4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Sedikit Agresif.


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


āœØšŸāœØāœØšŸāœØ


Waktu seolah berhenti berputar, sepinya malam semakin membuat sunyi suasana kamar tersebut. Tidak ada suara apapun selain suara detik jam dinding dan degung jantung Rana dan Seno.


Setelah puas memandangi garis wajah istrinya, mata Seno tertuju kepada bibir ranum Rana, sejak dulu pun Seno sudah tergoda dengan bibir berwarna peach tersebut. Namun ia tidak berani untuk menyentuhnya sembarangan karena Seno merasa tidak pantas di kala itu, ia tidak mencintai Rana jadi dia merasa tidak berhak untuk menyentuh wanita itu sesuka hatinya. Tapi saat ini, setelah ia meyakinkan hati dan benar-benar mencintai Rana tentu saja Seno sudah tidak akan segan-segan melakukan apapun pada istrinya. Rana yang masih terbuai seperti dikutuk menjadi batu hingga ia tidak bisa bergerak dan berucap apapun bahkan untuk bernafas pun sepertinya Rana tahan karena hembusan nafasnya tentu saja akan menyapu wajah Seno, karena ia pun merasakan sapuan dari hembusan nafas lelaki tersebut.


Secara perlahan Seno semakin mendekatkan wajahnya di wajah Rana dan Cup. Ia mengecup kening Rana, mata Rana terbelalak setelah ia sadar dari kutukan menjadi batu. Namun Seno mengulas senyum sambil terus mengusap wajah Rana dan ia kembali mendaratkan satu kecepatan di kening itu.Ā 


"Mas tolong jangan seperti ini."Pinta Rana, yang hatinya tidak kuat jika harus berlama-lama dengan posisi seperti ini ia takut pertahanan yang selama ini ia bangun akan runtuh begitu saja hanya karena sikap lembut dan manis dari Seno.


"Lalu kau mau seperti apa? "Tanya Seno dengan menyeringai.Ā 


"Mas, aku...!"


Cup. Baru saja Rana membuka mulutnya ingin kembali meminta Seno melepaskannya dengan cepat lelaki itu memotong ucapan Rana dengan cara membuka mulutnya, bukan dibungkam dengan telapak tangan apalagi telapak kaki. Tapi Seno membungkam mulut istrinya yang ingin melayangkan protes dengan sebuah kecupan tepat di bibirnya. Rana semakin membelalakkan matanya ia terkejut karena tidak menyangka jika Seno berani melakukan hal seperti ini kepadanya, meskipun ia tahu kalau dirinya masih Istri Seno, tapi tidak seharusnya Seno tiba-tiba melakukan hal ini bukan! apalagi setelah 4 tahun mereka tidak bertemu dan bersama.


'Apakah tidak ada rasa kecanggungan pada Mas Seno, hingga ia dengan seenaknya menciumku seperti ini. Bahkan Mas Seno terlihat lebih agresif dari 4 tahun yang lalu' kata inilah yang saat ini ada di pikiran Rana.


Melihat Rana yang melotot, Seno kembali mendaratkan ciuman untuk yang kedua kalinya dan tentu saja ia lakukan itu di bibir.


"Mas, tolong hentikan," pinta Rana yang sudah mendorong tubuh Seno ketika lelaki itu ingin kembali mendaratkan bibirnya. Namun Seno malah menggenggam tangan Rana yang mendorong dadanya, ia meletakkan tangan itu di belakang punggung Rana hanya dengan menggunakan satu tangan sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk mengangkat wajah Rana agar kembali menatapnya lalu sedetik itu juga Seno kembali memberikan kecupan di bibir istrinya, tapi ini bukan sekedar kecupan biasa karena ini sudah bisa disebut sebagai ciuman. Ciuman yang begitu lembut dan menghayati. Yang langsung mengaktifkan saraf-saraf yang ada di tubuh masing-masing.


Beberapa detik kemudian, ciuman yang lembut berangsur-angsur menjadi sedikit panas dengan Seno yang lebih dominan menelusuri setiap inci yang ada di bibir istrinya, namun Rana masih sekuat tenaga mempertahankan diri untuk tidak membuka peluang di bibir sehingga Seno tidak bisa masuk lebih dalam menelusuri dalamnya.


Merasa tidak ada respon dari Rana Seno melakukan trik yang pernah diajarkan oleh Dika (Gigit lembut bibir pasanganmu di saat kalian sedang berciuman tapi tidak ada respon dari salah satu pihak) dan tentu saja Seno pun menggunakan trik itu saat ini.


Rana memberontak ketika lelaki itu benar-benar menggigit bibirnya namun kesempatan itu tidak Seno sia-siakan karena ketika Rana sudah membuka mulutnya, ia langsung masuk lebih dalam lagi menelusuri setiap rongga yang ada di sana dengan.

__ADS_1


Melihat Rana yang sudah hampir kehabisan nafas Seno baru melepaskannya. Mereka sama-sama tersengal karena hampir kehabisan oksigen, wajah Rana memerah dan matanya juga ikut memerah menatap tajam Seno.


"Kau jangan kurang ajar seperti ini Mas!"Rana sedikit marah. Namun Seno anggap marah itu adalah pujian untuknya hingga ia kembali mendekatkan tubuh Rana sampai benar-benar melekat ke tubuhnya lalu dengan brutal Seno kembali melakukan ciuman yang sempat ia tunda untuk menghirup oksigen.


šŸāœØšŸ


Kita tinggalkan dulu Seno yang tengah berusaha melakukan apa yang harus ia lakukan.


Karena kita harus membantu Vir yang tengah berkemas karena ia harus kembali ke Kota XXX malam ini juga.


Ya, Vir harus kembali malam ini karena orang tuanya terus-terus menerornya dengan puluhan pesan dan panggilan meminta Putra semata wayangnya untuk segera kembali ke rumah sakit.


"Kenapa kau tidak kembali besok pagi saja Vir? ini sudah malam."Ujar Wahyu yang tengah memperhatikan Vir memasukan beberapa barang-barangnya ke dalam tas.


"Aku pun berniat seperti itu, tapi beberapa dokter anak di Rumah Sakit tengah mengambil cuti. Jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini karena harus menggantikan mereka."Sahut Vir.


"Apa kau benar-benar tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit? melakukan tugas dan kewajibanmu, bukankah ini sudah menjadi sumpah kita dulu tapi kenapa kau menjadi lemah seperti ini dan memilih untuk menyerah?"tanya Vir kepada Wahyu.


"Aku masih merasa tidak pantas jika harus kembali melakukan pekerjaanku, biarkan aku memikirkan semua ini."


Vir menepuk pundak Wahyu memberikan semangat pada rekan kerja sekaligus temannya itu.


"Banyak orang yang membutuhkanmu di sana kembalilah. Jangan terus-terusan menyalahkan diri atas kejadian yang sudah digariskan oleh sang pencipta."Ujar Vir.


Wahyu mengangguk.


Setelah berpamitan dengan orang tua Wahyu Vir pun benar-benar pergi dari sana. Dua niat yang membawa lelaki itu datang ke Kota ini. Namun kedua niat itu sama-sama gagal.


Vir gagal untuk membujuk Wahyu kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Dan dia juga gagal meminta Seno menceraikan Rana.


Setelah menerima fakta, Vir tentu tidak berani melangkah lebih jauh memaksa Seno untuk melepaskan Rana. Vir benar-benar tidak menduga jika ternyata Seno belum menceraikan Rana dan mereka masih resmi sepasang suami istri, tapi Vir tidak akan menyerah Ia akan tetap menunggu Rana sampai wanita itu memberikan jawaban yang ia harapkan. Karena Vir sangat yakin jika Rana sudah tidak lagi ingin kembali pada Seno.


**


Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang di gelapnya malam, sepanjang perjalanan ia benar-benar memikirkan Rana bahkan sebelum ia pergi pun ia sudah berulang kali mengirim pesan kepada wanita pujaan hatinya itu, namun belum ada satu pesan pun yang dibalas oleh Rana. Karena Vir tidak tahu jika saat ini Rana tengah dikunci dan dibuai oleh suaminya sehingga Rana tidak sempat membaca pesan apalagi membalasnya.


"Ke mana lelaki itu membawamu, bahkan aku tidak bisa menghubungimu sama sekali,"gumam Vir yang kembali melirik ponselnya berharap jika Rama membalas pesan yang ia kirim sejak siang tadi sampai saat ini.


šŸāœØšŸāœØ


Di tempat lain.


Windy tengah menatap dirinya di depan cermin dengan tatapan yang menyedihkan. seketika wanita itu mengingat kejadian 6 tahun yang lalu yang membuat ia harus merelakan untuk berpisah dengan Seno. Padahal hatinya benar-benar sakit dan terluka kala itu, tapi tidak ada pilihan lain baginya selain meninggalkan Seno karena ia tidak mau jika lelaki itu membencinya, menjauhinya jika Seno tahu apa yang sudah terjadipada dirinya.


"Seno, apakah kau benar-benar sudah melupakanku semudah itu. Bahkan, di waktu 6 tahun masih belum cukup untukku melupakanmu,"gumam Windy yang masih menatap dirinya di depan cermin.


Bersambung..


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2