4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Sandiwara Pertama


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


šŸšŸšŸ


Dika dan Olivia turun ke lantai dasar Apartemen bersama, dan tanpa di senja mereka bertemu dengan Rega.


Olivia yang menyadari kehadiran Rega, yang sudah pasti ingin mengunjunginya segera mundur bersembunyi di balik punggung Dika. Pikirnya, jangan sampai Rega melihat.


"Kau tidak harus bersembunyi, dia tidak akan mengenali wujud mu yang ini,"ujar Dika dengan suara pelan yang hanya terdengar oleh Olivia.


"Iya, kau benar juga."


"Hai, kita bertemu lagi. Sepertinya kita akan sering bertemu,"sapa Rega.


Dika membalas sapaan lelaki itu dengan senyum.


"Ya, sepertinya akan begitu."Sahut Dika.


Pandangan Rega tertarik pada gadis culun yang ada di samping Dika.


"Bukankah kau Koki di Cempaka Resto?"tanya Rega dan pertanyaan ini tentu dia tunjukkan kepada Olivia.


"Sial! Kenapa dia harus mengenali Mawar,"keluh Olivia.


Tidak mau dicap buruk oleh atasannya, Olivia yang sebagai Mawar menunduk lalu menjawab pertanyaan dari Rega.


"Benar, saya koki di Cempaka Resto. Senang bisa bertemu dengan Anda Pak Rega."


"Ah iya, tapi sedang apa kau di sini?"tanya Rega.


"Saya, hanya sedang melihat-lihat Apartemen ini saja tidak lebih dari itu. Dan kebetulan saya bertemu dengan Pak Dika, yang menjadi teman salah satu peserta kursus di Cempaka kursus."Jawab Olivia dengan asal karena dia tidak mungkin menjawab yang sebenarnya.


"Ooh.. begitu, apa kau juga ingin tinggal di Apartemen ini?"tanya Rega kembali.


"Tidak pak, saya tentu tidak mampu untuk menyewa kamar di Apartemen ini."


"Jangan bicara seperti itu, Oya, calon istri saya juga tinggal di Apartemen ini."


"Seperti itu ya, Pak."Timpal Olivia, dia sudah tidak mau lagi berlama-lama bicara dengan Rega, tapi lelaki itu sepertinya senang mengulur-ngulur waktu.


Olivia memberi kode kepada Dika agar dia cepat berpamitan dan pergi dari sana terlebih dahulu.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi."Kata Dika.


"Ya, silahkan."


***


"Kenapa kau terlihat gugup sekali, apa karena berpapasan dengan lelaki itu?"tanya Dika.


"Tidak!"sahut Olivia dengan cepat.


"Sepertinya rasa pekaannya sangat kurang sampai dia tidak mengenali kekasihnya sendiri,"ledek Dika.


"Sudah cepat jalan. Aku tidak mempunyai banyak waktu karena aku harus segera pulang, Mamah sudah menungguku di Rumah. Jika aku sampai terlambat pulang, Mamah pasti akan mencari tau penyebabnya."Kata Olivia, agar lelaki itu berhenti membahas Rega.


"Baiklah, kau tenang saja."


Dika langsung melajukan mobilnya, menembus keramaian kota.

__ADS_1


**


Hingga 30 menit kemudian.


Mereka sampai di kediaman Tino dan Ana.


Ana dan Tino sudah berdiri di depan pintu guna menyambut kedatangan Anak dan Calon Menantunya.


"Peranmu sangat di butuhkan malam ini, asal kau tahu, Ibu memiliki insting yang sangat kuat bahkan bisa menembus sesuatu yang tidak mungkin bisa di duga dengan manusia normal pada umumnya. Jadi, jangan sampai membuat ibu curiga."Pesan Dika sebelum mereka turun dari mobil.


Olivia mengangguk dan di sudah akan membuka pintu mobil, tapi Dika mencegahnya.


"Tunggu, kau tetap di sini. Biar aku yang akan membuka pintunya agar ibu percaya dengan semua ini."


Dika bergegas turun terlebih dahulu untuk membuka pintu Olivia.


Sementara di depan sana, Ana mengulas senyum lebar melihat sikap anaknya yang sungguh luar biasa romantis dengan membukakan pintu untuk kekasihnya.


Dika mengulurkan tangannya kepada Olivia.


"Apa harus seperti ini? Aku bisa turun sendiri,"Olivia yang tidak mau diperlakukan seperti itu.


"Sudah ikuti saja, yang paling penting jangan sampai membuat Ibu curiga, ingat itu. Nasib penyamaran mu ada di tangan."Ujar Dika.


Olivia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya dengan kasar, lalu dia menyambut uluran tangan Dika dan langsung memasang senyum sempurna di saat keluar dari mobil dan berjalan mendekati Ana serta Tino.


Untuk sesaat kedua kubu saling terdiam, dan terperangah.


Ana dan Tino, terkejut! Karena tidak menyangka jika gadis idaman yang menjadi pilihan Dika adalah seperti Mawar . Gadis yang berpenampilan kuno dengan poni tebal serta kacamata besar.


Tapi mereka tidak mempermasalahkan itu semua, seperti apapun bentuk gadis yang menjadi pilihan Dika. Anna dan Tino akan tetap menerimanya dengan senang hati karena yang terpenting Gadis itu mau, dan terus menyayangi putranya.


Olivia juga terperangah, karena melihat penampilan Tino dan Ana yang sungguh sangat berbeda. Mereka sudah seperti ingin menghadiri pesta besar-besaran dengan kostum yang paling baik.


***


Dika kembali menuntun Mawar agar lebih mendekat kepada orang tuanya.


"Ayah, Ibu. Perkenalkan, ini Mawar Merah. Dia kekasihku,"dan Dika beralih sejenak kepada mawar,"Sayang, ini kedua orang tuaku."


Ana mengulas senyum ramah.


"Nama yang cantik, persis seperti orangnya.puji Ana


"Terima kasih Tante, senang bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengan Anda."Ucap Mawar dengan menundukkan kepalanya.


"Ayo kita masuk, kita makan malam bersama. Dan di dalam kita bisa berbincang lebih dekat."Kata Ana dan dia langsung meraih tangan mawar dan mengajaknya ke dalam rumah.


"Dika, Apa itu benar-benar kekasihmu?"tanya Tino. Setelah Ana membawa mawar masuk ke dalam rumah.


"Iya, kenapa? apa Ayah tidak percaya?"


"Bukan seperti itu, Ayah hanya tidak menyangka saja jika pilihanmu unik seperti ini. Padahal ibumu, mengira jika kau mempunyai Spek tinggi untuk wanita yang akan menjadi calon istrimu hingga kau menolak Olivia."


"Justru karena dia unik yang membuatku tertarik, dia berbeda dengan gadis lainnya tapi aku sangat yakin dia juga sebaik Olivia."kata Dika yang meyakinkan ayahnya agar tidak curiga.


"Baiklah, siapapun pilihanmu Ayah dan Ibu hanya bisa mendukung, sekarang ayo kita masuk jangan sampai membuat ibumu marah karena lama menunggu."


***

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam dengan khusyu. Dan setelah makan malam usai Ana mengajak Mawar duduk di ruang keluarga, di sana dia mempertanyakan banyak hal kepada Mawar terutama tentang orang tuanya. Seperti apa yang biasa Mawar katakan, ketika ditanya mengenai orang tuanya, Gadis itu akan menjawab jika kedua orang tuanya sudah meninggal dunia sejak dia berusia 7 tahun.


"Jadi selama ini kau hidup seorang diri?"tanya Ana.


"Tidak Tante, ada beberapa orang baik yang selalu mendampingi dan mendukungku. Jadi aku tidak pernah merasa sendiri."Jawab Olivia.


"Tante senang mendengarnya, jika kau mau. Kau bisa sering-sering datang kesini. Anggaplah Tante sebagai orang tuamu sendiri."


"Terima kasih Tante."


Dreeet.. Dreeet..


Ponsel Mawar terus saja bergetar, dan Mawar Sudah bisa menduga jika itu pasti Vera. Karena dia sudah terlambat untuk pulang.


Olivia melirik Dika. Dan untung saja lelaki itu sangat peka hingga tau arti lirikan dari Olivia.


"Bu, ini sudah malam, aku harus segera mengantar Mawar pulang,"kata Dika.


"Kenapa terburu-buru sekali? padahal masih banyak hal yang ingin Ibu ceritakan kepada Mawar."


"Ibu bisa menceritakannya di lain waktu, tapi saat ini aku harus segera mengantar Mawar pulang, besok kami sama-sama bekerja pagi. Jadi kami harus beristirahat yang cukup."Dika memberi pengertian pada Ibunya.


"Dika benar Bu, mereka harus bekerja di pagi hari dan mereka harus tetap sehat, tidak boleh tidur terlalu malam."Timpal Tino.


"Baiklah, antar Mawar sampai depan pintu. Dan kau langsung kembali ke Rumah jangan ikut masuk,"ujar Ana.


"Iya, aku tau."Sahut Dika.


"Berhati-hatilah."Ujar Ana dan Tino.


**


Akhirnya. Kebohongan malam ini berjalan dengan lancar tanpa Ana mencurigai sedikitpun sandiwara mereka.


"Aku harap ini yang terakhir kalinya, aku tidak mau lagi bertemu dengan tanta Ana dan terus berbohong padanya."Kata Olivia, yang merasa bersalah untuk malam ini.


"Ya, aku rasa akan seperti itu."Sahut Dika.


**


"Aku turun di sini saja,"pinta Olivia di saat mereka sampai di tengah-tengah jalan.


"Di sini?"kaget Dika.


"Iya, di sini saja."


"Kenapa, aku bisa mengantarmu langsung ke Apartemen, atau kau mau aku mengantarmu ke tempat tante Vera."Tawar Dika.


"Tidak perlu, aku turun di sini saja."Olivia sudah membuka sabuk pengamannya.


"Tidak bisa."Cegah Dika.


Bersambung..


šŸšŸšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø


__ADS_2