4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Usaha Memasak Ke-Dua Seno


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸšŸ


"Selesai!"seru Seno sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi, menandakan bahwa dia sangat puas dengan pencapaiannya dalam memasak malam ini.Ā 


Dengan senyum penuh kebanggaan. Seno menatap hasil jerih payahnya selama satu jam bertempur di dapur. Dengan tidak mengijinkan siapapun masuk kesana agar dia bisa fokus menciptakan sebuah maha karya yang luar biasa.


"Kau sungguh luar biasa Seno, bisa menciptakan makanan seperti ini. Aku sangat yakin istrimu pasti akan menyukai ini dan berkata(Mas, kau sungguh luar biasa. Aku jadi semakin cinta dan menyayangimu. Besok tolong masakkan aku menu yang seperti ini lagi ya) melihat istrimu yang sangat bahagia dengan apa yang telah kau lakukan, ibu pasti akan bangga padamu dan berkata berkata (Seno, kau memang anak kebanggaan ibu yang memang sangat-sangat bertanggung jawab dan hebat dalam segala hal, sungguh ibu sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk mengungkapkan rasa bangga ibu padamu) Hehe...!"


Seno semakin mengulas senyum spektakuler ketika membayangkan reaksi Istri dan Ibunya ketika melihat hasil masakan yang ia buat dengan sepenuh hati dan penuh penghayatan.


***


Di Ruang keluarga.


Lina, Rana dan Kakek Arif merupakan orang-orang yang tidak di izinkan masuk ke area dapur di saat Seno sedang memasak. Dan merekapun dengan patuh mengiyakan dan membiarkan Seno berkutat sendirian di sana.


"Bu, kenapa dapur terdengar hening?"tanya Rana pada ibu mertuanya, dia merasa khawatir saat mendapati tidak ada suara apapun di sana. Padahal tadi, sekitar satu jam yang lalu, suara gaduh dari panci, piring, sendok dan beberapa alat-alat masak lainya saling bersahutan menciptakan suara riuh yang membuat siapapun yang mendengarnya merasa was-was dan khawatir.


"Mungkin Seno sudah selesai memasak."Sahut Lina menenangkan menantunya.


"Semoga saja dia benar-benar memasak masakan yang bisa kita makan malam ini. Melihat dari keseriusan dan suara yang terdengar dari dapur, anak itu seperti sedang memasak beberapa menu sepesial yang menjadi kesukaan kita."Sahut Kakek Arif yang sudah sangat berharap banyak dengan usaha cucunya itu.


Dan tidak lama kemudian. Seno keluar dari dapur dengan masih menggunakan celemek serta wajah dan rambut yang berantakan. Namun dia menebar senyum bahagia menandakan jika sesuatu yang luar biasa baru saja terjadi.


"Mas, kau kenapa? Apa di dapur baik-baik saja?"tanya Rana yang langsung berdiri, ketika melihat penampakan Seno yang seperti habis melakukan perjalanan naik turun gunung, nyebrang lautan luas dan hutan rimba.


"Iya Seno, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?"tanya Lina yang tidak kalah panik melihat wujud anaknya yang seperti habis bertempur.

__ADS_1


"Seno! Kau tidak melakukan sesuatu yang ekstrim untuk menyelesaikan masakanmu kan?"timpal kakek Arif.


Seno yang bingung harus menjawab pertanyaan siapa terlebih dahulu memilih untuk mengajak orang-orang kesanggupannya itu menuju meja makan.


"Aku tidak apa-apa. Dan aku sudah menyelesaikan semuanya, jadi kita bisa segera makan malam. Ayolah! Selagi masakannya masih hangat."Ajak Seno, dan dia langsung menghampiri istrinya.


"Ayo sayang, Mas sudah membuat makanan favoritmu di saat pagi hari."Ujar Seno.


"Terima kasih, Mas."


"Lalu! Apa kau juga memasak makanan kesukaan kakek?"tanya Kakek Arif.


"Tentu saja, aku masak menu yang menjadi favorit di keluarga kita ini."


Lina dan kakek Arif mengulas senyum.


"Iya Bu, dulu ibu yang selalu menyempatkan diri, memasak untukku, agar aku bisa makan dengan baik, dan sekarang biarkan aku yang melakukannya."


Semua tersenyum bangga dengan sikap Seno saat ini. Lelaki yang terkenal dingin dan kaku ini berubah 180 derajat, menjadi lelaki yang hangat dan penuh kasih sayang.


Mereka bersama-sama menuju meja makan dan langsung menempati kursi masing-masing. Yang sebelumnya Seno telah menarik kursi untuk Rana dan Lina.


"Kau tunggu sebentar ya, Mas ambilkan susu untuk mu."Kata Seno dan langsung beranjak.


"Susu! bukankah Rana harus makan dulu, kenapa Seno langsung membuatkan susu?"bingung kakek Arif.


"Sudah tidak apa-apa. Kek, ini bentuk dari perhatian Seno untuk Rana."Sahut Lina.


"Iya Kek, ibu benar. Mas Seno selalu melakukan yang terbaik untukku."Timpal Rana.

__ADS_1


"Tentu saja dia harus melakukan itu jika tidak kakek akan mengajarnya."Kata Kakek Arif.


Tak lama, orang yang menjadi topik pembicaraan pun datang dengan membawa segelas susu berwarna coklat di tangannya.


"Kenapa belum makan?"tanya Seno, yang mendapati mereka malah diam. bahkan tudung saji yang berisi masakan Seno pun belum dibuka.


"Kami menunggumu Mas, bukankah kita akan makan bersama-sama."Sahut Rana.


"Ah, iya. Terima kasih sayang! kalau begitu kita mulai makan, ini sudah lewat 1 jam dari biasanya kita makan malam."Kata Seno dan langsung duduk di kursinya.


"Seno, apa menu makan malamnya ada di sini?"tanya Kakek Arif sambil menunjuk tudung saji berwarna hijau yang terpampang di tengah-tengah meja makan.


Seno mengagguk cepat.


"Benar kek, dan karena kakek yang paling tua di sini, saja memberikan kehormatan untuk kakek yang membukanya."Sahut Seno.


Kakek Arif mengangguk senang atas kesempatan yang di berikan Seno. Dan lelaki Tua itu mulai menurunkan tangannya di atas tudung saji. Siap untuk membuka.


Bersambung.


šŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2