4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Ada Apa Dengan Sarah?


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


"Bu, apa anak-anak belum pulang?"tanya Ridwan yang terbangun dari tidurnya.


"Eh, ayah sudah bangun. Seno sedang menjemput Rana di posko, Tapi Sarah dan Bima entah pergi kemana, padahal Sarah bilang ingin pergi sebentar karena sore ini dia harus kembali ke kota, tapi entah kenapa sudah menjelang malam seperti ini mereka belum kembali. Ibu khawatir."


"Apa Ibu sudah menghubunginya?"


"Belum, ponsel Ibu mati. Nanti Ibu minta tolong pada Nak Aurel untuk menghubungi Sarah. Oy, ayah harus minum obat."Kata Kartika, dan dia sudah akan bangun dari baringnya.


"Ayah sudah minum obat tadi,"sahut Ridwan.


"Apa ayah sudah bangun sejak tadi?"


Ridwan mengangguk.


"Apa Ayah juga mendengar pembicaraan Ibu dan teman-teman Rana di depan?"


Ridwan kembali mengangguk.


"Ayah mendengar semuanya, kita percayakan saja semuanya pada yang di atas dan sepertinya Seno bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ibu jangan khawatir dan cemas, semua pasti akan baik-baik saja."


"Ibu tidak khawatir dan cemas Yah, karena Ibu mencoba yakin, kalau Seno bertanggung jawab atas semua kata-kata yang telah dia ucapkan kepada kita."


**


TOK! TOK!


"Bu, boleh aku masuk? "


tanya Aurel setelah mengetuk pintu kamar Kartika.


"Masuklah Nak, pintunya tidak dikunci."


sahut Kartika dari dalam, dan Aurel segera masuk untuk menyampaikan pesan yang tadi Seno titipkan.


"Tapi pergi ke mana mereka berdua? apa Seno tidak mengatakannya kepada Aurel?"Tanya Kartika sedikit khawatir.


"Tidak, Bu."Jawab Aurel.


"Sudah Bu, tidak apa-apa, Rana kan pergi bersama Seno, bukan orang lain. Jadi Ibu tidak perlu khawatir."Sahut Ridwan.


"Ibu memang terlalu sensitif jika menyangkut Rana, maafkan Ibu. Oh ya, Nak Aurel, bisakah Ibu minta tolong untuk menghubungi Sarah. Dia pergi sudah lama padahal dia bilang hanya sebentar karena dia harus kembali ke kota sore ini tapi sudah malam mereka belum kembali."


"Baik Bu, aku akan menghubungi kak Sarah."


Aurel segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sarah, namun yang di hubungi malah tidak mengangkat panggilan dari Aurel meskipun sudah berulangkali Aurel mencobanya.


šŸāœØāœØāœØšŸ


Di tempat lain.


Tepatnya di Rumah Sakit terbaik di kota tersebut, yang tentu saja milik keluarga dokter Vir.


Sarah tengah duduk berhadapan dengan Vir. Di ruangan dokter tersebut.


Ya, ternyata Sarah ada di Rumah Sakit tempat Vir berada.

__ADS_1


"Kak Sarah, ada apa kak Sarah ingin bertemu denganku secara pribadi seperti ini?"Tanya Vir. Yang merasa ada sesuatu yang genting sampai membuat Sarah datang menemuinya di Rumah Sakit.


"Vir, apa kau sudah tau. Kalau Ibumu menemui Ibuku?"Tanya Sarah.


Vir menunduk dia merasa bersalah.


"Maafkan aku kak, aku tidak bisa mencegah Mamah mendatangi Ibu Kartika. Karena sungguh aku tidak tau itu. Tapi aku sudah bicara pada Mamah, aku minta maaf atas nama Mama Mayang."Ujar Vir.


"Vir, apa kau serius dengan Rana?"


Vir menatap Sarah.


"Tentu, aku serius dengan hatiku."


"Kalau begitu, yakinkan Mamamu. Aku yakin kau bisa membuat Rana bahagia, tapi aku juga tidak mau jika Rana tidak di terima di keluarga mu."


"Apa maksud dari perkataan kak Sarah ini, adalah bentuk dukungan dari Kak Sarah untuk hubunganku dengan Rana?"


"Tentu, kalau tidak, untuk apa aku jauh-jauh datang menemui mu seperti ini."Kata Sarah dengan sangat yakin.


"Lalu, bagaimana dengan Seno? Bukankah mereka berpisah hanya karena sebuah kesalahan pahaman?"


"Seno tidak serius dengan Rana, dia hanya terobsesi saja. Aku tau semua tentang Seno termasuk tentang wanita masa lalunya itu. Dan aku tidak ingin lelaki egois yang mementingkan dirinya sendiri itu hidup bersama Rana."


Vir sedikit terkejut mendengar pernyataan Sarah. Bukankah dulu Sarah mendukung pernikahan Seno dan Rana. Tapi kenapa sekarang dia menentangnya. Dari nada bicara dan pandangan mata Sarah ketika menyebut nama Seno, wanita itu menyimpan marah dan dendam pada Seno.


Tapi, dendam apa?


**


Vir Bingung. Sebenarnya dia sudah akan menyerah untuk mengejar Rana setelah tau apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka, tapi setelah Vir mendengar cerita Wahyu dan Wahyu meyakinkan bahwa Seno masih sangat mencintai Windy dan menjadikan Rana alat untuk membuat mantan kekasihnya itu cemburu. Vir jadi bertekad untuk menyelamatkan Rana dari pernikahannya yang sudah tidak baik-baik saja. Vir tau Rana bimbang setelah mengetahui Windy adalah mantan kekasih Seno dan Windy masih sangat berharap bisa kembali pada Seno.


