
Selamat, membaca 🤗
🍁✨✨✨🍁
Sampai di lokasi bencana, Seno dan Timnya langsung bersiap-siap untuk melakukan pencarian pada korban yang diduga hanyut dan hilang terbawa arus banjir.
Mereka akan menyusuri setiap titik yang diduga, di mana para korban berada.
"Menurut data yang saya terima, ada sekitar 70 orang yang hilang terbawa arus banjir. Diantaranya, 10 pria dewasa, 30 wanita dewasa dan sisanya adalah, anak-anak dan lansia,"ucap salah satu rekan Seno yang menyampaikan data jumlah korban hilang di daerah tersebut.
"Baiklah! kita lakukan pencarian dengan membagi tiga Tim. Dan masing-masing Tim berjumlah 10 orang. Jika ada korban yang teridentifikasi masih bisa diselamatkan segera bahwa mereka ke tenda agar mendapatkan pertolongan pertama, jika korban yang ditemukan sudah tidak bernyawa kalian bisa memindahkannya ke tempat yang layak terlebih dahulu sampai Tim yang lainnya mengangkut jenazah tersebut."Ujar Seno.
"Baik, Pak!"sahut mereka secara bersamaan.
"Kalau begitu kita lakukan pencarian sekarang, pencarian akan berakhir di pukul 17:00, karena cuaca yang sangat buruk, akan membahayakan keselamatan kalian jika kita melakukan pencarian di malam hari. Dan tetep waspada, karena peringatan banjir susulan pun sudah dikeluarkan BMKG jadi kalian harus tetap hati-hati. Tetap mengutamakan keselamatan dari apapun, keselamatan para korban dan diri kalian sendiri."
"Baik, Pak!"sahut mereka kembali secara bersamaan.
Dengan gerakan cepat, mereka membagi tiga Tim, dan langsung menuju ke titik pencarian yang sudah ditentukan oleh Seno.
***
"Ini Dok. data-data pasien yang ada di tenda ini,"ujar seorang wanita yang berprofesi sebagai perawat di sana, memberikan beberapa lembar kertas kepada Windy yang baru saja datang dan langsung memulai pekerjaannya.
"Baik, terima kasih. Saya akan memeriksanya."Sahut Windy, seraya menerima lembaran kertas tersebut.
"Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi karena ada beberapa tugas lain yang harus saya kerjakan."
Windy mengangguk dan ia pun bergegas masuk ke tenda yang terdapat beberapa pasien dengan kondisi kritis yang segera membutuhkan pertolongan.
**
Selama beberapa jam mereka melakukan tugas mulianya di sana.
Dan hari pun sudah mulai gelap padahal belum memasuki waktu senja, cuaca yang tidak bersahabat dengan hujan deras dan petir melengkapi suasana yang menyedihkan di lokasi bencana tersebut.
Seno mengumpulkan kembali Timnya untuk segera menuju ke tenda yang lebih aman karena jika mereka masih memaksa untuk melakukan pencarian tentu saja akan membahayakan keselamatan rekan-rekannya.
"Masih ada waktu 2 jam lebih, menuju pukul 17: 00. Apa kita akan tetap menghentikan pencarian?"tanya Dika.
"Hentikan pencarian, karena cuaca seperti ini sangat tidak memungkinkan untuk kalian beraktivitas di luar. Segeralah kembali ke tenda masing-masing dan periksakan kesehatan kalian pada Dokter dan perawat yang ada di tenda darurat."Titah Seno.
Semua mengangguk menuruti perintah ketuanya, dan mereka pun bergegas menuju ke tenda yang sudah tersedia.
Sementara Seno, tidak langsung kembali ke tenda, tempatnya beristirahat karena dia sedang memeriksa data-data korban yang hilang dan korban yang sudah berhasil mereka temukan.
Dari beberapa jam pencarian yang mereka lakukan, mereka hanya menemukan 11 korban dan itu semua dalam kondisi sudah tidak bernyawa, tentu saja hal ini membuat Seno merasa sedih.
Inilah hal yang paling menyedihkan bagi para Tim penyelamat, mereka berhasil menyelamatkan korban tapi korban itu sudah tidak membuka mata dan tersenyum.
"Seno!"tiba-tiba satu suara mengejutkan Seno yang sedang termenung menetap para korban yang sudah terbungkus dengan kantong jenazah.
Seno menoleh ke arah sumber suara dan dia sangat terkejut ketika melihat Windy di sana.
__ADS_1
Windy mengulas senyum terbaiknya.
"Aku kira, aku salah melihat atau sedang berhalusinasi saja tapi ternyata benar. Ini adalah kau, aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Bagaimana dengan kabarmu Seno? apa kau baik-baik saja?"sapa Windy dengan berbasa-basi terlebih dahulu.
Seno mengangguk.
"Tentu saya baik-baik saja, saya juga sungguh tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Padahal, ketika saya mendengar kabar bahwa kau menghilang, saya sudah berpikir bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi, dan saya sangat senang untuk itu. Tapi sepertinya, tante Winda sudah lelah dengan sandiwaranya."
DEG!
Windy tersentak mendengar ucapan Seno. Dan sampai sini, Windy sudah bisa menduga bahwa Seno sudah mengetahui apa yang ibunya lakukan.
"Seno!"panggil Windy dengan suara lirih.
"Maaf Dokter Windy, saya permisi karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan."Potong Seno yang tidak ingin bicara lebih lama dengan Windy dan ia ingin segera meninggalkan Gadis itu.
"Tunggu Seno, Aku ingin bicara sebentar denganmu?"
"Ada apa? jika ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kita di tempat ini, saya tidak mau mendengar apapun."
Windy terdiam. Sudah puluhan kali Seno memperlakukannya dengan acuh, bersikap dingin dan sekarang Seno terlihat kasar, namun hal ini semakin membuat Windy penasaran.
"Aku hanya ingin menanyakan kabar Rana dan tante Lina?"Tanya Windy, dengan tersenyum manis, padahal bukan ini yang sebenarnya ingin dia tanyakan.
"Mereka baik-baik saja, baiklah jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan saya permisi."
Meskipun tau Windy ingin kembali berbicara padanya, tapi Seno sudah lebih dulu melangkahkan kaki meninggalkan Windy di sana, Seno sudah tidak berselera untuk menanggapi siapapun apalagi Windy, karena dia harus melakukan sesuatu yang penting saat ini.
Windy mengepalkan tangannya. Sungguh, lama-lama hatinya merasa sakit atas sikap dingin dan acuh yang Seno berikan kepadanya.
"Baik, Aku akan segera ke sana."
Windy pun berjalan mengikuti perawat itu memasuki tenda darurat di mana dokter yang memanggilnya berada.
***
Seno yang sudah berada di tendanya, segera mengeluarkan ponsel dan ingin menghubungi istri serta ibunya, namun sayang. Buruknya cuaca di sana, karena hujan lebat dan petir berpengaruh pada buruknya sinyal di ponsel milik siapapun yang ada di lokasi.
"Bersabarlah Seno, sebentar lagi hujan akan reda dan jaringan koneksi akan kembali pulih,"ujar Dika yang melihat temannya itu mondar-mandir gelisah, karena tidak bisa menghubungi Rana dan Lina di rumah, dia sedang menenangkan temannya, padahal dia sendiri tengah gelisah karena tidak bisa mengintip status WhatsApp yang sering Aurel Update di jam-jam seperti ini.
"Seno!"Panggil Dika kepada Seno yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa?"
"Sepertinya aku tadi melihat dokter Windy di sini? apa menurutmu aku salah lihat? Ah, mengingat dokter itu, aku jadi teringat dengan misi Detektif ku yang ingin memecahkan kasus hilangnya dokter itu, tapi sebelum aku memulai misi dia sudah keburu pulang."
"Tidak! kau tidak salah lihat."
"Tidak, maksudmu, apa dokter itu benar-benar dia ada di sini?"
"Iya," sahut Seno masih tanpa melihat.
"Lalu, apa kau sudah bertemu dengannya?"
__ADS_1
"Sudah!"
"Astaga! Kenapa dokter itu selalu berada di tempat di mana kau berada, apakah ini sewaktu kebetulan atau memang sudah takdir! Atau dia senaja mengikuti mu?"
"Jika benar dia sengaja mengikuti ku, aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Sudahlah, lebih baik kau bantu aku untuk memulihkan sinyal di ponsel ini."Sahut Seno yang mulai kesal karena sinyal belum muncul di ponselnya.
"Sudah kubilang Seno, cuaca sedang buruk, memang tidak ada jaringan di sini. Bersabarlah sebentar sampai hujan reda dan aku sangat yakin, jaringan akan kembali pulih jika cuaca sudah normal."
"Aaah, kenapa hujannya lama sekali."Keluh Seno lalu ia mendudukkan dirinya di atas kursi sambil terus memegang ponselnya.
"Kau tenang saja, Rana dan Ibu Lina pasti akan baik-baik saja di sana. Bukankah ada kakek Arif di rumah, pasti kakek Arif akan menjaga mereka dengan sangat baik."
"Apa kau lupa, jika kakek Arif itu sudah sangat tua, bagaimana mungkin dia bisa menjaga ranah dan ibu. Yang ada ibu yang menjaga kakek Arif selama ini."
"Di saat seperti ini kau masih bisa mengatai kakekmu!"ujar Dika.
"Siapa yang mengetahui kakekku, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya, Kakek Arif memang sudah tua kan, apa ada yang salah."
"Tidak! kau selalu benar dan tidak pernah salah."Sahut Dika kesal.
***
Setelah menunggu beberapa menit.
Hujan pun reda dan cuaca kembali normal, seperti apa yang dikatakan oleh Dika, sinyal mulai timbul di HP masing-masing.
baik Dika ataupun Seno merasa girang dengan hal itu. Dan mereka bergegas membuka ponsel masing-masing.
Jika Seno, segera menghubungi Istrinya dengan kata-kata seperti anak kecil yang merengek minta pulang.
Sementara Dika, langsung meluncur ke pembaharuan status WhatsApp dari nomor Aurel.
"Apa ini? Apa aku salah lihat! atau ponsel ku yang rusak?"ujar Dika dengan kuat, sambil menatap layar ponselnya.
Bersambung ...
Sedikit pemberitahuan.
Untuk Kisah Rana dan Seno, hanya tinggal beberapa Episode lagi selesai ya🤗
mohon untuk bersabar, jika ada sedikit drama yang mewarnai kisah mereka.
Dan cerita akan lebih di fokuskan pada Dika dan kekonyolan serta kelucuannya, dalam berjuang menemukan, mendapatkan dan mempertahankan, teman hidupnya. Mengiat! Dika yang sangat pandai dalam hal Cinta, dan sudah banyak membantu Seno dalam memecahkan masalah cinta yang sahabatnya itu tidak ketahui. Apakah Dika akan beruntung? Karena dia sudah merasa bersahabat dengan dewa asmara, hingga ia kira perjalanan cintanya akan berjalan mulus semulus jalan Tol?
Semoga aja 😁😁😁
✨🍁🍁🍁🍁✨
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️