4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Jangan Memaksanya.


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Rana menarik nafasnya dalam-dalam, ia harus bisa mengontrol emosi agar tidak membuat Lina terganggu.


"Ibumu kurang sehat."Ucapnya pada Seno, berharap jika Seno mengalah dan membiarkannya pergi.


Tapi tidak!


Seno malah menarik kunci yang tergantung di pintu lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


"Kau tunggu sebentar, Aku mau melihat ibu,"ujarnya.


Rana tidak peduli dengan ucapan Seno, justru dia terlihat semakin kesal.


Rana memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Sedangkan Seno berlalu menuju kamar di mana ibunya berada.


Selepas kepergian Seno Rana kembali bangun dan berusaha membuka pintu padahal dia tahu jika Seno sudah mencabut kunci di sana dan menyembunyikannya.


"Apa Mas Seno sudah tidak waras! Kenapa dia sampai mengunci ku seperti ini."


Tahu akan gagal untuk membuka pintu, Rana beralih membuka gorden, berharap jika jendela di sana tidak terkunci. Namun ia lupa jika jendela di rumah itu semuanya memiliki pengaman permanen.


**


Di dalam kamar, Seno membuka pintu dan melihat Lina terbaring dengan wajah yang pucat di atas kasur.


"Apa ibu sakit?"tanya Seno, setelah mendekati ibunya.


"Tidak Seno, Ibu hanya merasa lelah saja. Apa Ibu benar, Rana masih ada di sini?"


Seno mengangguk.


"Dia tidak pergi?"wajah Lina sudah terlihat cerah kembali, Dia kira Rania masih ada di sini karena memikirkan ulang apa yang tadi dia ucapkan.


"Iya Bu."


"Tapi, kau tidak melakukan sesuatu pada Rana kan Sen?"


"Bu, apa selama ini aku pernah berbuat kasar pada Rana, walaupun hanya sekedar membentaknya?"


"Maafkan ibu, ibu tau kau tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu pada istrimu, ibu hanya khawatir mendengar Rana berteriak. Lalu di mana Rana, kenapa dia tidak di sini?"


"Dia ada di depan, tadi aku terpaksa menahan Rana, karena aku ingin bicara dengannya."


Lina mengerti dengan ucapan Seno.

__ADS_1


"Bicaralah dari hati ke hati, yakinkan Rana tapi jangan pernah memaksanya. Rana Perlu waktu untuk berpikir Sen, jika dia tetep ingin pulang ke rumah Sarah, antarkan Rana pulang. Kau bisa kembali mengambil hati Rana secara perlahan. Tidak harus memaksa, karena itu hanya akan membuat Rana semakin tidak nyaman denganmu."Ujar Lina.


"Aku mengerti, Bu."


***


Rana tengah susah payah mengakali pengaman jendela, berharap jika terbuka sedikit saja, dan bisa menjadi celah untuk dia keluar dari sana.


"Apa kau mencoba untuk kabur lewat jendela!"suara Seno yang muncul tiba-tiba dari belakang sontak mengejutkan Rana.


Rana mendengus kesal.


"Mas, cepatlah kau ingin berkata apa. Aku tidak punya banyak waktu karena aku harus segera pulang dan kembali ke rumah orang tuaku."


Seno melangkah semakin mendekati Rana yang masih berdiri di sisi jendela.


"Duduklah."Pinta Seno, yang mengulurkan tangan kanannya pada Rana, dan tangan kiri ia arahkan pada sofa.


Dengan ragu-ragu Rana pun mendudukkan dirinya di sofa berharap jika Seno segera mengatakan apa yang ingin Ia katakan dan ia pun bisa segera pergi dari sana.


āœØšŸāœØšŸ


Kita tinggalkan dulu Seno dan Rana.


Karena di tempat lain, ada seseorang yang harus kita perhatikan juga, dia adalah dokter Vir. Lelaki itu tengah cemas, ia bolak-balik mengirim pesan dan menghubungi Rana. Namun pesan yang dibalas hanya satu dengan kata-kata (Tidak perlu repot-repot dokter Vir. Aku tidak menginginkan apa-apa) dan itu adalah, balasan pesan pertama yang Vir kirim ketika ia menanyakan Rana ingin dibawakan apa! Dan setelah itu Rana tidak lagi membalas pesannya.


Vir mengira jika Rana tengah sibuk di rumah sakit.


Vir yang tidak mau jika Seno kembali mengusik Rana segera mendatangi rumah Sarah.


***


"Vir, kau ada di sini juga? apa kau datang bersama Rana?"tanya Sarah sedikit terkejut melihat dokter itu bertamu di rumahnya.


"Tidak Kak, aku datang satu hari sebelum Rana datang, dan aku juga tidak tahu kalau Rana akan datang ke sini."


"Seperti itu, kalau begitu masuklah."Ajak Sarah.


"Terima kasih, kak apa Rana ada di sini?" tanya Vir, yang langsung bertanya tujuan utamanya datang ke rumah Sarah.


"Rana tidak ada di sini karena ia memilih untuk menginap di rumah Aurel, dan sepertinya, saat ini Rana masih ada di rumah Aurel."


"Kalau begitu, bisa Kak Sarah beritahu aku di mana rumah yang bernama Aurel itu?"


Sarah sudah menangkap ada sesuatu yang lain dari dokter Vir.


"Apa Rana tidak memberitahumu?"


"Tidak Kak bahkan dia tidak memberitahuku kalau dia juga datang ke kota ini untuk menjenguk Kak Sarah dan keponakannya."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Vir, Sarah langsung mengerti, dan ia tahu alasan Rana Kenapa tidak memberitahu Vir, namun ia tidak mau mengatakan apapun pada laki-laki itu.


Dan Sarah lebih memilih untuk memberikan alamat Aurel.


"Vir, jika kau sudah bertemu dengan Rana, tolong beritahu dia untuk pulang ke sini. Aku tidak bisa menghubunginya sejak pagi tadi."Ujar Sarah, setelah menyerahkan kertas yang bertuliskan alamat Aurel.


"Baik Kak, terima kasih, aku permisi dulu."Sahut Vir.


"Silakan, berhati-hatilah."


Tampa membuang-buang waktu lama, Vir segera melajukan mobilnya menuju alamat yang baru saja diberikan oleh Sarah.


***


Rumah Sarah dan Aurel memang cukup jauh hingga membutuhkan waktu 50 menit perjalanan. Dan disaat Vir sampai di sana kebetulan yang menyambut adalah Aurel sendiri.


"Selamat, sore. apa benar ini rumah Aurel?"tanya Vir yang masih berdiri di ambang pintu setelah beberapa detik ia mengetuk dan pemilik rumah membukanya.


"Iya benar dan saya sendiri Aurel. Anda siapa ya?"


Dengan Ramah, Vir segera mengulurkan tangannya kepada Aurel untuk memperkenalkan diri.


"Perkenalkan, nama saya Vir."


"Vir!"Aurel terkejut dengan nama itu,"apa kau Vir teman Rana?"


"Benar, sepertinya Rana sudah menceritakan tentang saya kepada Anda."


"Aah, iya. Dia memang pernah menceritakan tentang Anda kepada saya. Lalu, untuk apa Anda datang ke sini?"tanya Aurel pura-pura tidak tahu, padahal Ia jelas tahu maksud kedatangan Vir ke rumahnya.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda, saya ingin bertemu dengan Rana. Dia ada di sini kan?"


Aurel kebingungan sendiri, apa ia harus mengatakan jika saat ini Rana berada di rumah calon mantan suaminya, atau dia harus berbohong kepada Vir, dan menutupi jika Rana ada di rumah Seno.


"Rana ada di sini kan?"Vir bertanya kembali karena Aurel malah terlihat bingung.


"Maaf dokter Vir, Rana semalam memang menginap di sini, tapi saat ini dia sedang tidak ada di rumah saya."


"Tidak? Lalu Rana ada di mana?"Vir sudah semakin gelisah, dan merasakan perkiraan buruk di kepalanya.


"Apa aku harus mengatakannya saja ya kalau Rana ada di rumah Seno. Tapi apakah ini baik? aku takut kehadiran dokter ini di rumah Seno malah akan membuat keributan di sana. Aku tentu tidak perduli jika dua lelaki ini ribut atau saling baku hantam, aku hanya memperdulikan Rana dan juga Ibu Lina. mereka pasti akan merasa terganggu dan tidak nyaman." Batin Aurel.


Bersambung....


šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Minta dukungannya ya šŸ™

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2