4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Kegelisahan Rana Setelah Tahu Semuanya


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Seolah tidak terjadi apa-apa. Rana datang di rumah sakit sendiri tanpa bersama Seno.


"Bukankah kamu pulang ke rumah dulu untuk menemui Seno tapi kenapa kamu ke sini sendiri?"tanya Lina.


"Maaf bu, tadi aku lupa berhenti di rumah hingga taksi langsung menuju ke rumah sakit."Sahut Rana. Yang menutupi bahwa ia sebenarnya sudah pulang ke rumah dan menemukan fakta yang membuat hatinya tersentak dan pikirannya kacau.


"Tidak apa-apa, Ibu hanya khawatir saja kalau kamu pergi sendiri."


"Aku tidak apa-apa Bu, karena aku sudah terbiasa pergi sendiri."Sahut Rana,"Bagaimana dengan keadaan ibu?"Rana mengalihkan pembicaraan.


"Ibu sudah bilang jika Ibu baik-baik saja kamu tidak perlu khawatir."


Dika masuk kembali ke dalam kamar rawat Lina, setelah dia mengangkat telepon dari Seno ,dan dia mengatakan jika Seno dalam perjalanan ke rumah sakit.


***


"Rana, Bagaimana kemarin?"tanya Dika tiba-tiba dan tentu saja membuat Rana bingung.


"Apa?"


"Aaah...! Kau jangan pura-pura bingung dan tidak tahu seperti ini, jujur saja padaku. Bagaimana? apa Seno masih bisa diandalkan dan hebat setelah 4 tahun dia tidak menggunakannya?"tanya Dika sambil menaik turunkan alisnya.


"Bagaimana apanya? Apa yang tidak digunakan?"Rana masih bingung dengan maksud pembicaraan Dika yang di luar galaksi.


"Aduh! Masa aku harus menjabarkannya? tidak mungkin kan, karena itu pribadi."Dika menggaruk-garuk kepalanya. Karena ia bingung harus menjelaskan dan menanyakan dengan bahasa apa agar Rana mengerti.


"Sudahlah, kamu jangan bertanya apa-apa. Aku tidak pernah mengerti dengan arah pertanyaanmu."Kesal Rana.


"Oleh sebab itu kamu harus lebih sering berkomunikasi denganku agar kamu bisa mengerti bahasaku,"sahut Dika.


Rana yang bener-bener tengah pusing ditambah lagi dengan ocehan Dika semakin membuatnya pusing. Hingga dia tidak menggubris omongan lelaki itu.


"Eh, kau mau kemana? Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi!"cegah Dika di saat dia melihat Rana ingin keluar.


"Dika! Jangan mengganggu Rana, jika kamu tidak mau Seno marah."Peringatan sudah di serukan Lina.


"Aah! Iya-iya. Maaf."Dika melepaskan tangannya yang sempat memegang lengan Rana.


Dan Rana, kembali melanjutkan langkahnya yang ingin keluar.


"Kau mau ke mana?"Dika kembali bertanya sepertinya ia tidak kapok dengan peringatan pertama dari Lina.


"Aku ingin membeli makan untuk ibu. Aku minta tetap di sini tolong temani ibu."Sahut Rana.


"Baiklah! Tapi berjanjilah, setelah ini kamu katakan padaku apa yang terjadi kemarin dan Bagaimana reaksi lelaki itu, aku sungguh penasaran dengannya. 4 tahun dia menahan dan dituangkan dalam satu malam. Ah pasti seru."Sahut Dika sambil terkekeh.


Sepertinya Dika lupa, dengan pertanyaan Seno tentang pembalut. Yang sudah pasti membuat malam itu gagal total.


Rana hanya bisa menggeleng sambil keluar dari kamar rawat Lina, dan dalam hatinya berkata.


'Apa Mas Seno, tidak bisa berteman dengan orang yang sedikit lurus.'


***


"Dika, kamu jangan pernah mengganggu Rana. Kamu tahu kan kalau Seno sudah marah seperti apa?"Lina kembali melayangkan peringatan kedua.


"Aku tahu itu Bu, karena aku sering sekali merasakannya. Dia memang mengerikan kalau marah."Sahut Dika.


Lina menggeleng. Lina sudah tahu karakter Dika seperti apa. meskipun lelaki ini terlihat konyol dan sering tidak akur dengan Seno, tapi Dika lah satu-satunya teman yang Seno miliki. Dika yang selalu mendukung dan menemani Seno. Seno lelaki yang sangat tertutup dan tidak mudah berteman dengan siapapun, dia lebih memilih menyimpan masalahnya sendiri jika mempunyai masalah. Dan tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya dengan siapapun terkecuali Dika.


**


"Apa ibu tau jika kemarin malam Seno menghabiskan waktu bersama Rana?"sambil memijat tangan Lina, Dika kembali bertanya apa yang membuat otaknya penasaran setengah mati.


"Tahu."Sahut Lina.


"Apa Ibu tahu, itu tandanya apa?"

__ADS_1


"Apa?"


"Ah! Ibu sama saja seperti Rana tidak pernah mengerti bahasaku."Keluh Dika,"Benar-benar hanya Seno yang mengerti bahasa dan pikiranku,"sambungnya masih terus memijat tangan Lina.


"Kalau bicara yang jelas, Dika. agar ibu mengerti?"


Dika memasang mode serius dia menghentikan aktivitas tangannya dan menatap Lina.


"Bu, sepertinya. Bukan sepertinya, tapi aku sangat yakin seyakin-yakinnya. Jika mereka berdua sudah rujuk kembali, dan mungkin, sebentar lagi ibu akan memiliki...!"Dika tidak melanjutkan ucapannya, dia malah membuat gerakan dengan tangan mengayun-ayun di dada. Yang tentu membuat Lina bingung.


"Apa Ibu masih tidak mengerti juga?"tanya Dika yang melihat Lina bengong namun dia masih melakukan gerakan seperti tadi.


Lina menggeleng.


"Astaga! kenapa semua orang tidak ada yang pernah mengerti aku!"geram Dika sambil meremas rambutnya karena gemas bercampur kesal.


"Apa Dika, sudah Ibu bilang bicaralah yang jelas Ibu tidak mengerti."


Dika kembali serius, dan kali ini ia mendekatkan wajahnya di telinga Lina lalu berbisik.


"Mungkin saja, sebentar lagi Ibu akan menimang cucu."


"Apa! Menimang cucu?"wajah Lina seketika segar dan cemerlang. Ketika mendengar kata cucu, wanita ini memang sudah sangat mendambakan sosok itu dalam hidupnya. Bahkan suaminya sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum terpenuhi keinginannya menimang cucu.


"Benar Bu."


"Kau tau dari mana Dika?"


"Aku tahu segalanya Bu."Sahut Dika. Dengan tersenyum bangga.


Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka.


Dan yang masuk adalah Seno.


"Akhirnya kau datang juga!"Seru Dika. menyambut kedatangan Seno.


"Di mana Rana, bukankah kau bilang dia sudah ada di sini?"tanya Seno yang tidak mendapati istrinya di kamar rawat Lina.


Dan Seno berjalan menghampiri Lina.


"Ibu pasti lama menungguku."


"Tidak! Ibu tadi mengirim pesan pada Rana untuk pergi ke rumah sakit bersama mu, dan saat ibu mengirim pesan dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Ibu kira Rana pulang dulu ke rumah untuk menemuimu tapi ternyata Rana datang sendiri. Tapi, Rana cukup lama sampai di rumah sakit membuat Ibu sedikit khawatir. Lain kali jangan tinggalkan ponselmu agar Rana atau Ibu bisa menghubungimu,"ujar Lina.


"Iya Bu, Maafkan aku lain kali aku akan lebih hati-hati untuk tidak meninggalkan ponselku."


***


Menyadari jika Rana sudah cukup lama pergi untuk membeli makanan, Seno memutuskan untuk menyusulnya. Dan Seno cukup terkejut ketika melihat Rana tengah berbincang dengan Windy di kantin rumah sakit.


Melihat Windy, Seno kembali teringat dengan cerita dari Winda tentang apa yang terjadi dengan gadis itu. Tapi dia tidak lagi memikirkan dan memasukkannya dalam hati, karena Seno sudah menganggap itu adalah masa lalu yang memang benar-benar harus ditinggalkan dan dilupakan.


"Seno!"panggil Windy dengan wajah berbinar ketika melihat Seno berdiri di belakang Rana.


Rana menoleh ke belakang, seketika ia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya ketika melihat Windy dan Seno saling berpandangan.


Seno hanya mengangguk ketika Windy menyapanya.


"Seno, aku tidak tahu jika tante Lina dirawat di sini. Untung saja aku bertemu Rana jadi aku bisa segera mengetahuinya."Ujar Windy, yang kembali membuka pembicaraan dengan Seno.


Namun, lagi-lagi Seno tidak menggubrisnya. Lelaki itu hanya mengucapkan kata.


"Iya."


