4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Mendambakan Cucu


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


āœØšŸšŸšŸāœØ


Di tempat lain.


"Ibu Lina! Anda benar ibu Lina kan?"


Seorang wanita, mengejutkan Lina yang sedang berbelanja di minimarket.


"Iya, benar. Anda siapa?"sahut Lina Sambil mengingat-ingat wanita di hadapannya.


"Astaga! Semudah itu Anda melupakan saya, padahal dulu kita hampir menjadi besan."


Lina kembali mengingat.


"Saya Winda, orang tua Windy!"ucap wanita itu, sebelum Lina mengingat dirinya.


"Winda. Oh iya. Saya hampir lupa dengan Anda, maafkan saya Bu Winda mungkin karena sudah lama sekali kita tidak bertemu, hingga saya sedikit lupa."


"Tidak apa-apa Bu Lina, karena sayapun sering ke luar negeri saat Windy tinggal di sana, dan baru beberapa bulan ini saja saya menetap di tanah air setelah Windy memutuskan untuk tinggal di sini."


"Ah iya, beberapa waktu yang lalu saya bertemu Windy di rumah sakit. Sekarang dia sangat cantik dan terlihat lebih dewasa."Puji Lina.


"Terima kasih Bu Lina, sudah lama saya tidak mengobrol dengan Anda. Di kesempatan ini, bagaimana kalau kita berbincang sejenak. Menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus."Ajak Winda.


Lina tidak langsung setuju, karena sesungguhnya dia ingin langsung pulang setelah selesai belanja, namun karena tidak enak dengan Winda yang dulu memang memiliki hubungan baik dengannya. Hingga akhirnya Lina pun mengiyakan ajakan Winda.


**


"Saya tidak ada di tanah air waktu Seno menikah, jadi maafkan saya yang kala itu tidak bisa hadir di acara bahagia kelurga Anda, dan saya juga turut berdukacita atas kepergiaan suami Anda, saya benar-benar terlambat mengetahui kabar itu jadi maafkan saya yang tidak bisa pulang waktu itu."Ucap Winda, di awal pembicaraannya.


Kini mereka tengah duduk di sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu.


"Tidak apa-apa Bu Winda. Saya mengerti itu, yang terpenting kita semua dalam keadaan sehat dan baik."


Winda menghela nafas, dan mimik wajahnya seketika berubah.


"Dalam keadaan baik! Mungkin itu hanya untuk Seno dan Anda, karena saya dan Windy tentu tidak dalam keadaan baik-baik saja selama beberapa tahun ini."


"Maksud Anda?"


Tanpa merubah mimik wajahnya, Winda kembali bicara.


"Ibu Lina, Anda pasti sudah mendengar cerita Windy 6 tahun yang lalu kan?"


Ya, Lina sudah mengetahui cerita teragis itu dari Seno. Dan Lina juga tahu jika Winda meminta Seno untuk kembali pada Windy.


"Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Windy, tapi saya tahu Windy gadis yang kuat. Hingga sekarang dia terlihat baik-baik saja."

__ADS_1


"Itu hanya dari pandangan Anda, karena sesungguhnya Windy tidak baik-baik saja. Dia hancur, terluka. Di tambah lagi Seno dengan cepat melupakan dirinya. Sedangkan Windy, sampai saat ini dia masih mencintai Seno."Ucap Winda blak-blakan.


Lina tidak terkejut dengan kata-kata Winda yang sangat terbuka, karena dia sudah mengetahui ini. Lina memilih diam mendengar setiap ucapan yang di lontarkan Winda tentang Windy yang masih sangat berharap pada Seno.


"Anda jangan salah paham Bu Lina, saya hanya ingin mengungkapkan fakta ini pada Anda tanpa bermaksud lain,"ujar Winda setelah dia puas dengan drama dari hidup Windy.


"Saya mengerti, semoga Windy mendapatkan jodoh yang terbaik yang bisa menerima dia dalam keadaan apapun. Windy gadis baik pasti banyak laki-laki yang akan menerima dan mencintai Windy dengan dan tulus."


"Apakah itu mungkin? Apa ada laki-laki yang menerima wanita yang sudah tidak suci?"


Lina sungguh terkejut mendengar ucapan Winda.


"Kenapa Anda bicara seperti itu? kenapa Anda tidak yakin dengan putri Anda? Ini musibah, bukan kemauan Windy, Windy tetap memiliki jiwa suci. Karena kesucian tidak harus di ukur dari apa yang sudah terjadi dengan tubuh kita."


Winda terkekeh.


"Apa menurut Anda ada lelaki yang bersedia menikah dengan Windy?"


"Tentu saja, saya sangat yakin itu."


"Lalu, kenapa Seno menolak untuk menikahi Windy?"


Lina sudah tau arah pembicaraan Winda. Lina tentu tidak terima jika putranya selalu di sudutkan seolah Seno lah yang bersalah atas apa yang terjadi pada Windy.


"Putra saya sudah beristri, dan dia sangat mencintai dan menyayangi istrinya. Tentu saja dia akan menolak, sekalipun, Windy masih seperti Windy yang dulu, Seno akan tetap menolak permintaan tidak masuk akal Anda. Karena dia tidak akan pernah menduakan istrinya. Dan sayapun menolak untuk itu. Karena hanya ada satu menantu di keluarga saya, yaitu Rana."


Lina sudah memasang wajah tidak suka dengan kelakuan Winda yang seperti anak-anak.


Tapi Winda tidak hanya berhenti sampai sana. Karena dia kembali berucap.


"Saya senang melihat kebahagiaan Seno dan istrinya, tapi saya rasa keluarga Anda akan lebih lengkap dan bahagia jika di tambah dengan kehadiran seorang Anak. Oya, apakah Menantu Bu Lina sudah hamil? Bukankah mereka sudah lama menikah, apakah Seno dan istrinya menunda untuk memiliki anak?"


Winda tidak tahu cerita Seno dan Rana yang sempat berpisah selama 4 tahun. Jadi Lina pun tidak mau menceritakan masalah yang pernah menimpa rumah tangga putranya pada orang lain. Sekalipun itu bisa menjadi alasan kenapa Seno dan Rana belum memiliki anak sampai saat ini.


"Saya rasa itu bukan menjadi urusan Anda, Bu Winda. Jadi Anda tidak perlu repot-repot untuk memikirkan itu, keluarga Kami sudah sangat bahagia saat ini."Sahut Lina.


Winda tidak mau kalah, dan dia kembali menyerang Lina, dia tahu jika selama ini Lina sangat mengharap sosok cucu, Seno Putra satu-satunya dan lelaki itulah yang menjadi harapan Lina untuk mendapatkan sosok yang sangat dia idam-idamkan sejak suaminya masih hidup, dan sampai sekarang Tuhan masih belum mengijinkan Lina untuk mempunyai cucu. Bahkan Feri sudah lebih dulu mendahuluinya sebelum Pria itu sempat menimang cucu dari putra semata wayangnya.


"Bu Lina, kita sama-sama seorang ibu dengan hanya memiliki satu anak. Aku sangat tau jika Anda sangat mengharapkan cucu, begitu juga dengan saya yang sangat mengharapkan bisa segera menimang anak dari Windy, semoga saja harapan kita segera tercapai. Dan semoga menantu Anda segera hamil dan secepatnya Anda menimang cucu."


Lina terdiam. Dalam hatinya mengaminkan doa dari Winda, karena sungguh tidak bisa di bantah Lina memang sangat mengharapkan sosok cucu.


"Semoga tuhan segera mengabulkan doa yang selalu aku panjatkan setiap malam ini. Rana dan Seno segera memberikan cucu untukku."


"Bu Lina, kenapa Anda diam?"


"Tidak apa-apa. Bu Winda, terima kasih atas doanya. Tapi sepertinya saya harus segera pulang karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan."Ujar Lina yang tidak mau lebih lama lagi bicara dengan Winda.


"Apa Anda sedang terburu-buru, bagaimana kalau saya menganggarkan Anda pulang?"

__ADS_1


"Tidak perlu, saya bersama Sopir. Kalau begitu saya permisi."


"Silakan. Berhati-hatilah di jalan, sampaikan salam saya pada menantu Anda."


Lina bergegas keluar dari Kafe, dan Winda menatap kepergian wanita itu dengan senyum puas di kedua sudut bibirnya.


****


Di dalam mobil, Lina senyum-senyum sendiri sambil melihat foto-foto bayi yang ada di ponselnya, foto bayi yang lucu dan menggemaskan yang ia dapat dari internet.


Sopir pribadi yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri pada keluarga kakek Arif, terlihat heran melihat Lina yang tersenyum bahagia Sambil melihat layar ponselnya.


"Bu, apa ada sesuatu yang ingin Anda beli lagi?"tanya Sopir yang langsung membuyarkan fokus Lina.


"Tidak pak, kita langsung pulang saja."


"Baik Bu."


"Oya pak! Bukankah satu tahun yang lalu putri bapak sudah menikah?"tanya Lina tiba-tiba. Yang tentu saja membuat sang Sopir bingung dengan pertanyaan Lina. Namu dengan senyum dia tetep menjawab.


"Benar Bu, dan saat itu Anda yang turut membantu mempersiapkan resepsi pernikahan putri saya. Terima kasih Bu. Sungguh saya dan istri tidak bisa melupakan kebaikan ibu."Sahut Sopir Lina, tapi bukan itu yang ingin Lina dengar, karena dia kembali bertanya.


"Apakah, sekarang putri bapak sudah mempunyai anak?"


Di belakang kemudi, sang sopir tersenyum bahagia, itu terlihat dari kaca spion yang langsung mengarah pada Lina.


"Saat ini, putri saya sedang hamil 6 bulan Bu. Dan dokter bilang jika 3 bulanan lagi anak saya akan melahirkan cucu pertama kami,"sahut Pak Sopir dengan wajah berbinar, menandakan bahwa dia sangat bahagia dengan kata-kata yang dia ucapkan.


Lina tersenyum. Dia bisa merasakan kebahagiaan pak Sopir, dan dalam hatinya berdoa, semoga Rana pun segera hamil dan memberikan dia cucu, agar dia bisa benar-benar merasakan kebahagiaan seperti yang di rasakan pak Sopir.


"Selamat, Pak. Saya sangat bahagia mendengarnya."


"Terima kasih Bu. Saya yakin pak Seno dan Mbak Rana akan segera memberikan cucu untuk Anda."


"Aamiin, terima kasih."


Lina kembali tersenyum, dikala membayangkan tangis seorang bayi. Celoteh dan tawa anak-anak yang berlarian di rumahnya. Sungguh Lina sangat menantikan momen itu. Momen di mana dia di panggil dengan sebutan Nenek oleh anak-anak Seno.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2