
Selamat membaca š¤
šāØāØš
Setelah satu bulan lamanya.
Tanggal pernikahan Aurel dan Ardi pun ditentukan, dan jatuh pada bulan ini.
**
"Dika! Apa kau akan terus seperti ini? Meringkuk di pojokan seperti itu?"tanya Ana orang tua Dika.
"Ibu, bisa tidak untuk tidak menggangguku, aku sedang fokus."Sahut Dika.
"Fokus menangisi undangan pernikahan itu! Sudah Dika, relakan Gadis itu menikah dengan lelaki yang dia cintai, kau jangan meratap seperti ini. Sekarang mandilah kau harus pergi bekerja kan!"
"Aku tidak bersemangat untuk melakukan apapun Bu, aku pikir aku tidak akan menerima undangan seperti ini, tapi sialan Seno itu malah memberikan ini padaku,"sedih Dika.
"Kalau kau tidak mau kenapa sejak tadi kau memeluk undangan itu, ayo! Berikan pada ibu, ibu ingin tahu kapan Gadis itu akan melangsungkan pernikahan."
Dika bersemangat!
"Untuk apa Bu! Apa Ibu ingin mengacaukan pernikahan mereka?"
BUG!
Ana melayangkan bantal di kepala Dika.
"Kau pikir Ibu ini orang jahat dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain, tentu saja tidak! Ibu ingin tahu kapan Gadis itu melangsungkan pernikahannya karena Ibu ingin menghadirinya."
"Jangan Bu, jika Ibu menghadiri pernikahan itu, ibu pasti akan terluka."
Ana mendelik.
"Ibu tidak sepertimu Dika, sudahlah ayo cepat mandi, ini sudah jam 08.00 pagi kau bisa terlambat."Ana yang sudah mulai kesal.
"Tidak!"sahut Dika asal.
"Apa! Tidak!"
Ana meraih sapu lidi yang biasa ia gunakan untuk membersihkan kasur dan ia memukul-mukul kannya di tangan sambil menatap tajam ke arah Dika.
Sudah berjam-jam Dika meringkuk di pojokan ranjang sambil memeluk undangan yang sore tadi diberikan oleh Seno, undangan pernikahan Ardi dan Aurel yang akan dilangsungkan satu minggu mendatang, membuat Ana kesel dengan anaknya itu.
__ADS_1
"Iya, ini aku bangun. Dan akan segera mandi lalu pergi ke tempat kerja, apa ibu senang!"kata Dika, yang langsung beranjak ketika melihat ibunya memegang sapu lidi, Dika tahu apa yang akan di Lakukan Ana dengan sapu itu, jika dia tidak patuh.
"Anak pintar, sebelum berangkat bekerja sarapan lah terlebih dahulu. Dan jangan lupa, malam nanti Ibu akan mengajakmu bertemu dengan Olivia."
Olivia, adalah gadis yang beberapa waktu lalu ingin Ana jodohkan dengan Dika. Dan saat ini Ana ingin kembali menjodohkan putranya dengan gadis itu.
Namun sama seperti dulu, Dika langsung menolak keinginan ibunya Setelah dia melihat foto dari gadis yang bernama Olivia tersebut.
"Aku sibuk Bu, malam nanti ada latihan."
"Seno mengatakan kepada ibu jika malam nanti kau tidak sibuk dan tidak ada latihan apapun kalian akan pulang seperti biasanya."Crocos Ana.
"Sial, kenapa Seno harus sejujur itu. Sepertinya aku harus menjalin kerjasama dengan Seno karena akhir-akhir ini Ibu selalu mempertanyakan kebenaran alasanku jika menolak bertemu dengan gadis bernama Olivia itu, pada Seno."Batin Dika.
***
Seperti biasa, Dika datang di kantor SAR. Tapi kali ini wajahnya ditekuk dilipat.
"Dia kenapa?"tanya Adam yang merupakan teman Dika, dia melihat gurat mendung di wajah lelaki itu.
"Dia, sedang patah hati."Sahut rekanya.
"Apa masih belum usai drama patah hatinya setelah 1 bulan lebih?"
"Suuuttt... pelan kan suaramu, jangan sampai dia mendengarnya, dia mengulangi patah hatinya ketika dia menerima undangan pernikahan gadis itu."
"Benar."
"Astaga, menderita sekali Dika. Apa menurutmu dia datang di pernikahan gadis itu?"
"Entahlah! Hanya dia dan Tuhan yang tau."
**
"Seno, kenapa kau tidak berbohong sedikit saja pada Ibuku,"kata Dika dan saat ini mereka sedang makan siang bersama. Hari ini Seno tidak makan siang di rumah karena istrinya itu sedang berada di rumah Aurel, membantu Gadis itu untuk mempersiapkan hari bahagianya.
"Apa kau ingin membuatku menjadi anak durhaka?"sahut Seno.
"Tidak akan menjadi anak durhaka jika kau berbohong sekali saja kepada ibuku, aku tidak mau bertemu dengan gadis yang bernama Olivia itu."
"Kenapa? kau jangan jual mahal Dika sadar dengan usiamu yang sudah semakin tua, apa kau ingin bersama Cilla saja?"
"Kau ini kejam sekali, biarpun usia ku sudah tidak remaja lagi. Tapi aku masih terlihat sangat imut dan menggemaskan."
__ADS_1
"Benar, dan kau sangat cocok jika bersanding dengan Cilla yang juga imut dan menggemaskan, kalian pasti akan terlihat seperti pasangan hamster."Timpal Seno.
"Tidak Seno, kau bayangkan saja jika aku bersama Cilla. Setiap hari aku melihat kemesraan antara Aurel dan Ardi, dan jika aku bersama Cilla, mereka berdua akan menjadi kakak ipar ku. Sungguh Aku tidak Sudi mempunyai kakak ipar seperti Ardi."
"Lalu kau maunya seperti apa?"tanya Seno. Tapi sejak tadi dia berbicara dengan Dika tanpa melihat wajah lelaki itu, karena fokus Seno pada ponselnya yang tengah berkirim pesan dengan sang istri.
"Aku akan hidup seperti ini saja. Aku memutuskan untuk tidak lagi mencari gadis pujaan hati,"kata Dika.
"Kau yakin?"
Dika mengangguk.
"Baiklah! terserah padamu aku akan selalu mendukung semua keputusanmu sekalipun kau memilih menjadi om-om yang tidak memiliki pasangan. Sekarang kembalilah bekerja dan pulanglah tepat waktu, ibumu sudah mempersiapkan semua pertemuan mu dengan Olivia. Setidaknya kau temui dulu Gadis itu dan bicarakan pada dia jika kau menolak perjodohan yang disepakati oleh orang tua kalian, dengan begitu Olivia pasti akan mengatakan kepada ibunya untuk membatalkan perjodohan kalian."
Dika terbelalak. Dia sungguh tidak menyangka jika Seno mempunyai ide berlian seperti itu, Ide yang sama sekali tidak dia pikirkan sebelumnya.
"Kau luar biasa Seno, ilmu yang selama ini aku berikan kepadamu ternyata kau serap dengan baik dan sempurna hingga saat ini otakmu yang sedang dipenuhi dengan ke bucinan pada istrimu pun masih bisa berjalan normal, dengan memberikan saran yang luar biasa ini."
Seno meringis, mendengar kata-kata Dika.
"Dika, sepertinya kau harus segera berobat ke rumah sakit."
"Hatiku yang sakit Seno, bukan badanku dan sakit hatiku ini tidak akan bisa diobati dengan dokter manapun."
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu dia kembali berkata.
"Sepertinya, karena sakit hati yang kau alami membuat otakmu sedikit bermasalah kau harus segera memperbaikinya. Sebelum terlambat dan kau berakhir dipasung oleh ibu."Seno menepuk pundak Dika, dan setelah mengatakan itu dia pergi dari sana.
"Di pasung! kenapa kata-katanya mengerikan,"Gumam Dika. Dan dia juga melangkah menyusul Seno untuk kembali melakukan tugas-tugasnya.
***
Sore hari. Tiba waktunya Dika untuk bertemu dengan gadis pilihan sang ibu yang bernama Olivia. Sebelumnya Dika sudah melihat Olivia dari foto yang di tunjukkan Ana. Dan ketika melihat gadis itu Dika tidak tertarik dan langsung menolaknya. Tapi Ana tetep memaksa Dika untuk bertemu dengan Olivia.
Berkat saran yang di berikan Seno, Dika menyusun rencana untuk menolak gadis itu secara terang-terangan dan meminta orang tua mereka untuk membatalkan perjodohan ini.
Bersambung..
šāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø