
Selamat membaca π€
πβ¨β¨β¨π
Yang mengerti dan paham dengan lagu yang sedang di nyanyikan langsung mengarahkan pandangannya pada Dika.
"Adam! Apa yang kau lakukan!"tanya temannya sedikit membentak karena bisa-bisanya lelaki itu meminta lagu yang sesuai dengan perasaan Dika saat ini.
"Hehehe, aku hanya ingin menghibur para tamu undangan di sini."Sahut Adam dengan tertawa garing.
"Tapi tidak harus meminta lagu ini kan, ini sama saja kau tengah menyindir Dika. Dia pasti akan semakin terluka dan bersedih mendengar lagu yang begitu menyayat ini."Kesal temanya.
"Sudah tidak apa-apa, anggap saja ini latihan bagi Dika agar hatinya kuat dan tidak terus-terusan merenung saat bekerja. Kita sebagai laki-laki tidak boleh terpuruk dan berduka hanya karena ditinggal seorang wanita, sudah seharusnya Dika bangkit dan kita harus membantu teman kita agar dia bangkit dan Move On."Seru Adam, dengan menggebu-gebu, seolah apa yang saat ini dia lakukan adalah hal yang bisa membantu Dika melupakan Aurel.
"Kalau kau berniat memberi semangat agar Dika Move On, seharusnya kau jangan memberikan lagu seperti ini, beri dia lagu yang energik yang memancing Semangat Jiwa Dika, agar segera mencari gadis lain sebagai pengganti Aurel."
Adam berpikir sejenak.
"Benar juga ya! Jadi apakah lagu yang aku pilih ini salah?"Tanyanya tanpa dosa.
"Ah, sudah tahu malah bertanya. Bersiap-siaplah Adam, engkau akan menjadi bulan-bulanan Dika esok hari."Sahut temanya, dan menakut-nakuti Adam.
Adam Panik!
"Ayolah, bantu aku untuk menghindari kemarahan Dika."Pinta Adam.
"Aku tidak mau ikut campur karena aku ingin bekerja dengan tenang, kau hadapi saja sendiri dan segeralah minta maaf pada Dika. Siapa tahu Dika akan berbaik hati lalu memaafkan mu tanpa syarat. Hehehe!"Ujar temannya meledek Adam, dan dia langsung pergi meninggalkan Adam yang tengah bingung harus melakukan apa agar Dika tidak marah padanya karena lagu yang dia request tadi.
****
Dika yang turun dari pelaminan segera beranjak dengan menghentakkan kakinya menuju Adam, untung saja lelaki ini masih bisa mengontrol emosinya hingga dia tidak terbawa suasana lalu menangis di hadapan Aurel dan Ardi.
βDari jauh Adam hanya bisa cengengesan menatap Dika yang semakin mendekat ke arah dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan! Ayo berpikirlah Adam! Ah, kabur, ya aku harus kabur dari sini."Gumam Adam, sambil melambaikan tangannya kepada Dika dan setelah itu ia mengambil langkah seribu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sial!"umpat Dika yang mendapati targetnya malah melarikan diri.
"Kak Dika mau ke mana?"cegah Cilla yang menghentikan langkah Dika dengan menarik lengan lelaki itu.
"Kenapa dia selalu mengikuti ku,"gumam Dika dengan kesal. "Aku ingin menangkap laron yang tengah berkeliaran di pesta ini,"sahut Dika dengan asal.
"Laron! Apa iya ada laron di gedung ini?"tanya Cilla dengan bingung.
"Ada, tapi kau tenang saja, biar aku yang akan menangkap dan membuang Laron itu dari sini agar dia tidak mengganggu resepsi pernikahan kakak mu. Dan kau tetap di sini jangan mengikuti ku, mengerti!"ujar Dika dengan tegas
__ADS_1
Dengan polosnya Cilla mengangguk dan dia membiarkan Dika keluar dari gedung tersebut.
Dika semakin kesal ketika dia berada di luar gedung tidak melihat keberadaan Laron yang dia maksud, yaitu Adam.
"Kenapa dadaku rasanya ingin terbakar berlama-lama di sini, sepertinya aku harus segera pulang daripada tubuhku ikut terbakar karena kepanasan,"gumam Dika, yang mengambil keputusan untuk pulang lebih awal. Dan dia berjalan menuju parkiran mobil.
Namun, baru saja Dika membuka pintu mobilnya, pandangan matanya teralihkan dengan seorang gadis yang tengah berdiri di pinggir jalan sambil memainkan ponselnya.
"Bukankah dia..!"gumam Dika sambil mengingat-ingat siapa gadis itu, "Ah iya, dia temannya Cilla. Tapi apa yang sedang dia lakukan di sini? bukankah tadi dia berpamitan ingin pulang tapi kenapa masih ada di sini apa dia berbohong dan sebenarnya tidak pulang? Aah, itu bukan urusanmu Dika, mau dia pulang atau tidak terserah karena lebih baik sekarang kau yang pulang."Ujarnya, dan langsung membuka pintu mobil.
Di saat Dika tengah melajukan mobil keluar dari parkiran, Dika melewati teman Cilla yang sebelumnya sempat berkenalan dengan Dika.
Perhatian Dika kembali tertuju kepada Gadis yang bernama Mawar itu, kali ini Dika yakin jika dia pernah bertemu dengan gadis itu tapi entah di mana karena Dika tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Namun Dika tidak memperdulikan itu, meskipun Gadis itu terlihat tidak asing tapi dia tidak mau menambah pekerjaan otaknya dengan mengingat di mana melihat Gadis itu sebelumnya. Dia tetap melajukan mobil menjauh, dan menuju rumahnya.
πβ¨
Keesokan harinya.
Rana dan Seno yang sebelumnya berniat berangkat ke rumah Kartika dan Ridwan dimajukan karena sejak semalam Rana ingin segera pulang ke rumah orang tuanya.
Tapi, mereka berangkat usai melakukan pengobatan rutin yang selama satu bulan lebih ini Rana lakukan.
"Tidak Mas, ini saja sudah cukup lagi pula barang-barang ku masih banyak di rumah Ibu jadi aku tidak perlu membawa banyak pakaian atau yang lainnya,"Sahut Rana.
"Baiklah! kalau begitu kita berangkat sekarang agar sampai di rumah Ibu tidak larut malam."
Rana mengangguk, dan mereka segera masuk ke dalam mobil lalu mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.
β¨π
Seperti yang sudah menjadi perkiraan Seno, mereka tiba di rumah Kartika dan Ridwan sebelum larut malam.
Kartika segera meminta putrinya untuk beristirahat karena anak bungsunya itu terlihat sangat lelah. Padahal tadi dia yang bersemangat ingin pulang ke rumah Ibunya dan biasanya Rana tidak pernah merasa lelah sekalipun dia melakukan perjalanan berjam-jam, tapi entah kenapa hanya melakukan perjalanan ke rumah ibunya saja Rana terlihat lesus seperti.
"Kalian pasti lelah, beristirahat."Ujar Kartika.
Tiba-tiba Rana memeluk ibunya dengan sangat erat sambil berkata.
"Aku sangat merindukan Ibu. Aku ingin tidur ditemani Ibu malam ini."
Mendengar permintaan istrinya itu sontak membuat Seno terkaget, bagaimana bisa ibu mertuanya tidur bersama dirinya. Itulah yang saat ini Seno pikirkan ketika Rana meminta tidur bersama Kartika. Lelaki itu pikir dia pun ikut tidur bersama ibu mertuanya.
Kartika mengusap lembut rambut putrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa anak ibu jadi manja seperti ini! Ibu jadi ingat ketika kau masih kecil dulu, kau selalu seperti ini. Meminta Ibu menemanimu tidur jika kau sedang merasa bahagia, sepertinya Putri Ibu satu ini benar-benar sedang bahagia."Ujar Kartika.
Rana mengangguk.
"Iya Bu, aku sedang merasakan kebahagiaan."Sahut Rana, dan dia sendiri tidak tahu Rasa bahagia seperti apa yang tengah menyelimuti hatinya saat ini, akhir-akhir ini Rana memang selalu bahagia karena cinta yang luar biasa yang diberikan oleh Seno, tapi saat ini kebahagiaan yang tengah dia rasakan berkali-kali lipat sampai dia sendiri tidak tahu cara menjelaskannya.
"Baiklah, kalau begitu Ibu akan menemanimu tidur malam ini."Ujar Kartika dan dia segera menuntun putrinya memasuki kamar Rana.
Dan Seno pun membuntutinya dari belakang.
"Ibu keluar dulu sebentar ya nak, ibu ingin mengambil selimut."
Rana mengangguk dan disaat Kartika keluar ini menjadi kesempatan untuk Seno, pertanyakan apa yang sejak tadi menari-nari di otaknya.
"Sayang kenapa kau minta Ibu untuk tidur bersama kita?"Tanya Seno.
"Bukan tidur bersama kita Mas, tapi tidur bersamaku,"Sahut Rana.
"Kita kan satu paket. Jadi jika salah satu mengajakmu dia juga harus mengajakku."
Rana terkekeh, sambil bergelayut di lengan Seno.
"Mas, untuk malam ini saja aku ingin tidur bersama ibu. Tapi kau tidak ikut tidur bersama kami, kau tidak mungkin ikut tidur bersama Ibu kan?"
Seketika Seno menggeleng.
"Tapi aku ingin tidur bersamamu, mana bisa aku melewatkan satu malam tanpa memelukmu."Kata Seno dengan wajah yang ia buat sedih agar istrinya itu mau tidur bersamanya malam ini.
Tapi Rana malah memeluknya saya berkata.
"Ini aku sudah memelukmu. Berarti malam ini kau tidak melewati satu malam pun dengan tidak memelukku kan, sekarang Mas tidurlah bersama ayah, istirahatlah dengan baik."Rana menguraikan pelukannya dan beralih mencium pipi Seno.
Seno cemberut, karena diminta tidur bersama ayah mertuanya. Tapi setelah mendapatkan ciuman dari sang istri dia tidak bisa protes, dan di saat itu juga Kartika masuk ke dalam kamar. Dan dengan berat hati Seno pun harus merelakan istrinya tidur bersama Kartika malam ini.
Bersambung..
πππππ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1