4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Menghabiskan Waktu Bersamamu.


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸāœØšŸāœØšŸšŸāœØšŸ


Seno membuka sabuk pengamannya dan ia mendekatkan tubuhnya kepada Rana.


"Kau mau apa Mas?"Rana refleks sampai mendorong tubuh Seno menjauhinya.


"Aku hanya ingin memeriksa suhu tubuhmu? wajahmu terlihat pucat. Kau seperti sedang sakit."


"Aku tidak apa-apa Mas, aku hanya lelah dan ingin beristirahat. Tolong antarkan aku pulang ke rumah Kak Sarah, jika mas tidak mau mengantarkan aku pulang biarkan aku turun di sini aku akan bisa pulang sendiri."


"Kau bisa istirahat di sana nanti, bersabarlah. Sebentar lagi kita akan segera sampai."Ujar Seno dan ia kembali ke bangku kemudi dan memasang sabuk pengamannya.


Rana yang gagal membujuk Seno agar mengantarkannya pulang ke rumah Sarah atau menurunkannya di jalan hanya bisa pasrah sambil berdoa semoga apa yang ada di pikirannya saat ini tentang kata-kata menghabiskan waktu bersama itu tidak seperti yang ia kira.


****


30 menit kemudian.


Akhirnya!


setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mobil Seno menepi di sebuah bangunan kecil dengan suasana yang sepi, bangunan itu mirip sebuah Penginapan.


"Ini tempat apa Mas? Kenapa kita ke sini?"tanya Rana yang masih duduk di jok mobil sedangkan Seno sudah membuka sabuk pengamannya siap untuk turun.


"Ini Villa."Sahut Seno dan ia bergerak membukakan sabuk pengaman yang melindungi Rana.


"Villa! Untuk apa kita ke Villa Mas? Dan ini Villa siapa?"


"Villa kita."Sahut Seno, lalu ia turun terlebih dahulu. Untuk membukakan pintu Rana.


"Villa kita? Kenapa Mas Seno semakin aneh saja. Tapi kenapa harus ke Villa? Ya Tuhan kenapa pikiranku semakin buruk, aku takut jika Mas Seno benar-benar akan melakukan....! Selamatkan aku Tuhan."Ucap Rana sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Ayo turun!"ajak Seno yang sudah membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya kepada Rana yang tengah berdoa.


"Mas! Apa sebaiknya kita tidak pulang ke rumah saja?"Rana memberi usul, berharap jika Seno menyetujuinya, karena di rumah Seno mungkin lebih bisa menyelamatkannya dibanding di Villa seperti ini. Karena Rana mengira, di rumah Seno ada Lina yang akan menemani dan mengawasinya di sana.

__ADS_1


"Kita akan di sini sampai besok pagi."Sahut Seno. Yang menandakan. Usulan Rana ditolak.


"Apa! sampai besok pagi?"


"Iya. Ayo turunlah, bukankah kau lelah. Kau bisa istirahat dengan nyaman di dalam."


"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan nyaman tanda tanya mungkin saja aku tidak akan bisa tidur semalaman." Batin Rana, Namun, mau tidak mau, Rana mengulurkan tangannya pada Seno.


Dan Seno menuntunnya sampai ke depan pintu Villa, ia merogoh kunci di saku jaketnya dan segera membuka pintu tersebut.


Dengan ragu dan tubuh yang gemetar, secara perlahan Rana mengikuti langkah Seno memasuki Villa yang bernuansa alam tersebut.


"Kau duduklah di sini, aku akan ambilkan minum."Ujar Seno yang membantu Rana duduk di kursi kayu yang ada di dalam Villa tersebut. Rana seperti orang yang tidak berdaya bahkan untuk duduk pun ia harus dibantu, saking lemas dan groginya Rana sampai membuat tubuhnya seperti tidak bertulang.


"Sejak kapan Mas Seno i memiliki Villa?"tanya Rana pada dirinya sendiri, dan pertanyaan itu tidak ada yang bisa menjawab.


Beberapa saat kemudian, Seno datang dengan membawakan segelas air putih.


"Minumlah. Setelah ini kau bisa beristirahat. Aku akan mengantarmu ke kamar."


Merasa ini semua sudah tidak benar, akhirnya Rana memberanikan diri dengan mengumpulkan semua tenaga yang ia miliki untuk melayangkan protes kepada Seno.


"Aku masih suamimu Rana. Dan kau masih istriku, jadi aku tidak perlu mendapatkan izin dari siapapun hanya untuk mengajakmu bermalam di Vila ini."Potong Seno yang sontak membuat Rana tersadar dan diam. Ya, Ia menyadari jika ia memang masih istri sah lelaki yang ada di hadapannya saat ini, hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi Mas?"


"Permisi! selamat sore Pak Seno?"suara seorang pria, di depan Villa menghentikan perdebatan kecil antara Rana dan Seno.


"Iya, tunggu sebentar!"Sahut Seno tanpa keluar menemui si pria yang memanggilnya.


Lalu ia beralih kepada Rana.


"Aku akan mengantarmu ke dalam kamar, kau bisa istirahat di sana sambil menunggu ku kembali. Karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan di. Tapi itu tidak akan lama aku akan segera kembali."Kata Seno dengan suara Lembut.


"Lama juga tidak apa-apa Mas. Daripada aku harus gugup semalaman karena berdua denganmu disini."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."Tolak Rana yang merasa kesal dengan Seno.

__ADS_1


"Baiklah! kau tunggu sebentar ya, aku pergi dulu jangan lupa kunci pintunya."Pesan Seno dan ia segera berlalu dari Villa tersebut pergi bersama pria paruh baya yang yang menunggunya di luar.


"Dasar lelaki egois dan mau menang sendiri."


Rana yang benar-benar kesal mengumpat suaminya itu,"Tapi ke mana dia pergi? kenapa aku harus sendirian di sini? aaaahh..! bukankah itu malah lebih bagus. Bila perlu, mas Seno baru akan kembali besok pagi. Hingga nanti malam aku tidak perlu merasa was-was, aku merasa gelisah dan hatiku tidak karuan jika harus satu Villa bahkan satu kamar dengan Mas Seno. Aku sungguh tidak bisa membayangkan Itu."Gumam Rana.


Setelah beberapa saat ia berpikir keras untuk mencari cara agar nanti malam Seno tidak meminta dan melakukan apapun padanya. Tubuh dan otak Rana menjadi lelah.


"Sepertinya aku harus menyegarkan badan ini dan segera beristirahat! Baiklah, lakukan itu Rana. Kau harus mengistirahatkan tubuhmu yang sudah bekerja keras ini, setelah itu kau pikirkan lagi cara yang jitu agar Mas Seno tidak melakukan sesuatu malam nanti."


Rana berjalan beberapa saat, mengelilingi ruangan yang ada di dalam Villa tersebut. Tidak sulit baginya untuk menemukan kamar di sana, karena Villa itu tidak terlalu besar. Dan hanya memiliki tiga ruangan. Yaitu, ruang untuk bersantai ,kamar dan dapur.


Rana membuka pintu kamar dan baru saja ia melangkahkan kakinya di sana. Rana dikejutkan dengan sesuatu yang menempel di dinding kamar yang terbuat dari kayu tersebut.


Mata Rana terbelalak menatap sesuatu yang berukuran sangat besar itu, bukan hanya mata saja yang ang terbelalak tapi hati Rana pun menjadi terenyuh.


Ia melihat sebuah pigura besar dan pigura itu berisi foto pernikahannya dan Seno 6 tahun yang lalu.


"Kamu masih menyimpan ini mas? bahkan kau memajang dengan ukuran besar di sini. Apa maksudmu?"gumam Rana yang matanya masih tertuju pada fotonya dan Seno yang terpampang jelas di dalam kamar tersebut.


Rana tersenyum dengan sangat bahagia di foto tersebut. Ya, 6 tahun yang lalu. Di saat ia menikah dengan Seno adalah hari yang paling bahagia untuk Rana. Itulah yang membuat gambar dirinya seperti orang yang paling bahagia di dunia ini.


Rana tidak mau terbuai, hanya karena foto seperti ini tidak mungkin meluluhkan hatinya yang terlanjur kecewa oleh Seno.


Rana berpura-pura tidak menggubrisnya, namun hatinya berdebar. Rana melangkah maju memasuki lebih dalam kamar tersebut. Beberapa saat matanya memutar sekeliling kamar. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut Lalu membersihkan dirinya.


Bersambung..


šŸāœØšŸšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


​


__ADS_2