"Aku ambil pesanan aku dulu, sepertinya sudah siap."Ujar Rana, dan dia segera menuju meja kasir, meninggalkan Windy dan Seno di sana.


Namun Seno lebih memilih untuk mengikuti Rana.


"Makanan apa yang kamu pesan?"tanya Seno yang membuat Rana terkejut, karena dia tengah melamun sampai tidak menyadari jika Seno mengikutinya di belakang dan saat ini sudah berdiri di sampingnya.


"Bubur,"Sahut Rana. Sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang tadi bicara dengannya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau cari?"tanya Seno.


"Dimana dokter Windy?"Jawab Rana, yang matanya masih mengedar ke mana-mana.


"Pergi, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."Sahut Rana. Rana sudah menerima pesanannya dan ia berjalan melewati Seno ingin kembali ke kamar rawat Lina. Dan Seno kembali mengikutinya dari belakang.


"Kenapa kamu tidak menungguku sampai aku datang menjemput?"tanya Seno kembali, di saat mereka sedang berjalan beriringan.


"Aku hanya ingin cepat sampai di rumah sakit, agar cepat bisa menemui ibu."Sahut Rana tanpa melihat.


"Maafkan aku, karena kamu harus ke rumah sakit sendiri."


"Tidak apa-apa, tidak usah mempermasalahkan Itu Mas, aku sudah terbiasa."


Rana kembali berjalan mendahului Seno dan dia segera membuka pintu kamar rawat Lina setelah sampai di sana tanpa menunggu Seno terlebih dahulu. Rana terlihat seperti menghindari Seno.


Rana kembali dibuat kacau hatinya karena dia kembali bertemu Windy. Entah kenapa, setelah mendengar cerita dari Winda dan melihat ekspresi kesedihan dari Seno, Rana menjadi kacau seperti ini.


Rana dan Windy saling tatap. Dan kala itu Windy mengukir senyum terbaiknya begitu juga dengan Rana, Rana memilih bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Karena mungkin ini akan lebih baik baginya.


"Rana, Windy bilang kalian berteman?"tanya Lina.


"Iya, Bu."Sahut Rana.


Terlihat raut yang gelisah dari wajah Lina, dia mengira jika Rana belum mengetahui masa lalu Windy dan Seno. Padahal Wanita itu sudah mengetahui segala-galanya.


Dan Windy menceritakan, pertemuan pertamanya dengan Rana yang secara tidak sengaja di terminal, pada Lina.


Rana hanya diam mematung ketika melihat keakraban Windy dan Lina. Rana seperti merasa bersalah karena telah hadir di antara Seno dan Windy, seandainya dulu dia tidak menerima permintaan kakek Arif mungkin semuanya tidak akan serumit ini.


Dan ia tidak perlu terlibat dengan sesuatu yang membuatnya merasa serba salah seperti ini.


***


Sementara Seno dan Dika sedang berada di luar untuk membicarakan keberangkatan mereka sore nanti.


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"tanya Seno.


"Sudah!"sahut Dika cepat.


"Seno, bukankah Dokter wanita tadi gadis yang pernah menemuimu di kantor SAR beberapa waktu yang lalu? dia mantan kekasihmu kan? yang dulu pernah kau ceritakan kepadaku?"Tanya Dika menuntaskan rasa penasarannya.


Seno mengangguk dan tiba-tiba raut wajahnya berubah.


"Kenapa! apa ada sesuatu yang terjadi?"tanya Dika yang selalu tahu apa yang sedang dipikirkan Seno.


Dan untuk mengurangi beban pikirannya. Seno pun menceritakan kedatangan Winda ke rumahnya.


"Astaga! Malang sekali nasib dokter itu, tapi aku mendukung keputusanmu Seno. Itu adalah masa lalu, kau jangan pernah kembali lagi di masa itu karena sekarang kau sudah memiliki kehidupanmu sendiri. Lagi pula ini bukan salah mu? fokuslah pada kehidupanmu saat ini, dan bukankah kamu juga tengah berjuang untuk merebut hati Rana kembali."Kata Dika setelah mendengar cerita dari Seno.


Seno mengangguk.


"Aku tahu itu, dan aku benar-benar sudah tidak mengingat apapun tentang dokter Windy, karena aku ingin fokus dengan Rana dan ibu."


"Bagus!"Dika menepuk pundak Seno lalu dia kembali berkata."Jika ada kesempatan, dan cari waktu yang tepat. Ceritakan ini semua pada Rana, jangan sampai istrimu itu salah paham."


"Kamu tenang saja, aku akan menceritakan semuanya."


Bersambung..


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2