4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Sekali Lagi.


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


Seno menarik selimut tebal yang berserak di lantai guna menutupi tubuh istrinya, dan sang pemilik tubuh sudah tertidur pulas. Mungkin dia lelah.


Sedangkan Seno, ia memilih untuk beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, guna mendinginkan tubuhnya yang masih terasa panas, tapi sebelum melakukan itu ia menyempatkan diri untuk mencium kening sang istri tercinta.


Langkah kakinya terhenti ketika melihat makanan yang belum tersentuh di atas meja.


"Astaga! Rana belum makan. Pantas saja di cepat lelah,"gumam Seno setelah sadar, bahwa mereka belumlah makan malam. Ia kembali melirik Rana, maksud hati ingin membangunkannya agar bisa makan malam terlebih dahulu. Tapi ketika Seno melihat wajah yang lelah dari Rana, dan iapun melihat jam dinding yang jarumnya menunjukkan waktu yang bukan malam lagi, tapi sudah tengah malam. Membuat Seno mengurungkan niatnya.


"Sepertinya dia sangat lelah, padahal aku masih segar."


Seno kembali bergumam, dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi.


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Ke esok paginya.


TING!


Notifikasi pesan, masuk di ponsel Rana. Dia yang sebenarnya sudah terbangun sajak satu jam yang lalu, namun masih enggan untuk beranjak perlahan membuka mata dan menggerakkan tangan untuk meraih ponsel yang ia letakkan di nakas samping ranjang.


(Rana, aku pamit. Jaga dirimu baik-baik di sini, dan berbahagialah selalu. Aku titip salam untuk Seno, katakan padanya untuk selalu menjagamu baik-baik, jika laki-laki itu kembali menyakitimu, jangan segan-segan untuk menghubungiku, karena aku akan segera datang untuk menguburnya hidup-hidup dan membawamu pergi dari sini.)


Satu pesan teks dikirim oleh Vir beserta sebuah foto suasana Bandara.


Rana cukup terkejut dengan pesan dan foto yang dikirim oleh Vir.


"Siapa yang mengirim pesan?"tanya Seno yang saat ini tengah memeluk Rana dari belakang mereka masih berada di bawah selimut yang sama.


"Vir!"


"Apa!"Seno langsung membuka lebar matanya,"Untuk apa dia mengirim pesan di pagi hari seperti ini?"tanya Seno, dengan nada sedikit kesal karena lelaki yang bernama Vir itu berani-beraninya mengirim pesan pada istrinya.


Rana membalikkan badannya.


"Kau baca sendiri saja, Mas,"ucap Rana dan langsung memberikan ponselnya kepada Seno.


"Ini seperti di Bandara?"Tanya Seno.


"Benar,"sahut Rana.


Seno menautkan kedua alisnya ketika membaca kata-kata dari pesan yang dikirim oleh Vir, yang mengatakan akan mengubur dia hidup-hidup dan membawa Rana pergi dari sana.


"Berani sekali dia bicara seperti ini,"kata Seno. Tapi dia tidak bisa marah, malah lelaki ini mengukir senyum puas ketika tahu jika Vir telah pergi dari sana.


"Kau kenapa senyum-senyum seperti itu, Mas?"


"Tidak apa-apa, aku hanya senang saja karena dokter itu sudah pergi jadi tidak ada lagi yang menggodamu."


"Dokter Vir, orang yang sangat baik. Dia sering membantuku dalam setiap kesulitan."


Seno mengangkat wajahnya dan menatap Rana.


"Berani sekali kau memuji lelaki lain di hadapanku? apa kau tidak takut jika suamimu ini cemburu?"


"Aku bukan memujinya Mas, tapi aku hanya mengatakan bahwa Vir itu baik. Lagi pula Vir sudah pergi kan, kenapa kamu masih harus cemburu padanya?"

__ADS_1


"Tetap saja aku cemburu, meskipun dia hanya tinggal nama."


"Mas, kau jangan bicara sembarangan."


"Sudah. Aku tidak mau mendengar kau menyebut nama lelaki lain apalagi dokter itu, biarkan dia pergi."Kata Seno, ia lalu kembali memeluk istrinya dengan hangat.


"Mas!"Panggil Rana.


Eeemmm..


"Ini sudah pagi."


"Aku sudah tahu,"sahut Seno yang masih memeluk Rana, tanpa ingin melepaskannya.


"Apa kita akan tetap berada di sini?"


"Tidak sayang, siang nanti kita akan kembali ke rumah, tapi untuk beberapa jam ke depan biarkan aku seperti ini dulu. Aku sangat merindukanmu selama bertahun-tahun ini, jadi aku ingin memelukmu untuk menggantikan semua waktu yang telah aku lewati dengan sia-sia tanpa dirimu."


Kata Seno lalu ia menenggelamkan wajahnya di dada Rana.


"Baiklah!"


Rana mengusap rambut Seno.


Momen seperti ini adalah momen yang dulu pernah Rana impikan dan khayalankan ketika ia menerima pinangan Seno, namun selama 2 tahun ia menikah dengan Seno, Rana tidak pernah mendapatkan momen seperti ini, meskipun hanya satu kali. Karena jika di pagi hari, lelaki itu akan bangun terlebih dahulu di pagi buta, tanpa membelai apalagi memeluk istrinya terlebih dahulu, bahkan tidur pun mereka lebih sering terpisah.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"tanya Seno yang entah kenapa dia bisa tahu jika Rana tengah Flashback ke masa lalunya.


"Tidak. Aku sedang tidak memikirkan apapun,"sahut Rana.


"Kau tidak bisa berbohong padaku. Aku tahu kau pasti sedang mengingat kejahatanku di masa lalu kan?"


"Kejahatan?"


"Iya kejahatan."


"Apa kau menganggap itu adalah kejahatan?"tanya Rana.


"Itu adalah, sebuah kejahatan besar yang pernah aku lakukan kepadamu, termasuk kejadian saat di kantor SAR, di saat aku membuang bekal makanan yang kau bawakan untukku, aku merasa sangat berdosa telah melakukan sesuatu yang gila itu, dan hari-hariku selalu dihantui rasa bersalah, meskipun saat itu aku terpaksa melakukannya, karena aku memang tidak bisa memakan makanan yang kau bawakan untukku. Aku memang bodoh dan tidak mempunyai rasa syukur. Rana Maafkan Aku."


"Sudahlah Mas, sudah berapa kali kau mau minta maaf kepadaku. Jika kau terus-terusan meminta maaf aku juga menjadi merasa bersalah, karena sudah meninggalkanmu di saat kau sedang melewati masa sulit. Terbaring di Rumah Sakit selama 9 bulan dan melakukan terapi selama bertahun-tahun, tapi tidak sekalipun aku menemanimu. Maafkan aku yang tidak tahu dan tidak mau tahu tentang keadaanmu setelah aku pergi."


"Kau tidak salah, akulah yang bersalah, hingga membuatmu pergi meninggalkan aku."


"Bukankah kita akan memuai semuanya dari awal, bagaimana kalau kita lupakan saja masa lalu kita,"usul Rana.


"Tentu kita akan memulai semua dari awal, tapi semua itu tetap akan aku ingat, untuk menjadi pelajaran bagi diriku agar tidak melakukan kesalahan apapun di kemudian hari."


Rana tersenyum, ia merasa terharu dengan kesungguhan Seno yang ingin memperbaiki dan menjadi yang terbaik untuknya.


**


"Mas, kenapa kau tidak bisa memakan makanan yang aku bawa dulu, bahkan kau sampai membuangnya? apa makanan yang aku masak tidak pernah enak?"tanya Rana, dia penasaran alasan Seno melakukan hal yang tidak layak di contoh tersebut.


"Bukan itu alasannya, apapun makanan yang kau masak rasanya sangat enak bahkan aku sangat menyukainya, tapi di kotak makan itu ada udang. Aku alergi udang, jadi aku tidak bisa memakannya. Tapi aku yang bodoh malah membuangnya." Sesal Seno.


Rana termenung. Selama 2 tahun menikah, dia tidak tahu jika suaminya memiliki alergi udang.


Tapi itu juga bukan salah Rana, karena Seno memang tidak pernah banyak bicara padanya, apalagi menceritakan mengenai hobi, kesukaan atau apa yang menjadi pantangan dirinya, pada Rana. Seno hanya berbicara seperlunya dan yang penting-penting saja setelah itu, Seno akan pergi meninggalkan Rana dengan alasan, ingin berlatih di kantor SAR.

__ADS_1


"Aku sungguh tidak tahu jika kau alergi udang, untuk kedepannya aku akan lebih memperhatikanmu."Kata Rana.


"Terima kasih, sayang."


***


"Rana, kenapa kau tidak mengatakan padaku jika tante Winda menemuimu bahkan perempuan anah itu meminta hal yang tidak masuk akal?"Tanya Seno, dia sudah sejak tadi ingin menanyakan hal ini.


"Aku hanya tidak mau menambah masalah Mas, dan aku pikir saat itu kau juga masih mengharapkan dan mencintai Windy."


"Kau bisa menyimpulkan itu hanya karena melihat tante Winda yang menyampaikan masa lalu Windy kepadaku?"


Rana mengangguk.


"Aku melihat kau sangat bersedih saat itu."


"Seharusnya waktu itu kau dengarkan sampai akhir. Jangan pergi begitu saja,"keluh Seno.


"Memangnya apa yang kau lakukan dan katakan saat itu, Mas?"


"Tentu saja aku mengatakan pada tante Winda, bahwa aku sudah tidak lagi mencintai dan peduli pada anaknya. Karena aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai sampai kapanpun dan tidak akan pernah tergantikan."


Rana tersenyum mendengar kata-kata Seno, sungguh lelaki ini berubah 180 derajat dari Seno 4 tahun yang lalu, Seno yang dingin serta kaku seperti kanebo kering.


"Tapi Mas, dari mana kau tahu saat itu aku mendengar pembicaraanmu dengan tante Winda, dan tante Winda yang datang menemuiku?"


"Apa kau lupa? Jika di rumah kita terpasang CCTV, aku mengetahuinya dari sana dan aku baru mengetahui itu setelah beberapa hari aku memeriksanya."


Ya, Rana baru menyadari bahwa setiap sudut Rumah dan halaman, terpasang CCTV.


Seno menangkup wajah Rana lalu ia menatap mata wanita itu.


"Seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Tolong jangan dengarkan apapun yang orang lain katakan kepadamu tentang aku yang berpura-pura atau tidak mencintaimu, karena semua itu tidaklah benar. Untuk kedepannya, ceritakan kepadaku apapun yang terjadi padamu termasuk jika tante Winda kembali mengganggumu."


Rana mengangguk.


"Bagus!"ucap Seno lalu kembali mengecup bibir Rana.


"Sayang!"panggilnya dengan suara dibuat mendesah.


"Iya,"sahut Rana dengan singkat.


"Bagaimana kalau kita melakukannya untuk sekali lagi, seharusnya semalam kita sampai pagi kan? Tapi kau tidur terlebih dahulu. Jadi, untuk menggantikannya bagaimana kalau kita melakukan sekarang?"


Rana melotot.


"Aku saja sampai tidak tahu semalam kau melakukannya sampai jam berapa, dan sekarang kau menginginkannya lagi?"


"Tentu, itu karena aku sangat merindukanmu. Ayolah sayang. Kita lakukan sekali lagi, setelah itu kita akan pulang ke Rumah.Yaa...!"pinta Seno dengan wajah dibuat imut seperti seekor kelinci, agar istrinya luluh dan mengiyakan permintaannya.


Dengan malu-malu meong. Rana pun mengangguk.


Bersambung...


šŸāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2