4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Aku, Akan Melakukan Apapun Untuk Mempertahankan Mu.


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Rana mengutarakan keinginan dengan nada yang bersungguh-sungguh, membuat Seno merasa kecewa. Apakah benar sudah tidak ada harapan untuk Seno? Apakah benar Seno tidak layak mendapatkan kesempatan kedua? Apakah ini adil untuk Seno?


Entahlah! Tapi yang jelas, setiap perbuatan yang kita lakukan akan ada timbal baliknya.


Hari ini adalah hari yang sungguh sangat menyentak hati Seno, baru beberapa jam yang lalu dia di temui Vir dan lelaki itu meminta Seno untuk melepaskan Rana, dan saat ini hatinya kembali di hantam batu besar mendengar keinginan Rana secara langsung.


Mungkinkah ini kode alam agar Seno menyerah, dan melepaskan Rana. Meskipun dia belum berjuang dengan apa yang dia bisa untuk mempertahankan Istrinya.


**


Seno masih mematung, sepertinya dia masih mencerna semua yang baru saja terjadi.


Hingga suara Lina kembali menyadarkan Seno.


"Rana, apa selama ini, ibu tidak menjadi ibu mertua yang baik untukmu? Apakah kamu tidak bisa mempertimbangkan ibu untuk tetep bersama kami di sini?"


Hati Rana kembali terenyuh, tapi ia tidak boleh goyah. Keputusan yang baru saja dia ambil tidak bisa dan boleh dia tarik kembali, sudah saatnya ia mengambil keputusan untuk hidupnya, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.


"Ibu jangan bicara seperti ini, ibu adalah ibu mertua yang sempurna bagiku, justru aku yang merasa tidak layak menjadi menantu ibu dengan semua kekurangan ku. Maafkan aku Bu, maafkan dengan keputusanku ini."


Lina hanya bisa mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes, dan hal ini sangat menyakiti hati Rana. Dia membayangkan jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Kartika, ibunya.


Tidak mau dalam posisi sulit, karena jika berlama-lama di sana bisa jadi ia akan goyah karena tidak tega melihat Lina, Rana bangun dari duduknya dan meraih tangan Lina lalu menciuminya.


"Maafkan aku Bu, jagalah kesehatan ibu."


Rana kembali berdiri tegak.


"Bu, aku permisi pulang,"lalu Rana melihat Seno yang masih terdiam tidak melakukan apapun. Mungkin saja Seno sudah menyerah.


"Mas, kamu hanya perlu menceraikan aku, dan jika kamu tidak ada waktu, biar aku yang akan mengurus semua di pengadil. Aku permisi, pulang."Rana berbalik, ingin melangkah menuju pintu depan, dia harus segera pergi dari rumah ini.


Di saat itu juga Seno bertidak dengan aksi pertama, bangkit dari duduknya.


Lalu dia dengan cepat menarik tangan Rana.


"Mas, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."


Seno tidak mengindahkan larangan Rana, lelaki itu malah mendudukkan kembali Rana di sofa dan dia pergi menuju pintu keluar.


Di saat Rana ingin mengejar Seno, ia membatalkannya karena melihat Lina nampak lemas dan memegangi kepalanya.


"Ibu kenapa? Apa ibu baik-baik saja?"khawatir Rana.


"Ibu tidak apa-apa, kepala ibu hanya sedikit merasa pusing."Sahut Lina, namun suaranya sudah sangat lemas.


"Aku antar ibu ke kamar ya. Ibu harus beristirahat."

__ADS_1


Rana memapah Lina menuju kamar ke dua di rumah itu.


**


Sementara Seno yang berjalan menuju pintu keluar, ternyata ingin menemui Aurel yang masih duduk di kursi teras.


"Seno!"kejut Aurel, yang malah melihat Seno datang. Padahal dia sedang menunggu Rana.


Dengan wajah datar, Seno berkata.


"Terima kasih sudah mengantarkan Rana pulang, sekarang kau boleh pergi."


"Apa? Pergi?"bingung Aurel,"Kau bicara apa? Lalu di mana Rana?"


"Dia akan tetap di sini."Sahut Seno, singkat.


Aurel menggeleng tidak percaya.


"Kau jangan macam-macam Seno, memangnya apa yang Rana katakan? Apa dia yang ingin tetep di sini, atau kau yang memaksanya?"


"Apa saya harus menjelaskannya padamu?"


"Apa?"


"Bicara apa dia?"


"Tidak juga, tapi aku harus memastikannya secara langsung, jika Rana yang ingin tetep di sini."


"Aurel, saya minta tinggalkan Rana di sini, karena ada banyak hal yang harus saya bicarakan dengannya. Beri saya kesempatan untuk meyakinkan Rana."Pinta Seno, dengan suara melemah.


"Aurel?"


"Seno, apa kau tahu jika Rana mengalami trauma berat di saat kau mencampakkannya. Bahkan dia sampai harus konsultasi dengan pisikolog untuk bisa lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Dan sekarang kau kembali mengusik setelah Rana mulai menata hidupnya. Seno, jika kau meminta kesempatan hanya untuk kembali menyakiti Rana, aku adalah orang pertama yang akan berperang menjauh kan mu dari kehidupan Rana."Tegas Aurel.


"Maafkan saya, tolong bantu saya untuk memperbaiki semuanya, dan meyakinkan Rana. Saya tau kau orang yang paling dekat dengannya. Rana pasti akan mendengarkan mu. Saya bersungguh-sungguh ingin memperbaiki semuanya dan membahagiakan Rana. Kau bisa melakukan apapun, bahkan kau bisa membunuh saya, jika saya berkhianat dengan apa yang saya katakan saat ini."Seno yang bersungguh-sungguh.


Aurel menelesik bola mata Seno, dia mencari-cari kebohongan di sana, namun tidak Aurel temukan.


"Baik. Aku akan mengizinkanmu untuk meyakinkan Rana. Tapi semua keputusan ada di tangan Rana, tolong jangan memaksanya, kali ini aku mencoba percaya padamu dan jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan."


Seno mengangguk.


"Terima kasih."


Rana yang baru keluar dari kamar setelah membantu membaringkan Lina, kembali melanjutkan niatnya yang tertunda, mengejar Seno.


Ia terkejut karena mendengar percakapan Seno dan Aurel yang sebenarnya tidak begitu jelas Rana dengar. Rana hanya mendengar Aurel berpamitan pada Seno.


Ia segera berlari.


"Aurel tunggu!"panggilnya.

__ADS_1


Namun panggilan itu hanya terdengar oleh Seno, ia langsung menahan Rana yang ingin keluar mengejar Aurel dan segera menutup pintu lalu menguncinya. Sedangkan Aurel sudah berada dalam mobilnya.


"Mas, apa-apa ini. Apa yang kau lakukan? buka pintunya, Mas."Marah Rana.


"Aku hanya ingin bicara denganmu."


"Tapi kau tidak harus menahan, dan mengunci pintu seperti ini kan?"


"Jika aku tidak menahan mu, apa kau akan tetap di sini dan mau mendengarkan aku?"


Rana terdiam, saat ini ia benar-benar merasa marah dengan kelakuan Seno. Terbukti dengan tatapan Rana yang begitu tajam pada laki-laki yang ada di depannya.


"Rana."Seno meletakkan kedua tangannya di pundak Rana, tapi dengan cepat Rana menepis tangan itu.


"Aku sudah pernah mengingatkan mu untuk tidak pernah menyentuh ku, Mas."


Seno hanya bisa mengepalkan jari-jari tangannya yang baru saja di hempaskan Rana. Dia harus sabar dan berusaha mengambil kembali hati Rana.


"Rana, maafkan aku."


"Aku sudah bilang kan kalau aku sudah memaafkan mu. Jadi, tolong biarkan aku pergi dari sini Mas."


"Rana?"


"Mas, aku mau pulang."


"Ini rumah mu."


Rana tidak menggubris omongan Seno, ia kembali berjalan ingin membuka pintu. Tapi lagi-lagi Seno menghentikannya.


"Buka pintunya Mas, aku harus pulang?"


"Aku bilang ini rumahmu."


"Kau jangan egois seperti ini Mas."


"Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan mu."


"Mas!"teriak Rana yang kesabaran sudah setipis tisu di belah dua.


"Seno! apa yang terjadi? Apa Rana masih ada di sini? ibu bisa mendengar suaranya, ingat Seno! jangan macam-macam pada Rana, ibu tidak akan pernah memaafkan mu jika kau berbuat kasar padanya."


Suara Lina, yang sepertinya salah paham dengan teriakan Rana. Membuat perdebatan kecil antara kedua manusia itu terhenti.


Bersambung..


šŸāœØšŸāœØāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ™

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2