4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Aku Akan Berhenti Sampai Di Sini


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Om Dika. Tadi Om Seno berkelahi dengan siapa? Apa dia orang jahat?"Tanya Dino. Yang ternyata diam-diam melihat perkelahian Seno dan Wahyu.


"Berkelahi? Apa Seno berkelahi?"Tanya Kartika.


Saat ini mereka sedang berada di meja makan.


"Iya Nek, aku melihat Om Seno berkelahi di halaman rumah."


Ridwan dan Kartika menatap Dika dan Aurel.


"Apa Seno berkelahi dengan Wahyu?"


Dika mengangguk.


"Benar Bu, mereka memang seperti anak-anak. Padahal aku sudah melerai mereka agar tidak berkelahi, tapi kedua lelaki itu keras kepala, mungkin Seno kesal dengan Wahyu."


"Tapi aku melihat Om Dika tidak memisahkan Om Seno dan orang itu, aku melihat Om Dika malah menontonnya."Sahut Dino dengan sangat jujur.


Dika mengeraskan rahangnya.


"Astaga! Kenapa anak ini, harus mengatakan itu. Sepertinya aku memang harus merekrut anak ini untuk jadi anggota misi ku. Agar ia bicara di depan Aurel sesuai dengan arahan ku." Batin Dika.


Aurel melirik ke arahnya. Dan Dika tersenyum kaku karena ketahuan.


"Aaah, Om tidak seperti apa yang Dino lihat. Om memisahkan mereka ko, mungkin saja Dino tidak melihat di bagian itu."Sahut Dika.


"Tapi Om aku tidak...!"


"Ayo kita makan!"Seru Dika, memotong ucapan Dino, agar anak itu tidak banyak bicara yang jujur di depan Aurel.


"Ini ada ayam goreng untuk Dino, Dino harus banyak-banyak makan agar tumbuh besar dan bisa menjadi kuat seperti Om Dika."Sambung Dika dengan meletakkan dua potong ayam goreng di piring Dino.


"Tapi yang kuat itu Om Seno, om Seno hebat bisa melawan orang jahat itu. Om Dika tidak berbuat apa-apa."


Dika terdiam, ia harus ekstra sabar menghadapi anak yang masih polos itu. Dan Dika mengatasi dengan sebuah bisikan pada Dino.


"Bukankah Dino ingin jadi partner Om Dika untuk menyelesaikan misi?"


Dino Mengangguk.


"Kalau begitu, Dino diam jangan bicara apapun tentang Om Dika sebelum Om memberi arahan."


Dino memandang Dika, pandangan yang bertanya kenapa?


Dan Dika kembali berbisik.


"Banyak mata-mata yang tersembunyi di setiap sudut rumah ini. Dan kita tidak bisa melihatnya tampa alat khusus, jadi untuk menjaga rahasia pribadi kita. Dino harus merahasiakan profil sesama Partner. Mengerti?"


Dino Mengangguk.

__ADS_1


"Aku mengerti Om."Ucapnya dengan suara sangat pelan di telinga Dika.


"Jangan bicara apa lagi menghasut anak kecil yang tidak-tidak."Kata Aurel, yang melihat Dika dan Dino bisik-bisik.


"Aku tidak bicara yang tidak-tidak, benarkan Dino?"


"Benar, Om Dika tidak bicara yang aneh-aneh, Tante." Bela Dino.


"Sepertinya Dino sudah terkontaminasi."Gumam Aurel dengan suara pelan.


"Sudah-sudah, ayo lanjutkan makan kalian."Kata Ridwan.


"Baik."Dan dengan patuh mereka melanjutkan makan malamnya.


**


šŸāœØāœØāœØšŸ


Seperti apa yang sudah menjadi perkiraan, dokter Vir sampai terlebih dahulu di posko daripada Seno yang sepertinya terjebak macet di jalan.


Dengan langkah cepat, dokter Vir menghampiri Rana yang tengah duduk menunggu Seno.


"Syukurlah kau masih di sini."Kata Vir dengan lega.


"Vir, ada apa?"


"Aku ingin bicara denganmu."


Rana kembali mengingat perkataan Mayang. Yang memintanya untuk tidak lagi mendekati Vir, padahal Vir lah yang terus mendekatinya.


Vir mengerti kenapa Rana bisa bicara seperti ini.


"Maafkan aku Rana, pasti Mama sudah berkata yang tidak-tidak padamu."Sesal Vir.


"Tidak masalah bagiku, lupakan saja. Karena aku memang tidak merasa melakukan apa yang mamamu katakan."


Vir semakin merasa bersalah.


"Tolong maafkan Mama Rana."


"Tidak ada yang perlu di maafkan Vir, sudahlah ini sudah malam, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan aku Permisi, aku harus segera pulang."Pamit Rana dan akan segera berlalu dari sana.


"Biar aku yang akan mengantarkan mu pulang, karena aku juga ingin bertemu dengan ibu dan ayah mu. Aku harus meminta maaf pada mereka."


"Tidak perlu dokter Vir. Terima kasih."Tolak Rana.


"Rana, tunggu! Masih ada yang ingin aku bicarakan padamu."Vir kembali mencegah.


"Vir, tolong jangan membuat keadaan semakin rumit. Bersikaplah sesuai posisi mu di sini yang sebagian dokter. Dan tolong ingat ini baik-baik. Di antara kita tidak ada hubungan apapun, jangan berkata dan berbuat yang membuat ibumu dan orang lain salah paham. Kau dari keluarga terhormat, jangan mencemari kehormatan keluargamu dengan sesuatu yang tak layak untukmu."


Perkataan Rana begitu getir di telinga Vir, dia bisa merasakan bahwa Rana marah pada Mayang ibunya. Dan Vir juga bisa merasakan apa yang saat ini Rana rasakan atas perbuatan Mayang.


"Aku mengerti, maafkan aku Rana, karena sudah membuatmu dalam kesulitan atas apa yang sudah aku lakukan. Tapi, tolong jawab pertanyaanku, apa kau masih mencintai Seno? jika iya, aku akan berhenti sampai di sini."

__ADS_1


"Selama ini aku tidak pernah membuka hati pada siapapun, aku rasa kau sudah tahu jawabannya."


Vir Mengangguk.


"Baiklah! Aku rasa aku sudah mendapatkan jawabannya."Kata Vir, dengan berusaha ikhlas.


*


"Rana!"panggil Seno, yang baru sampai dan melihat Rana dan Vir tengah berbicara.


Dengan mata tajam yang terus menatap Vir, Seno berjalan mendekat.


"Ayo kita pulang."Ajak Seno, seraya menarik tangan Rana. Tapi matanya masih menatap tajam Vir.


"Mas, kau kenapa? Kenapa wajahmu penuh luka dan lebam seperti ini?"Panik Rana, ketika melihat wajah yang bisanya mulus kini ternoda.


"Jatuh,"jawab Seno, tapi matanya masih pada pada Vir.


"Jatuh? Apa sampai seperti ini?"


Seno mengangguk.


"Kau harus segera di obati Mas."


"Tentu saja, ayo kita pulang. Aku mau di obati di rumah saja. Tidak mau di sini."Kata Seno, lagi-lagi dia bicara dengan menatap ke arah Vir dengan tatapan mengajak Duel.


Rana mengangguk, lalu ia beralih pada Vir.


"Dokter Vir, aku permisi."Pamitnya. Pada Vir yang masih dengan kekacauan hatinya.


"Baik, kalian berhati-hatilah. Selamat malam."Sahut Vir dengan tersenyum.


"Ayo mas, kita pulang."Kata Rana dan melangkah terlebih dahulu.


Seno mengikuti Rana, tapi sesekali ia menatap Vir yang masih memperhatikan langkah mereka.


Seno sedikit heran dengan dokter itu, padahal biasanya dia akan melakukan segala cara untuk menahan Rana dan tidak jarang mereka sampai berdebat. Tapi sekarang Vir malah tersenyum padanya dan membiarkan ia pergi bersama Rana begitu saja.


"Sepertinya dia sudah tau posisinya sekarang!" Batin Seno.


"Sepertinya aku memang harus menyerah sampai sini. Aku tau kenapa kau tidak pernah menerima cintaku, karena kau masih mencintai Seno, tapi aku terlalu egois dangan keinginanku untuk memilikimu, hingga aku menutup mata dan lebih mendengar omongan orang-orang di luar sana. Semoga kau bahagia Rana. Tapi jika aku mendengar lelaki itu kembali menyakitimu, aku tidak akan segan-segan untuk menculik mu dan membawamu pergi jauh dari sini."Gumam Vir, yang masih menatap Rana dan Seno yang menjauh dari darinya.


Vir mengambil keputusan untuk tidak menggubris kata-kata Sarah, setelah mendapatkan keyakinan dari Rana. Bahwa tidak seharusnya ia memaksa dan memperjuangkan sesuatu yang memang bukan miliknya. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita miliki.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2