
Selamat membaca š¤
ššš
Usai melakukan latihan, Dika segera mencari-cari informasi tentang tempat kursus memasak terbaik yang ada di kota tersebut.
Hingga pencariannya sampai di kursus memasak Cempaka!
"Cempaka, bukankah restoran ini terkenal dengan menunya yang enak-enak. Aku yang jika Seno kursus di tempat ini dia bisa menyajikan makanan enak untuk calon keponakanku dan kakak ipar. Hehe..!"gumam Dika.
Dika menutup ponselnya. Setelah dia mengambil keputusan untuk pergi ke tempat kursus Cempaka.
Hingga Sore menjelang, Dika mengajak Seno untuk mendaftarkan diri ke tempat kursus tersebut.
"Apa harus sore ini?"tanya Seno.
"Tentu saja, bukankah kau ingin lebih cepat?"
"Dika, tolong kau saja yang mendaftarkan aku. Sore ini aku harus segera pulang karena sejak tadi Rana menelponku, dia sangat merindukanku, bagaimana bisa aku membiarkan dia menahan rindu dan...!"
"Stop! jangan diteruskan, sekarang pergilah. Cepat pulang dan temuin istri yang sedang merindu itu."Potong Dika, dengan suara tertahan karena dia menahan kesal.
Seno mengulas senyum lalu menepuk kedua pundak temannya itu.
"Terima kasih, paman Dika. Sekarang aku pulang dulu, aku harus cepat sampai Rumah agar Rana tidak terlalu lama tersiksa menahan rindu."
"Cepat pergi!"Ucap Dika dengan suara kuat, Karena tidak tahan menahan kesal yang menggebu-gebu di dada dan otaknya.
"Baiklah!"Seno melambaikan tangan dan pergi dari sana.
"Dasar gila! bilang saja jika sebenarnya kau yang tidak tahan ingin segera bertemu dengan istrimu,"umpat Dika, setelah tidak lagi melihat bayang-bayang Seno, "Aku sungguh tidak menyangka, jika orang kaku layaknya kayu dan dingin seperti Es, macam Seno, bisa menjadi seperti ini. Cinta benar-benar bisa merubah kepribadian seseorang."Sambung Dika.
**
Sampai di Kursus Memasak Cempaka! Dika langsung mendaftarkan nama Seno di sana.
"Sungguh sangat merepotkan,"Keluh Dika Setelah dia merasa lelah karena mengurusi pendaftaran yang membuatnya mengantri cukup panjang, karena tempat kursus itu sedang mengadakan diskon 50% bagi pendaftar baru. Hingga membuat orang yang ingin memiliki keahlian dalam memasak berbondong-bondong mendatangi tempat khusus tersebut.
***
Dika kembali pulang ke Apartemennya, karena selain dia ingin menyelidiki Olivia, dia juga enggan untuk pulang ke rumah orang tuanya karena Ana terus saja menerornya untuk segera membawa calon istri.
__ADS_1
"Dari mana kau tau aku tinggal di sini?"
"Tidak sulit untukku mengetahuinya. Kenapa kau tidak pernah menceritakan padaku kalau kau tinggal di Apartemen ini? bahkan tante Vera mengatakan bahwa kau tidak memiliki atau menyewa Apartemen di manapun, karena kau tinggal bersamanya."
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, karena aku rasa itu tidaklah penting."
"Tentu saja ini sangat penting bagiku. Aku ini calon suamimu dan sebentar lagi kita akan bertunangan, jadi aku harus tahu apa saja yang kau lakukan."
Beberapa percakapan di atas adalah percakapan yang tertangkap oleh kedua telinga Dika di saat dia baru keluar Lift dan ingin menuju ke unitnya. Tapi langkah kaki Dika terhenti ketika mendengar percakapan dari suara yang tidak asing baginya.
Dika bersembunyi, dan dia lebih fokus lagi mendengar kedua orang yang sedang berbicara itu.
"Rega, aku belum mengambil keputusan akan hal itu."
"Tapi Tante Vera sudah mengambil keputusan, bahwa kau dan aku secepatnya akan bertunangan."
"Terserah kau saja, tapi tolong jangan katakan kepada Mama jika aku tinggal di Apartemen ini."
"Kenapa? Apa alasanmu untuk bersembunyi di Apartemen ini?"
"Aku tidak bersembunyi. Sudahlah, Aku ingin beristirahat dan aku minta kau pergilah dari sini."
"Tidak Rega, kau jangan macam-macam. Aku tidak mengizinkan siapapun masuk di Apartemenku termasuk kau."
"Tapi aku ini calon suamimu?"
"Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya dengan keinginanmu kan? Rega, aku minta tolong pergi dari sini atau aku tidak akan pernah ikut menemui orang tuamu."
"Baiklah, aku mengalah. Kau beristirahatlah, besok malam aku akan menjemputmu."
percakapan usai. Dan salah satu dari pemilik suara melangkah melewati Dika yang sedang berpura-pura menerima panggilan dengan menghadap ke samping hingga dia tidak secara langsung berpapasan dengan orang itu, tapi meskipun begitu, Dika sudah tahu siapa orang tersebut. Dia adalah lelaki yang tadi pagi Dika temui di depan unit Apartemen Olivia. Lelaki itu memiliki nama Rega, dan baru saja Dia sedang berbicara dengan Olivia.
"Calon suami, cepat sekali dia mendapatkan calon suami!"gumam Dika.
Setelah memastikan Olivia tidak ada di luar, Dika kembali melangkah dan masuk ke kamarnya.
Percakapan yang baru beberapa menit lalu dia dengar kembali terngiang-ngiang dan berputar-putar di otaknya.
"Badanku sudah sangat lelah hari ini apa aku harus kembali berpikir tentang gadis itu! Jangan Dika, kau tidak memiliki kekuatan untuk itu. Lebih baik kau beristirahat!"Ujar Dika pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian karena terlalu lelah, lelaki itu tidur dengan sendirinya tanpa mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
***
Ciiuuuwww ... Ciiuuuwww..
Suara Bel menggema, membangunkan Dika yang baru beberapa menit memejamkan mata.
Dengan terhuyung lelaki itu berjalan menuju pintu.
CKLEK!
"Ada apa?"tanya Dika dalam keadaan setengah sadar.
"Bukankah kau Dika!"ujar seseorang yang yang ada di depan Dika, dengan nada super terkejut.
"Iya, ada apa?"sahut Dika yang masih belum menyadari siapa yang datang di Apartemennya.
"Sejak kapan kau tinggal di sini?"
"5 tahun yang lalu? Apa kau datang ke sini hanya untuk menanyakan itu?"Tanya Dika sedikit kesal, mungkin karena tidurnya terganggu hanya karena tamu yang ingin menanyakan berapa lama dia tinggal di Apartemen itu.
"Tidak apa, maaf sudah mengganggu istirahatmu. Saya permisi."Ujar sang tamu, yang ternyata adalah Olivia.
Dika mengguguk, dan ketika Olivia melangkah menjauhinya Dika baru tersadar dan dia langsung membuka lebar matanya.
"Astaga! Wajahku, gadis itu! Olivia!"panik Dika sambil memegangi wajahnya.
Susah payah selama satu minggu Dika menutupi wajahnya agar tidak dikenali oleh Olivia, tapi karena rasa kantuk yang luar biasa menerpa membuat Dika menampakkan siapa dia sebenarnya di depan Olivia.
Memang rasa ngantuk bisa mengalahkan segalanya. Begitu juga dengan Otor, jika sudah di terpa rasa kantuk. Sudah tidak akan bisa melakukan apapun termasuk berfikir dan Menulis.. Heheh...
Bersambung.
ššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1