4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Apa Kau Sudah Puas?


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


Seperti apa yang Seno katakan sebelumnya, mereka langsung pulang ke Rumah setelah makan Sore.


**


Ada Dika dan Aurel yang berdiri di ambang pintu, menyambut kedatangan mereka berdua.


Dika memasang senyum penuh kebanggaan ketika melihat wajah super ceria dari Seno, Dika tentu bisa menebak jika kali ini Seno tidak gagal seperti sebelumnya.


"Apa kau sudah puas, hingga baru pulang menjelang petang seperti ini?"tanya Dika, sambil menyunggingkan senyum di sebelah bibirnya, dan senyum itu dia persembahkan untuk Seno.


Seno tidak menjawab, dia hanya memberikan kode yang hanya bisa di pahami oleh Dika.


"Waaaah... luar biasa!"Kagum Dika, sambil mengacungkan jempol tangannya.


Aurel melirik sambil memicingkan matanya kepada Dika.


"Hehe, kenapa kau menatapku seperti itu,"ujar Dika yang merasa tatapan Aurel seperti sedang menginterogasi dirinya karena telah mengucapkan kata-kata penyambutan untuk Seno dan Rana tadi.


Aurel memilih untuk tidak menggubris pertanyaan Dika, karena dia lebih memilih untuk menghampiri Rana.


"Kau baik-baik saja?"Tanya Aurel.


"He! kenapa kau menanyakan hal seperti itu? Rana pergi bersamaku tentu saja dia akan baik-baik saja."Dan Seno yang menyahuti pertanyaan Aurel dengan tidak terima.


"Benar juga, kenapa aku harus lupa akan hal itu."Kata Aurel.


"Aku baik-baik saja Rel,"ujar Rana.


"Kau bilang baik-baik saja, tapi kenapa wajahmu terlihat seperti ini? kau seperti tidak bersemangat dan kelelahan?"


"Ais, dia ini benar-benar awam sekali,"keluh Dika yang mendengar pertanyaan Aurel tadi dan ia segera menghampiri gadis itu lalu membisikkan sesuatu di telinganya.


"Meskipun kau belum menikah, tapi mengertilah sedikit, tentu saja Rana terlihat lelah. Mereka habis bertempur semalaman."


"Tempur, apa maksudmu?"tanya Aurel terlihat bingung.


Dika menggaruk kepalanya, dia juga bingung. Apakah harus menjelaskannya secara detail pada Aurel atau mengabaikan pertanyaan itu, jika dia harus menjelaskannya, tapi dimulai dari mana? Bingung Dika. Padahal dia mengira, Aurel akan langsung paham mendengar kata tempur.


Rana yang tau arah pembicaraan Dika, segera menarik Aurel untuk masuk kedalam rumah, ia tidak mau sahabatnya yang masih sangat polos itu terkontaminasi oleh kata-kata Dika yang seperti sudah sangat berpengalaman di bidang tersebut, padahal diapun sama seperti Aurel, tidak memiliki pasangan dan belum pernah melakukan hal-hal yang menjurus ke arah sana.

__ADS_1


**


Selepas Aurel dan Rana masuk, tinggallah Dika dan Seno.


"Ikut aku."Dika menarik Seno yang ingin ikut masuk, sedikit menjauh dari pintu.


"Ada apa?"tanya Seno sedikit kesal, padahal tadi dia ingin masuk dengan cara bergandengan dengan istrinya.


"Kau berhasil kan?"tanya Dika tanpa berbasa-basi.


Dengan bangganya, Seno melipat kedua tangannya di dada.


"Tentu saja aku berhasil. Aku sudah bisa meyakinkan Rana, dan dia bersedia kembali padaku."


Dika menepuk pundak Seno.


"Aku tau itu, tapi yang menjadi pertanyaanku bukan soal itu."


"Lalu, apa?"


Tiba-tiba, Dika diam, padahal tadi dia sangat bersemangat.


"Aaah, tidak jadi. Lupakan saja, dan anggap aku tidak pernah mengatakan ini." Kata Dika, setelah dia menyadari, pertanyaan yang akan di Jawab oleh Seno, akan membuat jiwa jomblonya meronta-ronta minta segera menikah.


Namun Seno malah mengulas senyum. Dia tau apa yang sedang di pikirkan Dika.


Dika menggelengkan kepalanya.


"Kau ini sombong sekali."


"Aaah... Aku sungguh sangat bahagia saat ini, sampai tidak tahu harus mengungkapkannya dengan cara apa, segeralah menikah Dika, agar kau tahu seperti apa kebahagiaanku saat ini."


Dika yang mendadak kesal! memilih untuk masuk meninggalkan Seno sendirian di depan Rumah.


***


Malam menjelang, dan pada malam itu juga Aurel berpamitan untuk kembali ke Kota, namun karena hari sudah malam dan tentu tidak baik jika Aurel harus melakukan perjalanan jauh seorang diri, Rana dan Kartika mengusulkan agar Dika ikut bersamanya.


Meskipun ragu-ragu, Aurel mengikuti saran yang di berikan.


Dan diapun bersedia berangkat bersama Dika, yang terlihat sangat bahagia karena berhasil menuju ke tahap selanjutnya.


*

__ADS_1


"Dika, tolong jaga baik-baik Aurel, aku percayakan dia padamu. Jangan kecewakan aku,"ujar Rana sebelum Dika, masuk kedalam Mobil menyusul Aurel yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Apa kau dengar kata-kata istriku ini? dan anggap ini adalah perintah,"sahut Seno.


"Kalian ini kenapa? tentu saja aku akan sangat baik menjaga Aurel, yang mungkin tidak akan lama lagi menjadi kekasihku."Kata Dika.


"Dika!"sentak Rana.


"Ada apa?"


"Sudah cepat berangkat sana."Seno segera mendorong tubuh Dika agar segera masuk ke mobil.


šŸāœØāœØāœØšŸ


Keesokan harinya.


Rana memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit, seperti apa yang menjadi rutinitasnya setiap hari.


Seno memutuskan untuk menunda kepulangan, karena iapun masih memikirkan pekerjaan yang sangat Rana cinta di sini.


"Aku akan mengantarmu,"ujar Seno.


Rana mengangguk dan mereka bergegas menuju Rumah Sakit tempat Rana selama dua tahun lebih mengabdikan diri.


šŸāœØāœØšŸ


Di tempat lain.


Sarah tengah termenung, sambil menatap kosong jendela yang terbuka lebar menghadap jalan.


"Sarah."Panggil Bima dengan menyentuh pundak istrinya.


"Iya, Mas. Kau ingin berangkat bekerja kan?"sahut Sarah, namun ia tidak melihat suaminya yang berdiri persis di sisinya.


"Aku mengerti perasaanmu, bahkan akupun sangat terpukul akan peristiwa itu. Tapi itu semua sudah takdir yang memang harus terjadi pada kita, cobalah untuk melupakan dan mengikhlaskan semuanya, dengan begitu kau akan mendapatkan ketenangan dan bisa kembali menjalani hidup ini dengan bahagia."


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2