
Selamat.Membaca π€
πβ¨β¨β¨β¨π
"Apa Mama tidak salah dengar, kau akan pergi ke luar negeri?" tanya Mayang yang sedikit tidak percaya ketika Vir mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar negeri untuk membantu Suaminya yang ada di sana. Padahal sudah sejak lama dia membujuk anaknya itu untuk terbang ke sana, namun Vir selalu menolak dengan berbagai alasan. Dan saat ini tiba-tiba Vir yang menawarkan diri untuk terbang ke sana.
"Aku yakin, seharusnya Mama senangkan jika aku pergi ke sana dan membantu suami Mama, tapi kenapa Mama malah terlihat tidak percaya denganku,"sahut Vir.
"Tentu saja Mama senang karena kau sudah mengambil keputusan yang sangat tepat, dengan mendengarkan semua omongan Mama."
Vir menghela nafas.
"Tapi Mama jangan salah paham dengan mengira aku pergi ke sana karena aku takut dengan ancaman Mama, aku pergi ke sana karena ingin menambah pengalamanku saja dengan membantu suami Mama di sana."
"Terserah apapun itu yang alasanmu Vir, yang penting kau terbang ke luar negeri, jadi Mama tidak perlu khawatir lagi jika wanita yang bernama Rana itu akan kembali mendekati dan merayu mu."
"Mah, tolong jangan pernah mengatakan hal buruk apapun tentang Rana karena aku tidak pernah menyukainya. Setelah aku pergi, tolong jangan pernah mengganggu Rana dan keluarganya, dan jangan pernah Mama menemui Rana apalagi sampai mengatakan hal buruk padanya karena aku tidak pernah menerima itu."Kata Vir dengan tegas, seolah memberi peringatan kepada Mayang.
Mayang terkekeh mendengar ucapan anak-anak itu, tapi dia tidak mau mengambil pusing karena yang penting baginya, Vir jauh dari Rana hingga dia tidak perlu memiliki menantu yang berstatus tidak jelas baginya.
"Baiklah, Mama akan mengatur penerbanganmu dan besok siang kamu sudah berangkat."
Vir mengangguk. Karena dia tidak ingin lebih banyak lagi bicara dengan Mayang, Vir pun berkata.
"Kalau begitu aku permisi."Dan dia langsung berlalu, meninggalkan Mayang sendirian di dalam kamar wanita glamour itu.
Mayang tersenyum senang karena ia merasa menang. Akhirnya Vir menyerah dan mendengarkan kata-katanya.
"Kau memang benar-benar tidak pantas dengan wanita murahan itu, Vir. Begitu banyak gadis di luar sana yang tergila-gila padamu, lalu untuk apa kau menyia-nyiakan hidupmu yang berharga itu demi seorang wanita bernama Rana itu."Gumam Mayang dalam kemenangannya.
πβ¨
Kembali pada Rana dan Seno.
Seno bertekad jika malam ini di harus bisa meyakinkan Rana untuk tidak ragu dengan kesungguhannya.
Klik!
Seno kembali mengunci pintu kamar setelah ia memastikan Rana yang sebelumnya ragu-ragu dan pada akhirnya masuk kedalam kamar karena Seno sedikit memaksanya.
Rana merasa canggung dibawa ke tempat seperti ini, dan ini kali pertamanya Seno membawa dia menginap di Hotel.
"Sebentar lagi petugas Hotel datang membawakan kita makan malam, aku mandi dulu kau beristirahat sambil menungguku,"ucap Seno.
"Mas!"panggil Rana yang masih tidak merasa nyaman berada di dalam kamar Hotel tersebut.
"Iya, ada apa?"
"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja?"
"Pulang?"
Rana mengangguk.
"Iya, kita pulang saja ya Mas."Pinta Rana dengan penuh harap.
"Tidak!"sahut Seno dengan cepat.
"Tapi Mas, aku tidak nyaman di sini. Aku lebih suka berada di Rumah Ibu."
"Kita akan kembali ke Rumah Ibu besok, dan kau jangan khawatir, aku akan membuatmu senyaman mungkin di sini. Percayalah padaku."Ujar Seno sambil mengedipkan sebelah matanya, dan setelah itu dia pergi masuk ke dalam kamar mandi.
**
Rana yang masih merasa gelisah mengirim pesan kepada Aurel untuk menanyakan keadaan Ayah dan Ibunya.
Bukan hanya mendapatkan kabar tentang Ayah dan Ibunya, tapi Rana juga mendapatkan sebuah Video yang dikirim oleh temannya itu lewat aplikasi hijau.
"Video apa ini?"gumam Rana bertanya, lalu dia menekan Play pada video tersebut.Β
Rana memperhatikan dengan seksama video yang dikirim oleh Aurel, video di mana Seno berdebat dengan Windy dan Wahyu serta Seno yang meyakinkan Ibu Kartika di hadapan mantan kekasihnya dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Aku terlalu khawatir dengan Windy, sampai aku berpikir untuk tidak akan pernah kembali dengan Mas Seno agar mereka bisa bersama,"gumam Rana setelah melihat video itu sampai dengan selesai.
Β
("Kau sudah mendapatkan jawaban dari kegelisahanmu selama ini kan? Sekarang kau bisa menilai sendiri, apakah benar Seno masih mengharapkan dan mencintai mantan kekasihnya itu atau tidak.") Satu pesan yang dikirim oleh Aurel tepat setelah Rana selesai menonton videonya.
TOK!
TOK!
"Selamat malam! Kami dari petugas Hotel, membawakan makan malam untuk Anda, bolehkah kami masuk."Seru seseorang yang berada di luar kamar Hotel dan Rana pun segera membuka pintunya.
"Maaf mengganggu istirahat Anda, ini makan malam yang sudah dipesan oleh suami Anda."Ujar salah satu dari dua petugas Hotel tersebut dan langsung membawa masuk Food Troli dan menyusun makanan di meja yang tersedia di sana.
"Kenapa Anda terlihat muram seperti ini? Apa ini tidak membuat Anda merasa senang?"tanya salah satu petugas Hotel yang seorang perempuan, dengan tiba-tiba.
"Maksudnya?"Tanya Rana.
"Suami Anda sudah memesan kamar ini sejak beberapa hari yang lalu, dengan antusiasΒ beliau meminta kami untuk mempersiapkan makanan yang Anda suka, dan menanyakan beberapa hal tentang apa yang disukai dan tidak disukai seorang wanita, beliau ingin melakukan yang terbaik untuk Anda, agar Anda merasa bahagia dengan apa yang sudah dia lakukan untuk Anda. Sepertinya beliau sangat mencintai Anda."Ucap petugas Hotel tersebut.
"Sepertinya kau salah paham, karena melihat saya yang tidak bersemangat, bukan karena hal itu yang membuat saya seperti ini. Tapi ada hal lain yang saya pikirkan. Tentu saya merasa senang dan bahagia karena suami saya mengajak saya bermalam di sini, dan mempersiapkan semuanya dengan sangat baik." Sahut Rana.
"Syukurlah kalau begitu. Nikmati makan malam Anda, selamat beristirahat, dan kami permisi, jika ada sesuatu yang Anda butuhkan Anda bisa menghubungi kami kapanpun Anda inginkan."
"Baik, terima kasih,"ucap Rana dan dia segera menutup kembali pintu setelah dua petugas kamar Hotel itu pergi dari sana.
**
"Apa makanannya sudah datang?"tanya Seno yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang menutupi setengah badannya.
"Sudah, lebih baik sekarang kau makan Mas, dan minum obat agar lukamu cepat sembuh."Kata Rana.
"Kita makan bersama."
"Tapi aku mau mandi dulu, kau tahu kan aku dari posko dan semua bajuku ini kotor."
"Aku akan menunggumu."Kata Seno.
**
Sama seperti yang Rana lakukan, sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi Seno mengirim pesan kepada temannya. Tapi Seno mengirim pesan bukan untuk menanyakan kabar siapapun, dia ingin menanyakan tips agar ia tidak gugup malam ini dan harus sukses dengan apa yang menjadi tujuannya.
Beberapa pesan panjang lebar dikirim Dika, dan Seno hanya bisa menaik turunkan alisnya sambil membaca pesan-pesan tersebut.
"Apa, aku benar-benar harus melakukannya?"tanya Seno pada dirinya sendiri setelah ia membaca semua pesan dari Dika.
("Tentu saja kau harus melakukan semuanya, jika tidak! aku pastikan malam ini kau akan gagal kembali")
"Dia sepertinya mendengar gumaman ku dari sini."Kata Seno setelah membaca pesan itu.
Setelah selesai melakukan percakapan lewat teks, Seno meletakkan ponselnya di atas meja dan ia berseru.
"Kau pasti berhasil Seno, semangat!"
**
5 menit kemudian, Rana keluar dari kamar mandi, dengan menggunakan kimono putih yang sudah tersedia di dalam sana.
Dengan cepat Seno meraih tangan Rana dan menuntunnya untuk duduk di kursi menghadap kaca.
"Aku akan membantu mengeringkan rambutmu."Kata Seno dan dia langsung menyalakan alat pengering rambut di sana.
"Tidak perlu Mas, aku bisa sendiri."Tolak Rana dengan halus.
"Sudah, kau duduk diam. Mulai sekarang, aku yang akan melakukan pekerjaan ini."
"Terima kasih, Mas!"
Kencangnya suara pengering rambut berhasil menyamarkan suara debaran jantung Rana dan Seno.
Ya, mereka sama-sama gugup dan berdebar seperti akan melakukan malam pertama padahal mereka sudah 6 tahun menikah.
__ADS_1
Perlahan-lahan, Seno menarik nafasnya dalam-dalam agar ia bisa mengontrol rasa gugupnya saat ini, karena di sini ia yang harus berperan aktif untuk memulai semuanya.
"Kau harus bisa Seno, kau pawangnya di sini, kau supirnya di sini. Jadi kau yang harus memulai, menjalankan, dan menanganinya." Batin Seno.
Begitu juga dengan Rana, bahkan dulu dia tidak gugup dan jantungnya tidak berdebar kencang seperti ini.
"Ya Tuhan! kenapa aku bisa gugup seperti ini. apa yang harus aku lakukan? dadaku seperti mau meledak." Batin Rana.
Mereka berdua seperti remaja yang sedang jatuh cinta, dengan senyum malu-malu ketika saling menatap wajah masing-masing di depan cermin.
"Apa masih belum kering, Mas?"tanya Rana.
"Belum, ini masih sangat basah."Jawab Seno berbohong, karena sesungguhnya rambut itu sudah kering sejak tadi, hanya karena dia ingin berlama-lama melakukan kegiatan itu sambil memikirkan aksi selanjutnya.
Dan Rana pun hanya mengangguk, padahal dia sendiri sudah tahu jika rambutnya sudah kering.
"Mas!"
"Rana!"
Panggil mereka secara bersamaan.
"Kau duluan saja Mas."Kata Rana, yang tahu jika ada sesuatu yang ingin Seno katakan.
"Tidak! kau dulu saja, biar aku belakangan."Sahut Seno. Yang ingin mendengar terlebih dahulu alasan Rana kenapa memanggilnya.
"Tidak! Kau dulu saja Mas. Karena aku lupa ingin berkata apa."
Seno menghentikan kegiatannya dan ia pun mematikan mesin pengering rambut yang berisik itu. Lalu ia duduk di sisi ranjang dan menarik kursi yang diduduki Rana agar mendekat kepadanya.
Rana yang bingung, hanya bisa diam sambil menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Seno.
"Rana, ada yang ingin aku katakan padamu."Ujar Seno, setelah ia berhadapan langsung dengan Rana.
"Ada apa Mas?"
"Ini soal Windy."
Rana menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan ketika mendengar nama itu disebut.
"Ada apa dengan Windy?"tanya Rana mencoba untuk tenang, padahal hatinya tidak karuan. Dia sudah mendapatkan keyakinan bahwa Seno sudah tidak memiliki rasa apapun kepada Windy setelah melihat video yang dikirim oleh Aurel, tapi entah kenapa hati Rana masih diliputi rasa kekhawatiran dan ketakutan jika lelaki itu masih tidak mencintainya.
Seno meraih tangan Rana.
"Kau sudah tahu kan masa laluku dan Windy?"
Rana mengangguk.
"Maafkan aku yang tidak langsung menceritakan ini kepadamu, karena aku berpikir ini sangatlah tidak penting. Tapi ternyata aku salah. Aku dan Windy memang pernah memiliki hubungan, tapi semua itu sudah berakhir sejak 6 tahun yang lalu. Dan sejak itu sampai sekarang, aku sudah tidak pernah lagi memikirkan apalagi masih menyimpan rasa kepada wanita itu, bagiku dia hanyalah masa lalu yang memang harus ditinggalkan dan tidak perlu dikaitkan dengan masa ku sekarang, aku sudah tidak peduli lagi dengan alasan apa yang membuat dia meninggalkanku dulu karena itu sudah tidak penting lagi bagiku. Saat ini yang terpenting bagiku adalah mendapatkan kembali kepercayaan darimu, untuk memberiku kesempatan menjadi suami yang lebih baik. Aku mohon padamu untuk tidak mendengarkan apapun yang orang lain katakan tentang aku dan Windy. aku tidak bisa berkata banyak untuk meyakinkanmu, tapi aku yakin kau sudah bisa menilai semuanya."
Seno beranjak, untuk mengambil sesuatu yang ia simpan di saku jaketnya. Dan ia kembali duduk di tempat semula.
Seno mengeluarkan sepasang cincin kawin yang dia simpan di sebuah kotak berwarna merah.
Rana tentu mengenali cincin itu, karena itu adalah cincin pernikahan mereka 6 tahun yang lalu. Tapi 4 tahun yang lalu Rana meninggalkannya, di saat dia pergi meninggalkan Seno, dan saat ini lelaki itu kembali membawa cincin tersebut dihadapan Rana.
"Kirana, maukah kau kembali padaku dan menjadi istriku untuk selamanya. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan apapun untukmu, tapi aku akan selalu berusaha melakukan apapun agar kau bahagia."Kata Seno dengan suara yang sedikit bergetar.
Lalu ia kembali berkata.
"Aku akan menerima keputusan apapun yang kau berikan malam ini. Jika memang kau sudah tidak mau kembali kepadaku, aku akan menyerah."
Bersambung...
β¨ππππβ¨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