Dan sekarang. Sarah datang memintanya untuk mempertahankan apa yang menjadi keinginan dan tujuannya, apakah Vir akan kembali memperjuangkan Rana, meskipun orang tuanya menentang keras dan Rana masih istri sah Seno?


"Rana sudah melupakan Seno sejak 4 tahun yang lalu, tapi jika mereka terus-terusan bertemu dan bersama. Tentu saja itu akan membuka peluang di hati Rana untuk menerima lelaki itu kembali. Untuk meyakinkan Rana agar tetap meninggalkan lelaki itu, tentu saja kita harus membangun jarak di antara mereka agar tidak bertemu kembali, dengan begitu aku sangat yakin Rana akan benar-benar menolak Seno."


Vir tidak mau sembarangan mengambil keputusan.


"Apa kak Sarah meminta ku untuk menciptakan jarak antara mereka berdua?"


Sarah mengangguk.


"Maaf kak, aku tidak tau kenapa kak Sarah terlihat sangat membenci Seno, tapi aku juga tidak bisa langsung mengikuti permintaan Kak Sarah. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kebahagiaan Rana yang utama bagiku. Jika Rana benar-benar mencintai dan ingin kembali pada Seno tentu aku akan merelakannya, aku harus mengetahui dulu semuanya."


"Terserah padamu Vir, tapi sekalipun kau tidak mau memisahkan mereka. Rana tetep tidak akan kembali pada Seno."Kata Sarah. Setelah mengatakan itu, Sarah bangkit dari duduknya.


"Aku permisi, maaf jika sudah mengganggu pekerjaanmu. Ada satu lagi yang ingin aku katakan padamu Vir. Seno ada di sini dia sedang melakukan tipu muslihatnya dengan membujuk Rana serta menghasut orang tua kami. Jika kau tidak segera bertindak dan memberikan peluang untuk Seno begitu saja, aku bisa pastikan jika Rana akan kembali pada Seno."Kata Sarah, dengan maksud mengompori Vir. Dan ia segera pergi dari sana.


***


"Sarah, kau dari mana saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana."Tanya Bima dengan penuh khawatir, ketika melihat Sarah kembali dari pergi tanpa pamitnya.


"Dari Rumah Sakit, Mas."Sahut Sarah.


"Rumah Sakit? Untuk apa? Apa kau sakit?"


"Bertemu Vir."


"Untuk apa kau menemui Vir, kau tidak bicara atau meminta yang aneh-aneh kan pada dokter itu?"Tanya Bima, sedikit curiga dengan tujuan Sarah yang tiba-tiba menemui Vir.

__ADS_1


"Tidak! Kau tidak perlu khawatir, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Sekarang ayo kita pulang Mas, malam ini juga kita kembali ke Kota kau sudah cuti terlalu lama."Jawab Sarah, dan dia segera masuk kedalam mobil.


Bima tidak langsung percaya begitu saja, dia sangat yakin jika ada maksud tertentu dari Sarah yang menemui Vir.


"Sarah, katakan padaku apa tujuanmu bertemu Vir? Apa ini ada hubungannya dengan Seno dan Rana?"


Sarah diam. Dia hanya bisa menunduk. Dan Bima sudah bisa mengartikan diamnya Sarah.


"Sarah, sudah berapa kali aku katakan untuk tidak mencampuri urusan pribadi Seno dan Rana. Sudah cukup selama ini kita menjadi penghalang mereka berdua untuk bersama."Kata Bima dengan sedikit marah pada istrinya.


"Mas, aku tidak mau lelaki itu menjadi bagian dari keluarga kita, apalagi dia harus menjadi pendamping adikku satu-satunya."Teriak Sarah dengan sedikit terisak.


"Kenapa?"


"Mas, jika kau mengetahuinya, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti aku. Aku terlambat mengetahuinya, hingga dulu dengan bodohnya aku menyetujui bahkan mendukung pernikahan Rana dan Seno."Sarah kembali berteriak, tapi kali ini teriakannya berakhir dengan sebuah tangisan.


Bima yang melihat Sarah sangat sedih, segera memeluk istrinya.


"Maafkan aku, jangan menangis. Ceritakan padaku apa yang sedang kau tutupi."Tanyanya dengan lembut.


***


"Apa ada Rana di Posko?"tanya Vir pada petugas medis yang ia hubungi lewat sambungan telepon.


("Ada, Dok. Perawatan Rana sudah sejak siang tadi ada di posko.")


"Dengan siapa dia datang?"


("Dengan seorang pria, kalau tidak salah pria itu dari Tim SAR, dia juga membantu kami di sini. Tapi saat ini dia pergi entah kemana.")


"Tolong katakan pada Rana untuk tidak pergi dulu dari Posko."


("Baik dokter.")


"Terimakasih."


("Sama-sama dokter Vir.")


Setelah mengakhiri panggilannya. Vir segera bergegas menuju Posko.


Jarak Posko dan Rumah Sakit tidak terlalu jauh. Hingga dalam beberapa menit saja Vir akan segera sampai.


šŸāœØāœØšŸ


"Perawatan Rana, tadi dokter Vir menghubungi saya, dia memintamu untuk tidak meninggalkan posko terlebih dahulu."


"Kenapa?"tanya Rana. Padahal saat ini ia sedang bersiap-siap untuk pulang setelah beberapa anggota medis tambah datang ke Posko. Hanya tinggal menunggu Seno, yang sudah memberi tahunya dalam perjalanan menuju Posko untuk menjemputnya.


"Mungkin ada sesuatu yang ingin Dokter Vir sampaikan, tunggulah sebentar. Jarak Posko dan Rumah sakit tidak jauh, dia pasti akan segera sampai."


Rana mengangguk. Karena diapun sedang menunggu Seno.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2