4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Sahabat Yang Saling Mendukung


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Dengan senyum seribu Wat, Dika berjalan semakin mendekati Rana dan Seno.


"Selamat datang Rana,"sapa Dika. Pada istri sahabatnya itu.


"Terima kasih Dika."Sahut Rana.


Dika senyum-senyum sendiri melihat pasangan suami istri ini. Pikirannya berkelana kemana-mana menerka apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.


"Kau mau ikut masuk?"tanya Seno pada istrinya.


"Tidak, aku di sini saja."


"Baiklah, aku tidak akan lama, hanya mengambil beberapa barangku."Ujar Seno, dan dia melangkah masuk kedalam kantor.


Setelah Seno masuk tinggalah Rana dan Dika.


"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"tanya Rana yang merasa risih dengan tatapan Dika.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa senang kau bisa akur kembali dengan Seno. Dia sudah menyesali apa yang dulu dia lakukan padamu, dan tidak ada salahnya jika kau memberi kesempatan untuk lelaki malang itu, dia hampir mati 4 tahun yang lalu. Dan koma selama 9 bulan bahkan sempai sekarang pun dia masih melakukan pengobatan. Apa kau tidak kasihan padanya?"


"Aku sudah tau, kau tidak perlu menjelaskannya lagi."


"Bu Rana."


Kehadiran Rana di sana menarik perhatian beberapa rekan-rekan suaminya.


"Iya benar itu ibu Rana."


Salah seorang mendekati dan mengulurkan tangannya pada Rana.


"Selamat datang Bu, senang bertemu dengan Anda kembali."


PLAK!


Dika menepak tangan Pria itu.


"Ais, apa yang kau lakukan!"geramnya tertahan.


"Kau mau mencari maslahah dengan memegang tangannya?"bisik Dika.


"Ah, iya. Maaf aku tidak sengaja, saking senangnya aku bertemu kembali dengan Bu Rana sampai aku lupa akan hal itu."


"Sekarang kau jaga Bu Rana baik-baik di sini, jangan sampai dia pergi sebelum Seno datang. Mengerti?"Bisik Dika, pada pria tersebut.


"Mengerti."


Dika beralih kepada Rana dan ia berpamitan masuk ke dalam, karena lelaki itu sudah tidak sabar ingin menanyakan beribu-ribu pertanyaan kepada Seno.


Melihat kesempatan bagus karena sudah tidak ada Seno atau Dika di sana Rana berniat untuk pergi. Namun!


"Bu Rana mau kemana?"tanya pria yang baru mendapatkan tugas dari Dika untuk menjaga istri ketua timnya.


"Saya harus pulang."


"Kenapa terburu-buru sekali, bukankah Pak Seno masih ada di dalam. Lebih baik Anda tunggu di sini saja."Ujar pria itu dengan maksud menahan Rana, dan teman yang ada di sebelahnya dengan gesit masuk ke dalam mengambil kursi untuk Rana duduk.


"Ibu Rana duduklah di sini, saya akan mengambilkan minum."Ucapnya, setelah melap kursi untuk Rana.


"Iya, cepat ambilkan minum untuk Bu Rana, beliau pasti kehausan,"sahut temanya. Entah mereka takut atau terlalu patuh dengan perintah Dika sehingga mereka benar-benar mematuhi perintahnya dengan sebisa mungkin menahan Rana di sana.


"Maaf, tidak perlu repot-repot, karena saya harus segera pergi,"tolak Rana dengan sopan.

__ADS_1


"Kami sungguh tidak merasa direpotkan, justru Kami merasa senang bisa melayani Anda."


Rana benar-benar dibuat heran dengan


kelakuan mereka.


"Kenapa teman-teman kerja Mas Seno semuanya aneh, dan kenapa mereka harus bersikap dan memperlakukanku seperti ini."Gumam Rana dalam hatinya.


"Bu Rana, ini minumnya. Silahkan."Pria yang tadi berpamitan sudah kembali dengan nampan berisi air putih di gelas transparan.


Karena tidak mungkin menolak kebaikan seseorang yang sudah menjamunya, Rana pun duduk dan meminum air tersebut.


"Ngomong-ngomong, kapan Bu Rana kembali dari luar negeri?"


Pertanyaan rekan Seno tentu membuat Rana terkejut.


"Keluar negeri?"


"Iya, pak Seno bilang jika selama ini Anda pergi ke luar negeri untuk belajar."


"Apa Mas Seno menutupi perpisahan kami pada rekan kerjanya."


"Iya, benar beberapa tahun yang lalu saya keluar negeri, dan baru kembali satu bulan yang lalu."Sahut Rana, yang tidak mau mengatakan jika suaminya berbohong.


Kedua pria itu kembali berbicara dengan menceritakan segala kebaikan Seno pada Rana.


**


Sementara di dalam kantor.


Dika sedang mengganggu Seno yang tengah mengemas barang-barangnya.


"Bagaimana! apa kau sudah melakukan apa yang aku sarankan?"Tanya Dika menggebu-gebu.


"Itu, melakukan tugas dan hak mu sebagai suami Rana?"


Seno menghentikan aktivitasnya, lalu ia menatap Dika yang tengah cengar-cengir menanti jawaban darinya.


"Apa kau kira, secepat itu aku melakukannya?"


Dika terdiam, dia masih loading menerjemahkan maksud dari ucapan Seno.


"Aaaah... Aku paham, kau pasti akan melakukannya dengan durasi lama dan panjangkan, ah.. Benar, kau baru keluar satu jam yang lalu mana mungkin secepat itu melakukan sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak kau lakukan. Hehehe."Ujar Dika, seraya terkekeh setelah ia menerjemahkan maksud perkataan Seno, dengan pikirannya sendiri.


Seno meletakkan telapak tangannya di kening Dika.


"Dika, badanmu sedikit panas, lebih baik kau pergi ke Rumah sakit untuk memeriksakan diri."Ucapnya, setelah memeriksa suhu tubuh Dika.


"Rumah sakit? Aku tidak sakit!"


"Jika kau tidak sakit, mana mungkin kau bicara tidak karuan seperti ini."


"Aku tengah bahagia dengan keberhasilanmu Seno!"Seru Dika.


Seno usai dengan pekerjaannya yang memasukkan semua barang di tas. Dan ia menepuk pundak Dika.


"Terima kasih kau sudah bahagia untukku, dan terima kasih sudah memberikan aku saran yang baik."


"Tidak perlu sungkan, aku tahu dengan ke ahlian ku dalam Cinta cukup mumpuni, sehingga aku mempunyai ide ingin membuka jasa Pak Comblang kelilingi. Hehehe.."


Seno tersenyum. Lalu berkata.


"Tapi, sebelum kau membuka jasa itu, aku sarankan, periksakan terlebih dahulu dirimu ke rumah sakit."


"Untuk apa?"Tanya Dika serius.

__ADS_1


"Tentu saja untuk memastikan kesehatanmu."


"Terima kasih Seno, kau sudah memperhatikan kesehatanku. Aku benar-benar terharu memiliki ketua tim seperti mu."Ujar Dika penuh haru.


"Jangan sungkan-sungkan. Dika,"Sahut Seno,"Kalau begitu aku pergi dulu, tolong kau urus semuanya, tapi jika ada keadaan darurat hubungi aku. Karena hari ini aku harus pulang cepat,"sambungnya.


"Baik, aku akan mengurus semua yang ada di sini. Kau pergilah, nikmati waktu bersama istrimu."


Kedua sahabat itu terlihat saling mendukung satu sama lain.


"Seno tunggu?"cegah Dika.


"Ada apa?"Seno menghentikan langkah kakinya.


"Kau bilang, aku harus memeriksakan diri ke rumah sakit?"


"Benar."


"Lalu, apa kau tahu rumah sakit terbaik mana yang cocok untukku?"Tanya Dika serius.


Seno tersenyum lalu menjawab.


"Hanya ada satu rumah sakit yang cocok di dunia ini untuk mu."


"Katakan. Aku akan segera kesana?"Dika penuh harap. Dia merasa sangat beruntung dengan perhatian yang di berikan Seno.


"Rumah Sakit Jiwa,"kata Seno dengan entengnya. Lalu tanpa merasa bersalah, dia melenggang pergi meninggalkan Dika yang wajahnya memerah seperti terbakar.


***


"Apa yang sedang kalian lakukan?"tanya Seno kepada dua pria yang tengah mengobrol dengan istrinya di depan kantor.


"Pak Seno, kami hanya sedang menyapa istri Anda."Mereka melihat wajah Seno yang seperti mencurigai mereka.


"Mas panggil Rana."


Seno melirik. Dan ia kembali pada kedua Pria tadi.


"Kalian boleh kembali melakukan pekerjaan kalian."


"Baik Pak, terima kasih. Kami permisi. Selamat bersenang-senang."


Kedua pria itu masuk kedalam. Sambil tersenyum penuh arti pada Seno, bukan hanya senyum tapi mereka mengedipkan sebelah matanya sambil mengacungkan tangan memberi kode semangat.


"Ini pasti ulah Dika." Gumam Seno dalam hatinya.


"Ayo kita pergi. "Ajak Seno kepada istrinya.


"Ke mana Mas? bukankah kau harus bekerja? Aku bisa pulang sendiri."


"Aku sudah selesai. Ada Dika yang akan mengurus semuanya."


Tidak mau berlama-lama, Seno pun segera menuntun kembali tangan Rana untuk masuk ke dalam mobilnya, lalu ia pergi dari kantor SAR. Entah ke mana dia akan membawa istrinya itu. Hanya Seno dan tuhan yang tahu.


Bersambung...


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Peluk sayang dari otor untuk pembaca setia Seno, Rana dan Vir ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2