4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Seno Datang!


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Rana yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang, kembali terbangun ketika mendengar suara mobil. Suara itu terdengar samar-samar. Hingga Rana tidak langsung melihatnya dari jendela kamar, dia masih mengira jika itu mobil tetangganya.


"Kenapa aku jadi sulit tidur seperti ini, ayo Rana pejamkan matamu. Besok kau harus bekerja, jangan begadang malam ini."Gumam Rana yang kesal pada dirinya sendiri.


***


Beberapa kali Seno menarik nafas untuk menetralkan hatinya. Dan setelah dia sudah tidak gugup dan gemetar lagi. Seno mulai mengetuk pintu.


Tok!


Tok! Tok!


3 kali sudah Seno mengetuk, dan belum ada respon dari dalam. Ini sudah dini hari bahkan sudah hampir memasuki waktu subuh. Semua orang sedang nyaman berada di alam mimpi masing-masing. Pikir Seno.


Tok! Tok!


Seno kembali mengetuk pintu.


Dan Rana yang kamarnya paling dekat dengan pintu depan, mendengar ketukan itu.


"Apa ada tamu? Di jam segini? Tidak mungkin, mana ada orang yang tidak tau waktu dengan bertamu di jam seperti ini."Gumam Rana.


Tapi dia penasaran, dan Rana membuka tirai jendela kamarnya yang langsung menuju halaman depan. Rana melihat ada mobil terparkir di halaman rumahnya dan dia juga melihat seorang lelaki tengah menurunkan beberapa tas dan koper dari bagasi mobil tersebut.


"Aku seperti pernah melihatnya?"gumam Rana yang melihat Dika tengah sibuk dengan koper, Rana tidak bisa melihat jelas karena suasana yang remang-remang di halaman rumah.


Karena tidak mau membangunkan orang tuanya dari suara berisik ketukan pintu, Rana pun memutuskan keluar kamar dan membuka pintu depan.


CKLEK!


Rana memutar kunci, dan menarik gagang pintu lalu membukanya dengan lebar.


Rana terkejut!


Di saat pintu sudah terbuka lebar, segerombol bunga terpampang di depan wajahnya, menghalangi pandangan Rana untuk melihat siapa yang menyodorkannya bunga yang masih segar itu.


Hanya sepatu hitam yang Rana liat dari bawah, lalu ia mendongak ke atas untuk kembali melihat Siapa yang ada di hadapannya saat ini.


JRENG! JRENG! JRENG!


Seno menurunkan bunga yang dia sodorkan tepat di wajah Rana, dan memberikannya di tangan Rana sambil berkata.


"Ini untukmu. Untuk wanita yang paling cantik di dunia setelah ibuku, yang telah mengisi hatiku dan akan tetap berada di hati ku selamanya sampai aku....!"


"Sampai apa tadi ya? Aah, sial kenapa aku melupakan di bagian terpenting dari kata-kata yang Dika sebutkan tadi."Batin Seno. Yang masih berusaha mengingat kata terakhir yang harus ia ucapkan. Menurut pedoman yang Dika berikan.


"Mas Seno!"Ucap Rana terkejut! karena dia tidak menyangka seseorang yang ada di hadapannya saat ini adalah Seno. Matanya lekat menatap Seno, saat ini Rana seperti sedang bermimpi. Baru beberapa menit yang lalu dia menatap wajah ini di ponselnya, tapi sekarang. Secara nyata berdiri di hadapannya.


"Iya, ini aku. Aku lelaki yang berjanji akan menyayangi dan mencintaimu, sampai aku mati. Datang untuk mu."Ujar Seno yang secara natural mengatakan apa yang ingin Ia katakan. Tampa arahan dari Dika.


Rana mengambil bunga yang di berikan Seno.


Seno merentangkan kedua tangannya.


"Apa kau tidak ingin memelukku?"Ucapnya.


Entah karena bahagia, saat seseorang yang dia rindukan datang, atau karena reflek saja.


Rana langsung memeluk Seno.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukan ku. Kenapa ponselmu tidak aktif? membuatku merasa cemas."Ujar Seno. Yang memeluk Rana dengan sangat erat.


Rana merasakan ketenangan dan kenyamanan saat berada di pelukan Seno, setelah beberapa jam yang lalu dia merasa gelisah.


Dan Seno terus membelai rambut Rana, membuat wanita itu semakin nyaman.


**


Beberapa detik mereka sama-sama meresapi pelukan itu. Tidak ada yang mau melepaskan terlebih dahulu.


Membuat Dika menghentikan langkahnya yang ingin masuk.


"Aku seperti kameraman yang merekam adegan pertemuan suami istri yang sudah lama terpisahkan ini." Gumam Dika.


Rana yang melihat Dika, menyadari jika dia tidak boleh melakukan hal seperti ini di depan seseorang yang menjomblo lebih dari separuh hidupnya.


"Kenapa?"Seno kembali menarik Rana dan memeluknya, ketika wanita itu melepaskan diri.


"Jangan seperti ini, Mas."


"Sudah jangan perdulikan dia, anggap saja dia tidak ada."Ujar Seno. Yang tau Rana tidak nyaman karena di perhatikan Dika.


"Sial! Bagaimana dia bisa bicara sekejam itu padaku, menganggap ku yang sebesar ini tidak ada?"Gerutu Dika.


"Rana, siapa yang datang tengah malam begini nak?"Tanya Kartika, yang mendengar suara ribut-ribut dari luar.


Rana segera melepaskan pelukan Seno.


Dan saat itu juga Kartika sudah berdiri tepat di belakang Rana dan bertatapan langsung dengan Seno.


Kartika mematung ketika melihat lelaki yang 6 tahun lalu datang ke rumahnya untuk meminang Putri bungsunya. Dan 4 tahun yang lalu Putri bungsunya kembali ke rumahnya, dengan berderai air mata serta hati yang terluka karena lelaki ini.


"Ini Mas Seno, Bu."Kata Rana.


Seno, tentu menyadari tatapan dan suara dingin dari Kartika yang sudah pasti sangat kecewa dan membencinya saat ini.


Dengan hati yang Seno kuatkan, karena dia sudah siap dengan apapun yang akan Kartika lakukan pada dirinya. Seno perlahan mendekati mertuanya itu.


Tidak terduga oleh Kartika dan juga Rana.


Seno bersimpuh di hadapan Kartika, lalu ia meraih tangan wanita tua itu dan menciumnya sambil berkata.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku yang sudah menyakiti hati Rana dan melukai hati ibu serta ayah. Aku sungguh menyesal. Tolong ijinkan aku untuk menebus semua kesalahanku dan memperbaikinya, aku berjanji akan berusaha membahagiakan Rana dengan apapun yang aku bisa."Ucap Seno dengan bersungguh-sungguh.


Rana tertegun, melihat Seno yang sampai seperti ini meminta maaf pada ibunya.


"Bangunlah Seno, kau tidak perlu bersimpuh seperti ini."Ujar Kartika, lalu ia membantu Seno untuk berdiri.


Seno masih tertunduk, dia belum berani melihat Kartika karena merasa malu dengan semua kesalahannya.


Di saat yang bersamaan Ridwan keluar dari kamar. Dan Seno melakukan hal yang sama pada Ayah mertuanya.


"Sudah! Semua sudah berlalu, Ayah dan ibu turut berduka atas kepergian ayahmu."Ujar Ridwan yang menepuk pundak Seno. Dia lebih bersikap terbuka dan hangat pada Seno di banding Kartika.


"Kau datang di tengah malam seperti ini, kau pasti lelah menempuh perjalanan selama berjam-jam. Beristirahatlah terlebih dahulu, besok kita bisa kembali berbicara."Ujar Ridwan.


Seno mengangguk.


"Terima kasih, Ayah."


Pandangan Ridwan beralih pada Dika yang masih berdiri di ambang pintu.


Dika yang baru disadari ke kehadirannya tersenyum lebar kepada kedua orang tua itu, dan dia pun langsung memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Selamat malam, ibu dan ayah. Nama saya Andika, saya teman baik dan akrab menentu Anda."


"Selamat malam nak Andika, kau Juga beristirahatlah. kalian pasti lelah."Sahut Ridwan.


"Terima kasih."


"Rana, beri tempat untuk mereka beristirahat."Ujar Ridwan.


Rana mengangguk. Dan Ridwan bersama Kartika kembali ke kamarnya.


"Rana, aku tidur di mana?"tanya Dika yang sudah sangat ingin merebahkan tubuhnya yang merasa pegal dan lelah.


Di rumah ini hanya ada 3 kamar dan semuanya sudah ditempati. Membuat Rana berkata.


"Maaf Dika, semua kamar sudah diisi. Kau bisa beristirahat di sofa ruang keluarga. Di sana sofanya cukup luas, bisa untuk tidur."


"Baiklah, tidak masalah mau tidur di manapun, yang penting aku bisa merebahkan punggungku yang rasanya sudah sangat kaku ini."Sahut Dika.


"Masuklah kedalam."Ujar Rana yang berjalan terlebih dahulu menuju ruang keluarga. Dan di ikuti oleh Seno serta Dika.


**


"Kalian beristirahatlah, aku akan ambilkan selimut."Ujar Rana. Dan ia berjalan menuju kamarnya.


"Kau beristirahatlah dengan baik di situ, Dika."Sahut Seno, dan dia mengikuti langkah Rana.


Rana membalikkan badannya.


"Kau mau kemana Mas?"


"Istirahat! tadi ayah memintaku untuk istirahat."


"Yasudah istirahatlah, Mas bisa bersebelahan dengan Dika."


"Apa? bersebelahan dengan Dika!?"Seno bergidik,"Kenapa harus dengannya, aku bisa tidur di kamarmu?"


"Tidak bisa Mas, di kamarku ada Aurel."


"APA!"Kejut Seno,"Kenapa bisa ada Aurel di sini?"


"Aurel ikut denganku beberapa hari yang lalu, dan dia tinggal di sini."


Seno menggaruk kepalanya karena kesal.


"Kalau begitu, minta dia untuk pindah tempat."


"Sudah tidak ada tempat lagi Mas. Masa aku harus minta Aurel untuk tidur di luar?"


Dika yang sudah lebih dulu membaringkan tubuhnya di sofa panjang, terkekeh.


"Sudahlah Seno, mengalah untuk wanita. Dan bertahanlah untuk malam ini, kau masih punya kesempatan di malam berikutnya. Sekarang kemari lah, tidur bersamaku."Ledek Dika, sambil melambaikan tangannya. Meminta Seno untuk mendekat.


Seno melotot dan Dika semakin terkekeh.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ¤—

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2