
Selamat, Membaca š¤
šāØšāØšāØš
"Apa! orang tuanya Vir? pemilik Rumah Sakit ini? lalu untuk apa ibunya memanggilku secara pribadi di sini." Batin Rana, tapi dia sudah bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres.
"Sungguh sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu secara langsung dengan Anda nyonya Mayang. Jika boleh tahu apa yang membuat Anda memanggil saya secara khusus seperti ini?"
Tampa ingin berbasa-basi lagi Mayang pun berkata.
"Tinggalkan Vir, jauhi dia dan jangan pernah mendekati Putra Saya lagi, jangan pernah berharap lebih kepada Vir karena kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya, kalian berbeda. Saya yakin kamu pasti mengerti apa maksud saya. Dan saya harap kamu mendengarkan perkataan saya ini dan segeralah jauhi Vir. Jangan pernah mendekati atau merayu dia lagi."
DEG!
Hati Rana seperti diremas kuat-kuat setelah mendengar perkataan pedas dari Mayang. pasalnya! Rana tidak pernah mendekati Vir, justru lelaki itulah yang selalu mendekatinya dengan berbagai cara dan alasan. Tapi Rana tetap berbesar hati untuk menerima ucapan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Maaf, Nyonya Mayang, sepertinya Anda salah paham, Anda tidak perlu meminta saya untuk menjauhi atau meninggalkan Vir karena sebenarnya kami tidak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja, dia sebagai dokter dan saya sebagai perawat di Rumah Sakit ini."
"Benarkah seperti itu, lantas mengapa Vir sampai ingin menikahi mu padahal dia tahu jika kau seorang janda?"
Rana sangat terkejut dengan perkataan Mayang kali ini.
"Menikah! apa Vir sudah berkata terlalu jauh kepada ibunya? padahal aku sendiri tidak pernah mengucapkan kata iya kepadanya karena aku selalu menolak dan meminta dia untuk mencari wanita lain yang jauh lebih layak dan pantas untuknya."Batin Rana.
"Kenapa kamu diam? apa kamu sedang berpikir bagaimana cara untuk meluluhkan hati saya, supaya saya bersedia menerimamu sebagai menantu di keluarga saya?"
"Tidak! Anda jangan berlebihan Nyonya. Saya tidak pernah berpikir seperti itu. Lebih baik Anda bicara lagi dengan putra Anda yang bernama Virgoun tersebut, karena saya tidak pernah berniat memasuki keluarga Anda dan mendekati Vir, saya cukup tahu diri dengan latar belakang dan status saya Nyonya. Jadi Anda jangan khawatir, karena saya pun tidak pernah berniat untuk menjadi bagian apalagi menantu di keluarga Anda."
Mayang tersenyum mengejek.
"Kamu ini sombong sekali! begitu banyak wanita yang mengidolakan dan mendambakan untuk menjadi menantu di keluarga saya, tapi kamu berani dengan terang-terangan bicara seperti itu di depan saya?"
"Maafkan saya Nyonya, saya bicara sesuai fakta."
"Baiklah, sepertinya kamu tidak terlalu buruk, dan jika saja kau bukan seorang janda mungkin saya masih bisa mempertimbangkan mu untuk menjadi menantu di keluarga saya, tapi karena statusmu ini. Mau taruh di mana muka saya, jika Putra semata wayang keluarga terhormat seperti kami, menikah dengan seorang yang sudah janda dengan derajat yang tentu tidak sesuai dan sebanding dengan keluarga kami."Ujar Mayang sambil m lipat kedua tangannya di dada.
Rana sudah menahan panas dan geram di dadanya. Jika saja wanita ini bukan orang yang lebih tua darinya atau pemilik Rumah Sakit tempatnya bekerja, mungkin Rana sudah baku hantam dengannya.
'Sabar Rana, sabar.'Hanya suara inilah yang di serukan hati Rana agar dia tidak terpancing emosi.
Rana mengulas senyum dan berkata.
"Anda seseorang yang sangat terhormat dan disegani banyak orang, sungguh saya tidak menyangka jika Anda bisa bicara seperti ini dengan merendahkan status seseorang yang tidak Anda mengerti dan tahu kenapa orang itu menyandang status seperti yang Anda rendahkan saat ini."
Mayang geram, dia kesal dengan Rana yang melawannya.
"Kamu, berani bicara seperti dengan saya?"
"Maaf Nyonya Mayang Sari, jika ucapan saya sudah menyinggung Anda yang terhormat ini."
Wajah Mayang sudah memerah, nafasnya naik turun dan matanya menyala menatap lekat Rana.
__ADS_1
Namun Rana tentu tidak perduli dan takut dengan tatapan setajam silet dari Mayang, dia tetap berdiri tegak tanpa menunduk di hadapan Mayang.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus menjauhi Vir dan meninggalkan Vir, jangan pernah berpikir dan bermimpi untuk menikah dengan Putra saya karena kamu sungguh sangat tidak pantas bersanding dengannya."
Rana menghela nafas panjang, Rana sudah tidak mau lagi berdebat dengan Mayang, lalu dia berkata.
"Apakah Anda sudah selesai nyonya, jika sudah tidak ada urusan dan tidak ada lagi yang ingin Anda tanyakan kepada saya. Saya pamit undur diri karena ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."
"Apa!!"Mayang sudah menaikkan alis dan matanya,"Kamu berani kurang ajar kepada saya? Apa kau tidak tahu apa yang baru saya katakan jika saya pemilik dari rumah sakit ini?"Bentak Mayang.
"Tentu saja saya tahu, justru karena itu saya harus segera pergi dari sini untuk melakukan tugas saya sebagai perawat. Anda pemilik Rumah Sakit ini tentu Anda tahu jika sekarang masih jam kerja, bukan waktunya untuk mengurusi masalah pribadi."
Mayang benar-benar geram, dia tidak menyangka jika Rana akan melawan padanya seperti ini. Tangannya sudah mengepal namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia harus menjaga namanya sebagai Nyonya terhormat dan dermawan.
"Pergilah!"ucap Mayang mengusir, namun dia menahan rasa marah yang membuncah di dadanya, dia berjanji di lain kesempatan akan lebih lagi memaki Rana sampai puas.
"Terima kasih Nyonya, saya permisi."
Beberapa langkah Rana memundurkan diri lalu ia berbalik menuju pintu dan keluar dari ruangan khusus milik Mayang tersebut.
***
Sesampainya di luar, Rana mulai mengatur nafasnya yang tidak karuan. Sungguh ia tidak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan orang tua Vir dan orang tua Vir melontarkan kata-kata yang begitu tajam dan menyakitkan.
Tapi Rana tidak bisa diam, jika ada orang yang merendahkan dirinya.
Tidak ada satu orang pun yang berhak merendahkan status seseorang, baik itu janda atau apapun karena setiap orang memiliki alasan, dan takdirnya sendiri, kenapa harus menyandang status tersebut.
***
Sore hari.
"Rana, kau tidak lupa dengan janji kita untuk makan malam bersama kan?"Tanya Vir, yang tentu saja tidak mengetahui jika orang tuanya bertemu dan memaki Rana.
"Tidak!"sahut Rana.
"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja, ini sudah jam 17:30, mungkin kita akan sampai di lokasi malam, karena jalanan pasti macet, kita juga bisa berkeliling di kota ini dulu untuk mengajak Aurel jalan-jalan."Ujar Vir, penuh dengan semangat.
"Maaf dokter Vir, sepertinya aku dan Aurel tidak bisa makan malam bersamamu, karena ada beberapa hal yang harus aku dan Aurel kerjakan di rumah, ditambah lagi Ayah sedang sakit. Aku tidak mungkin meninggalkannya."
"Bukankah di rumah ada Kak Sarah dan Mas Bima, dia bisa kan menjaga Ayah untuk satu malam saja."sahut Vir.
"Maaf Vir, aku tetap tidak bisa. Kalau begitu aku permisi dulu, ini sudah sore, waktunya saya pulang."Pamit Rana dan tanpa menunggu jawaban dari Vir, ia sudah berlalu meninggalkan lelaki yang tengah kebingungan itu.
"Kenapa Rana, tiba-tiba membatalkan acara kami."
*****
Di tempat lain.
Seno dan Dika sedang bersiap-siap.
__ADS_1
Karena mereka memutuskan untuk berangkat lebih awal dari rencana yang mereka tentukan yang seharusnya berangkat esok hari.
"Apa kamu sudah membawa semua yang kau perlukan?"tanya Lina yang tengah memperhatikan Seno berkemas.
"Sudah Bu."Sahut Seno.
"Dika, apa kau tidak pulang dulu ke rumah untuk memberitahu orang tuamu jika kau ikut dengan Seno keluar kota. Bagaimana kalau mereka mencari dan mengkhawatirkan mu?"Tanya Lina pada Dika.
"Ibu Lina tidak perlu khawatir, Ibuku tidak akan mencari dan mengkhawatirkan aku. Tenang saja."Sahut Dika.
"Kamu ini bagaimana! tidak ada satupun orang tua yang tidak mengkhawatirkan anaknya yang tiba-tiba pergi tanpa pamit. Sekarang cepat pulang atau paling tidak telepon ibumu, katakan padanya jika kau ikut dengan Seno keluar kota."Titah Lina.
"Baik, aku akan menelpon ibuku."Patuh Dika. Dan dia selalu segera melakukan apa yang diperintahkan Lina.
āØšāØšāØ
"Apa! Mamah menemui Seno, dan mengatakan apa yang sudah terjadi kepadaku 6 tahun yang lalu?"kejut Windy. Dia benar-benar kaget ketika mendengar Wahyu mengatakan, jika Winda beberapa hari yang lalu menemui Seno dan mengungkapkan semua fakta yang ada.
"Benar. Kamu jangan marah pada tante Winda, ini semua dia lakukan agar Seno tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena dia memang harus tahu semuanya Windy."
"Lalu, apa reaksi Seno setelah tahu sebenarnya? Apa kamu pikir dia akan kembali jatuh cinta lagi kepadaku? tidak kan! mungkin saja dia semakin merasa jijik denganku."Sahut Windy, dengan nafas yang naik turun.
"Windy...!"
"Cukup! Wahyu, sekarang aku ingin pulang dan menanyakan ini secara langsung kepada Mama."
Dengan menahan rasa marah, Windy berlalu meninggalkan Wahyu, dia harus meminta penjelasan kepada mamanya yang sudah berani mengungkapkan kebenaran yang sudah bertahun-tahun susah payah Windy sembunyikan dari Seno.
āØšāØšāØ
"Benar, dan Mama melakukan ini semua demi kamu Nak."Kata Winda, tanpa berasa bersalah, setelah Windy sampai dan langsung mempertanyakan apa yang ia dengar dari Wahyu.
"Untuk apa Mah? untuk mempermalukan aku di depan Seno? Mama ingin menjelaskan dan membeberkan jika aku wanita yang sudah tidak suci lagi di depan Seno? 6 tahun aku menutupi semua ini dari Seno Mah, tapi kenapa dengan mudahnya Mama membeberkan semuanya kepada Seno?"ucap Windy sedikit marah kepada Winda.
"Sudah Mama bilang, semua ini Mama lakukan demi kamu, demi kebahagiaanmu. Mama tidak terima Windy, Seno begitu mudah melupakanmu dan menikahi gadis lain dan hidup bahagia. Sementara kamu! masih terpaku dan terkurung di masa lalu mu, bahkan kamu masih mencintai lelaki itu sampai detik ini."
"Apa tujuan Mama mengatakan ini pada Seno, ini sudah terlambat Mah?"
"Tidak! ini belum terlambat, Mama yakin Seno pasti akan mempertimbangkan semua ini dan Mama sangat yakin jika Seno Masih mencintaimu. Mama juga sudah menemui Rana. Istri Seno."
"Apa! untuk apa Mama menemui Rana? Mama tidak berkata yang tidak tidak pada Rana kan?"Cecar Windy, yang semakin di buat emosi oleh Winda.
Bersambung...
āØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø