
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
"Seno, apa kabar? Sudah lama Tante tidak bertemu denganmu!"sapa seorang yang mengejutkan Seno, dia adalah Winda orang tua Windy. Winda juga tidak datang seorang diri karena dia ditemani oleh Wahyu.
"Tante Winda!"Seno yang masih tidak percaya dengan kehadiran wanita itu di rumahnya, sedikit gagap karena rasa terkejut menyentak hatinya.
"Iya Seno, ini Tante."Sahut Winda.
Dengan cepat Seno kembali bersikap normal dia juga melirik Wahyu, di sini Seno baru tahu jika Wahyu adalah sepupu Windy karena selama berhubungan dengan Windy dia tidak pernah bertemu dengan Wahyu yang tinggal di kota berbeda dengan Windy.
"Kabar saya baik tante, apa yang mau bawa Tante ke sini."Tanya Seno, tanpa berbasa-basi karena ia sangat tahu ada maksud tertentu dengan kedatangan Winda di rumahnya.
"Tante ingin bicara denganmu, Sen."
Seno melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hanya sebentar saja Seno, ada sesuatu yang harus tante sampaikan kepadamu, dan setelah tante mengatakan apa yang harus kau tahu, tante akan pergi."Pinta Winda yang menyadari jika Seno tak ingin bicara dengannya.
"Kau tidak sedang sibuk kan! Jadi tidak ada salahnya jika kau mendengarkan penjelasan tante Winda terlebih dahulu,"sambung Wahyu, menguatkan permintaan Winda.
"Sebenarnya saya sangat sibuk, tapi baiklah! Saya akan meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan apa yang ingin tante Winda sampaikan.Tapi mohon maaf sebelumnya, saya tidak mempunyai banyak waktu. Silahkan masuk. Katakan apa yang penting saja."
Seno pun memilih untuk mengalah. Karena dia pikir, hanya akan membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Winda kepadanya.
***
Sementara di tempat lain. Rana yang mendapati kabar jika Ibu mertuanya harus dirawat di rumah sakit bergegas menuju ke rumah sakit tanpa menunggu Seno terlebih dahulu. Tapi di dalam perjalanan ia mendapat pesan dari ibu mertuanya.
(Ranah Kamu di mana nak?)
(Aku di jalan Bu, aku sedang menuju rumah sakit. Tadi pagi Mas Seno sempat memberitahuku kalau ibu harus dirawat, bagaimana dengan keadaan ibu) khawatir Rana.
(Ibu tidak apa-apa nak, kaki Ibu hanya terkilir saja dan entah kenapa dokter harus menyarankan Ibu dirawat. Padahal ibu bisa dirawat di rumah saja tanpa harus merepotkan kalian seperti ini)
(Ibu memang harus dirawat agar mendapatkan perawatan terbaik)
(Iya nak. Rana apa kau ke sini bersama Seno?)
(Tidak Bu, aku menggunakan taksi online, biar aku ke rumah sakit sendiri saja agar Mas Seno tidak harus jauh-jauh menjemputku.)
(Tapi Seno sudah pergi menjemputmu Nak, sepertinya ia ke rumah dulu untuk mengambil beberapa pakaian ibu, setelah itu dia pasti akan menjemputmu di rumah Sarah.)
(Tidak apa-apa Bu, biar aku yang menghubungi Mas Seno untuk tidak menjemputku di rumah Kak Sarah, karena aku akan langsung menuju ke rumah sakit)
(Tapi Seno tidak membawa ponselnya nak, sepertinya ia terburu-buru hingga meninggalkannya di sini)
Rana yang bingung harus apa, memilih untuk menyusul Seno ke rumah, karena jika Seno tidak tahu bahwa Rana sudah menuju Rumah Sakit, lelaki itu pasti akan langsung ke rumah Sarah yang lokasinya sangatlah jauh dari rumahnya. Dan kebetulan taksi yang Rana tumpangi sudah berada tidak jauh dari kediaman Seno.
šāØšāØš
Kembali kepada Seno.
Dia tengah duduk bertiga di ruang keluarga dan entah kenapa suasana di sana tiba-tiba menegang.
"Apa yang ingin tante Winda sampaikan?"
"Ini tentang Windy?"
"Ada, apa? Tante tahu kan jika hubungan saya dan Windy sudah berakhir beberapa tahun yang lalu dan saat ini pun saya sudah menikah."Sahut Seno.
"Tante tahu itu Seno, tapi kau juga harus tahu kebenaran 6 tahun lalu mengapa Windy sampai meninggalkanmu, selama ini kau tidak pernah tahu itu kan hingga kau bisa dengan mudahnya membuka hati dan menikah dengan wanita lain tanpa memikirkan perasaan Windy saat itu."
__ADS_1
Seno sedikit terbelalak mendengar kata-kata Winda yang seolah menyalahkan dirinya.
"Apa maksud tante? bukankah anak tante sendiri yang memutuskan untuk pergi dari saya dan menolak lamaran saya saat itu, lalu kenapa sekarang tante datang dan seperti menyalahkan saya?"
"Tante bukan menyalahkanmu Seno, tante hanya menyayangkan sikapmu yang tidak peduli dengan Windy saat itu. Seharusnya kau bisa mencari tahu kan apa penyebab Windy sampai memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian berdua."
Seno sudah mulai jengah dengan kata-kata Winda yang hanya menyudutkannya saja.
"Tante, apa saya harus memohon dan bersujud padanya agar dia mau mengatakan alasannya? tidak kan! Windy yang sudah memilih keputusannya sendiri dan saat itu aku sudah berusaha untuk mempertahankan dan meyakinkannya, namun Windy tetap pada pendiriannya. Dan saya bisa apa? kalau bukan membiarkannya pergi untuk mengejar mimpinya, dan sekarang tante datang dengan menyalahkan saya?"
Tiba-tiba Winda tersedu.
"Seno, apa kau tidak bisa berkata sedikit lembut pada tante Winda?"ujar Wahyu yang tidak terima dengan kata-kata Seno yang sampai membuat Winda menangis.
"Apa Anda juga ingin menyalakan saya? lebih baik Anda ajak tante Winda pulang sekarang. karena saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan semua kisah tentang putrinya itu."
Wahyu terpancing emosinya ketika mendengar kata-kata dari Seno, dia sudah akan marah namun Winda segera menahan keponakannya itu. Dan wanita paruh baya itu kembali berkata kepada Seno.
"Maafkan tante Seno, tante tidak bermaksud menyalahkan mu, tante hanya terlalu bersedih atas penderitaan Windy selama 6 tahun ini."
"Maafkan saya juga Tante, sepertinya saya tidak bisa mendengar cerita tante tentang penderitaan Windy, karena itu bukan menjadi urusan saya."
Seno sudah bangun dari duduknya, sepertinya lelaki itu sudah tidak ingin lagi mendengar apapun yang keluar dari mulut Winda.
"Tante mohon Seno, tolong dengarkan dulu apa yang ingin tante sampaikan. Tante akan mengatakan kepadamu apa yang terjadi pada Windy 6 tahun yang lalu sehingga Ia memutuskan untuk meninggalkanmu, padahal Windy sangat mencintaimu bahkan sampai saat ini pun dia belum bisa melupakanmu."
Seno mematung sejenak, sebenarnya dia sudah sangat tidak peduli apapun yang terjadi dengan Windy waktu itu, karena sekalipun Winda menjelaskan kepadanya itu tidak akan pernah merubah apapun yang sudah terjadi saat ini. Tapi ketika melihat raut sedih dan rasa hormatnya pada orang tua yang ada di hadapannya ini, Seno pun memilih untuk mendengarkan cerita dari Winda.
Seno kembali duduk di tempat semula.
Dan sambil terseduh karena menahan sesak Winda pun mulai bercerita kepada Seno.
[FLASH BACK]
6 tahun yang lalu, dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Seno menikah dengan Rana.
kedua insan ini adalah pasangan kekasih yang saling mencintai satu sama lain, dan mereka sudah menjalin hubungan sejak 2 tahun yang lalu. Saat itu Windy masih Kuliah dan Seno sudah bekerja.
Hubungan mereka berdua sudah seperti Romeo dan Juliet, membuat semua orang merasa iri ketika melihat keromantisan dan harmonisan hubungan mereka.
Windy gadis yang terkenal baik dengan keramahan serta kelembutan yang melekat dalam sosoknya. Tidak heran jika Seno langsung jatuh cinta kepada Gadis itu saat pertama kali ia berkenalan dengan Windy di sebuah tempat yang tidak terduga. Di lokasi bencana, saat itu Seno tengah melakukan tugasnya dan Windy sebagai tenaga relawan di lokasi tersebut.
Selama 2 tahun menjalin hubungan, Seno semakin serius dan memantapkan hati untuk memilih Windy sebagai pasangan hidupnya. Begitupun juga dengan Windy, ia sudah sangat siap jika saatnya Seno datang meminang dirinya meskipun saat itu ia sedang kuliah tapi ia akan tetap menikah dengan Seno karena itu adalah impiannya, hidup bahagia bersama orang yang sangat ia cintai selama ini.
Namun, di saat dia memantapkan hati untuk memilih Windy sebagai teman hidupnya tiba-tiba kakek Arif meminta Seno untuk segera menikah. Tapi bukan dengan Windy kekasih Seno, kakek Arif menginginkan Seno menikah dengan seorang gadis yang kakek Arif temui di rumah sakit saat ia dirawat dan Gadis itu adalah Kirana, yang sedang magang di rumah sakit tersebut. Melihat kebaikan, kelembutan serta ketulusan Rana, kakek Arif sangat yakin jika Gadis itu cocok untuk mendampingi cucu semata wayangnya.
Hingga kakek Arif pun dengan yakin mengutarakan niatnya yang ingin menjodohkan Seno dengan Rana.
"Maaf kek, aku tidak bisa."Tolak Seno, di saat kakek Arif mengutarakan keinginannya.
"Tidak bisa bagaimana?"
"Aku sudah mempunyai pilihan Ku sendiri, jadi aku tidak bisa menerima gadis yang kakek pilihkan untukku."
"Siapa gadis itu? apakah dia gadis baik-baik? Apakah dia sebaik gadis pilihan kakek, lalu kenapa kau tidak pernah memperkenalkannya kepada kakekmu ini jika kau sudah mempunyai pilihan?"
"Ayah tenanglah,"Lina menenangkan kakek Arif yang terlihat emosi kepada Seno.
"Dia bernama Windy tentu saja dia gadis baik-baik karena aku sudah mengenalnya sejak lama. Dan aku sudah memutuskan untuk menikahinya."
Kakek Arif menghela nafas dalam-dalam, ia belum mengenal Windy karena memang Seno tidak pernah mengenalkan Gadis itu kepada kakek Arif, tapi entah kenapa meskipun Seno sudah menjelaskan semua kebaikan dan kesempurnaan yang dimiliki Windy, kakek Arif tetap tidak memiliki feeling kepada gadis yang bernama Windy itu karena kakek Arif tetap pada pilihannya, yaitu Rana.
"Yang Seno katakan benar Yah, Windy gadis baik dan cantik. Aku sudah mengenalnya,"Sambung Lina. Yang melengkapi perkataan Seno di saat ia meyakinkan kakek Arif.
__ADS_1
Tapi meskipun kedua orang itu sudah meyakinkan kakek Arif, kakek Arif tetap menginginkan Seno menikah dengan Kirana gadis pilihannya.
Di saat Seno meminta Feri, ayahnya, untuk meyakinkan kakak Arif namun lelaki itu malah mengatakan.
"Ayah pernah beberapa kali bertemu dengan Kirana. Dia gadis baik dan dia juga cantik, kalau seandainya kamu menikah dengan gadis itu, Ayah tidak keberatan."
Jawaban Feri, yang malah membuat Seno semakin kesal, tapi Seno tetap kekeh pada pilihannya yang ingin menikah dengan Windy hingga Ia melakukan cara apapun untuk meyakinkan kakek Arif dan Feri.
Hingga pada akhirnya, Feri dan Arif pun mengalah, menyetujui keinginan Seno yang ingin menikah dengan Windy kekasihnya.
"Baiklah, kakek akan membatalkan perjodohanmu dengan Rana. Tapi kakek minta kau secepatnya menikah dengan kekasihmu itu dan kakek ingin bertemu dengan gadis pilihanmu itu besok."
Seno tersenyum lebar karena bahagia, akhirnya kakek Arif mengizinkan ia menikah dengan kekasihnya dan membatalkan perjodohannya dengan Rana, gadis yang belum pernah Seno temui sekalipun dalam hidupnya.
***
"Windy, kakek dan Ayah ingin bertemu denganmu."Ucap Seno di saat dia bersama dengan Windy.
"Benarkah! kenapa aku jadi deg-degan seperti ini,"Windy terlihat gugup, padahal Seno baru mengatakan jika orang tuanya ingin bertemu.
Seno menggenggam tangan gadis itu.
"Jangan gugup, ada aku. Mereka ingin mengenalmu lebih jauh, bagaimana? apa Kau mempunyai waktu luang untuk bertemu dengan kakek dan ayah?"tanya Seno.
Windy mengangguk.
Seno tersenyum.
"Bagaimana kalau besok, kamu bisa kan?"
"Maaf Seno, besok aku harus mengerjakan beberapa tugas kuliah ku, bagaimana kalau lusa?"Ucap Windy dengan hati-hati karena ia takut Seno kecewa.
"Tidak masalah, hanya tinggal menunggu satu hari kan, kamu kerjakan saja semua tugas kuliah mu. Aku akan menjemputmu besok malam dan sebelum kamu menemui kakek dan ayah, aku akan memberikan kejutan terlebih dahulu kepadamu."Ujar Seno.
Hati Windy benar-benar dipenuhi dengan kebun bunga, karena saat itu ia tengah berbahagia, tentu Windy tahu maksud Seno memperkenalkannya dengan kakek Arif dan ayah Feri. Windy merasa impiannya yang ingin hidup bahagia bersama orang yang ia cintai akan segera terkabul, menghabiskan waktu bersama Seno dan berbulan madu ke tempat impian mereka.
"Baiklah! aku akan bersiap-siap untuk itu,"sahut Windy dengan senyum merekah menandakan bahwa ia sangat bahagia.
"Kalau begitu aku pergi dulu karena ada latihan. Sore nanti aku akan menjemputmu."Ujar Seno, ketika ia menyadari bahwa sudah waktunya memasuki sesi latihan di kantor SAR.
"Tidak Seno, sore nanti kamu tidak perlu menjemputku. Aku akan pergi bersama teman-temanku untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman kuliahku."Tolak Windy, yang saat itu Ia memang mempunyai janji dengan teman-temannya.
"Apa aku tidak perlu mengantarmu?"
"Tidak perlu Seno, kau sudah terlalu lelah karena seharian harus latihan dan bekerja. Setelah menghadiri pesta ulang tahun temanku, aku akan segera pulang ke rumah dan kita akan bertemu besok malam."Ujar Windy.
Seno mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Berhati-hatilah!"
Windy melambaikan tangannya mengiringi kepergian Seno yang mulai tidak terlihat di kedua netranya.
Seno memang lelaki baik, ia selalu menjemput Windy di kampus dan mengantarkan Gadis itu pulang ke rumah. Namun hari ini, Windy memilih untuk melarang Seno menjemputnya karena ia akan pergi bersama teman-temannya.
šāØšāØšāØšš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya.
Dan jangan lupa untuk tinggal jejak ya š¤š¤