
Selamat. Membaca š¤š¤
šāØšāØšāØš
"Windy, apa kau akan menyerah begitu saja?"tanya Wahyu. Saat ini mereka sudah sampai di rumah Wahyu.
"Menyerah apanya?"
"Menyerah dengan keadaan, dan membiarkan Seno lepas begitu saja."
Windy melengos.
"Wahyu, kamu jangan ikut-ikutan seperti Mama."
"Windy, apa yang di katakan Mamamu ada benarnya, berjuanglah untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu."
"Sudahlah Wahyu, kau tau kedatanganku ke sini untuk apa? jadi, jangan ikut-ikutan seperti Mama. Ini sudah sangat malam aku ingin beristirahat karena besok aku harus menemui Rana."
"Terserah padamu saja. Tapi jangan sampai kau menyesal di kemudian hari karena gagal mempertahankan apa yang harus dipertahankan untuk yang kedua kalinya, aku sangat yakin Windy, jika lelaki itu masih sangat mencintaimu."
"Mencintai bagaimana, bahkan aku melihat kebencian dari mata Seno, dia tidak memperdulikan aku yang meminta maaf atas nama Mamah tadi."
"Kau jangan berlebihan Wahyu, saat ini Seno sudah mempunyai kehidupannya sendiri dengan istri yang ia cintai."
šāØš
Pukul 03:00 dini hari.
"Seno, apa kau yakin ini jalan menuju rumah mertuamu?"
"Tentu saja, meskipun sudah sangat lama aku tidak pernah datang lagi ke sini, tapi aku masih sangat ingat dengan jelas."
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu."Dika mengangguk.
**
"Rana, kau belum tidur? ini sudah jam 3. Apa yang kau pikirkan?"tanya Aurel dengan suara serak karena dia baru terbangun dari tidurnya dan mendapati Rana masih duduk di kursi menghadap jendela.
"Tidak ada, kau tidurlah lagi."
"Aku mau ke kamar mandi dulu."Ujar Aurel, dan ia segera berlalu menuju kamar mandi yang berada di kamar tersebut.
Rana yang masih enggan beranjak dari duduknya dan masih belum mengantuk mengeluarkan ponsel yang sudah dari kemarin ia nonaktifkan. Begitu banyak pesan yang masuk setelah ponsel itu diaktifkan terutama dari Seno yang menanyakan kabarnya. Tapi Seno tidak mengatakan jika ia akan menjemput Rana. Mungkin ingin memberi kejutan.
Setelah membaca dan membalas semua pesan dari Seno, Rana beralih pada aplikasi yang bernama Galeri. Dia membuka dan menscrol beberapa foto yang tersimpan di sana dan menuju foto yang 6 tahun lalu masih Rana simpan . Pergerakan tangan Rana terhenti ketika sampai di satu foto yang langsung membuatnya termenung. Rana menatap foto itu dengan waktu yang cukup lama.
"Apa saat ini kau sedang merindukannya?"tanya Aurel yang muncul di belakang Rana.
Rana langsung membalikkan ponselnya karena terkejut.
"Kau bicara apa, cepat tidur sana Ini belum waktunya bangun."Sahut Rana dengan canggung karena kepergok Aurel tengah memandang foto Seno.
"Aku tahu jika kau merindukannya, mengaku saja. Aku tidak menyangka kau masih menyimpan foto itu. Foto yang 6 tahun lalu kau tunjukkan padaku, kau memuji foto itu dengan mengatakan bahwa dia lelaki yang paling tampan di dunia ini, dengan senyum manis, ramah, dan menenangkan. Padahal nyatanya! lelaki itu tidak jauh berbeda dengan Manekin yang dipajang di toko usang, diam tanpa ekspresi. Apa kau ingat ekspresimu seperti apa ketika kau memuji ketampanan lelaki yang ada di foto itu? kau sudah seperti anak ABG yang melihat idolanya."Sindir Aurel.
"Aurel, aku sedang tidak ingin bercanda lebih baik kau tidurlah jangan ganggu aku."Kata Rana, yang merasa malu. Dia malu jika mengingat masa-masa dulu di saat dia memuji dan membanggakan Seno di depan Aurel. Dengan sangat berlebihan dan girang seperti anak kecil.
__ADS_1
"Aku juga tidak mau bercanda, karena lebih baik aku tidur. Rana jika kau belum bisa tidur karena memikirkan lelaki itu. Hubungi dia. Dan katakan jika kau merindukannya jangan sampai kau terkena insomnia karena memikirkan suamimu itu."
"Aurel! Cepat tidur!"
"Iya, ini aku mau tidur. Selamat malam!"
Aurel kembali berbaring di atas ranjang dan menarik selimutnya.
Rana kembali melihat ponselnya dan menatap foto yang sebelumnya ia tatap.
"Apa Benar saat ini aku sedang merindukan mu, Mas."
*******
"Seno apa masih jauh?"tanya Dika yang mungkin saja sudah merasa lelah karena menempuh perjalanan selama berjam-jam dengan beberapa drama yang mereka lewati.
"Sebentar lagi."
"Kau sudah lebih dari 10 kali mengatakan, kata sebentar lagi."Keluh Dika.
"Sudah, diam."
***
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang di kendarai Seno menepi di halaman rumah Ridwan dan Kartika.
"Apa kita sudah sampai?"tanya Dika dengan wajah berbinar.
"Sudah, sekarang cepat kau turun dan ambil koperku di bagasi."Titah Seno.
"Jika di luar dari tugas, aku juga bukan sopir mu. Tapi sepanjang perjalanan aku yang mengendarai mobil."Sahut Seno.
"Ah, baiklah aku akan ambilkan koper mu pak katua Seno."Kesal Dika.
"Bagus!"ujar Seno. Dan ia melangkah terlebih dahulu menuju rumah.
"Seno tunggu!"cegah Dika.
"Apa apa?"
Dika menatap Seno dengan intens ia meneliti Seno dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? jangan buang-buang waktu Dika, ini sudah tengah malam."Kesal Seno.
"Tunggu dulu, aku harus memastikan penampilanmu?"
"Untuk apa?"
"Kau ini bagaimana? kau ingin bertemu dengan istrimu pertama kali setelah berhari-hari, bukankah kau ingin memberikan kejutan padanya? jadi kau harus berpenampilan Oke. Hingga begitu Rana membuka pintu dan melihatmu, dia langsung terkesima dan terpesona dengan penampilanmu yang menawan."
Seno menautkan kedua alisnya dia sedang berpikir sejenak.
"Kau benar juga. Lalu bagaimana penampilanku apa sudah oke dan menawan? Ah, tidak-tidak! kamu tidak perlu menilainya karena penampilanku selalu menawan,"ujar Seno. Yang setelah berpikir beberapa detik dan menemukan hasil jika dia selalu berpenampilan ok.
__ADS_1
"Dia ini sombong sekali."keluh Dika.
Tapi Dika semakin mendekat kepada Seno, Dia merapikan beberapa pakaian Seno yang terlihat acak-acakan dan dia juga membenahi rambut Seno yang sedikit berantakan. Bukan hanya itu, Dika juga membuka resleting jaket Seno.
"Dika apa yang ingin kau lakukan?"Seno menahan tangan Dika di saat Dika sudah separuh menurunkan resleting jaketnya.
"Sudah, kau diam saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu karena aku lelaki yang super normal. Aku hanya ingin membuat Rana terpesona dengan mu."
Seno membiarkan temannya itu memperbaiki penampilannya dan setelah beberapa detik kemudian.
"Selesai! Tapi...! seperti masih ada yang kurang?"ujar Dika, sambil meletakkan jarinya di dagu,"Ah, aku tau apa yang harus menjadi pelengkap!"Seru Dika. ketika matanya tertuju pada Taman kecil yang ada di halaman rumah orang tua Rana.
Dengan bergegas, Dika menuju Taman tersebut lalu dia memetik beberapa bunga di sana.
"Dika, apa yang kau lakukan? kau terang-terangan mencuri dan disaksikan oleh menantu pemilik rumah ini?"
"Diam Seno, kau jangan banyak bicara!"Sahut Dika dengan nada membentak.
"Ah, dia sekarang berani membentak ku."Gumam Seno, sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa saat.
"Ini Seno."Dika menyerahkan segerombol bunga dengan berbagai jenis dan warna, di tangan Seno.
"Kau memberi ku bunga?"tanya Seno dengan memicingkan matanya.
"Kau jangan berpikir macam-macam. Ini bunga, kau berikan pada Rana."
"Apa! kau berani memberi bunga untuk Rana?"Seno semakin memicingkan matanya.
"Astaga! Entah terbuat dari apa otak temanku yang satu ini, jika kau seperti ini kau bisa kalah dengan dokter Vir."
Seno diam.
Dan Dika menjelaskan apa yang harus dia jelaskan pada Seno.
"Pada umumnya, semua wanita memiliki hati yang lembut dan menyukai keindahan. Hampir 90% wanita menyukai bunga. Dan mereka akan bahagia ketika pasangan mereka datang dengan membawa bunga. Memberikan bunga juga sebagai simbol ungkapan rasa sayang kita pada pasangan."
"Kau tau dari mana?"Tanya Seno.
"Aku sudah menelitinya lebih dari 10 tahun. Jadi percayalah padaku. Sekarang ayo cepat jalan. Ketuk pintu dan berikan bunga itu pada Rana. Jangan lupa tersenyum, dan ucapkan. Ini untukmu, untuk wanita yang paling cantik yang pernah hadir dan mengisi hatiku, dan akan tetap berada di hatiku sampai aku tua dan mati. Kau mengerti?"Kata Dika. Sambil menepuk-nepuk pundak Seno.
Dengan polos dan patuh, Seno mengangguk.
Lalu ia mulai melangkah mendekati pintu.
Jika tadi Seno berjalan penuh dengan semangat. Tapi sekarang dia gemetar karena hatinya berdebar hebat.
Bersambung...
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š¤
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø