4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Harap Besar Lina


__ADS_3

Selamat membaca šŸ¤—


āœØšŸšŸšŸāœØ


''Kenapa tidak? ini enak lho Ka?''Bujuk Cilla.


''Saya sudah kenyang,''sahut Dika ketus.


Tapi, meskipun lelaki itu sudan menolak dengan cara ketus, Cilla tidak perduli, karena gadis itu tetap memberikan Dika makanan yang Cilla bilang sebagai menu terbaru Restoran tempatnya bekerja.


''Selamat mencoba kak Dika, jika suka kak Dika bisa langsung datang ke Restoran CEMPAKA, agar kak Dika bisa menikmatinya kembali.'' Kata Cilla, dan setelah berkata demikian. Cilla pergi meninggalkan Dika untuk kembali membagikan makanan ke yang lainya.


''Eheem.... Sepertinya kali ini kau tidak harus bersusah payah untuk mengejar gadis itu, karena menurut terawangan ku, gadis itu tertarik padamu Dik.''Ujar teman Dika.


''Tidak, dia itu masih anak-anak.''


''Masih anak-anak bagaimana? gadis itu sudah bekerja artinya dia sudah dewasa. Tidak apa kau terlihat jomplang dengan Cilla yang terlihat imut dan kau yang sudah seperti Om-om, yang penting kau laku kan!''


''Sudah! jangan bicara apapun lagi, ayo cepat makan.''Kesal Dika yang tidak terima dirinya di sebut Om-om. Padahal usia Dika memang sudah pantas di sebut Om.


''Apa kau akan memakan, makanan yang di berikan Cilla?''


''Tentu.''


''Bukankah tadi kau menolaknya?''


''Itukan tadi, dan ini makanan gratis tidak baik di tolak,''sahut Dika lantas dia pergi begitu saja seperti tanpa dosa.


''Dasar aneh, tadi menolak dengan ketus, sekarang malah terlihat menikmati makan pemberian gadis itu.''


********


Setelah kembali melakukan pencarian dengan lebih ekstra. Akhirnya, Tim SAR berhasil menemukan korban hilang meskipun sudah tidak bernyawa lagi.


Dan setelah menyelesaikan tugasnya, Dika langsung kembali pulang. Tapi kali ini bukan pulang ke rumah Lina, melainkan ke rumah orang tua nya sendiri yang saat ini sedang berada di luar kota.


**


''Ibu tidak apa-apa Dika, kau pulanglah ibumu pasti sangat merindukanmu,''ujar Lina di saat Dika berpamitan ingin pulang ke rumah orang tua nya, tapi Dika tidak cukup tega meninggalkan Lina yang saat ini sedang tidak sehat.Tapi Dika tetep harus pulang, karena orang tuanya meminta lelaki itu pulang karena ada hal penting yang harus di bicarakan dengannya.


Dika sudah lama tidak pulang ke rumah orang tuanya semenjak lelaki itu menolak gadis yang di pilihkan ibunya. Ya, Dika sebenarnya takut untuk pulang, takut di marahi karena dia menolak gadis itu dengan cara kabur ikut Seno menjemput Rana beberapa waktu yang lalau, padahal dia belum melihat gadis seperti apa yang di pilihkan ibunya. Dan di sana Dika bertemu Aurel, lelaki itu menduga bahkan sangat yakin jika Aurel akan menjadi jodohnya, namu takdir sepertinya berkata lain karena Ada Ardi yang lebih dahulu mengambil hati Aurel.


Dika mengangguk, dan pada hari itu juga Dika melakukan perjalanan ke luar kota untuk bertemu dengan ibunya.


***


Mendapat kabar jika Lina dalam keadaan kurang sehat dan Dika yang keluar kota. Seno dan Rana memutuskan untuk kembali lebih cepat karena mengkhawatirkan kesehatan ibunya.


**


"Kenapa kalian memutuskan pulang lebih awal? bukankah kalian seharusnya, selama 2 minggu di sana. Ibu kan sudah bilang nikmati saja hari-hari berdua kalian di sana Jangan memikirkan apapun yang ada di sini."Ujar Lina, ketika anak dan menantunya itu kembali ke rumah.


"Kami masih punya lain waktu Bu, lagipula tidak harus keluar kota. Disini juga kami masih mempunyai banyak waktu untuk bersama. Ibu terlihat pucat. Apa ada sesuatu yang ibu rasakan?"Sahut Rana yang tentu merasa khawatir dengan kondisi Ibu mertuanya.

__ADS_1


Lina memang terlihat sangat pucat dan lesu. Tidak seperti biasanya. Selain faktor usia mungkin banyak hal yang Lina pikirkan.


"Ibu tidak apa-apa Nak, Ibu hanya merasa sedikit tidak enak badan saja, mungkin karena kelelahan dengan beristirahat sebentar saja ibu pasti akan baik-baik."


"Memangnya apa yang ibu lakukan sampai kelelahan? apa ibu melakukan pekerjaan yang berat?"tanya Seno.


"Tidak, Ibu hanya beraktivitas seperti biasanya mungkin karena Ibu sudah tua jadi badan ibu mudah lelah. Sudah, beristirahatlah kalian baru saja sampai pasti lelah kan. Ibu baik-baik saja."


Meskipun Lina sudah mengatakan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja. Tetap saja, Seno dan Rana masih khawatir dengan orang tua itu.


Seno beranjak sebentar, karena Dika menghubunginya.


Sementara Rana pergi menuju dapur untuk memasak bubur, Kirana sangat tahu, Lina tidak mau makan nasi jika sedang tidak sehat.


**


Di saat sedang berkutat di dapur. Rana melihat ponsel Lina yang tergeletak di meja makan yang letaknya tidak jauh dari tempat dia memasak.


"Sepertinya ibu lupa kalau meninggal ponsel di sini."Gumam Rana, dan dia meraih ponsel itu ingin mengembalikannya kepada Lina.


Namun tiba-tiba fokus Rana teralihkan dengan wallpaper di ponsel Lina, yang tidak senaja layarnya menyala.


"Bayi!"gumam Rana. Yang melihat sebuah foto bayi imut menggemaskan, dengan pipi Cabi dan badan yang gembul.


Dan foto itupun berhasil menarik perhatian Rana sehingga secara tidak sadar ia membuka ponsel Lina yang memang tidak pernah terkunci.


Begitu banyak foto-foto bayi, dan anak-anak memenuhi galeri ponsel Lina bahkan jumlahnya sampai ratusan. Lina juga mengkoleksi puluhan video yang memperlihatkan kelucuan bayi dan anak-anak.


Rana terdiam, dan tiba-tiba dadanya merasa berdenyut. Dia tahu apa yang membuat Lina menyimpan semua foto-foto itu, itu karena Lina sangat mengharapkan seorang cucu.


Rana tahu, Lina memang sudah lama mengharapkan cucu bahkan di awal-awal pernikahannya dan Seno pun Lina sudah berharap banyak. Tapi takdir berkata lain, hingga membuat wanita paruh baya itu harus menunggu sampai sekian tahun lamanya.


Rana menutup kembali ponsel itu, meskipun dia terlihat lancang karena tanpa izin membuka ponsel ibu mertuanya. Namun karena kelancangan ini membuat Rana menyadari betapa besarnya harapan Lina pada dirinya dan Seno, meskipun Lina tidak pernah menuntut dan bertanya atau menyinggung soal cucu kepada mereka. Tapi ternyata, di setiap malamnya Lina selalu memanjatkan doa untuk itu.


"Sayang! Apa yang kau lakukan di sini!"suara Seno mengejutkan Rana,


dan dia langsung mengambil posisi di depan kompor untuk mengaduk-aduk bubur yang sedang dia masak.


"Aku memasak bubur untuk Ibu, Mas."Sahut Rana dengan membelakangi Seno, karena ia mencoba fokus pada buburnya.


"Seharusnya kau beristirahat saja, biar aku yang memasaknya."Kata Seno, yang saat ini sudah berada di belakang Rana. Lalu memeluknya.


"Tidak apa Mas, sekarang menjauh lah sebentar,"pinta Rana. Karena terganggu dengan Seno yang malah menciumi rambutnya.


"Kau mengusirku?"


"Bukan mengusir, hanya menyingkir sebentar saja. Aku jadi sulit bergerak jika kau seperti ini Mas."


Mendengar alasan Rana, tidak membuat Seno menjauh. Karena lelaki itu hanya merubah posisi tangannya saja yang ia lingkarkan di perut istrinya.


"Kalau seperti ini tidak terganggu kan?"


Rana menghela nafas. Seperti biasa, semakin dilarang akan semakin menjadi. Jadi biarkan saja lelaki itu mau apa asal jangan menutup mata Rana saja agar istrinya itu tidak salah mengaduk.

__ADS_1


**


Pikiran Rana berkeliaran kemana-mana, mungkin ini efek dari dia melihat ponsel Lina.


"Wangi sekali!"kata Seno, yang sekarang sedang menyandarkan dagunya di pundak Rana.


"Wangi! Apa itu bertanda buburnya sudah matang?"tanya Rana.


"Bukan buburnya yang wangi. Tapi ini."Sahut Seno dengan bergerak mengecup pelan leher jenjang istrinya.


"Mas!"pekik Rana.


"Apa sayang! apa mau lagi?"


"Aku sedang masak Mas."


"Aku tau, makanya aku menemanimu di sini."


Rana sudah terlihat kesal.


CTLEK!


Seno mematikan kompor, dan dia memutar tubuh istrinya agar menghadapnya.


"Buburnya sudah matang sejak tadi sayang. Tapi kau masih terus mengaduknya."


"Benarkan!"Rana melirik kebelakang. Sejak tadi fokusnya memang bukan pada bubur tapi pada yang lain.


CUP!


Seno mengecup kening Rana.


"Biar aku yang menyiapkannya untuk Ibu."


Seno mengambil mangkok yang langsung ia isi dengan bubur yang masih mengebul itu.


Sedari tadi Seno menyadari jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rana.


"Sayang! kau beristirahatlah, biar aku yang mengatakan bubur ke kamar ibu."


"Tidak Mas, aku juga mau ke kamar ibu. Aku akan memeriksa kembali ke adaan ibu."


"Terima kasih, sudah sangat menyayangi ibu."Kata Seno.


Bersambung.


āœØšŸšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2