
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
Mendengar ada yang memanggilnya, Rana spontan menoleh.
"Dokter Windy?"
Ya, yang memanggil adalah Windy, yang kebetulan tengah berada di alun-alun tersebut bersama dengan Wahyu.
"Aku senang bisa bertemu denganmu kembali, bagaimana dengan kabarmu?"tanya Windy yang saat ini sudah berada di hadapan Rana dan Aurel.
"Aku baik-baik saja, aku juga senang bisa bertemu denganmu disini."Sahut Rana, lalu Matanya tertuju kepada dokter Wahyu yang berdiri di samping Windy.
"Dokter Wahyu?"
"Kau sudah mengenalnya?"tanya Windy sedikit terkejut.
"Iya."Sahut Rana.
"Wahyu ini adalah sepupuku, jadi kalian sudah saling mengenal. Aku jadi tambah senang."
"Apa yang kau lakukan di sini? apa kau datang ke sini bersama dengan dokter Vir?"Tanya Wahyu pada Rana.
"Tidak, saya datang ke sini sendiri, dan tujuan saya untuk menjenguk kakak saya yang tinggal di kota ini."Jawab Rana.
"Jadi kau juga mengenal dokter Vir?"sahut Windy kepada Rana.
"Mereka bukan hanya mengenal, tapi hubungan mereka sudah jauh dari seorang rekan kerja."Wahyu yang menjawab.
"Tidak seperti itu, sepertinya Anda salah paham dokter Wahyu. Saya dan dokter Vir hanya rekan kerja sama seperti Anda."
Wahyu mengangguk, tapi biarpun mengangguk wajahnya seperti tak mempercayai Rana, yang mengaku hubungan mereka hanyalah sebatas rekan kerja.
"Oh ya Rana, saya minta maaf atas kejadian di lokasi bencana beberapa waktu yang lalu. Jika saja saya tidak egois, mungkin saat itu Bella bisa diselamatkan."Sesal Wahyu.
"Tidak dok ini bukan salah Anda. Saya tahu Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Bella dan saya juga tahu alasan Anda kenapa waktu itu melarang kami untuk membawa Bella ke rumah sakit, Anda jangan terlalu merasa bersalah karena ini semua sudah takdir. Kembalilah ke rumah sakit banyak yang membutuhkan Anda di sana,"ujar Rana.
"Saya masih merasa tidak pantas dan tidak tahu diri jika harus kembali lagi di rumah sakit itu."
"Wahyu, seharusnya kau merasa beruntung dan bahagia karena mempunyai rekan-rekan kerja yang sangat peduli padamu, tapi kenapa kau malah menutup diri dari mereka. Kembali melakukan apa yang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabmu."Timpal Windy.
"Aku hanya ingin merenungi kesalahanku dan aku masih belum berani untuk terjun ke dunia kesehatan kembali."
"Terserah padamu saja, aku sudah cukup sabar untuk membunuhmu."
"Eehemmm.."
Aurel berdehem, karena merasa di abaikan.
__ADS_1
"Aaah, kau Aurel kan? Senang bertemu denganmu kembali."Sapa Windy yang akhirnya menyadari kehadiran gadis itu.
"Aku baik-baik saja, aku juga senang bertemu denganmu Windy."
"Perkenalkan, ini sepupuku namanya Wahyu dan dia juga rekan kerja Rana."Ujar Windy memperkenalkan sepupunya kepada Aurel, padahal Aurel sudah tau dari percakapan mereka tadi.
"Wahyu."
"Aurel."
Ujar mereka berdua saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan.
"Aku melihat keseruan kalian dari jauh, bolehkah kami ikut bergabung? Aku sulit sekali menghibur Wahyu yang selalu murung, sudah berbagai tempat aku kunjungi agar dia bisa tersenyum lagi, tapi itu semua gagal."Kata Windy.
"Tidak masalah, bergabunglah dengan kami makin banyak anggota makin seru kan. Itu juga jika kalian tidak keberatan karena kami akan menghabiskan waktu di alun-alun ini dengan berpanas-panasan,"sahut Aurel.
"Aku juga tidak masalah, jika harus berpanas-panasan di sini."Timpal Windy.
Mereka semua tersenyum, dan detik itu juga kedua sahabat bergabung dengan kedua sepupu untuk menambah keseruan momen mereka hari itu.
āØāØšš
Di tempat lain.
"Seno, kau datang untuk bekerja dan latihan kan? Kenapa malah duduk dan diam seperti ini?"kesal Dika, yang mendapati pimpinan tim nya bengong di kursi tanpa melakukan apapun, padahal yang lain tengah bersemangat latihan.
"Aku akan memulainya 10 menit lagi."Sahut Seno tanpa melihat.
"Apa kau begini karena Rana?"
"Sudah! Cepat latihan sana, jangan banyak bertanya."Usir Seno.
"Tidak salah lagi, ini semua pasti karena Rana. Ada apa dengannya? Kau bilang padaku jika istrimu datang ke rumahmu. Seharusnya kau senang kan?"
"Dia datang, memintaku untuk menceraikannya."Sahut Seno dengan suara pelan.
"Apa! Rana mengatakan seperti itu? dan dokter itu juga menemuimu dengan alasan yang sama, mereka memintamu untuk melepaskan istrimu, Rana. Apakah ini kode dari alam, bahwa dokter itu dan Rana berjodoh dan kau harus menyerah melepaskan Rana."Kata Dika, yang tentu saja ucapannya itu mampu membangkitkan jiwa marah di diri Seno, ia melotot dan mengeraskan rahangnya dengan menatap Dika, dan langsung membuat nyali Dika ciut kemudian meralatnya kata-katanya tadi.
"Aaa, aku hanya bercanda Seno, kenapa kau berekspresi serius seperti ini. Kau tenang saja, aku berada di pihakmu, aku akan meluangkan waktu di tengah malam untuk berdoa pada Tuhan agar Vir dan Rana tidak berjodoh. Haaaha.. Kau senang? sudah kedipkan matamu, jangan melotot seperti itu, matamu bisa perih."
Seno mendengus kesal, Dika memang selalu membuat Seno marah karena kata-katanya.
Namun sebenarnya, ia tidak pernah bersungguh-sungguh marah pada temannya itu.
"Lalu, apa kau akan mengabulkan permintaan Rana dan Vir?"Tanya Dika, setelah memastikan Seno sudah layu kembali.
"Kau sudah tahu jawabannya bukan?"
"Tentu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau masih bertanya."
"Aku hanya ingin memastikannya. Karena setelah aku memastikan aku bisa memberikan sedikit saran untukmu."
"Jika kau memberikan saran yang tidak masuk akal, lebih baik kau tidak perlu mengatakan saran itu kepadaku."
"Tidak! Seno."Tegas Dika, dan kali ini pria itu terlihat serius, tidak seperti tadi.
Seno melihat Dika, dengan tatapan sama serius.
"Ada apa?"
"Apa kau benar-benar mencintai Rana?"
"Tentu. Jika tidak, sejak dulu aku sudah melepaskannya."
"Jika kau benar-benar ingin mengembalikan semuanya, kejar dan pertahankan wanita itu."
"Tentu saja, tapi sekarang Rana sulit sekali di dekati. Apalagi ada dokter itu."
"Lupakan Vir, dia tidak memiliki hubungan resmi apapun dengan Rana, kau masih sah suaminya. Jadi kaulah yang berhak atas wanita itu dari siapapun. Ayolah Seno, Agresif sedikit."
Seno menatap Dika bingung.
"Apa maksudmu?"
"Astaga, kau ini laki-laki masa tidak mengerti."
"Dika, jangan mutar-mutar seperti ini. Cepat katakan apa maksudmu?"
"Seno, kau ini suaminya Rana. Bersikaplah sedikit Agresif pada wanita itu."
"Aku tidak mau memaksanya."
"Aku tidak memintamu untuk memaksanya, aku hanya menyuruhmu untuk sedikit Agresif pada Rana, kau ini kaku sekali. Kau lihat dokter Vir? Dia begitu sat-set mendekati Rana, sampai dia nekad datang padamu dan mengatakan jika dia calon suami Rana. Contoh dia."
Meskipun Seno masih sedikit bingung dengan ucapan Dika, tapi ia mendengarkannya dengan serius.
Dan Dika pun kembali berkata.
"Seno, Rana masih istri mu yang sah. Kau juga berhak menuntut hak mu sebagai suami, selama ini kau sudah melakukan tanggung jawabmu dengan memenuhi kebutuhan lahir Rana kan! Ya, meskipun dia tidak pernah memakai uang yang kau berikan. Tapi kau tetap sudah memenuhinya. Tapi apa kau tidak sadar, jika ada satu nafkah yang selama ini sudah tidak pernah kau berikan lagi pada Rana, aku yakin kau tau apa itu. Jangan sampai Rana memenangkan gugatan kalau tiba-tiba dia kembali menggugatmu dengan perkara ini."Jelas Dika. Yang di bumbui, menakut-nakuti Seno.
Bersambung..
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø