
Selamat membaca š¤
ššššš
Seno masih menantikan jawaban dari Kartika.
Dan wanita yang sudah tidak muda lagi itu mengangguk.
"Enak! Ini Nasi Goreng yang sangat berbeda yang pernah ibu makan selama hidup Ibu."Ujar Kartika, setelah di menelan habis Nasi Goreng buatan Seno.
Seno mengulas senyum, dia sangat bangga akan dirinya, sepertinya bakat menjadi Chef benar-benar kental dalam jiwanya. Itulah yang dipikirkan Seno saat ini setelah dia mendapatkan pujian dari ibu mertuanya yang entah pujian itu benar atau tidak.
Dengan penuh percaya diri Seno membawa Nasi Goreng itu ke dalam kamarnya dan diserahkan kepada sang istri tercinta.
"Ini sayang! Makanlah, Nasi Goreng pesananmu sudah tiba."Seru Seno sambil bersorak.
Rana berbinar, ketika menatap Nasi Goreng yang memiliki warna berbeda dengan Nasi Goreng pada umumnya, mungkin Seno terlalu banyak menambahkan kecap hingga membuat warnanya menjadi gelap gulita atau mungkin Nasi itu gosong!
Namun Rana yang sudah sangat senang dengan usaha Seno, segera menyantap makanan yang dibawakan suaminya itu.
Sama seperti Kartika, tenggorokan Rana pun seperti tercekik, ketika dia menelan setiap bulir Nasi tersebut.
"Bagaimana sayang! apa ini rasanya enak? Ibu bilang jika Nasi Goreng buatanku ini sangat enak bahkan beliau mengatakan, belum pernah makan Nasi Goreng seperti ini sebelumnya."Antusias Seno.
Rana mengedipkan matanya berulang agar dia bisa menelan yang sudah masuk ke dalam mulutnya saat ini. Dan sama seperti Kartika, Rana pun mengangguk membenarkan jika Nasi Goreng yang saat ini sedang ia santap memiliki rasa yang luar biasa nikmat.
"Ibu benar Mas, ini enak dan berbeda. Akupun tidak pernah memakan makanan seperti ini sebelumnya."
Seno semakin besar kepala ketika mendapat pujian dari 2 orang tersayang sekaligus.
"Habiskanlah jika kau sangat suka, dan jika kau menginginkannya lagi aku akan membuatnya kembali, dan aku siap jika harus memasaknya setiap hari untuk mu."
"Tidak Mas, terima kasih,"Sahut Rana cepat, "Ini sudah sangat cukup, bahkan sepertinya aku tidak bisa menghabiskan Nasi sebanyak ini."
"Kenapa?"
"Ini porsi untuk 2 orang Mas, apa Mas tidak mau memakannya juga?"tanya Rana dengan penuh harap.
"Tidak sayang, itu untukmu saja biar aku akan memakan nasi goreng buatan bapak-bapak tadi."Tolak Seno, yang ingin mengkhususkan Nasi Goreng buatannya untuk sang istri.
"Sepertinya, Mas Seno tidak mencicipi terlebih dahulu apa yang sudah dia masak." Batin Rana.
Seno memakan dengan lahap Nasi Goreng yang dia beli dengan penuh perjuangan, sedangkan Rana masih mengunyah secara perlahan Nasi Goreng buatan suaminya.
"Mas, aku mau ambil air minum."
"Biar aku saja,"kata Seno yang sudah akan beranjak.
"Tidak Mas, kau tunggu di sini saja, aku bisa mengambilnya sendiri."Sahut Rana yang tidak mau merepotkan dan mengganggu kenikmatan Suaminya yang sedang menyantap Nasgor.
Seno mengangguk. Dan ketika istrinya itu pergi, mata Seno tertuju pada Nasi Goreng buatan sendiri dan tiba-tiba Ia berpikir untuk membandingkan rasa kedua Nasi Goreng yang ada di sana.
UHUK! UHUK! UHUK!
Seketika Seno menjadi terbentuk batuk setelah dia mencoba Nasi Goreng buatannya sendiri.
"Kenapa rasanya kacau seperti ini!pahit dan asin, lidahku sampai kebas."Kata Seno, setelah melesatkan satu sendok Nasi Goreng berwarna Hitam di tenggorokannya.
Dan secara bersamaan Rana masuk kamar dengan membawa dua gelas air putih.
"Kau kenapa Mas, ayo cepat minum."Rana menyerahkan satu gelas air putih pada suaminya.
__ADS_1
"Sayang! Kau berbohong? "tanya Seno kepada istrinya.
"Apa?"Bingung Rana.
"Kau bilang Nasi Goreng buatanku ini sangat enak, tapi nyatanya ini pahit dan asin. Tidak ada satu rasa enak pun di sana, bahkan tenggorokanku terasa sakit ketika memakannya."Ujar Seno, sambil membayangkan betapa buruknya Masakannya.
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya tidak ingin membuat mu kecewa dengan usaha yang sudah kau lakukan. Tapi bagaimanapun Nasi Goreng ini masih tetap enak dan bisa dimakan, buktinya sejak tadi aku memakannya,"kata Rana.
"Tapi sekarang jangan, jangan memakannya lagi, aku takut kau sakit."Seno segera menyingkirkan piring yang masih menyisakan setengah Nasi yang menurutnya memiliki rasa yang sangat buruk.
"Maaf, sayang! lain kali aku akan memberikan makanan terbaik dan enak untukmu."Sambung Seno dengan penuh sesal.
"Tidak apa-apa Mas, kamu jangan merasa bersalah seperti itu aku tetap suka dengan Nasi ini dan karena masakan mu, sekarang aku sudah tidak merasa lapar lagi."
"Terima kasih."Ucap Seno, namun dia masih merasa menyesal karena tidak bisa memberikan yang terbaik dari permintaan istrinya.
"Sekarang, aku sudah merasa sangat kenyang. Ayo kita tidur kembali."Ajak Rana. Dan Seno pun mengikuti ajakan istrinya.
šāØš
Keesokan harinya.
Di tempat lain.
Dika dan Tim mendapatkan tugas, dan tugas ini melakukan pencarian pada seorang anak berusia 3 tahun, yang di nyatakan hilang di puncak, pada saat sedang menikmati liburan bersama Orang Tua dan beberapa keluarganya.
Seno tentu tidak ikut serta dalam tugas ini karena lelaki itu masih berada di kota di mana mertuanya tinggal. Dan seperti biasa, di saat Seno tidak bertugas, Dika yang menggantikan posisinya.
Dika dan beberapa rekannya segera meluncur ke lokasi pencarian tempat terakhir anak berusia 3 tahun itu terlihat.
Dan tanpa di duga, lagi-lagi di sana Dika harus bertemu dan diganggu oleh Cilla. Entah kenapa Gadis itu selalu ada di setiap ada misi penyelamatan. Cilla dan temanya yang bernama Mawar membagikan makanan pada setiap relawan di sana, sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan Restoran tempat Cilla dan Mawar bekerja.
Dengan antusias dan penuh bahagia Cilla memberikan satu kotak makanan pada Dika. Dika yang sedang merasa lapar pun tentu tidak menolak pemberian dari Cilla.
**
Cilla menggeleng.
"Bukan, tapi jika kak Dika mau, aku bersedia menjadi kekasihnya."
"Kau sangat berterus terang sekali."Ujar Mawar.
"Tentu saja, karena aku sepertinya menyukai Kak Dika, dan aku tidak akan menolak jika Kak Dika mengatakan! Cilla maukah kau menjadi kekasihku,"timpal Cilla sambil senyum-senyum sendiri membayangkan adegan seperti itu benar-benar terjadi.
Mawar hanya bisa mengangguk, tanpa mengatakan apapun lagi.
"Oya, Mawar. Apa untuk kompetisi memasak bulan depan kau ikut serta?"tanya Cilla.
"Tentu, bukankah itu yang menjadi tujuan kita, memenangkan kompetisi besar yang diadakan satu tahun sekali itu."Sahut Mawar dengan semangat.
"Kau benar, dan mulai dari sekarang kita harus lebih giat lagi berlatih, karena semakin tahun pesaing di kompetisi itu akan semakin berat."
"Kau benar."Ucap Mawar.
**
DREEETTT...
Ponsel Cilla bergetar menandakan jika ada panggilan yang masuk dan Gadis itu pun segera menjauh dari mawar guna menemukan tempat yang lebih sunyi agar dia bisa melakukan pembicaraan dengan leluasa.
Sedangkan Mawar pergi menuju mobil Restoran yang membawanya Cilla dan beberapa rekan lainya.
__ADS_1
BUG!
Sebelum Mawar sampai, karena dia tidak fokus dengan jalan yang tengah ia lewati, Mawar menabrak Dika yang juga sedang berjalan sambil menatap ponselnya.
Aaaaww!
Mawar sampai terpekikik, karena dia merasakan sakit akibat tubuhnya menabrak tubuh besar Dika.
"Maaf, aku tidak sengaja, apa ada yang sakit?"tanya Dika. Sambil menunduk ingin melihat wajah gadis itu.
Menyadari jika yang dia tabrak adalah Dika, Mawar malah semakin menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa, ini salah saya yang tidak berhati-hati dalam berjalan. Maafkan saya."Mawar menundukkan kepalanya secara berulang-ulang tapi dia masih tidak berani melihat Dika.
"Tidak, aku juga salah, sampai tidak melihatmu yang berjalan di depanku."Ujar Dika yang masih meneliti Mawar.
"Berarti kita sama-sama salah. Kalau begitu saya permisi dulu."Kata Mawar dan seperti biasa, dia selalu terburu-buru, dan langsung pergi meninggalkan Dika yang masih bingung dengan kelakuan gadis berpenampilan culun itu.
Mawar bergegas masuk ke dalam mobil dengan nafas yang memburu karena merasa cemas dan takut.
"Mawar! Apa yang kau lakukan di dalam?"tanya Cilla yang mengagetkan nya.
"Astaga! Cilla, kau mengejutkan aku."
"Hehe.. Maaf, tapi apa yang kau lakukan di dalam Mobil?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar. Oy, Cilla apa tidak sebaiknya kita pulang lebih cepat, bukankah di Resto banyak karyawan yang tidak masuk bekerja."Ujar Mawar.
"Tapi aku masih mau di sini."Kata Cilla.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang kembali ke Resto terlebih dahulu."
"Tapi siapa yang akan mengantarkan mu, sepertinya di sini tidak ada kendaraan umum."Kata Cilla.
Mawar berfikir sejenak, dan tidak membutuhkan waktu lama gadis itu langsung mendapatkan solusi.
"Aku akan memesan taksi online saja."
"Apa! taksi online? tapi dari sini ke Resto sangat jauh, butuh waktu 3 jam, kau yakin mau menggunakan jasa taksi online?"
Tidak ada pilihan lain.
Mawar pun mengangguk.
"Iya, aku yakin. Lagi pula aku tidak terbiasa dengan tempat dingin seperti ini, aku takut tekena Flu dan tidak bisa mengikuti seleksi pertama kompetisi yang akan di selenggarakan mingguan depan."Mawar memberi alasan.
"Tapi itukan Minggu depan, masih lama."Timpal Cilla.
"Aku jika sudah terkena Flu, akan sulit untuk sembuh bahkan sampai membutuhkan waktu 2 Minggu."
"Kasihan sekali, baiklah. Kau kembalilah."Ujar Cilla.
Bersambung.
āØššššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļø