
Selamat! Membaca š¤
ššššš
Dengan hati yang berdebar hebat, Seno melangkahkan kakinya mengikuti Lina masuk ke dalam rumah.
Ini adalah sesuatu yang sudah Seno tunggu selama bertahun-tahun, di mana ia mengharapkan istrinya kembali pulang. Ini juga yang menjadi alasan Seno selama beberapa tahun ini tidak pernah mengunci pintu pagar dan rumah ketika ia pergi bekerja, ia ingin ketika Rana pulang bisa langsung masuk ke dalam, dan ini juga yang menjadi alasan kenapa Seno tidak merubah pemandangan, suasana, dan isi di dalam rumahnya. Dia ingin membuat istrinya nyaman, dan Rana tidak merasa dihilangkan dari rumah itu ketika kembali nanti.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara sepatu membentur lantai terdengar nyaring di telinga Rana yang tengah berdebar hebat. Ia menarik nafasnya dalam-dalam mempersiapkan diri dan hati untuk berhadapan secara langsung dengan Seno yang akan menjadi mantan suaminya.
Langkah kaki itu semakin terdengar jelas karena sudah memasuki ruang keluarga dan beberapa detik kemudian.
Wujud Seno benar-benar nampak berdiri kokoh di hadapan Rana, dengan Lina yang menggandeng tangan Seno sambil tersenyum indah.
Rana masih belum bisa memberanikan diri untuk melihat Seno meskipun ia tahu jika lelaki itu sudah berdiri di depannya, tapi tidak dengan Seno. Ia begitu lekat menatap Rana yang masih duduk di sofa dengan wajah tertunduk, ingin rasanya ia membawa Rana kedalam pelukannya. Tapi dia tidak cukup berani melakukannya.
"Rana. Tegakkan wajahmu, atur nafasmu dan kendalikan dirimu."Bisik Aurel.
Dengan mengikuti saran dari Aurel, Rana sudah mulai bisa mengatur emosi dan hatinya. Hingga Ia pun bisa mengangkat wajahnya, menatap Seno dan tersenyum. Lalu berdiri menyambut kedatangan lelaki itu.
"Kau sudah pulang, Mas."
Seno bengong, melihat Rana yang tersenyum padanya.
"Kau sudah lama datang?"tanya Seno, yang sebenarnya gugup dan tidak tahu harus bicara apa.
"Tidak begitu lama."Sahut, Rana. Dengan bersikap normal. Padahal hatinya tengah tegang.
"Tidak lama bagaimana, kamu sudah lama kan duduk di teras menunggu Seno, kau pasti lelah."Sahut Lina.
"Tidak apa Bu."
"Ayo duduklah."
__ADS_1
Lina, menarik Seno, yang masih mematung karena perasaan campur aduk. Dia bahagia karena Rana Kembali. Tapi hatinya berkata lain, Rana datang pasti ada maksud tertentu, di tambah lagi istrinya itu datang bersama Aurel, namun Seno coba menepis kata hatinya.
"Bagaimana dengan kabarmu? Dan kapan kau datang ke Kota? Jika kamu mau, padahal aku bisa menjemputmu."Ujar Seno. Yang memulai pembicaraan setelah mereka sama-sama duduk.
Ia ingin bersikap santai, padahal hatinya ingin meledak.
"Kemarin,"sahut Rana singkat. Dan setelah kembali menarik nafas dalam-dalam, Rana bertanya."Mas, aku sudah mendengar apa yang terjadi denganmu 4 Tahun yang lalu. Maafkan aku yang tidak datang menjenguk mu. Tapi, aku tidak perlu menjelaskan kenapa waktu itu aku tidak datang. Aku senang melihat kamu kembali pulih seperti sekarang. Berhati-hatilah dalam bekerja."
Seno menatap Rana.
(Berhati-hatilah dalam bekerja) kata inilah yang selalu Rana ucapkan setiap hari ketika ia mengantar Seno sampai depan pintu untuk berangkat bekerja. Dan kata-kata itulah yang sangat ia rindukan.
Lina tersenyum, mengira jika semua sudah kembali normal. Berbeda dengan Aurel yang merasa tegang, dengan Rana yang memulai pembicaraan dengan seperti itu.
"Sudah, tidak apa-apa. Jangan bahas masa lalu, sekarang bahas lah masa depan kalian,"sahut Lina, dan ia kembali berkata pada Seno, "Seno, apa kau tidak ingin memeluk istri mu?"
Ketiga orang yang ada di sana terkejut! terutama Rana dan Seno.
"Aaaahh.. Ibu mengerti, kalian pasti malu dan merasa canggung jika melakukannya di depan ibu dan Aurel kan?"Perkataan Lina kembali membuat Seno dan Rana terkejut, "Kalau begitu, ibu akan pergi dulu dari sini. Kalian bicaralah berdua."Sambung Lina yang sudah berdiri dari duduknya dan ingin mengajak Aurel keluar dari ruang keluarga.
"Tidak Bu!"cegah Rana,"Aku ingin, ibu tetep di sini, karena ada yang harus aku katakan pada Mas Seno dan juga ibu."Ujar Rana, dengan berat hati.
"Kalau begitu, aku keluar sebentar ya."Kata Aurel, yang ingin memberikan ruang untuk keluarga ini.
Aurel mendekat pada Rana. Lalu berbisik.
"Ikuti kata hatimu, aku hanya bisa mengantarkan mu sampai sini, ini keluarga kalian aku tidak mungkin ikut campur."
"Tante, Seno. Aku permisi."Pamit Aurel pada pemilik rumah, dan ia kembali pada Rana."Rana, aku tunggu kamu di luar ya."Dan gadis itu berlalu keluar menuju teras.
Lina bingung.
"Menunggu di luar, apa maksud Aurel? Rana, kamu tidak akan ikut pergi lagi bersama Aurel kan? kamu akan tetap di sini kan?"Tanya Lina, yang sudah merasakan kekhawatiran di dalam hatinya.
Rana tertunduk. Sungguh ia tidak tega harus mematahkan harapan dan kebahagiaan Lina. Tapi tidak ada pilihan lain, kembali dengan Seno pun rasanya tidak mungkin karena Rana masih trauma dengan lelaki yang kini ada di hadapannya.
"Bu, tenang. Duduklah."Ujar Seno, dan ia membantu Lina untuk duduk kembali.
Sebelum Rana, mengatakan apa yang ingin Ia katakan. Seno sudah lebih dulu membuka suaranya.
"Rana, Terima kasih kau sudah mau datang kembali ke rumah ini, maafkan aku, maafkan semua kesalahanku padamu. Aku tau sangat sulit bagimu untuk memaafkan suami sepertiku. Tapi, ijinkan aku untuk memperbaiki semuanya."
__ADS_1
"Mas, aku sudah memaafkan mu, akupun minta maaf padamu, atas ketidak kehadiranku di saat kau koma,"sahut Rana, yang sedikit membuat Seno merasa lega.
Tapi, rasa lega Seno hanya sementara, karena Istrinya kembali berkata.
"Mas, aku sungguh tidak tahu jika gugatanku dulu ditolak oleh pengadilan sehingga aku mengira jika kita sudah resmi berpisah, Kak Sarah benar-benar menyembunyikan semuanya padaku. Tapi, waktu 4 tahun sudah merubah segalanya, aku senang saat ini kau baik-baik saja. Mas, aku sudah melupakan semuanya, melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Dan selama ini aku bahagia dan merasa nyaman hidup sendiri,"Rana menguatkan hatinya untuk kembali melanjutkan ucapannya,
"Dan kedatanganku di sini untuk meminta padamu. Tolong lepaskan aku, ceraikan aku, Mas!"
DUAAAARRRRR.....
Bagai Sambaran petir di siang bolong, hati Seno dan Lina terguncang, terutama Lina. Hatinya seperti hancur berkeping-keping mendengar ucapan Rana yang sungguh tidak ia duga sebelumnya.
Setelah mengucapkan kata yang mematahkan hati Lina, Rana tertunduk. Tidak kuasa untuk menatap wajah wanita yang tulus menyayanginya itu.
"Rana, apa yang kamu katakan Nak, kamu sedang bercanda kan?"tanya Lina, yang masih berharap.
Rana mengangkat wajahnya.
"Bu, maafkan aku."Ucapnya, dengan menahan sesak di dada.
Lina terkulai, tidak sanggup lagi berkata.
"Rana. Kau sudah memaafkan aku kan?"tanya Seno.
"Benar, Mas."
"Lalu, kenapa kau mengatakan ini?"
"Mas, memaafkan bukan berarti kita kembali bersama. Tolong hargai keinginan ku. Lepaskan aku Mas. Kita jalani hidup ini seperti beberapa tahun terakhir, karena itu akan lebih baik untuk kita."
Bersambung..
šāØšāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1