4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Semua Keputusan Ada Pada Rana


__ADS_3

Selamat. Membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Rana. Kau di dalam kan?"


Aurel kembali berteriak karena tidak ada sahutan apapun dari Rana.


Mendengar teriakkan dan gedoran pintu yang tak usai, membuat Seno mengeraskan rahangnya seraya memejamkan mata menahan geram.


'Sial! kenapa banyak sekali penghalangnya, sepertinya aku harus membawa Rana ke tempat terpencil sementara waktu, agar tidak ada yang mengganggu Kami.'Batin Seno.


Dan kesempatan ini tentu tidak di sia-siakan Rana untuk menghindari Seno.


"Iya, aku di dalam."Sahut Rana dengan sedikit berteriak sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Seno.


"Kenapa kau kunci pintunya, tolong buka sebentar ada sesuatu yang harus aku ambil di dalam."Aurel kembali berteriak.


"Tunggu sebentar."Sahut Rana dan dia beralih pada Seno.


"Mas, tolong lepaskan. Dan keluarlah."


Dengan wajah yang tak bersemangat karena lagi-lagi dia harus gagal, Seno mengalah tapi dia tidak mau keluar.


"Aku mau mandi saja."Ucapnya dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah yang lunglai.


**


Rana membuka lemari dan segera mengenakan pakaiannya, lalu ia membuka pintu untuk Aurel.


"Tumben sekali kau mengunci pintunya? ada apa?"tanya Aurel setelah Rana membuka pintu dan ia masuk ke dalam kamar.


"Bukan aku yang menguncinya, tapi Mas Seno."


"Apa! Seno? Kejut Aurel,"Dia ada di dalam kamar ini? lalu di mana dia sekarang?"


"Mandi."Sahut Rana tanpa melihat.


"Mandi!"


Aurel menatap Rana yang juga terlihat habis mandi, dengan memicingkan matanya Aurel kembali bertanya.


"Rana, apa kamu telah melakukan sesuatu dengan Seno di kamar ini?"


Rana melerik.


"Melakukan apa maksudmu? aku tidak melakukan apa-apa, jangan berpikir yang tidak-tidak Aurel."


"Benarkah! kenapa aku sedikit tidak percaya jika kau dan Seno tidak melakukan apapun di kamar ini, seharusnya kau bilang saja tadi, jika ada Seno di dalam kamar. Aku tidak akan memaksamu membuka pintu dan masuk seperti ini."


"Sudahlah. Kau bicara apa? aku ingin bersiap-siap karena harus pergi ke posko, apa kamu ikut?"Rana mengalihkan pembicaraan agar Aurel tidak terus membahas Seno dan dirinya.


"Maaf Rana, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, atasanku tadi menghubungiku untuk meluruskan beberapa masalah di kantor, sepertinya aku tidak bisa ikut denganmu ke posko."


"Tidak apa-apa, kau kerjakan saja pekerjaanmu. Aku bisa pergi sendiri."


"Berhati-hatilah."Sahut Aurel dan dia segera


mengambil barang miliknya yaitu laptop yang tergeletak di meja, pandangan mata Aurel teralihkan kepada sekumpul bunga warna-warni yang diletakkan di sana.


"Rana, apa kau memetik bunga?"


"Tidak, itu Mas Seno yang membawanya."


Aurel bergidik.

__ADS_1


"Tumben sekali dia datang dengan membawa yang beginian, sepertinya sudah ada kemajuan dari lelaki itu. Dia juga datang di waktu yang tepat di saat kau merindukannya."


"Cukup Aurel."


"Baiklah, aku keluar dari kamarmu sekarang karena aku tidak ingin mengganggu kalian berdua."


****


"Kau mau kemana?"tanya Seno yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat Rana sudah sangat rapih.


"Ke posko."


"Kau ingin pergi? padahal ada aku datang? apa kau akan meninggalkanku di rumah ini sendirian?"tanya Seno dengan memasang wajah sedih.


"Tidak sendirian Mas, di rumah ada Ayah dan Ibu, Dika juga ada di sini kan. Dia akan menemanimu. Aku harus tetap pergi ke posko, karena tidak ada perawat di sana yang membantu dokter menangani para pasien yang terdampak Musibah."


"Kalau begitu aku ikut denganmu saja."


"Ikut?"


"Iya, aku akan menemanimu di sana."


"Terserah kau saja Mas."Sahut Rana pasrah karena dilarang pun pasti Seno akan tetap ikut dengannya.


****


"Bagaimana dengan kabar, Ibu dan kakek mu?"tanya Kartika kepada Seno, saat ini mereka sedang berada di meja makan.


"Ibu dan Kakek baik-baik saja, beliau juga menitip pesan untuk ibu Kartika dan Ayah Ridwan."Sahut Seno.


"Syukurlah kalau semua baik-baik saja. Sekarang habiskan makananmu."


Seno mengangguk.


***


Usai menghabiskan sarapan yang seharusnya makan siang, Seno tidak langsung beranjak dari meja makan karena ia ingin mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang ke rumah itu.


"Bu, Yah. Sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan kepada Rana. Aku sadar kesalahanku begitu besar hingga mungkin sulit untuk dimaafkan. Aku menyesali itu. Aku sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini. Meskipun aku sudah melakukan kesalahan yang besar tapi aku masih disambut dengan baik di sini. Ibu Ayah tolong maafkan aku."Seno menundukkan kepalanya secara berulang-ulang.


"Sudahlah nak Seno, lupakan masa lalu. Kami sudah memaafkan mu, asal kau benar-benar berubah dan tidak akan pernah menyakiti Rana lagi."Ujar Ridwan.


"Terima kasih banyak Yah, aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya. Dan aku berjanji akan mencintai dan menyayangi Rana dengan sepenuh hatiku, apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaannya."Yakin Seno.


Ridwan mengangguk.


"Ayah, akan pegang kata-katamu ini. Tapi Ayah tidak bisa mengambil keputusan, Ayah hanya bisa memaafkan mu Tapi semua keputusan ada di tangan Rana, jika memang dia bersedia kembali kepadamu tentu Ayah akan mendukungnya, tapi jika dia tetap ingin dengan kesendiriannya Ayah juga akan mendukungnya."


Seno menunduk. Saat ini dia sudah mendapatkan restu dari orang tua Rana, hanya tinggal meyakinkan wanita itu saja dan semua akan kembali seperti dulu.


"Aku mengerti Yah, dan aku akan berusaha untuk mengambil hati Rana kembali. Aku minta izin kepada Ayah dan Ibu untuk membawa Rana kembali pulang ke rumah kami."


Kartika dan Ridwan saling pandang. Mereka bingung harus berkata apa, melarang tentu tidak mungkin karena Seno masih sah suami Rana. Mengizinkan Rana pergi? tapi masih ada rasa kekhawatiran pada Ridwan dan Kartika.


"Aku berjanji akan menjaga Rana dengan baik di sana, jika Ayah dan Ibu bersedia, ikutlah dengan kami untuk tinggal di rumah kami. Ayah bisa menjalani pengobatan di sana."Ujar Seno. Yang merasakan kekhawatiran mertuanya.


"Terima kasih nak Seno, tapi Ayah sudah sangat nyaman tinggal di sini, jadi maaf. Ayah tidak bisa ikut dengan kalian. Tapi jika kau ingin membawa Rana silakan, asalkan Rana bersedia dan tolong jangan memaksanya."


Seno mengangguk.


"Terima kasih Yah, aku akan berusaha meyakinkan Rana agar dia bersedia ikut pulang bersamaku."


****


"Rana!"Panggil Aurel,

__ADS_1


pada Rana yang sudah siap berangkat ke posko, saat ini dia tengah berdiri di depan menunggu Seno yang tengah bicara dengan kedua orang tuanya.


"Ada apa?"


"Aku khawatir."Ujar Aurel.


"Khawatir? apa yang membuatmu khawatir?"


"Kamu lihat ini sudah jam berapa? tapi teman suamimu itu masih juga belum bangun, aku khawatir kalau dia sudah tidak bernafas di bawah selimut sana."


"Mana mungkin?"Tepis Rana.


"Mungkin saja, apa yang tidak mungkin di dunia ini! semua orang bisa tidak bernafas dengan tiba-tiba, kapan saja. Di waktu dan tempat yang tidak kita duga?"


Rana terdiam.


Dan ia khawatir, jika yang dikatakan Aurel benar.


Rana kembali masuk ke dalam di mana Dika masih tergeletak.


*


"Kau lihat kan, bahkan dia tidak bergerak sedikit pun."Kata Aurel. Yang berdiri di samping Rana, kedua gadis ini menatap Dika yang benar-benar seperti mayat.


"Dika!"Panggil Rana. Namun yang dipanggil tidak menyahutinya.


"Dika! Apa kau mendengar ku?"panggil Rana kembali, dan kali ini ia sedikit meninggikan suaranya.


"Ada apa kau memanggilnya?"tanya Seno yang tiba-tiba muncul.


"Mas, Dika sudah berjam-jam tidur."


"Dia memang seperti itu."Sahut Seno seraya berjalan mendekati Rana.


"Tapi, dia tidur dengan menutup wajahnya dan ini sudah dia lakukan dari semalam. Apa kau tidak khawatir kalau temanmu ini akan mati kehabisan nafas? dan bisa saja saat ini dia memang sudah tidak bernyawa."Sahut Aurel.


"Aurel jangan bicara sembarangan."Kata Rana dengan menarik tangan Aurel.


"Tidak bernyawa?"tanya Seno dengan mengulangi ucapan Aurel tadi.


Aurel mengaguk.


"Benar, apa kau tidak khawatir dan pasien dengan temanmu?"


Seni diam sejenak, lalu ia menggaruk keningnya dan menjawab.


"Tidak! biarkan saja dia."


"Apa?"kejut Aurel.


"Sudahlah, aku mau pergi mengantar Rana ke posko."Kata Seno, Dania segera menarik tangan Rana keluar dari sana.


"Bagaimana orang itu bisa sesantai ketika mendengar temannya tidak bernyawa? Astaga! Sepertinya dia sudah tidak waras."Gumam Aurel.


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2