
Selamat membaca š¤
ššš
SET!
Dengan menggunakan satu tangan, kakek Arif mengangkat tudung saji yang menjadi penghalang antara pandang mereka dan makanan yang di masak Seno.
****
***
***
Hening...
Tidak ada suara yang terdengar setelah tudung saji terangkat sempurna dan menampilkan dengan jelas masakkan kebanggaan Seno.
"Kenapa! Kenapa diam?"tanya Seno. Yang melihat semua hanya terbengong menatap meja makan.
Bahkan Lina sampai mengedipkan matanya secara berulang-ulang, mengira jika dia salah melihat apa yang ada di meja makan.
"Seno, apa kau melupakan sesuatu?"tanya Kakek Arif.
"Tidak! Memangnya apa yang bisa aku lupakan."Jawab Seno dengan yakin.
"Mas, mungkin maksud kakek Arif, apa di dapur masih ada masakan yang tertinggal untuk di sajikan di meja?"tanya Rana, yang sepertinya lebih mengerti dengan pertanyaan kakek Arif.
"Nah, iya. Itu maksud kakek."Sahut Kakek membenarkan ucapan Rana.
"Tidak ada, sayang."Kata Seno.
"Tidak ada! Jadi kau hanya masak ini?"kaget Kakek Arif.
"Iya, bukankah ini masakan Favorit kakek juga?"
"Benar Seno, tapi....!"Kakek Arif menggantungkan ucapnya karena dia merasa tiba-tiba sakit kepala.
"Tapi apa, Kek?"tanya Seno penasaran.
"Seno, kau tau berapa lama kau memasak di dapur?"tanya Kakek Arif sambil memegangi kepalanya.
"Kurang lebih, satu jam."Sahut Seno.
"Satu jam! Dan kau hanya memasak telor ceplok ini?"tanya Kakek Arif Kembali, tapi dengan nada suara yang tertahan.
Seno mengangguk.
"Iya. Tapi ini Telur Mata Sapi, Kek. Bukan Telur Ceplok."
Kakek Arif memijit kuat pelipis matanya. Sungguh semua tidak sesuai ekspektasi lelaki Tua ini.
"Kakek kenapa? Apa baik-baik saja?"tanya Seno.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, kepala kakek sakit, setelah melihat hidangan yang sudah di masak selama 60 menit dengan menciptakan suara gaduh seperti sedang berperang dan suasana yang Dramatis. Tapi kau hanya memasak telor ceplok seperti ini saja?"
"Ini Telor Mata Sapi, Kek. Kenapa selalu salah mengenali makanan."kata Seno.
"Apa bedanya? Telor ceplok dan Mata Sapi, sama saja."Kakek Arif geram.
"Sama saja bagaimana! Tentu saja tidak, dari nama saja sudah berada. Dan Telor Mata Sapi buatan ku ini sangat-sangat sesuai standar para Koki Restoran ternama. Kakek perhatikan! Kuning telurnya tepat berada di tengah-tengah. Aku sudah mengukurnya dengan sangat baik tanpa tergeser sedikitpun."
"Mau seperti apapun bentuknya dan di manapun posisi kuning telurny, tapi tetap saja ini telor ceplok, jika ibumu atau istrimu yang membuatnya, mungkin hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit saja."
"Aah, kakek sungguh tidak tau hal terpenting dalam membuat Telur Mata Sapi."Keluh Seno.
"Sudah, kenapa harus berdebat di meja makan. Tidak baik."Lina yang langsung melerai peraduan antara Seno dan Kakek Arif.
Kakek Arif dan Seno langsung diam.
"Maaf Bu, tapi bagaimana menurut ibu tentang Telor Mata Sapi ini?"
"Baik, kau sudah membuatnya dengan sangat rapih dan memiliki warna yang cantik."Seorang ibu pasti akan memuji setiap hasil dari usaha yang di lakukan anaknya, meskipun tidak sesuai harapan.
Seno tersenyum senang, lalu dia beralih pada istrinya.
"Sayang, bagaimana, kau suka kan? Setiap pagi kau selalu sarapan dengan Telur Mata Sapi, dan kali ini biar aku yang membuatnya untukmu."
"Iya, aku suka, Mas. Terima kasih."Kata Rana yang akan selalu memuji apapun yang di lakukan Seno.
Seno semakin merasa bangga dan dia langsung melirik kakek Arif yang hanya bisa menampilkan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Baiklah, ayo kita makan."Ajak Seno.
Ya, meskipun hanya Telur Ceplok harus tetap bersyukur, karena itu tidak gosong. Setidaknya ini masih bisa di makan. Tidak sia-sia dia ikut Kursus Memasak, sehingga bisa membuat Telur Mata Sapi dengan posisi kuning telur yang berada di tengah-tengah meskipun harus memakan waktu satu jam.
"Besok, aku aku akan masak ayam balado yang menjadi makanan kesukaan Rana."Ujar Seno di tengah-tengah santap malamnya.
"Masak telor ceplok 4 biji seperti ini saja membutuhkan waktu satu jam. Apalagi jika memasak ayam balado, mungkin dia membutuhkan waktu satu Minggu atau mungkin satu bulan. Dan menciptakan kebisingan sampai ke negara tetangga." Batin Kakek Arif.
"Iya Nak, tapi. Istrimu ini sedang hamil, Rana harus makan yang banyak dengan gizi yang seimbang. Agar istri dan calon anak kalian sehat. Jika kau bersungguh-sungguh ingin memasak setiap hari untuk istrimu, kau harus menambahkan berbagai sayuran."Kata Lina.
Seno langsung mengagguk, tanda mengerti.
"Baik Bu."
"Aku akan membantumu, Mas."Sahut Rana, dia sudah tidak bisa lagi melarang Seno untuk memasak setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya. Dan saat ini Rana hanya bisa mendukung dan membantunya.
ššš
Di tempat lain.
Ana, yang mendapat pesan singkat dari Dika, jika anaknya itu akan datang ke Rumah dengan membawakan calon Menantu untuknya, langsung heboh.
Ana senang meskipun sedikit tidak percaya kalau anaknya itu bisa mendapatkan calon jodohnya juga.
Dengan kekuatan seribu tangan, Ana bersiap untuk menyambut kedatangan calon Menantunya itu dengan memasak berbagai menu makan malam.
__ADS_1
"Ayo Yah, cepat ganti pakaianmu, masa mau bertemu dengan calon Menantu mengenakan pakaian seperti ini,"ujar Ana pada suaminya yang baru selesai membantunya menata masakan di atas meja makan.
"Memangnya kenapa dengan baju Ayah! bukankah ini baik dan bagus?"
"Tapi itu baju yang sering Ayah gunakan sehari-hari, kita harus menyambut calon Menantu kita dengan baik, berikan kesan yang mengesankan pada gadis yang menjadi pilihan Putra kita."
Meskipun di rasa tidak perlu, karena yang digunakan adalah pakaian yang cukup rapi tapi suami Ana tetep menuruti permintaan istrinya.
"Lalu baju apa yang harus ayah pakai?"tanya Tino.
Ana berpikir sejenak, sepertinya dia sedang memilah dalam terawangannya, baju mana yang cocok dan pantas digunakan sang suami untuk menyambut kedatangan calon menantunya.
"Aah, Ayah gunakan saja setelan yang saat di pakai di hari lamaran Bastian,"ujar Ana yang sudah menemukan kostum yang cocok untuk suaminya.
"Apa! bukankah itu setelan Jas yang formal! masa Ayah harus menggunakan pakaian seperti itu, bukankah kita hanya melakukan makan malam biasa, dan kita pun melakukannya di dalam Rumah bukan di gedung atau di tempat resmi lainnya."
"Ayah ini bagaimana sih, ini bukan makan malam biasa. Dika, anak lelaki kedua kita datang dengan membawa calon Istrinya. Apa Ayah masih bisa menganggap ini sesuatu yang biasa."Protes Ana.
"Baiklah, Ayah akan menggunakan setelan Jas hitam itu. Apa Ayah juga perlu menyelipkan bunga di saku Jasnya?"tanya Tino.
"Aah, untung saja Ayah mengingatkannya. Padahal ibu tidak terpikirkan dengan itu. Ya tentu Ayah harus menggunakannya, Ayah juga harus mengenakan sepatu yang senada dengan pakaian Ayah."
Tino terbengong, padahal dia tadi hanya menyindir istrinya saja. Tapi Ana malah menseriuskan ucapannya sehingga dia pun harus menuruti semua yang dikatakan istrinya.
"Baik,"dengan lunglai Tono berjalan menuju ke kamarnya.
"Cepat sedikit Yah, ibu juga ingin berganti pakaian."Ujar Ana sebelum suaminya masuk kedalam kamar.
"Iya."
šš
"Apa yang harus aku katakan dan lakukan di hadapan Ibumu nanti? apakah aku harus memberi kesan yang baik agar ibumu suka? atau aku harus memberi kesan buruk agar Ibumu tidak menyukaiku dan dia langsung memintamu untuk memutuskan ku?"Tanya Olivia yang saat ini sudah siap dengan wujud Mawar.
Dika berpikir sejenak.
"Kau jangan terlalu lama berpikir tentu saja kau harus memilih pilihan kedua, aku harus memberi kesan yang buruk agar Ibumu tidak suka lalu dia sendiri yang meminta agar kita mengakhiri hubungan ini, bukankah itu baik. Dan aku yakin, setelah ini Ibumu tidak akan memaksamu lagi untuk cepat-cepat mencari calon Menantu untuknya."Ujar Olivia.
"Tidak bisa seperti itu, jika kau memberikan kesan yang buruk Ibu pasti curiga, dan yang lebih parahnya lagi, Ibu pasti akan memutuskan dia sendiri yang akan mencarikan Menantu idamannya."Tolak Dika.
"Lalu aku harus apa? kau tidak boleh memberikan harapan palsu kepada Tante Ana dan jangan sampai berlarut-larut dalam sandiwara ini. Dan ingat! aku berpura-pura seperti ini hanya dalam waktu 1 bulan saja tidak lebih dari itu, bahkan hanya satu jam pun tidak."
"Aku tau apa yang harus aku lakukan, sekarang ayo pergi."Ajak Dika.
Bersambung.
ššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø