4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Saingan Yang Mengganggu


__ADS_3

Selamat, membaca 🤗


🍁✨✨✨✨🍁


Dika meremas kuat sendok ya ada di tangannya. Bukan cuma itu, Dika juga mengunyah makanan dengan cara menghentak-hentakan giginya. Dia sungguh terkejut sekaligus kesal dengan seonggok manusia yang baru memasuki Rumah Makan yang sama dengannya dan Aurel.


Aurel yang melihat pandangan Dika tertuju pada pintu masuk, mengikuti arah pandangan lelaki itu.


Dan sontak saja Aurel langsung tersenyum lebar. Dua ekspresi yang bertolak belakang. Karena yang mereka lihat adalah Ardi.


Entah angin jenis apa yang bisa menipu Ardi sampai ke RM yang sama dengan Dika dan Aurel.


"Sial! Inilah alasanku kenapa tidak suka dengan tempat umum biasa, karena akan ada laron-laron pengganggu. Seharusnya aku pergi makan ke tempat favorit ku saja, pasti si laron yang satu ini tidak akan muncul," Umpat Dika dalam hatinya.


Sementara dalam hati Aurel berkata.


"Ya Tuhan! Apa aku tidak salah lihat, itu benar-benar Ardi, aah, aku sungguh menyesal karena tadi sempat menolak ajakan Dika untuk menemaninya makan di sini."


Ardi masih belum menyadari keberadaan 2 manusia yang sedang meracau dalam hati. Karena Dokter itu sedang fokus pada ponselnya.


"Dika!"panggil Aurel dengan bersemangat.


"Ada apa?"


"Lihat aku!"kata Aurel, seraya merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Dika langsung menatap lekat Aurel.


"Apa! Dia memintaku untuk melihatnya, sejak tadi juga aku tidak sedikitpun mengalihkan pandanganku darinya. Aa, apa ini sebuah bertanda baik jika Aurel ingin lebih di perhatikan."Batin Dika.


"Dika! Kau dengar aku tidak? Kenapa malah diam?"panggil Aurel kembali.


"Aku dengar. Sejak tadi aku sudah melihat dan memperhatikanmu,"Sahut Dika.


Aurel terbelalak.


"Benarkan! Lalu, bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"tanya Dika bingung.


"Bagaimana penampilanku saat ini?"tanya Aurel, dengan lebih jelas.


"Aah, tentu saja cantik dan cantikmu itu seperti Apotek tutup."Sahut Dika. Dengan senyuman merekah.


"Apotek tutup! Maksudnya?"bingung Aurel.


Dika memajukan wajahnya lebih dekat pada Aurel.


"Kecantikanmu kaya Apotek tutup! Gak ada obat."


Aurel terkekeh mendengar gombalan Dika.


"Kau ini bisa saja."


Dika membalasnya dengan senyuman sambil berkata.

__ADS_1


"Kau memang cantik dan manis."


Dika terlihat senang, dan dia sedikit mengabaikan kehadiran Ardi di sana, karena Dika fikir, Aurel tidak mengetahui atau tidak perduli dengan kehadiran Ardi hingga lebih memilih bercengkerama dengan dirinya, Aurel yang malu-malu seperti ini. Sungguh bukan seperti Aurel yang bisanya. Membuat Dika semakin kesemsem dengan gadis itu.


"Kalau begitu, penampilan tidak memalukan untuk bertemu dengannya kan?"


DUARR..


Senyuman merekah dari bibir Dika seketika kisut.


"Bertemu dengannya?"Dika mengulangi ucapan Aurel, dengan nada mengerang seperti kucing garong.


Aurel mengangguk dan ia mengalihkan pandangannya yang di ikuti Dika. Dan pandangan gadis yang sedang berkembang- kembang itu tentu tertuju pada Ardi. Yang terlihat sedang bicara dengan seorang lewat sambungan telepon.


Dika yang kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia belum mempunyai strategi menghadapi situasi mendadak seperti saat ini. Hanya bisa mempercepat tempo makanya dengan suaranya mengunyah sudah seperti suara guntur.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


"Dika, kau tidak apa-apa, sudah aku bilang pelan-pelan, kau jadi tersedak seperti ini kan!"kaget Aurel, yang melihat Dika tersedak,"Minumlah,"sambung Aurel seraya menyerahkan satu gelas air transparan pada Dika.


Akibat dari suara tersedak nya Dika, menarik perhatian Ardi, al hasil lelaki itupun menyadari kehadiran mereka.


''Dika!''kata Ardi dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja. Namun ekspresinya seketika berubah ketika bola mata hitamnya melihat Aurel.


Aurel yang menyadari sedang di tatap Ardi langsung tersipu malu, dan hal itu semakin membuat Dika kesal setengah pingsan.


Ardi yang tidak mau melewatkan momen kebetulan yang membahagiakan ini langsung beranjak ingin mendekati si gadis pujaan.


Tapi!


Baru beberapa langkah Ardi berjalan , ada sepasang tangan putih mulus yang langsung melingkar di lengannya.


Aurel yang menyaksikan adegan itu tentu Shock dan langsung membuatnya terdiam hingga hilang sudah bunga-bunga yang bermekaran mengelilingi wajahnya.


Sementara Dika tersenyum, tapi dalam hatinya tertawa terbahak-bahak melihat tontonan yang di persembahkan Ardi.


Ardi yang terlihat seperti sudah terbiasa dengan gadis imut itu, kembali melanjutkan langkahnya menuju meja di mana Aurel dan Dika berada.


''Selamat malam, aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian di sini,''Sapa Ardi, lalu dia melirik Dika yang terlihat puas.


''Dika, ternyata kau mengenal Aurel?''


''Tentu saja, aku sudah sangat lama mengenalnya, bahkan sebelum dirimu,''sahut  Dika dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Aurel tidak berkata apa-apa, sepertinya dia kesal dengan kedatangan Ardi bersama gadis imut yang sejak tadi menebar senyum imut itu.


''Ternyata dia sudah punya kekasih, tapi kenapa dia seperti memberi harapan padaku, jika aku tahu lebih awal pasti tidak akan sampai sejauh ini,''batin Aurel.


''Jadi Dika sudah mengenal Aurel, bahkan mereka bisa pergi makan malam bersama seperti ini, tapi mulai saat ini kau tidak bisa pergi sembarangan dengan Aurel lagi, Dika.''Gumam Ardi dalam hatinya.


''Sudah sana pergi, cari mejamu sendiri,''usir Dika yang tidak mau di ganggu.


Ardi tidak menggubris usiran dari Dika.


''Boleh aku bergabung dengan kalian?''pinta Ardi.

__ADS_1


Dika dan Aurel saling pandang mereka sama-sama tidak setuju dengan Ardi yang akan bergabung dengan mereka. Dika yang tidak ingin di ganggu, Aurel yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ardi bersama gadis yang Aurel duga kekasih dari Ardi.


Tapi sebelum salah satu dari mereka menolak, Ardi lebih dulu berucap.


''Oya, perkenalkan, ini Cilla, adik perempuanku satu-satunya.''


DUUUAAARRR....


Suara ledakan kembali terdengar dari dada Dika.


"Adik perempuannya, kenapa! Kenapa aku tidak tahu kala Laron satu ini mempunyai adik. Ais, sial kenapa harus adik! Kenapa tidak kekasih atau istrinya saja sekalian."


Sama seperti Dika, Aurel juga terkejut!


"Adik perempuannya, kenapa aku menjadi senang mendengarnya,"Batin Aurel. Yang lagi-lagi bertolak belakang dengan Dika.


"Hai kak. Aku Cilla, senang bertemu dengan kalian."Ucap gadis yang masih sangat muda itu, sambil mengulurkan tangannya, dan orang pertama yang Cilla tuju adalah Dika.


Dengan penampilan wajah yang seperti cucian baru keluar dari mesin cuci. Dika menyambut uluran tangan gadis yang bernama Cilla tersebut.


"Saya Dika,"ucapannya dengan jutek.


"Jadi bolehkan aku dan Kak Ardi bergabung dengan kak Dika, dan Ka...!"Cilla menggantungkan ucapannya ketika melihat Aurel, karena dia lupa belum berkenan dengan gadis itu.


"Kak Aurel, panggil saja kak Aurel,"sahut Aurel dengan cepat.


"Kakak! Panggil macam apa itu, sungguh sangat menggelikan," Batin Dika, dengan kesal.


"Baik, jadi aku akan panggil kakak dengan sebutan kak Aurel. Jadi, kami boleh bergabung kan?"


"Tidak!"Dika


"Boleh!"Aurel.


Cilla bingung dengan dua jawaban yang berbeda.


Dan Aurel langsung mengedipkan mata pada Dika, memberi kode agar lelaki itu mengiyakan permintaan Cilla.


Namun Dika memilih untuk berpura-pura tidak melihat kode yang diberikan Aurel, karena lelaki itu berkata.


"Di sini hanya ada dua kursi saja, lebih baik kalian cari meja yang lain. Lagipula kami sudah mau pulang."


"Pulang! Makanan kalian masih banyak di meja ini, apa kalian akan meninggalkannya begitu saja! bukankah itu sangat mubajir?"Sahut Ardi.


"Tentu saja tidak! Aku akan membungkusnya."


"Kenapa tadi aku memesan menu sebanyak ini. Harusnya aku dan Aurel sudah pergi sejak tadi kan, jika aku tidak makan sebanyak ini."


Bersambung..


✨🍁🍁🍁🍁✨


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2