
Selamat. Membaca š¤
šāØāØāØāØš
Tidak ada pilihan lain, Seno memang harus menahan diri untuk malam ini.
Ya, untuk malam ini saja, karena di malam-malam berikutnya ia mulai beraksi.
Dika semakin gencar meledek Seno yang terlihat nampak kesal.
Seno mendudukan diri di sofa sebelah Dika.
"Sudah Seno, jangan pasang wajah yang cemberut seperti itu. Nikmati saja malam ini meskipun kita harus tidur di sofa, kau tidak bisa tidur bersama Rana, tapi masih ada aku yang menemanimu di sini, seharusnya kau bersyukur."Ucap Dika. namun kata-katanya ini terdengar seperti ledekan bagi Seno.
"Diam kau!"Kesal Seno.
Rana kembali menghampiri mereka dengan membawakan satu selimut tebal.
"Terima kasih Rana, kau jangan merasa tidak enak denganku. Aku sudah sangat berterima kasih meskipun harus tidur di sini. Tapi tidak dengan lelaki yang ada di sebelahku ini sepertinya dia tengah menggerutu di dalam hati."Ujar Dika, setelah menerima selimut dari Rana. Dan melirik Seno yang masih cemberut.
"Apa kalian sudah makan?"tanya Rana.
"Sudah, kami tadi makan di jalan. Kau beristirahatlah, cepat masuk kedalam kamarmu."Sahut Dika. Mengusir Rana, yang membuat Seno semakin kesal karena sebenarnya ia ingin berlama-lama bersama istrinya.
Rana mengangguk.
"Selamat malam, Mas."Ucapnya sebelum pergi meninggalkan Seno dan Dika.
"Selamat malam, Rana."Sahut Seno, namun ia memasang wajah iba berharap jika Rana mengajaknya.
"Haha.. Ha..!"
"Kenapa kau tertawa?"
Seno melotot pada Dika yang cekikikan.
"Aku hanya ingin tertawa memangnya tidak boleh?"
"Sekali lagi kau mengeluarkan suara, aku akan melakban mulutmu."Ancam Seno, yang seketika membuat Dika diam.
.
.
.
Hening.
Tidak ada lagi suara dari Dika ataupun Seno.
Hingga Seno yang masih duduk, memecahkan keheningan dengan bertanya pada Dika.
"Dika?"
"Eeemm."Sahut Dika yang hanya berdehem.
"Apa menerutmu, ayah dan ibu mertua. Sudah Memaafkan aku?"
"Eeeem..!"
Seno melirik.
" Aku bertanya kepada mu? Dan kau harus menjawabnya."
"Bukankah kau yang tadi memintaku untuk tidak bersuara? Dasar aneh!"umpat Dika.
"Tapi, jika aku bertanya kak harus menjawab."
Dika bangun dari baringnya.
Dia bisa merasakan jika saat ini Seno tengah gelisah. Dan ia tidak akan mengajak Seno bercanda.
"Seno, percayalah semua baik-baik saja, ibu dan ayah mertua mu itu sangat baik. Melihat dari wajahnya yang menatapmu, mereka sudah memaafkan mu. Besok kau jelaskan pada mereka apa yang harus kau jelaskan. Dan yakinkan mereka jika kau akan membuat Rana bahagia, karena itulah keinginan semua orang tua. Melihat anak-anaknya bahagia."
Seno mengangguk.
"Aku mengerti."
__ADS_1
*****
"Dika, singkirkan tanganmu. Jangan memelukku seperti ini."Geram Seno yang sudah berulang kali menyingkirkan tangan Dika yang melingkar di perutnya. Saat ini mereka sedang tidur di sofa yang sama.
"Di sini dingin sekali Seno."
"Tapi tidak harus memelukku kan, bagaimana kalau Ibu dan Ayah Mertuaku keluar lalu melihat kau seperti ini, mereka bisa salah paham seperti ibu-ibu yang di jalanan tadi."
"Baiklah! aku juga tidak mau mereka salah paham, sungguh itu membuatku malu sampai tujuh turunan dan semoga saja aku tidak pernah bertemu lagi dengan ibu-ibu tadi."
Dika membalik tubuhnya dan sekarang berposisi mereka saling membelakangi.
**
Seno yang tidak bisa tidur memilih untuk bangun.
Lalu dengan nekat lelaki ini memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Rana.
CKLEK!
"Ada apa Mas? Kenapa kamu belum tidur? apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"tanya Rana Setelah dia membuka pintu, sepertinya gadis ini pun belum tidur karena matanya masih nampak segar.
"Aku tidak bisa tidur, Dika selalu menggangguku, aku ingin tidur di kamarmu saja,"ujar Seno dengan suara manja. Berharap Rana berbaik hati dengan mengusir Aurel dari kamarnya, dan membawa dia masuk.
"Tunggu sebentar lagi Mas, Ini sudah memasuki waktu subuh. Biasanya Aurel akan bangun dan Mas bisa tidur di dalam."
Seno kembali menekuk wajahnya karena lagi-lagi dia harus menunggu.
"Baiklah aku akan menunggunya. "
Rana mengangguk dan berkata.
"Istirahatlah Mas, kau pasti lelah."
Dengan langkah lesu, Seno kembali ke ruang keluarga dan membaringkan tubuhnya di sofa sebelah Dika.
Sofa yang sebenarnya tidak muat jika harus ditempati dua pria dengan badan yang cukup besar, tapi mereka harus tetap berbagi tempat.
****
Semua penghuni rumah sudah bangun dan tengah melakukan aktivitas pagi masing-masing di dalam rumah. Sementara Dika dan Seno masih terkungkung di bawah selimut yang sama,
Seno yang menggerutu tidak bisa tidur karena di ganggu Dika, kini dia masih anteng dan terlihat nyaman tidur di sofa berdua bersama Dika. Mungkin karena rasa lelah dan letih setelah menempuh perjalanan seharian membuat kedua lelaki ini lupa di mana mereka tidur saat.
**
"Apa kau akan pergi ke rumah sakit hari ini?"tanya Kartika kepada Rana yang tengah Membuat sarapan.
"Tidak Bu, tapi siang nanti aku harus ke posko, karena perawat yang berjaga di sana ijin untuk pulang menjenguk anaknya yang sakit."
Kartika mengangguk.
"Rana."Panggil Sarah dengan nada membentak.
"Ada apa kak?"
"Kenapa lelaki itu bisa sampai sini? Apa kau yang memintanya untuk datang?"
"Tidak, Mas Seno datang sendiri."
"Untuk apa?"
"Kak Sarah tanya langsung saja pada Mas Seno."
Sarah nampak kesal pagi ini, ketika dia mendapati ada Seno di rumah itu.
"Lebih baik kau minta Seno untuk kembali ke kota setelah dia bangun nanti."Titah Sarah.
Namun perintahnya itu tidak digubris oleh Rana yang masih fokus dengan aktivitasnya yang tengah memasak.
"Sarah, ini masih pagi tidak baik jika harus memulai dengan keributan. Bagaimana jika Ayahmu dengar dia pasti akan marah padamu."Sahut Kartika.
"Aku seperti ini karena aku tidak ingin lelaki itu kembali melukai dan menyakiti Rana Bu, aku kan sudah bilang jika seseorang pernah melakukan satu kali kesalahan dan dimaafkan dia pasti akan mengulanginya lagi."
"Tidak semua orang seperti itu Sarah, kau tidak boleh menghakimi seseorang yang pernah melakukan kesalahan, dia sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh."Sahut Kartika.
Sarah menatap lekat Ibunya dan berkata.
__ADS_1
"Mendengar dari perkataan Ibu ini, sepertinya Ibu sudah membuka hati dan memaafkan Seno."
"Benar! Ibu sudah memaafkan Seno."Jawab Kartika dengan tegas.
"Terserah pada ibu saja, tapi berhati-hatilah Bu aku hanya takut jika Seno kembali mengulangi kesalahannya."
"Berpikirlah positif Sarah, semuanya akan baik-baik saja."
***
Pukul 11:00
Salah satu pria yang masih terlelap di sofa mulai mengerjapkan matanya, dan saat ini dia sudah menyadari bahwa dia bukan berada di rumahnya apalagi di markas.
Dengan gesit Seno bangun lalu mendudukkan dirinya di sofa kemudian ingatan semalam kembali terkumpul di otaknya.
Seno melirik jam dinding.
"Dasar tidak tahu malu, jam segini kau masih tidur di rumah orang."Umpat Seno seraya menggeplak punggung Dika yang masih terlelap.
Seno mengedarkan pandangannya dan menajamkan pendengarannya, rumah itu nampak sepi dan tidak ada suara apapun.
Seno segera beranjak.
Dan yang pertama kali dia tuju, tentu saja kamar Rana.
Tok! Tok!
"Rana, apa kau ada di dalam?"
"Iya, kau sudah bangun Mas. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, kau makanlah bersama Dika."Sahut Rana dari dalam kamar tampa membuka pintu.
"Kenapa di sini sepi? Di mana ayah dan ibu?"
"Ibu mengantar Ayah kontrol ke rumah sakit bersama Kak Sarah dan Mas Bima."Sahut Rana kembali.
"Lalu di mana Aurel?"tanya Seno kembali.
"Kenapa kamu menanyakan Aurel Mas? Dia sedang pergi ke pasar bersama Dino untuk membeli keperluannya."
lagi-lagi Rana hanya menyahut tanpa membuka pintu, entah sedang apa dia di dalam kamar.
Mendengar Aurel pergi ke pasar bersama Dino, sontak membuat Seno mengulas senyum terbaiknya.
Tanpa ragu dan sungkan, Seno memutar gagang pintu dan mendorongnya.
CKLEK....!
"Apa yang kau lakukan Mas! kenapa dibuka pintunya!"Rana terkejut dan sedikit marah.
Seno terbengong melihat istrinya hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya dan hanya sebatas lutut. Rupanya ini yang membuat Rana tidak membuka pintu karena dia baru selesai mandi.
"Tutup pintunya mas!"Teriak Rana.
"Baik!"dengan cepat Seno menutup pintu.
"Maksudku, tutup pintunya dan kau keluar Mas?"
"Untuk apa?"Tanya Seno. Seraya melangkahkan kakinya mendekati Rana yang berdiri di depan lemari pakaian.
Rana melepaskan handuk yang ada di atas kepalanya dan dia gunakan untuk menutupi pundaknya yang terbuka.
Meskipun Seno suaminya dan tentu saja lelaki itu sudah pernah melihat seluruh bagian tubuhnya, tapi saat ini, setelah 4 tahun berpisah. Rana merasa canggung dan malu jika harus membuka tubuhnya di depan Seno.
"Kau mau apa Mas?"Tanya Rana yang perlahan memundurkan diri karena Seno semakin mendekatinya dengan tatapan menyeringai.
Bersambung...
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1