
Selamat! Membaca š¤š¤
šššš
Usai kepergian Dika, Seno jadi semakin gelisah! Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur tapi pikirannya kemana-mana.
Tubuhnya sudah seperti gorengan yang ia bolak-balik.
"Aaaacch.."Seno mengacak-acak rambutnya yang memang sudah acak-acakan.
Seno bangkit dan mendudukkan dirinya di sisi kasur.
"Ada apa ini, kenapa hatiku gelisah seperti ini!"gumam Seno, bertanya pada dirinya sendiri.
Di saat itu juga kata-kata Dika kembali berputar di kepalanya, dan entah kenapa setelah ia mengingat ucapan Dika perutnya menjadi lapar.
"Sepertinya aku harus mengisi perutku."Ucapnya dan memutuskan untuk pergi ke tenda Dapur.
"Kau mau kemana?"tanya Dika, di saat ia berpapasan dengan Seno.
"Dapur!"
"Dapur! Untuk apa kau pergi ke sana?"
Seno mengangkat wajahnya menatap tajam Dika.
"Memangnya kau pikir untuk apa lagi jika kita pergi ke tenda Dapur?"
"Makan!"
"Itu kau sudah tau, tapi kenapa masih bertanya? Aneh sekali."Seno bicara sambil berjalan.
Dika memperhatikan sikap aneh lelaki itu.
"Apa benar tujuannya hanya untuk makan? Tidak ada tujuan yang lainnya kan!"gumam Dika, menerka-nerka.
ššš
Sesampainya di tenda dapur.
__ADS_1
Seno mengambil makanan yang sudah di sediakan di sana, ia duduk di bangku dan memulai makannya.
Di saat ini Seno kembali mengingat kejadian 4 Tahun silam di mana ia membuang bekal makan yang di bawakan Rana, hingga membuatnya menghentikan gerakan tangan yang akan memasukkan nasi dan beberapa lauk-pauk kedalam mulutnya.
"Pak Seno!"sapa Seorang Pria, ia adalah rekan satu Tim Seno.
"Kau datang mau makan kan?"tanya Seno.
"Benar pak."
Seno menyerahkan piring yang ada di tangannya.
"Ambil ini dan habiskan!"
"Apa! Kenapa, pak?"bingung lelaki itu, tapi tangannya tetep menerima apa yang di berikan Seno.
"Saya lupa jika sudah makan, habis itu jangan sampai kau membuangnya, jika sampai itu kau lakukan! Saya akan mengajukan permohonan agar kau di kirim ke Hutan Amazon."
"Jangan Pak, baik saya akan menghabiskannya dengan senang hati,"sahut pria itu dengan senyum seribu Wat, agar membuat sang ketua senang dan tidak akan mengirimnya ke Hutan Amazon yang mengerikan itu.
"Bagus!"Seno menepuk pundak lelaki itu.
Seno kembali melangkahkan kaki menuju tenda, namun pandangannya kembali dialihkan pada orang-orang yang tengah berkumpul dengan suara riuh.
"Ada apa?"tanya Seno, pada salah satu orang yang ada di sana.
"Ada seorang ibu yang ingin melakukan bunuh diri, dia putus asa karena semua keluarganya meninggal dalam musibah ini, dan Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
Seno yang mendengar hal mengerikan itu segera bertindak dengan menuju ke kerumunan utama.
Ada 2 orang dari tim medis yang tengah membujuk ibu yang ingin mengakhiri hidupnya dengan pecahan kaca yang entah ia dapat dari mana.
"Jangan halangi saya, biarkan saya melakukan ini. Saya ingin menyusul anak dan suami saya, untuk apa saya hidup di dunia ini jika saya tidak mempunyai siapapun di sini."Itulah yang dikatakan sang ibu yang berputus asa, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya dan ke 2 tangan yang bergetar, terlihat sangat jelas di raut wajah wanita paruh baya itu kesedihan yang mendalam karena ditinggal secara tiba-tiba oleh orang-orang yang ia sayangi.
"Ibu tidak boleh berputus asa seperti ini. Masih banyak orang yang menyayangi Ibu dan tentu saja Ibu tidak sendirian. Kami semua ada di sini untuk Ibu,"bujuk seorang wanita, dan dia adalah Rana.
Kehadiran Rana di sana tentu menarik perhatian Seno.
Seno memperhatikan Rana dan rekannya yang susah payah membujuk Ibu tersebut dengan berbagai cara dan kata-kata yang mungkin saja bisa meluluhkan hatinya, namun mereka tidak bisa mendekati ibu itu secara langsung karena takut jika Ibu itu semakin nekat.
__ADS_1
Dan bukannya ibu itu Luluh mendengar bujukan Rana, dan mengurungkan niatnya yang ingin mengakhiri hidup, justru ia malah semakin histeris dengan berteriak-teriak tak karuan, dan di saat itu juga ia menyayatkan pecahan kaca yang tajam itu di lehernya.
"Tidak!"
"Jangan!"
Semua sudah berteriak dan panik, bahkan ada yang sudah menutup matanya karena mungkin tidak sanggup jika melihat apa yang akan dilakukan wanita itu.
Hening...
Semua terdiam.
Hanya ada suara tangisan kecil dari ibu yang ingin mengakhiri hidupnya.
"Tolong lepaskan! Tolong jangan halangi saya biarkan saya mati agar saya jauh lebih tenang,"ucap ibu itu di tengah-tengah tangisannya.
Rana dan rekannya yang sempat merasa spot jantung yang sampai menutup mata perlahan membukanya.
Ibu itu masih berdiri walaupun bergetar.
"Mas Seno."Gumam Rana dengan suara pelan.
Ya, Seno menghalangi ibu yang nekad, dengan cara memasang telapak tangannya dari pecah kaca yang cukup panjang dan sangat tajam di leher ibu itu. Sehingga aksi bunuh diri pun tidak terjadi.
"Lepaskan!"Pinta ibu, yang masih berusaha melukai dirinya.
Seno menarik dengan kuat, pecah kaca itu sampai membuat tangan bercucuran darah.
Dan beberapa orang pun mulai membuat dengan cara membekap Ibu tersebut dari belakang.
Bersambung...
šššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Minta dukungannya ya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø