
Selamat, Membaca π€
πβ¨β¨β¨π
Keesokan harinya.
Seno beserta Timnya kembali melakukan pencarian pada korban yang hilang, dan masa pencarian Tim Seno di perpanjang menjadi satu minggu, membuat lelaki itu uring-uringan karena dia akan lebih lama meninggalkan Rana. Tapi dia harus tetap menjalankan kewajibannya di sini, sehingga Seno baru akan kembali satu minggu kemudian.
Dan sungguh sangat tidak disangka, Windy memanfaatkan situasi di sana untuk menjalin kedekatan dengan Seno, meskipun niatnya hanya ingin berteman tapi tidak Windy pungkiri, jika di lubuk hatinya yang paling dalam, ia mengharapkan lebih dari sekedar hubungan teman.
**
"Dokter Windy? kau mencari siapa?"tanya Dika yang melihat Windy berdiri di depan tenda tim SAR dengan raut wajah yang ragu-ragu untuk memasuki Tenda, dengan sebuah benda berbentuk kotak di tangannya.
"Eh, Dika. Aku hanya ingin memberi makan siang untuk tim SAR."Sahut, Windy sambil menunjukkan kotak berisi nasi yang ada di tangannya.
"Benarkah! Tapi kenapa hanya satu kotak nasi saja? kau tahu kan jika anggota tim SAR itu berjumlah lebih dari satu orang, tidak mungkin jika kita memakan satu kotak nasi beramai-ramai."
Windy tertawa kaku.
"Aah, iya. Maafkan aku, aku hanya membawa contoh makanannya saja apakah ini sesuai dengan selera kalian atau tidak,"ujar Windy memberi alasan.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, kami ini tidak pernah pilah-pilih makanan. Kami selalu memakan makanan yang tersedia di tenda apapun itu bentuk dan menunya. Jadi kau tidak perlu membuang-buang waktu berharga mu itu hanya untuk memperhatikan menu makanan kami, karena sepertinya, untuk masalah makanan sudah ada Tim relawan khusus, jadi lebih baik kau fokus saja untuk mengobati para pasien di tenda medis."
Windy semakin dibuat kaku dan canggung dengan kata-kata yang Dika ucapkan.
"Baiklah! Maafkan aku sudah mengganggu."
"Tidak, masalah."
Dia saat yang bersamaan dan Windy belum melangkahkan kakinya dari sana, Seno keluar dari tenda.
"Seno, apakah sudah makan siang?"tanya Windy, dengan wajah berbinar ketika melihat Seno keluar dari tenda.
"Apa saya harus menjawabnya?"sahut Seno dengan ketus, karena dia sedang galau perkara tidak bisa langsung pulang dalam waktu dekat.
Windy tersenyum dan dia kembali berkata.
"Tidak! Tapi, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadamu, dan ini mengenai para korban yang selamat."
"Baiklah! kau tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan dan perlukan kepada Dika, dan jika ada sesuatu yang penting Dika akan segera mengurusnya."Sahut Seno dan langsung ditanggapi oleh Dika.
"Itu benar, jika ada yang dokter Windy perlukan bisa langsung tanyakan saja kepada saya."
__ADS_1
Windy mengangguk meskipun wajahnya tidak semangat seperti beberapa detik yang lalu.
"Baik."
Dan tanpa mengatakan dan berbasa-basi lagi, Seno pergi dari sana meninggalkan Windy dan Dika berdua saja.
*
"Jadi, kedatangan kau di sini untuk memberi makan siang atau ingin bertanya sesuatu?"tanya Dika.
"Maaf Dika, memang ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan tapi sepertinya tidak sekarang karena aku harus segera kembali ke tenda medis."
Dika mengangguk.
"Baiklah, selamat bertugas."
πβ¨π
Di tempat lain. Rana mendapat kabar jika Windy berada di lokasi yang sama dengan suaminya Seno, namun Rana tidak mempermasalahkan itu, karena mereka sama-sama sedang bekerja. Tanpa Rana tahu jika temannya yang bernama Windy itu ingin menjalin kedekatan dengan Seno.
***
"Rana, apa kau tahu jika Seno berada di lokasi yang sama dengan Windy saat ini?"tanya Aurel.
"Lalu?"tanya Aurel.
"Apanya yang lalu?"
"Apa kau akan membiarkannya begitu saja?"
"Memangnya apa yang harus aku lakukan, mereka sedang sama-sama bertugas kan. Apa aku harus memaksa Mas Seno pulang? tentu tidak kan!"
Aurel mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Kau lihat ini."
"Apa ini?"tanya Rana bingung dengan Aurel yang menyodorkan ponselnya.
"Kau buka saja, setelah itu kau akan tahu semua."
"Kau dapat ini dari mana?"
"Dika yang memberi tahuku. Rana, sepertinya kau harus segera bertindak. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan Windy akan melangkah lebih jauh, jadi sebelum itu semua terjadi kau harus mencegah gadis itu untuk memasuki kembali kehidupan Seno. Ya, meskipun Dika sudah meyakinkan bahwa Seno tidak akan pernah lagi membuka hatinya apalagi tergoda dengan gadis itu, tapi tetap saja kau tidak bisa membiarkan Windy terus-terusan berusaha mendekati suamimu. Jangan pernah membuka celah sedikitpun untuk orang bisa memasuki rumah tangga kalian dengan alasan apapun, apalagi pada orang yang berpotensi merusak jika dia sudah memasukinya, karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga, karena si pemilik rumah membuka pintu untuk orang itu."
__ADS_1
Ujar Aurel.
βBeberapa jam yang lalu, Dika menghubungi Aurel, dan lelaki itu mengatakan bahwa ia sedikit menaruh curiga kepada Windy yang sepertinya berusaha mendekati Seno, dan Aurel pun memang sudah menduga jika Windy memang bermaksud ingin mendekati Seno kembali. Dika berpesan untuk tidak mengatakannya kepada Rana, tapi Aurel memilih untuk mengatakannya agar temannya itu segera bertindak untuk menghalau gadis yang bernama Windy mendekati suaminya meskipun dengan Maksud menjalin pertemanan. Karena faktanya, tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Apalagi, di masa lalu mereka memiliki hubungan sepesial.
Rana terdiam, dia memang tahu jika Windy masih menyukai Seno namun dia tidak pernah menduga dan mempercayai jika Windy akan kembali mendekati Seno namun setelah mendengarkan kata-kata dari Aurel berikut penggalan video singkat yang dikirim Dika membuat Rana berpikir lain tentang Windy.
"Rana!"Panggil Aurel.
"Kau tenang saja Rel, aku tahu apa yang harus aku lakukan jadi kau tidak perlu khawatir."
*******
"Rana, Ibu dengar. Rumah sakit tempatmu bekerja ingin mengirim beberapa perawat dan Dokter ke lokasi banjir di mana Seno bertugas, dan masa pencarian yang dilakukan Seno pun diperpanjang apa itu benar?"Tanya Lina, yang mendapatkan kabar itu dari Dokter Ardi.
"Benar Bu."
"Apa kau tidak ingin pergi ke sana?"
"Tidak Bu, sudah ada perawat lain yang akan pergi bersama dokter Ardi."
"Apa, kau mengkhawatirkan ibu di sini, sehingga kau tidak mau pergi?"
"Bu..!"
"Rana, Ibu mengerti jika kau mengkhawatirkan ibu dan kakek Arif jika kau pergi, dan ibu sangat berterima kasih untuk itu. Tapi jika kau pergi ke sana sungguh ibu dan kakek Arif tidak apa-apa, kami akan baik-baik saja di sini. Rana, Ibu juga sudah mendengar apa yang kau bicarakan dengan Aurel, jadi sepertinya kau memang harus ke sana. Ibu juga sudah meminta Ardi untuk mengajak."
"Aku tidak bisa meninggalkan ibu dan kakek Arif di sini. Mas Seno sudah memintaku untuk menjaga ibu."
"Tidak apa-apa Nak, Ibu dan kakek Arif akan baik-baik di sini. Ada Aurel yang akan sering datang kemari, selama kau dan Seno tidak ada, lagi pula kalian di sana hanya satu Minggu. Jadi pergilah!"Yakin Lina, yang juga tidak mau jika Windy mencoba memasuki kehidupan putranya yang sudah bahagia dengan istrinya.
"Baik Bu, terima kasih, aku akan berangkat."
Bersambung..
πβ¨β¨π
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini π
Lope banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1