
Selamat. Membaca š¤
šāØāØāØāØš
Hati Seno berdebar hebat menunggu jawaban dari Rana.
Kata-kata terakhir Seno tentu tidak dengan sungguh-sungguh akan ia lakukan. Karena, jika Rana kembali menolaknya, Seno akan tetap mengejarnya.
"Mas, kau masih menyimpan cincin ini?"tanya Rana.
"Tentu saja, aku menyimpan dan merawatnya dengan sangat baik."
Rana menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sudah melihat keseriusan dan kesungguhan Seno dalam memperbaiki hubungan mereka, meskipun luka lama sangat sulit untuk di sembuhkan dan di lupakan begitu saja. Tapi luka itu tentu bisa disembuhkan dan dipulihkan bila di obati dan di rawat dengan baik.
"Mas!"
"Iya,"Sahut Seno dengan menatap wajah Rana, dia masih harap-harap cemas menantikan jawaban.
"Apa kau benar-benar akan menyerah, jika aku memberi keputusan yang tidak sesuai dengan harapanmu?"
Seno menggeleng.
"Tidak!"
"Lalu kenapa tadi kau mengatakan akan menyerah jika aku masih tidak mau kembali kepadamu?"
"Sebenarnya...! Dika yang menyuruhku untuk mengatakan itu. Padahal aku sudah menolak untuk tidak mengatakan itu karena aku akan terus berjuang, sekalipun ribuan kali kau menolakku,"kata Seno, lalu ia melanjutkan ucapannya itu dengan sebuah gumaman.
"Dasar Dika, padahal aku tadi sudah ragu untuk mengatakan itu, tapi dia meyakinkan jika ini kata pamungkas untuk mendapatkan kepastian dari seorang wanita, dan Rana akan kembali padaku."
"Dika benar."Sahut Rana yang samar-samar mendengar gumaman Seno.
"Maksudmu?"
"Kau memintaku untuk tetap menjadi istri mu?"
Seno mengangguk.
"Iya, itu yang selama ini aku minta darimu."
Rana mengambil salah satu cincin yang masih ada di tangan Seno.
"Aku bersedia."Kata Rana.
"Apa?"kejut Seno yang masih belum percaya.
"Aku bersedia kembali padamu, dan memperbaiki rumah tangga kita yang renggang selama bertahun-tahun ini. Aku minta maaf jika selama ini aku egois karena tidak memikirkan posisimu saat itu, dan aku akan lebih berusaha lagi untuk mengerti dirimu."Kata Rana, sambil menatap wajah Seno.
Seno sampai berkaca-kaca, Ia tidak menyangka jika malam ini akan mendengar kata-kata yang baru saja Rana ucapkan.
"Aku tidak sedang bermimpi kan? dan kau tidak sedang mengigau kan?"tanya Seno, untuk memastikan jika semua ini adalah nyata.
__ADS_1
"Tidak."
Seno mengukir senyum bahagia di kedua sudut bibirnya.
"Rasanya aku ingin melompat ke langit saat ini."
Rana terkekeh.
"Untuk apa?"
"Untuk berteriak! bahwa saat ini aku sedang bahagia luar biasa, dan aku ingin berteriak dari langit agar semua penduduk bumi mengetahui dan merasakan kebahagiaanku ini malam ini."
"Kau ini ada-ada saja Mas, apa Dika yang kembali mengajarimu untuk mengatakan itu?"
"Tidak, aku mengatakannya atas kemauanku sendiri. Sudahlah lupakan itu, yang jelas saat ini aku sangat bahagia."
Seno merentangkan kedua tangannya.
"Peluklah aku, agar aku sangat yakin jika ini bukanlah sebuah mimpi, atau prank dari Author."
"Baiklah. Aku akan membuktikan jika ini bukan Mimpi."Tanpa ragu-ragu Rana langsung memeluk Seno.
"Benar, ini bukan mimpi."Ujar Seno, setelah merasakan pelukan hangat dari sang istri.
"Terima kasih, untuk kesempatan yang kau berikan padaku. Aku berjanji akan menjadi suami yang terbaik dan selalu menyayangi mu."
Seno semakin merapatkan pelukannya, malam ini adalah malam yang paling membahagiakan untuk Seno.
"Biar aku yang melakukannya."Kata Seno, ketika melihat Rana akan menggunakan kembali cincin perkawinan mereka.
Setelah sama-sama memakai cincin yang selama bertahun-tahun terbengkalai.
Mereka sama-sama tersenyum karena bahagia.
**
Tidak mau kembali gagal seperti malam-malam sebelumnya, Seno pun bergerak dengan cepat.
"Sepertinya kita harus melakukan malam pertama."
"Malam pertama? Kita sudah 6 tahun lebih menikah Mas, sudah tidak ada yang namanya malam pertama."
Seno mendekatkan wajahnya di telinga Rana lalu dia berbisik.
"Malam pertama setelah 4 tahun berpisah,"ucapnya yang diakhiri dengan kecupan mesra di leher Rana.
Seketika Rana dibuat merinding dengan kecupan itu, dan tanpa A I U E O, lagi Seno langsung menciumi kedua pipi Rana secara berulang-ulang.
Dan setelah puas di bagian tersebut, kini mata Seno tertuju pada area bibir. Yang terlihat sangat menggoda di mata Seno, hingga membuatnya tidak sabar ingin segera merasakan bibir pink tersebut.
Seno mengulurkan tangannya untuk menyetuh bibir yang sangat menggoda di matanya.
__ADS_1
Dan secara perlahan dia pun mulai mendekat untuk menyentuhnya.
Rana memberi respon dengan meminjamkan mata menandakan bahwa dia sudah siap dengan apa yang akan dilakukan oleh Seno.
CUP!
Satu kecupan, yang Seno berikan sebagai tanda pemanasan bahwa permainan akan segera dimulai.
"Bukan matamu, dan tataplah aku."Pintanya.
Rana pun menuruti permintaan Seno dengan membuka matanya, dan saat itu keempat bola mata itu saling bertatapan.
"Kirana, aku mencintaimu, Sangat mencintaimu."Ucap Seno masih dengan menatap kedua netral Rana.
Rana yang merasakan kembali gelora cinta yang pernah dulu ia rasakan, seketika memekarkan tumpukan bunga yang ada di hatinya. Ia sangat bahagia, karena kali ini cintanya terbalas. Ia melihat cinta yang luar biasa dari kedua bola mata laki-laki yang kini ada di hadapannya, tidak seperti dulu, Seno selalu menundukkan wajahnya ketika mereka bersama.
"Aku juga mencintaimu, Mas."
Seno kembali memiringkan kepalanya dan memberikan kecupan yang dia anggap sebagai sebuah pemanasan.
Hingga setelah beberapa kali, kecupan itu menjelma menjadi sebuah ciuman. Ciuman dari kedua orang yang saling mencintai tentu akan sangat berbeda, karena mereka saling membalas satu sama lain hingga lama-lama ciuman yang bisa menjadi tidak biasa.
Kedua manusia ini sama-sama menghirup banyak-banyak oksigen, karena nafas mereka sudah mulai tersenggal akibat ciuman tidak biasa tadi.
Dan setelah beberapa menit mereka beristirahat, Seno kembali melanjutkan aksinya tapi kali ini di area yang berbeda.
Tanpa melepaskan apa yang sedang ia lakukan saat ini, Seno mengangkat Rana dan membaringkan tubuhnya di atas Ranjang.
Seno melepaskan ciumannya setelah meninggalkan stempel di leher putih mulus Rana yang saat ini berada di bawah kungkungannya.
Dengan nafas yang sama-sama memburu, dan mata yang memerah karena tengah menahan sesuatu dari dalam diri masing-masing, Rana dan Seno hanya saling menatap.
Seno dengan tatapan seperti singa yang kelaparan selama bertahun-tahun dan baru mendapatkan kembali makanannya. Kembali menghujani Rana dengan ciuman yang begitu brutal.
"Cukup! Mas, aku bisa mati karena kehabisan nafas."Kata Rana, menahan Seno yang akan kembali menyerangnya.
Seno malah mengukir senyum, dan membelai wajah Rana dengan begitu lembut. Setelah itu ia beranjak dari Ranjang.
Tapi bukan untuk menyudahi permainannya.
Tapi untuk melepaskan semua pakaian yang baru beberapa menit lalu ia pakai.
Bersambung...
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø