
Selamat. Membaca š¤
šāØāØāØš
"Teman Rana?"tanya Kartika dengan meneliti Windy, karena sebelumnya dia tidak pernah melihat gadis itu.
"Benar Bu, saya teman Rana di Kota XXX, Aurel juga mengenal saya."Sahut Windy seraya melirik Aurel.
Dan dibalas anggukan oleh Aurel.
"Benar Bu, Dia dokter Windy temanku dan Rana."
"Saya Kartika orang tua Rana, kalau begitu ayo masuk ke dalam. Nak Windy habis menempuh perjalanan jauh kan pasti lelah beristirahatlah di dalam."Kata Kartika dengan berantusias, lalu ia segera mengajak Windy untuk masuk ke dalam rumah.
"Kenapa dia ada di sini?"tanya Aurel sambil menatap Windy dan Wahyu yang mengikuti Kartika masuk ke dalam Rumah.
"Dia mana ada Seno pasti ada dia, dia seperti mengikuti Seno. Dan dia benar-benar datang ke sini, padahal Seno sudah melarangnya."Sahut Dika.
"Melarangnya?"Aurel yang penasaran.
"Iya, di saat kami dalam perjalanan kemari kami bertemu dengan Windy di jalan. Dan dia mengutarakan maksud kedatangannya yang ingin bertemu dengan Rana untuk meminta maaf atas apa yang diucapkan orang tuanya. Tapi saat itu Seno melarangnya. Dan Seno meminta dokter itu untuk tidak pernah lagi menemui Rana."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu, kau tanya saja langsung kepada Seno. Mungkin saja dia tidak ingin masa lalunya berbaur dengan masa depannya."
"Kalau begitu kedatangan dia ke sini untuk bertemu dengan Rana."Gumam Aurel, dan seketika ia kaget ketika mengingat cerita Rana tentang permintaan Winda, orang tua Windy. Ia bergegas masuk ke dalam Rumah.
"Hai! kau kenapa?"teriak Dika dan ia pun segera menyusul Aurel.
**
"Oya bu, perkenalkan. Ini Wahyu sepupuku, dia juga rekan Rana di Rumah Sakit, mungkin sebelumnya ibu sudah pernah bertemu dengan Wahyu."Ujar Windy yang saat ini sudah duduk di ruang tamu.
Kartika menatap dan mengingat lelaki yang duduk di sebelah Windy, namun setelah dia ingat-ingat, Kartika sangat yakin jika dia belum pernah bertemu dengan Wahyu.
"Sepertinya ibu belum pernah bertemu dengan nak Wahyu."
"Benarkah! aku pikir Ibu sering bertemu dengan Wahyu karena Wahyu sering datang ke sini, karena dia sangat hafal jalan menuju kemari."
"Itu hanya kebetulan saja."Sahut Wahyu.
"Apa nak Windy ingin bertemu dengan Rana?"tanya Kartika.
"Benar Bu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada Rana."
"Tapi Rana tidak ada di rumah, Dia sedang di posko bencana. Apa ada sesuatu yang penting?"Kartika kembali bertanya namun kali ini dia sedikit khawatir takut jika anaknya kembali terlibat masalah.
"Mungkin bagi sebagian orang ini tidak penting, tapi bagiku ini sangat penting. Karena aku ingin meminta maaf kepada Rana."
"Meminta maaf kepada Rana? Memangnya apa yang terjadi sampai nak Windy harus jauh-jauh datang dari Kota, kemarin hanya untuk meminta maaf kepada Rana?"
Windy menunduk, sebenarnya dia tidak mau mengatakan ini kepada Kartika. Namun sudah terlanjur datang. Tidak ada salahnya jika ia mengatakannya, agar orang tua Rana juga tahu.
"Waktu Rana berada di kota, Mama menemuinya dan....!"
"Hai! Windy, kenapa kau datang tidak memberi kabar padaku terlebih dahulu. Aku sungguh sangat terkejut dengan kedatanganmu ke sini."Potong Aurel yang tiba-tiba masuk dan langsung duduk di sebelah Windy.
__ADS_1
"Maaf Aurel, tapi aku sudah menghubungi Rana beberapa kali, namun ponselnya tidak aktif."Sahut Windy.
"Ah, dia memang sering mematikan ponselnya ketika sedang sibuk."Timpal Aurel.
Dan dia langsung berbisik kepada Windy untuk tidak mengatakan masalah Mamanya yang datang menemui Rana dan mengajukan permintaan yang sungguh tidak masuk akal.
Aurel khawatir, jika Kartika mengetahui soal itu pasti akan menjadi beban pikirannya apalagi kalau Ridwan sampai tahu, Pria tua itu sedang sakit pasti akan tambah sakit.
Ini alasan yang membuat Rana tidak mengatakan apapun kepada orang tuanya. Dia mau kedua orang tuanya tenang tanpa harus bersedih karena memikirkan masalahnya yang begitu rumit.
Windy menatap Aurel. Dari tatapannya bertanya? kenapa dia tidak boleh mengatakan itu kepada Kartika.
"Nak Windy. Ada apa? kenapa nak Windy harus meminta maaf kepada Rana?"tanya Kartika yang tentu saja tidak melupakan perkataan Windy begitu saja.
"Tidak apa-apa Bu, hanya ada beberapa masalah kecil. Sepertinya nanti saja aku bicara langsung kepada Rana."Sahut Windy. yang memutuskan untuk tidak mengatakan masalah yang sebenarnya.
"Ini bukan masalah besar kan?"
"Bukan Bu, Ibu tidak perlu khawatir semuanya baik-baik saja."Kali ini Aurel yang menyahut meyakinkan Kartika.
"Baiklah. Kalau begitu, Ibu akan ambilkan minum dulu untuk nak Windy dan nak Wahyu."Kartika sudah akan beranjak dari duduknya namun Aurel segera menghentikannya karena dia yang akan mengambilkan minum untuk Windy dan Wahyu.
Sambil menunggu, Windy mengedarkan pandangannya menatap arah pintu yang tadi dimasuki oleh Aurel. Tapi tentu saja dia bukan sedang menunggu atau mencari Aurel.
"Apa kau mencari Seno?"tanya Wahyu yang sontak pertanyaan ini membuat Kartika terkejut.
"Seno! apa nak Windy juga mengenali Seno?"
Deg!
Windy, terkejut dan dia melirik tajam ke arah Wahyu.
Kartika sedikit dibuat bingung, tadi Windy mengatakan ingin bertemu dengan Rana. Tapi sekarang kenapa Wahyu bilang jika ia mencari Seno.
"Tapi Seno tidak ada di sini. Dia sedang mengantar istrinya ke posko. Jadi sebenarnya tujuan kalian ke sini, ingin bertemu dengan Rana atau ingin bertemu dengan Seno?"tanya Dika yang muncul dari pintu depan dan berdiri di ambang pintu.
"Tentu saja aku ingin bertemu dengan Rana, Wahyu hanya asal bicara kau jangan dengarkan dia."Sahut Windy yang merasa tidak enak hati.
"Ah, dari matamu saja sudah sangat kentara bahwa kau mengharapkan ada Seno di sini kan."Timpal Wahyu yang tentu saja perkataannya itu semakin membuat Windy jengkel.
"Aku menyesal memintamu untuk mengantarku ke sini,"bisik Windy di telinga Wahyu.
"Jadi Nak Windy benar-benar mengenal Seno?"Kartika kembali bertanya.
"Dia kekasih Seno."Jawab Wahyu, yang tentu saja membuat Kartika serasa ingin meledak.
"Apa! kekasih Seno?"
"Bukan! Hei lelaki Egois keras kepala, jangan bicara sembarangan. Apa kau tidak sadar, jika ucapanmu ini bisa membuat orang salah paham dan menghancurkan kerukunan yang baru saja terjalin, benar-benar sudah tidak waras."Kesal Dika memaki Wahyu. Dika memang memiliki dendam pribadi dengan Wahyu dan itu terjadi beberapa waktu yang lalu, di lokasi bencana ketika Wahyu mentah-mentah menolak usul darinya yang mengakibatkan gadis bernama Bella tidak sempat untuk dibawa ke rumah sakit. Dan saat ini Wahyu kembali membuat ulah dan tentu saja ulahnya ini akan menimbulkan masalah bagi Seno.
Mendengar makian Dika, Wahyu mendengus kesal, lelaki ini seperti tidak sedang bertamu di rumah orang lain. Karena dia seperti sedang memancing keributan dengan Dika.
"Tidak waras! apanya yang salah? aku mengatakan yang sebenarnya kan, kalau Windy benar-benar kekasih Seno."
"Lebih tepatnya mantan kekasihnya, dan hubungan mereka sudah kandas sejak 6 tahun yang lalu. Apakah aku salah jika aku menyebutmu pria tidak waras, lebih tepatnya gila?"Timpal Dika yang semakin emosi.
"Hei! Kau....!"
__ADS_1
"Cukup!"Aurel datang dan menghentikan Wahyu yang ingin kembali menyerang Dika.
"Dokter Wahyu, jika kedatangan Anda hanya ingin membuat kegaduhan di Rumah ini. Silahkan pergi, kami tidak menerima tamu seperti Anda."Marah Aurel yang geram dengan tingkah Wahyu yang seperti bocah kekanak-kanakan.
Wahyu bangkit dari duduknya.
"Baiklah, aku sudah diusir tentu saja aku akan pergi dari sini,"ujar Wahyu lalu ia beralih kepada Kartika. Seraya berpamitan.
"Saya permisi Bu, mohon maaf jika kedatangan saya membuat keributan di Rumah Anda."
Entah karena terkejut atau bingung dengan apa yang barusan terjadi, Kartika hanya mengangguk di saat Wahyu berpamitan. Namun baru dua langkah Wahyu menjauh, Kartika kembali memanggil lelaki itu.
šāØš
TING!
(Seno, mantan kekasihmu dan sepupunya datang kesini, si dokter egois itu membuat gaduh dengan mengatakan jika Windy adalah kekasihmu di hadapan Ibu Mertuamu)
Satu pesan dari Dika sontak membuat mata Seno ingin lepas.
"Sial! apa dia tidak mengindahkan peringatanku untuk tidak datang menemui Rana, dan dia sekarang malah menemui mertuaku."Umpat Seno dengan kesal setelah membaca pesan tersebut.
Seno kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu ia berjalan dengan cepat menghampiri Rana yang tengah sibuk dengan pasiennya.
"Kita pulang sekarang!"ajak Seno dengan tiba-tiba.
"Pulang? ini masih sore Mas, aku kan sudah bilang kalau aku di sini sampai malam. Mungkin sampai pagi, sampai ada tenaga medis tambah yang datang ke sini."
"Tapi kita harus pulang sekarang. Cepatlah!"ajak Seno kembali.
Rana bingung, karena ia tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.
"Perawat Rana, tolong jangan pulang. Istri saya sedang kontraksi. Siapa yang akan membantu persalinannya nanti? di sini hanya ada tiga dokter dengan ratusan pasien, tentu mereka tidak akan sempat untuk menangani istri saya. Tolong jangan pulang perawat Rana, agar istri saya ada yang membantu di saat persalinannya."Pinta seorang pria yang tengah menemani istrinya yang akan melahirkan dalam beberapa jam lagi.
Rana berbalik kepada Seno.
"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa pulang sekarang karena tidak ada perawat yang menggantikan aku di sini. Dan aku juga harus membantu Ibu ini dalam proses persalinannya. Jika Mas Seno ingin pulang, pulanglah terlebih dahulu, aku bisa pulang sendiri nanti."Tolak Rana yang tetap memilih tanggung jawabnya di posko.
Seno menghela nafas, ia tentu tahu dengan keputusan Rana yang tidak mau ikut pulang dengannya. Karena ini menyangkut sebuah tanggung jawab pekerjaan dan kemanusiaan. Mungkin Seno pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Rana.
"Baiklah. Aku pulang sebentar, karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kau berhati-hatilah di sini, jika urusan di Rumah sudah selesai aku akan segera kembali."Ujar Seno.
Rana mengangguk. Meskipun sebenarnya ia diliputi rasa penasaran. Ada apa sebenarnya di Rumah, sampai Seno tergesa-gesa ingin segera pulang. Tapi saat ini Rana tidak ingin memikirkan apapun karena ia harus fokus dengan semua pekerjaan.
**
Dengan terburu-buru, karena tidak ingin kehilangan kesempatan menghajar Wahyu, Seno segera tancap gas untuk pulang ke Rumah.
Bersambung...
šāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø