juga sudah tidak sadarkan diri, kita tidak bisa menunggu waktu lama untuk mengeluarkan mereka."
"Kamu benar, kalau begitu cepat lakukan."Titah Rian.
Setelah mendapatkan persetujuan dari seniornya, Seno perlahan merangkak menaiki atap mobil yang sebenarnya sudah tidak berbentuk, pecahan kaca juga melukai korban. Kondisi lelaki lah yang sangat parah saat itu karena luka di kepala benar-benar sangat serius bahkan darah yang terus mengalir.
Seno mencoba mengeluarkan lelaki itu terlebih dahulu, karena posisi lelaki itu yang lebih gampang untuk dikeluarkan.
Namun dengan sisa tenaga yang dimiliki lelaki itu yang tak lain tak bukan adalah Wisnu, menyentuh lengan Seno dan berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Tolong selamatkan istri saya. Dia sedang hamil. Tolong selamatkan dia dan bayi kami."
Melihat lelaki itu yang benar-benar sudah lemah bahkan nafasnya sudah hampir habis.
Seno menyahut permintaannya.
"Anda jangan khawatir, kami sedang berusaha untuk membantu mengeluarkan istri Anda dari mobil ini begitu juga dengan Anda. Tetaplah bertahan."
Lelaki itu menggangguku dengan lemas. Dan Seno segera mengeluarkan si wanita yang tak lain tak bukan adalah Sarah, dari dalam mobil itu.
Dengan susah payah akhirnya Seno berhasil mengangkat Sarah dan Rian yang berada di bawah segera mengulurkan tangan untuk membantu menurunkan wanita itu dan membawanya ke tempat aman. Beberapa petugas medis segera bertindak melakukan pertolongan pertama pada Sarah yang tengah hamil 9 bulan itu.
"Cepat! bahwa wanita ini ke rumah sakit, dia sudah tidak sadarkan diri dan detak jantung bayinya pun sudah mulai melemah, kita harus segera menanganinya dan itu hanya bisa dilakukan di rumah sakit,"ujar dokter yang saat itu membantu Sarah.
dan dengan sigap para petugas lain pun mengarahkan Ambulans untuk segera membawa Sarah ke Rumah Sakit.
Sementara Seno masih berjibaku untuk mengeluarkan Wisnu dari dalam mobil.
Kedua kaki Wisnu terjepit, Seno diharuskan untuk mengeluarkan lelaki itu secara manual dan seorang diri, karena jika menambah orang, mobil yang sudah menggantung di bibir jurang itu akan kehilangan keseimbangannya.
Rian melihat percikan api keluar dari mobil hitam itu dan Ia pun segera berteriak meminta Seno untuk turun.
"Tidak bisa! aku harus mengeluarkan dulu korban dari mobil ini,"sahut Seno yang masih berusaha mengeluarkan Wisnu dari sana.
"Seno, ini akan sangat membahayakan dalam hitungan menit mobil ini akan meledak. segeralah turun."Teriak Rian.
Namun Seno masih berusaha untuk mengeluarkan Wisnu dari sana tidak mendengar peringatan dari seniornya.
Sang senior yang merasa kesal dengan keras kepalanya Seno mendekat dan menarik Seno secara paksa dari sana.
"Seno, ada kalanya kita harus mengorbankan sesuatu untuk menyelamatkan banyak orang. Mobil ini akan meledak, itu akan membahayakan Bus sekolah yang masih ada anak-anak di sana."
__ADS_1
"Lalu, apa kita harus membiarkan korban yang ada di mobil begitu saja?"
Rian terdiam, dia juga sebenarnya tidak tega jika harus mengorbankan seseorang yang ada di mobil itu, tapi demi menyelamatkan banyak orang dan tidak ada pilihan lain. Mereka harus merelakan Wisnu.
Karena inilah jalan satu-satunya yang harus mereka ambil dan itu pun atas arahan dan perintah dari ketua Timnya beserta Polisi dan petugas Damkar yang sudah memberi keputusan.
"Seno, kita memang bertugas sebagai perantara untuk menyelamatkan orang yang membutuhkan pertolongan. Tapi kita juga harus bertugas secara logika dan arahan dari ketua kita, jika kita bersikeras untuk mengeluarkan korban yang ada di mobil itu kemungkinan besar anak-anak yang berada di Bus tidak akan terselamatkan, kalaupun kita tetep memaksa untuk mengeluarkan korban di Mobil, kemungkinan besar si korban pun tidak akan terselamatkan begitu juga dengan kita dan anak-anak yang berada di Bus karena kedua mobil ini akan meledak secara bersamaan."
Seno terdiam, lalu ia pun melihat situasi di mobil itu. Percikan api memang sudah terlihat dan bahan bakar di mobil itu pun sudah merembes. Seno berpikir masih ada waktu beberapa detik lagi, dan dia ingin kembali mengeluarkan Wisnu dari sana namun dengan sisa tenaga yang Wisnu memiliki, Wisnu menahan Seno untuk mengeluarkannya dari sana.
"Cepat...pergi dari sini.... Selamatkan dirimu dan anak-anak yang lain. Terima kasih sudah membantu menyelamatkan istri dan anak saya."Rintih Wisnu sambil menahan rasa sakit di setiap lukanya.
Seno menggeleng karena ia masih terus berusaha membantu mengeluarkan Wisnu dari sana, namun Seno melihat Wisnu sudah tidak sadarkan diri.
Luka yang sangat parah di alami Wisnu memungkinkan lelaki itu memang sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Rian mendekat dan memastikan itu.
"Cepat! dorong mobil itu, sebelum meledak!"teriak ketua dan beberapa anggota tim lainnya kepada Seno dan Rian yang tengah dilanda kebingungan.
Semua orang sudah siap menahan tali yang dikaitkan di mobil agar ketika Seno dan Rian mendorong mobil itu ke jurang Bus tidak ikut tergelincir.
Rian menepuk pundak Seno.
"Ini pilihan, dan kita tidak bisa memilih pilihan yang lain karena inilah pilihan satu-satunya."Ujar Rian meyakinkan Seno.
"CEPAT! kalian tunggu apalagi, dalam beberapa detik mobil itu akan meledak dan membahayakan kalian, bukan cuma kalian masih ada beberapa anak di Bus yang juga tidak akan terselamatkan jika mobil itu sampai meledak di sini.
Rian mengangguk meyakinkan Seno kembali.
Dan dengan terpaksa, Seno dan Rian mendorong mobil itu agar jatuh ke jurang beserta Wisnu yang tidak bisa mereka selamatkan.
DUAAAARRRRR...
Ledakan terdengar menggelegar, dan pada saat itu juga Seno berhasil mendorong mobil hingga ledakan tidak sampai merembet di badan Bus.
Semua orang bersorak kegirangan ketika mendapati Bus itu berhasil di selamat kan dari ledakan yang berasal dari mobil hitam di depannya.
Tapi tidak dengan Seno, dia memasang wajah muram penuh penyesalan, penyesalan karena tidak bisa mengeluarkan satu korban yang ada di dalam mobil tersebut.
****
Beberapa media meliput kejadian naas itu dan beberapa menit kemudian seluruh korban yang berada di dalam Bus berhasil dievakuasi dengan selamat meskipun ada beberapa anak yang mengalami luka-luka dan trauma akibat kejadian naas itu.
***
Media berita terus saja meliput kejadian, di dalam berita itu menyebutkan bahwa Tim penyelamat berhasil menyelamatkan rombongan anak sekolah dari kecelakaan naas. Berbagai pujian dan rasa terima kasih diterima dari para masyarakat dan keluarga korban. Dan para Tim penyelamat saat itu merasa bahagia, tapi bukan karena pujian, melainkan karena mereka berhasil mengevakuasi seluruh korban.
Sementara Seno masih termenung membayangkan korban laki-laki yang tidak bisa dia keluarkan dari mobil, bahkan dialah yang mendorong mobil itu dengan tangannya sendiri sampai jatuh ke dasar jurang dan meledak hingga menewaskan korban yang ada di sana.
"Seno, ini bukan salahmu. Kita bekerja sama dalam melakukan tugas, adakalanya kita harus mengambil tindakan untuk mengorbankan satu orang demi menyelamatkan banyak nyawa."Ujar ketua Tim Seno.
Seno mengangguk karena itu memang jalan satu-satunya yang harus mereka ambil. Tapi tetap saja, rasa penyesalan selalu meliputi hati dan pikiran Seno karena tidak bisa menyelamatkan lelaki itu.
šāØāØāØš
Sementara di tempat lain. Di Rumah Sakit yang menangani Sarah.
Pada hari kecelakaan itu Sarah terpaksa melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya, dan keajaiban terjadi, Sarah yang begitu lemah dan detak jantung bayi yang sudah sangat kritis. Berhasil diselamatkan.
Saat Sarah sadar pasca operasinya, dia menanyakan Wisnu.
Kartika, Ridwan dan Rana hanya bisa tertunduk sedih. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa dengan kondisi Sarah yang masih lemah tentu akan membuat wanita itu tidak terkendali jika mendengar kabar bahwa Wisnu tidak bisa diselamatkan. Dan dokter pun menyarankan untuk menutupi kabar tentang Wisnu pada Sarah, demi menjaga kondisi mentalnya.
***
__ADS_1
"Anak, kak Sarah laki-laki. Dia sangat tampan,"tutur Rana menghibur kakaknya.
"Dia pasti setampan Mas Wisnu kan?"Sahut Sarah dengan tersenyum bahagia.
Rana terdiam.
"Benarkan, Rana. Anak kakak setampan Mas Wisnu. Mas Wisnu pasti senang jika tau bahwa anaknya laki-laki dan sangat mirip dengannya,"ujar Sarah kembali.
Rana hanya mengangguk tanpa bisa bicara apa-apa demi tetap menjaga kesehatan kakaknya.
"Rana, apa aku tidak bisa menemui Mas Wisnu sebentar saja? aku sudah baik-baik saja dan aku ingin menyampaikan padanya bahwa anak kami sudah lahir,"pinta Sarah.
"Dokter bilang, Kak Sarah harus benar-benar pulih dulu."
"Padahal aku sudah merasa sangat sehat, tapi kenapa kalian masih terus menghalangiku untuk bertemu dengan Mas Wisnu."Keluh Sarah.
***
Selama 1 Minggu, mereka menutupi kejadian meninggalnya Wisnu pada Sarah dan selama itulah Sarah yang masih dalam perawatan, selalu menanyakan suaminya. Dan keluarganya mengatakan bahwa Wisnu melakukan pengobatan di tempat lain.
Namun tanpa sepengetahuan semua orang, Sarah menonton berita yang masih meliput kecelakaan itu dan di sana ia mengetahui, bahwa satu korban yang masih berada di dalam mobil tidak bisa diselamatkan karena mobil itu meledak dan jatuh ke dalam jurang. Hal ini tentu saja membuat Sarah Shok. Sambil menatap berita yang ditayangkan di televisi diiringi dengan air matanya yang mengalir dari kedua bola matanya serta hatinya hancur. Karena Sarah tahu, siapa korban yang berada di dalam mobil hitam itu.
Sarah berteriak histeris sampai mengundang beberapa Dokter dan perawat memasuki kamarnya.
Dan ketika Sarah sudah bisa ditenangkan Ridwan pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya bahwa Wisnu sudah meninggal dalam kejadian naas tersebut.
"Kenapa kalian menutupi yang sebenarnya, kenapa kalian tidak mengatakan bahwa Mas Wisnu sudah meninggal dalam kecelakaan itu. Kenapa kalian membohongiku!"teriak Sarah dengan histeris.
Karena Sarah tidak terkendalikan, dokter terpaksa memberi obat penenang pada wanita itu.
Selama berhari-hari, berminggu-minggu Sarah terpuruk dan meratapi atas meninggalnya Wisnu, dia berada di titik kesedihan yang mendalam.
Hingga sampai berbulan-bulan pun Sarah masih belum bisa melupakan kejadian itu terutama suami yang sangat dia cintai.
Bima, yang merupakan kakak kandung dari Wisnu bertanggung jawab penuh atas bayi dari adiknya. Dia menganggap bayi yang diberi nama Dino itu seperti anak kandungnya sendiri.
Dari keluarga Wisnu, meminta Sarah untuk menikah dengan Bima, Bima yang akan bertanggung jawab menggantikan Wisnu.
Bima lelaki baik dan bertanggung jawab dia selalu menjaga Sarah di saat wanita itu terpuruk atas kehilangan suaminya. Hingga atas nasehat dari kedua orang tuanya Sarah pun menerima Bima sebagai suaminya.
Sarah masih mengingat jelas isi berita yang menyampaikan jika ada dua orang dari Tim SAR, yang mendorong mobil hitam itu. Di sinilah Sarah salah paham dan membenci kedua anggota tim SAR yang mendorong mobil suaminya tanpa mengeluarkan Wisnu terlebih dahulu, tanpa Sarah tahu apa penyebab tim SAR memutuskan untuk melakukan hal itu, Sarah berusaha keras mencari tahu siapa kedua Tim SAR yang mendorong mobilnya namun dia tidak bisa menemukan apapun karena Seno dan Rian meminta pihak berita tidak mempublikasikan dirinya dan identitasnya.
Dengan dukungan dari keluarga dan suami perlahan Sarah sudah bisa melupakan kejadian itu, dan dia bisa hidup normal bersama keluarga barunya. Di saat Sarah pertama kali bertemu dengan Seno pun dia tidak mengenali Seno. Karena saat kecelakaan Sarah dalam kondisi tidak sadarkan diri dan dia tidak bisa melihat wajahnya. Dengan senang hati dan mendukung penuh Sarah setuju ketika Seno ingin menikahi Rana.
Tapi, 4 tahun yang lalu di saat Rana meminta Sarah untuk membantunya mengurus proses gugatannya pada Seno, Sarah mengetahui semua asal usul Seno, dan Seno lah salah satu anggota tim SAR yang mendorong mobil Wisnu saat itu. Dan dari sinilah Sarah mulai membenci Seno menganggap bahwa Seno penyebab dari meninggalnya Wisnu karena keegoisannya yang mementingkan keselamatannya sendiri dengan mengorbankan suaminya Wisnu.
****
(Flash Off)
Setelah menceritakan kejadian sebenarnya Seno semakin merasa bersalah dia tertunduk lesu dengan wajah yang sedih.
"Ini adalah kesalahan ku yang tidak bisa lebih cepat mengeluarkan lelaki yang bernama Wisnu itu dari mobil,"sesal Seno.
"Mas, tapi ini bukan sepenuhnya salahmu, karena siapapun yang ada di posisimu pasti melakukan hal yang sama. Aku tahu itu pilihan yang sulit tapi ini sudah takdir."Ujar Rana, yang mengerti situasi saat itu.
Bersambung....
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya ya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø