
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
Seno diam dengan perasaan was-was menanti jawaban dari Rana.
"Aku sedang datang bulan, Mas!"kata Rana, dengan menyipitkan matanya karena tidak mau melihat ekspresi wajah Seno.
"Apa?"wajah Seno yang awalnya memerah karena hasratnya yang sudah menggebu tiba-tiba meredup setelah mendengar kata Kramat itu.
"Iya, aku sedang datang bulan."Rana kembali mengulangi kata-katanya. Namun kali ini ia membuka matanya dengan lebar.
Terlihat sekali raut kecewa di wajah Seno karena sudah bisa dipastikan ia harus menahan sesuatu yang sudah ingin meledak di tubuhnya.
Karena lemas pasca mendengar kata (Datang Bulan) dan ia tidak bisa melakukan apapun, Seno menjatuhkan wajahnya di dada Rana. Tapi ia tetep belum melepaskan tangan Rana.
"Mas, kau tahu bukan jika tidak boleh melakukan hubungan suami-istri jika sedang datang bulan."Kata Rana, yang menyadarkan Seno.
Seno kembali mengangkat wajah dan menatap lekat Rana Ia seperti mengulik sesuatu dari mata wanita itu.
"Aku tidak berbohong, Mas. Aku benar-benar sedang datang bulan,"ujar Rana dengan cepat karena ia tahu tatapan Seno seolah curiga pada dirinya.
Dengan sedikit kesal Seno melepaskan cengkraman tangannya di lengan Rana lalu ia menjatuhkan diri di sebelah Rana dengan posisi terlentang sambil matanya menatap langit-langit kamar dengan nafas yang turun naik, dalam hatinya berkata"Kenapa harus ada yang namanya datang bulan di saat seperti ini. Aaa ...! Aku bisa gila jika harus menahan dan menunggunya. Saat ini alam benar-benar sedang menghukum ku."
Rana menghembuskan nafas lega karena malam ini ia tidak harus melakukan kewajibannya, bukan ia tidak mau tapi ia memang sedang didatangi tamu bulanan dan Rana menganggap ini semua adalah tanda bahwa ia memang belum harus melakukan itu dengan Seno. Karena hatinya belum siap.
Dirasa semuanya sudah aman dan Seno tidak akan lagi mengganggunya, Rana hendak beranjak dari tempat tidur.
Namun.
"Kau mau kemana?"Seno menahan dengan kembali memeluknya.
"Keluar, kau tidak mungkin melakukan itu padaku kan, Mas?"tanya Rana dengan was-was karena ia takut jika Seno tetap nekat.
"Tentu tidak, aku akan menunggunya, tapi kau tidak harus turun dari ranjang ini kan?"
"Kenapa?"
"Apalagi yang dia inginkan, bukankah sudah tidak ada yang harus di lakukan lagi!"
"Tetaplah disini temani aku tidur, walaupun kita tidak bisa melakukan itu tapi kita masih bisa melakukan hal yang lain."
"Melakukan hal yang lain?"Rana waspada.
Dan Seno tersenyum mencurigakan.
"Mas, kau jangan berfikir yang tidak-tidak?"Rana sudah mulai ketakutan.
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin menyapa bagian yang lain saja."Sahut Seno yang membuat Rana bingung.
Seno kembali bangkit dan bertumpu di atas tubuh Rana. Dan ia kembali membuka kancing piyama Rana yang sudah 2 kali tertunda.
"Mas!"Rana menahan tangan Seno.
Cup!
Seno mengecup bibir istrinya yang nampak ketakutan itu.
"Tenanglah, aku ingin menyentuh bagian atas saja, aku berjanji tidak akan melakukan hal yang lebih. Aku akan sabar menunggumu sampai selesai datang bulan."Bisik Seno tepat di telinga Rana.
Dengan pasrah dan ragu-ragu. Rana memejamkan matanya ketika Seno secara perlahan membuka satu persatu kancing piyama yang berderet.
"Sepertinya aku salah menyiapkan pakaian tidur untukmu, lain kali aku akan membuang pakaian jenis seperti ini dan menggantinya dengan jenis yang lebih mudah untuk dibuka. Bahkan bila perlu kau tidak usah mengenakan apapun saat tidur bersamaku."Gerutu Seno, yang membuat Rana ingin memukul wajahnya.
Namun ia tidak bisa melakukan itu. Karena Seno Kembali menahan tangannya.
Selesai dengan piyama yang memiliki 5 kancing, saat ini Seno harus berjibaku membuka tali pengikat dua gunung kembar.
"Lain kali kau jangan menggunakan benda seperti ini saat sedang bersama ku." Seno kembali ngomel, karena kesal harus melewati beberapa rintangan hanya untuk menyentuh si kembar miliknya.
__ADS_1
"Aku akan membuang semua benda seperti ini di dalam lemari, bila perlu aku akan menutup toko serta pabrik yang memproduksi benda ini agar istriku ini tidak lagi membelinya."
"Mas!"Rana yang merasa malu, menahan tangan Seno. Yang Sudah berhasil membuka tali dan akan mengangkat penutup si kembar.
Seno tersenyum dan menyatukan kembali bibirnya. Ia mencium Rana dengan penuh gairah sambil menurunkan tangan Rana yang menahannya, setelah berhasil! Tanpa melihat karena ia masih fokus mencium istrinya, Seno melemparkan benda penutup si kembar yang membuatnya harus bersusah payah.
Beberapa detik kemudian tangan lelaki itu mulai aktif meraba sesuatu yang kenyal di sana yang ia sebut si kembar.
Hanya dan suara erangan yang tertahan di dalam kamar yang memiliki lampu temaram itu.
"Sakit, Mas. Kenapa kau menggigitnya?"protes Rana, karena Seno tiba-tiba menggigit benda sensitif miliknya.
"Maaf, aku tidak sengaja."Sahut Seno dan kembali melakukan apa yang ingin ia lakukan.
1 Menit!
5 Menit!
10 Menit!
15 Menit!
20 Menit!
Hingga sampai ke Menit ke 30.
Seno menyudahi aktivitasnya, ia tidak boleh berlama-lama bermain di sana karena itu akan sangat berbahaya jika ia tidak kuat menahan iman. Ia bangkit dari Kungkungannya dan kembali mengecup seluruh wajah Rana. Dan setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang akan dia lakukan di dalam sana di tengah malam seperti ini, hanya Seno dan para lelaki yang tahu, ketika hasrat mereka tertunda pasti akan berakhir di kamar mandi.
šāØš
Keesokan harinya.
Rana bangun di jam yang bukan di sebut pagi, dan ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena hari ini ia harus bertemu dengan Sarah.
Sementara Seno ada di ruangan lain tengah berbicara dengan seorang lewat sambungan telepon, semalam lelaki itu memilih untuk tidur terpisah karena ia takut tidak bisa menahan diri jika tidur bersama.
Itulah, beberapa penggal kata yang Seno ucapkan di akhir pembicaraannya lewat sambungan telepon.
Seno berjalan menuju kamar dan tanpa mengetuknya lagi ia membuka pintu tersebut.
Ia tidak melihat ada Rana di atas ranjang, tapi ia mendengar suara kucuran air di dalam kamar mandi.
Lagi-lagi, tanpa mengetuk pintu Seno mendorong pintu kamar mandi tersebut. Namun beruntung Rana menguncinya dari dalam hingga ia tidak bisa nyelonong masuk sesuka Hati.
"Rana! Kau di dalam?"panggilnya.
"Iya, ada apa Mas?"Sahutan dari dalam sedikit berteriak.
"Kenapa sampai mengunci pintunya?"
"Tentu saja aku harus menguncinya, masa aku harus membukanya lebar-lebar."Sahutan yang bernada kesal kembali terdengar. Memang seperti ini jika wanita sedang menstruasi. Gampang terpancing emosi dan sensitif.
"Tapi aku tidak masuk jika kau mengunci pintunya."
"Memangnya kau mau apa masuk Mas? apa kau mau menonton ku yang sedang mandi?"suara dari dalam semakin meninggi.
"Baiklah, aku akan menunggumu di luar."Seno mengalah.
Tidak ada sahutan lagi dari Rana dan ia berjalan keluar kamar.
***
20 Menit kemudian.
"Mas?"panggil Rana yang baru keluar dari kamar.
Seno yang tengah duduk di bangku sambil memainkan ponselnya, refleks menoleh seraya berdiri.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?"tanya Seno khawatir karena ia menangkap raut yang tidak biasa dari wajah Rana.
__ADS_1
"Boleh aku minta tolong?"pinta Rana.
Dengan cepat Seno menghampiri istrinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Katakan ada apa?"Seno sudah mulai panik.
Sebenarnya Rana malu untuk mengatakan ini, namun ia tidak punya pilihan lain. Karena manusia yang ada di Villa ini hanyalah dirinya dan Seno. Dan mau tidak mau ia harus meminta tolong kepada Seno. Anggap saja ini ujian bagi lelaki yang tengah berjuang untuk meluluhkan dan merebut kembali hati istrinya.
"Kau tahukan, Mas. Jika aku sedang datang bulan?"tanya Rana ragu-ragu.
Seno mengangguk.
"Tentu saja tau, dan aku tidak suka dengan nama itu."
"Mas, aku membutuhkan sesuatu?"
"Katakan apa yang kau butuhkan, aku akan memberikannya?"Sigap Seno.
"Pembalut. Aku sudah mencarinya di lemari tapi tidak ada, sepertinya kau tidak menyedihkan di sana."
"Pembalut? Apa itu?"Seno yang mulai bingung.
"Kau tidak tahu?"
Seno menggeleng.
"Tidak!"
Rana tersenyum licik, sepertinya Ia memiliki rencana di otaknya.
"Aku ingin kau membawakan benda itu untukku, karena saat ini aku sangat membutuhkannya."
"Tentu saja aku akan membawakan apapun yang kau minta, tapi jelaskan dulu padaku itu benda apa? Apakah sejenis makanan dan minuman atau yang lainnya?"
"Ya, kau cari tau sendiri Mas, itu benda apa?"sepertinya Rana benar-benar ingin mengerjai Seno.
Tidak ingin dikatakan gagal menuruti permintaan pertama dari istrinya, Seno mengangguk meyakinkan Rana untuk membawakan benda yang dimintanya.
"Aku akan membawakannya untukmu."
Rana tersenyum.
"Terima kasih Mas, aku akan menunggunya."
Hati Seno terasa di penuhi kembang-kembang, setelah ia mendapatkan senyum dari Rana. Ini pertama kalinya Seno melihat Rana tersenyum pada dirinya setelah sekian lama wanita itu selalu memasang wajah cemberut pada dirinya.
"Baru akan membawakan pembalut saja dia sudah tersenyum semanis ini padaku, aku benar-benar harus mendapatkan benda itu sekarang juga agar Rana selalu tersenyum padaku." Batin Seno.
**
Rana kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sedangkan Seno bergegas keluar Villa untuk mencari benda yang disebutkan tadi.
"Tapi di mana aku harus mencarinya? aku juga tidak tahu itu benda apa?"Gumam Seno yang tengah berpikir keras. Sebelum melangkah pergi.
"Dika, ya. Dika pasti tau."
Tiba-tiba nama Dika terbesit di otak Seno yang tengah kebingungan, Ya, hanya lelaki itulah yang selalu hadir di otak Seno ketika ia sedang bingung.
Bersambung...
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š¤
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1