4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Seno Vs Vir


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—



āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam 30 menit saja, dokter Vir sudah sampai di lokasi tempat Seno bekerja.


Dan secara kebetulan orang pertama yang dijumpai adalah Dika.


"Apa saya tidak salah lihat? Ada dokter Vir kan?"sapa Dika yang sedikit terkejut melihat kehadiran dokter itu.


"Benar, bagaimana dengan kabar Anda? Saya senang ternyata kita bisa bertemu kembali."Sahut Vir lalu ia mengulurkan tangannya kepada Dika.


"Kabar saya baik-baik saja, bagaimana dengan Anda?"


"Tentu saya juga baik."


Dan mereka berdua terlibat perbincangan kecil sebelum Vir mengatakan tujuan utamanya yang ingin bertemu dengan Seno.


"Anda tunggulah di sini, saya akan memanggil Seno."


"Terima kasih."Vir mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia di depan kantor.


Dia sudah siap bertemu dengan Seno dan mengatakan apa yang harus ia katakan kepada laki-laki itu.


***


"Untuk apa dia datang kesini?"tanya Seno, dengan cuek setelah mendengar kedatangan dokter Vir dari Dika.


"Mungkin dia merindukanmu, jadi dia datang ke sini."Sahut Dika. Yang di akhiri tawa kecil, dia memang senang sekali bergurau. Meskipun Dika tahu jika Seno bukan tipe orang yang mudah diajak bercanda tapi dia tetap saja mengeluarkan lelucon di saat bersama lelaki itu, meskipun tidak di gubris.


"Ayo cepat! temui sainganmu itu."Paksa Dika dengan mendorong Seno, keluar kantor.


*****


"Selamat! Siang dokter Vir."Sapa Seno yang berdiri tepat di hadapan Vir.


Vir bangun dari duduknya dan ia segera mengulurkan tangan kepada Seno.


"Selamat! Siang, pak Seno. Maaf jika kedatangan saya mengganggu pekerjaan Anda. Bagaimana dengan kabar Anda?"


"Baik."Sahut Seno dengan singkat usai melakukan jabat tangan dengan Vir.

__ADS_1


"Apa yang membawa Anda datang ke sini? Tidak mungkinkan jika Anda merindukan Saya?"Tanya Seno, mengulangi kata yang di ucapkan Dika tadi. Membuat Vir sedikit terkejut!


"Haha.. Rupanya, Anda senang bercanda juga Pak Seno."Sahut Vir,"Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Anda. Itu tujuan saya datang ke sini."Sambungnya.


Seno duduk dan aksinya itupun di ikuti Vir, yang juga duduk berhadapan dengannya.


"Ada apa? Cepat katakan intinya saja,"Tanya Seno dengan ketus. Sepertinya dia sudah benar-benar menabuh gendang persaingan dengan lelaki yang kemungkinan besar akan merebut cinta istrinya.


"Ini soal Rana."


"Ada apa dengannya?"


"Pak Seno. Saya sudah mengetahui masa lalu Anda dan Rana. Tapi saya tidak mengerti kenapa Anda sampai menggantungkan status Rana, padahal Anda sudah tidak menginginkannya, bukankah itu terdengar sangat egois?"


Seno melirik Vir. Ia memberikan tatapan tidak bisa di artikan maksudnya oleh Vir.


"Maaf dokter Vir, Anda orang luar. Tolong jangan mencampuri urusan pribadi saya begitu juga dengan Rana."


"Orang luar? Sepertinya, Anda harus meralat kata-kata yang Anda ucapkan pak Seno, mungkin Anda melihat saya sebagai orang luar. Tapi itu untuk Anda, tidak untuk Rana."Tutur Vir.


Seno mengerti apa maksud dari ucapan Vir.


"Apa yang Anda inginkan?"tanya Seno.


"Tolong lepaskan Rana, biarkan dia bahagia dengan kehidupannya, Anda jangan menahan sesuatu yang sudah bukan milik Anda."


"Sepertinya Anda yang harus meralat kata-kata Anda dokter Vir, dan sebaiknya Anda jauhi Kirana. Karena dia masih istri saya."Tegas Seno.


"Istri? Anda masih bisa mengakui Rana sebagai istri Anda, setelah apa yang Anda lakukan pada Rana? Apa Anda lupa apa yang sudah Anda lakukan pada wanita itu?"Tanya Vir, dengan meninggikan sedikit nada suaranya.


"Dokter Vir, Anda tidak tahu apa-apa tentang masalah saya dan Rana. Jadi, jangan pernah mengatakan apapun, dan mencampuri urusan saya dan Rana."


"Tidak bisa, apapun yang bersangkutan dengan Rana, tentu saya akan ikut andil. Karena Rana calon istri saya."


DUAAAR....


Ucapan terakhir dokter Vir, mampu meledakan bom atom yang ada di jiwa Seno, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Tarik kembali ucapan Anda, dokter Vir!"geram Seno.


Melihat wajah Seno yang seperti mengeluarkan asap dan api. Vir tidak perduli, ia malah semakin ingin menyadarkan Seno.


"Aku rasa, kita sudah tidak perlu bicara secara normal lagi, Seno. Mengerti dan terimalah. Rana sudah tidak lagi menginginkanmu, biarkan dia bahagia dengan pilihan hidupnya, kau sudah mencampakkannya selama 4 tahun ini. Dan kau kembali muncul, mengintimidasi Rana dengan mengatakan jika perpisahan kalian tidak resmi secara hukum. Apa yang kau inginkan dari Rana? apa kau mengharapkan dia kembali dan tergila-gila lagi padamu? Jika benar itu yang ada di pikiranmu, lebih baik buang jauh-jauh. Karena Rana tidak akan kembali padamu, kau sudah membuat luka yang dalam di hati Rana. Jadi, jangan kembali membuka luka lama di hatinya dengan sikapmu yang seperti ini."

__ADS_1


Seno yang tadinya terbakar api kemarahan, mulai bisa meredam emosinya setelah mendengar penuturan panjang dari dokter Vir, yang menurutnya hanya bualan.


"Anda banyak bicara sekali dokter Vir. Saya rasa, tidak ada keharusan untuk saya menceritakan dan menjelaskan semuanya pada Anda. Hanya satu yang harus Anda tau, saya tidak akan pernah menceraikan Rana."Seno bangun dari duduknya dan kembali berucap, "Sudahlah! Saya sedang bekerja, lebih baik Anda pergi dari sini kembalilah ke rumah sakit karena banyak orang yang membutuhkan Anda di sana dari pada di sini."


"Seno?"


"Saya permisi."


Seno, sudah tidak mau lagi menggubris apapun yang akan di katakan Vir, karena dia lebih memilih untuk pergi dari sana sebelum mereka menemui titik terang dari perdebatan tadi.


"Baiklah! jika kau keras kepala seperti ini, aku akan mengambil jalan lain. Kebahagiaan Rana yang utama bagiku, aku akan melakukan apapun agar Rana bisa benar-benar lepas dari laki-laki yang tidak bisa menghargai seorang istri sepertimu."Gumam Vir. Dia tidak mengetahui apapun tentang masalah Seno beberapa tahun yang lalu. Hingga Vir bisa dengan mudah bicara seperti ini.


šŸšŸšŸšŸ


Hati dan pikiran Rana benar-benar terguncang, dengan masalah yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dia pikir, setelah melalui proses panjang semua akan berjalan dengan baik, ia tidak akan pernah di pertemukan lagi oleh Seno. Tapi, kenyataan semakin mempermainkan dirinya. Dan membawanya ke rasa bersalah pada lelaki itu.


"Aku sungguh tidak tahu Rana, jika Seno kecelakaan pada waktu itu, jika aku tahu, pasti aku akan memberi tahumu."Sesal Aurel.


"Tidak apa Aurel, aku hanya kecewa dengan kak Sarah. Kenapa di menyembunyikan masalah besar ini padaku, saat itu orang-orang pasti mengira, jika aku ini istri yang durhaka, karena meninggalkan suami di saat sedang sakit parah."


"Kau tidak salah Rana, sudahlah! jangan pikirkan itu lagi. Kau juga sudah mengambil keputusan untuk tetap berpisah dengan Seno kan? berpikirlah untuk masa depanmu. Jangan pernah mengungkit masa lalu, selesai semuanya dengan Seno, secara baik-baik. Setelah itu, hiduplah dengan baik tanpa mengenang dan mengingat apapun tentang Seno."


Rana Mengangguk.


"Aku akan mencobanya."


"Ayolah! aku akan mengantarmu menemui Seno, menurut informasi yang aku dapat dia masih tinggal di rumah itu."Ajak Aurel.


"Baiklah! terima kasih sudah mau menemani aku."Sahut Rana.


Dan mereka segera menuju kediaman Seno.


Rana sudah memikirkan ini secara baik-baik, dan sepertinya dia memantapkan hati untuk tetap berpisah dengan Seno.


Tahu ia akan gagal jika kembali mengajukan gugatan, Rana yang akan meminta Seno untuk menceraikannya secara baik-baik.


Bersambung...


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2