
Selamat membaca š¤
ššš
("Tidak apa-apa, kau jangan terlalu merasa bersalah. Besok aku akan menjemputmu, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu")ujar Rega di saat Olivia menghubunginya untuk meminta maaf. Dan tentu saja, Olivia menimpalinya dengan kata iya, agar Vera tidak kecewa lagi padanya.
"Aku sudah meminta maaf pada Rega, dan besok kami akan bertemu."Kata Olivia pada Ibunya.
Vera langsung mengulas senyum.
"Rega memang memiliki jiwa pemaaf, yasudah besok jangan pergi kemana-mana, kau harus tetep di Rumah sampai Rega datang menjemputmu. Sekarang istirahatlah."Sahut Vera.
"Baik Mah,"dengan sangat patuh Olivia pun masuk ke dalam kamarnya dan besok, sepertinya dia tidak bisa memerankan tokoh Mawar.
šš
Keesokan harinya.
(Dika, hari ini aku tidak datang. Tolong gantikan aku untuk memimpin latihan pada Anggota Tim SAR yang baru masuk. Aku ingin mengantar Rana ke Dokter kandungan, bekerjalah dengan semangat Paman Dika šŖ)satu pesan yang di kirim Seno lengkap dengan emoticon Otot, memberi semangat pada temannya itu.
"Huuf, enak sekali dia bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Kapan aku bisa mengantar istri ke dokter kandungan,"kata Dika, sambil menatap langit-langit kamarnya setelah membaca pesan dari Seno.
PLAK!
"Astaga!"pekik Dika, terkejut karena sebuah bantal melayang di wajahnya.
"Jangan berkhayal, bagaimana bisa kau mengantar istri ke dokter kandungan. Sedangkan menikah saja belum. Cepat bangun dan bekerja, kumpulan uang yang banyak agar kau bisa segera menikahi kekasihmu dan baru kau boleh berkhayal."Ujar Ana, yang berdiri di sisi ranjang anaknya. Dan wanita inilah yang melemparkan bantal di wajah Dika.
"Ibu ini bagaimana, jika aku sudah menikah tentu tidak perlu berkhayal lagi kan. Aku bisa langsung mengeksekusinya."
"Bagus, kau memang harus melakukan itu agar ibu bisa segera menimbang cucu."Sahut Ana.
"Hehe.. Ibu tenang saja, seperti nama yang telah Ibu berikan kepadaku. Andika Perkasa. Jika aku menikah nanti pasti akan segera mempunyai anak. Tidak perlu menunggu lama."
"Bagus, jangan sia-siakan nama yang sudah Ibu berikan kepadamu. Sekarang, cepatlah bangun dan berangkat bekerja. Oh ya sore nanti Ibu ingin bertemu dengan Mawar."
"Apa! bertemu dengan Mawar?"kaget Dika.
"Iya, kenapa kau terkejut seperti ini?"
"Tidak Bu, tapi sepertinya Ibu tidak bisa bertemu dengan Mawar lagi."
"Kenapa tidak bisa, bukankah dia kekasihmu! jadi Ibu bisakan bertemu dengan Mawar yang akan menjadi calon menantu ibu?"
Dika terdiam sejenak untuk memikirkan alasan apa yang harus diucapkan kepada ibunya, Dia pikir Ana sudah tidak akan meminta bertemu dengan Mawar lagi karena Mawar tipe menantu yang di luar ekspektasi Ana, tapi ternyata! malah sebaliknya. Sepertinya Ana sangat menyukai karakter Mawar.
"Dika!"panggil Ana.
__ADS_1
"Iya Bu, aku mau mandi dulu karena harus segera berangkat."Dika langsung beranjak dari kasurnya untuk menghindari Ana.
"Tapi ingat Dika, sore nanti Ibu ingin bertemu dengan Mawar."Ana mengingatkan sebelum Putra keduanya itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Akan aku usahakan, itu juga kalau dia tidak sibuk."Sahut Dika dan langsung menutup pintu kamar mandi.
"Kau harus bisa membujuknya,"sahut Ana kembali, namun sudah tidak di gubris oleh Dika. Karena lelaki itu langsung menyalakan air di dalam kamar mandi.
***
Di Rumah Seno.
Setelah mengirim pesan kepada Paman Dika, Seno langsung berkemas menyiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan istrinya saat melakukan pemeriksaan pada Dokter kandungan.
"Mas, untuk apa Tas sebesar ini?"tanya Rana dengan bingung, melihat ransel yang biasa digunakan para pendaki gunung.
"Untuk kita bawa,"sahut Seno dengan santainya.
"Dibawa kemana?"tanya Rana yang semakin bingung.
"Ke Dokter kandungan."
"Untuk apa bawa benda seperti ini, Mas? kita mau ke dokter kan bukan mau berkemah atau mendaki?"
"Iya, aku tau sayang,"Seno berjalan mendekati istrinya lalu mencium keningnya. Setelah itu dia menepuk-nepuk Ransel hitam yang terlihat menggembung karena sudah terisi penuh.
"Ini isinya, perlengkapan dan keperluan yang mungkin saja kau butuhkan saat di sana nanti."
"Tapi, apa isi di dalam tas sebesar ini, Mas?"
Untuk memudarkan rasa penasaran yang meliputi istrinya. Seno menarik Resleting pada Tas berwarna hitam itu dan menunjukkan semua yang ada di dalamnya.
Mata Rana membulat sempurna, menatap berbagai barang di dalam Tas tersebut.
"Tapi, untuk apa ini semua, Mas? Kita tidak memerlukan waktu berhari-hari di sana."
"Sayang, ibu bilang padaku. Agar aku selalu siap siaga dan mempersiapkan segala sesuatu yang kau butuhkan."
"Tapi bukan begini juga, Mas. Sepertinya ada beberapa benda yang tidak akan terpakai di sana."
"Benarkah!"Seno kembali memeriksa isi Ransel tersebut dan memilah barang-barang yang ada di sana.
"Ini selimut, tentu saja sangat di butuhkan jika kau merasa kedinginan. Ini bantal leher tentu saja sangat berguna jika tiba-tiba lehermu merasa pegal. Ini Kotak makanan, ibu bilang kau harus banyak makanan dan ini 4 botol air minum sangat penting. Ini sendal, ibu bilang wanita hamil akan lebih nyaman menggunakan sendal dari pada sepatu. Dan ini speaker karena kau harus banyak-banyak mendengar musik klasik. Ini gelas dan sendok, penting juga jika kau ingin minum dan makan akan lebih higienis jika menggunakan benda-benda pribadi. Ini Tisu, Sabun, Sanitizer, Sisir....!"Seno menghentikan dialognya yang sudah seperti Sales Produk Rumah Tangga. Lalu dia menatap Rana yang masih memperhatikannya berharap jika Seno tidak membawa semua barang yang dia sebutkan tadi.
"Sayang, sepertinya kau benar-benar membutuhkan semua ini. Jadi aku harus tetap membawanya."Kata Seno.
"Astaga!"
__ADS_1
"Baiklah, jika itu tidak merepotkanmu."Kata Rana dengan sangat pasrah.
"Tentu saja tidak, tidak ada kata merepotkan untukmu dan calon anak kita."
"Terima kasih Mas, sekarang ayo kita berangkat."Ajak Rana, jika dia membiarkan suaminya berlama-lama di Rumah, bukan tidak mungkin jika Seno kembali menambahkan barang-barang yang harus dia bawa. Seperti Sofa agar istrinya tidak merasa lelah. Atau mungkin ranjang agar istrinya bisa istirahat saat bertemu dengan Dokter kandungan.
***
"Sayang, kenapa kita tidak membuat janji saja pada Dokter kandungan yang ada di Rumah sakit tempatmu bekerja. Atau kita bisa langsung memanggil Dokter ke Rumah. Agar kita bisa langsung bertemu dengan Dokter dan kau tidak perlu menunggu Antrian?"tanya Seno yang saat ini sudah berada dibalik kemudian.
"Tidak Mas, seperti ini saja aku lebih suka."Sahut Rana, dia ingin merasakan bagaimana momen Antri, menunggu namanya di panggil oleh Dokter sambil bercengkrama dengan ibu-ibu yang juga sedang menunggu Dokter memanggil nama mereka. Persis seperti yang Rana lihat selama dia menjadi Perawat.
Sungguh itu Momen yang sangat di idamkan para wanita saat tengah memeriksa kehamilan.
"Baiklah, aku juga sudah menyiapkan semuanya agar kau tidak merasa lelah dan jenuh saat sedang mengantri."Kata Seno.
***
Beberapa menit kemudian.
Mobil yang dikendarai Seno memasuki area parkir Rumah Sakit yang tidak jauh dari kediamannya, dan ini bukan Rumah Sakit tempat Rana bekerja dulu.
Dengan penuh semangat Seno turu terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Kau jangan keluar dulu, tunggu sebentar."Pinta Seno, setelah dia membuka pintu untuk istrinya. Lalu ia berjalan menuju belakang Mobil untuk mengambil barang bawaannya yang di simpan di Bagasi.
TAK!
Seno membuka payung.
"Ayo, sayang!"ucapannya, sambil mengulurkan tangan satunya.
"Tidak perlu menggunakan payung, Mas. Ini tidak terlalu panas."
"Tidak apa-apa Sayang, meskipun tidak terlalu panas. Tapi matahari ini bisa membuatmu berkeringat dan jika kulitmu sudah berkeringat, kau tidak akan merasa nyaman."
Rana mengagguk dan mengulurkan tangannya.
Seno menuntun istrinya dengan tangan kanan, sambil terus memayungi Rana dengan tangan kirinya. Sedangkan punggungnya sudah di gandoli Ransel pendaki yang terlihat sangat padat.
Bersambung..
ššš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø