
Selamat. Membaca š¤
āØššššāØ
"Maafkan aku bu, Tolong jangan dengarkan apapun yang dikatakan Wahyu."Kata Windy yang merasa bersalah atas tingkah Wahyu yang sungguh di luar dugaannya.
Wahyu yang langkahnya dicegah oleh Kartika kembali duduk karena Kartika memintanya untuk kembali ke tempat semula.
"Tolong katakan Ada apa ini? sudah selama bertahun-tahun saya diliputi rasa kekhawatiran dan kecemasan atas putri saya Rana, dia sudah melewati banyak kesulitan dalam pernikahannya dengan Seno. Dan karena sebuah kesalahpahaman mereka sampai berpisah selama 4 tahun, dan saya sedikit merasa lega karena saat ini mereka terlihat rukun kembali, tapi terus terang. Perkataan nak Wahyu tadi membuat saya sedikit terganggu. Apa benar nak Windy kekasih Seno?"tanya Kartika yang ingin memastikan semuanya. Karena wanita ini tentu saja tidak mau dan tidak akan rela jika Seno membagi hatinya untuk wanita lain dan mencampakkan Rana kembali.
"Tidak Bu, itu sama sekali tidak benar. Sejujurnya, aku dan Seno memang pernah memiliki hubungan dekat tapi seperti apa yang dikatakan oleh Dika, hubungan itu sudah berakhir 6 tahun lalu, dan semua itu karena kesalahan dan kebodohanku. Aku menyesal akan hal itu, tapi sekarang aku dan Seno tentu tidak memiliki hubungan apapun karena setelah 6 tahun itu kami tidak pernah bertemu dan kami baru dipertemukan dalam beberapa bulan terakhir ini."Jelas Windy.
"Tapi kenapa nak Wahyu mengatakan jika nak Windy adalah kekasih Seno?"
"Itu karena lelaki itu gila Bu. Dia memang sudah tidak waras, sepertinya aku harus menghubungi Rumah Sakit Jiwa untuk mengangkutnya dari sini."Sahut Dika yang masih kesal.
Wahyu mengerang sambil menatap Dika, dia mengepalkan tangan ingin melayangkan beberapa pukulan di wajah lelaki yang sejak tadi memaki dirinya.
Kartika terdiam dan saat ini dia menatap lekat wajah Windy, ada kata-kata dari Windy yang mengganjal di hati Kartika.
"Maaf nak Windy, bukan maksud ibu ingin mencampuri masa lalumu. Tapi baru saja kau mengatakan kalau nak Windy berpisah dengan Seno atas kesalahan nak Windy dan nak Windy menyesali semua itu, di telinga ibu, itu terdengar seperti sebuah penyesalan yang menyakitkan. Apa itu ada hubungannya dengan pernyataan Nak Wahyu?"
"Ibu Kartika tidak perlu memikirkan itu, Semua baik-baik saja."Ucap Aurel.
"Tidak apa-apa nak Aurel, biar ibu bisa tau semuanya."Sahut Kartika.
Dan Windy pun terpaksa menceritakan masa lalunya dengan Seno termasuk perpisahan yang menyakitkan baginya.
***
Kartika memasang wajah iba pada gadis yang kini ada di hadapannya, nasib malang yang menimpa Windy memang sungguh tragis.
"Bersabarlah nak Windy, setiap musibah pasti ada hikmahnya,"Ujar Kartika. Dan wanita paruh baya ini bisa menyimpulkan, bahwa sudah tidak ada hubungan apapun antara Windy dan Seno saat ini. Tapi Kartika juga tidak tahu isi hati masing-masing, ia hanya bisa melihat dari raut wajah Windy dan cara dia menceritakan masa lalunya, tersirat di sana sebuah makna bahwa dia memang masih sangat mencintai dan mengharapkan Seno. Tapi Kartika tidak tahu dengan Seno, apakah lelaki itu masih menyimpan rasa kepada gadis itu atau dia benar-benar sudah melupakan masa lalunya. Kekhawatiran tentu saja meliputi hati Kartika, dia takut jika Seno masih menyimpan rasa kepada Windy, hingga apa yang dikatakan oleh Sarah akan benar terjadi.
"Iya Bu. Aku percaya itu. Dan tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan di sini. Sungguh aku datang hanya ingin bertemu dengan Rana tidak ada maksud lain."Ucap Windy di akhir ceritanya.
Kartika mengangguk.
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
**
"Kau sudah menceritakan semua kepada Ibu Kartika. Jadi bagaimana? apa kita langsung pulang dan kau meminta maaf kepada Rana di lain waktu? atau kau akan tetap di sini menunggu Seno?"Wahyu kembali berulah dengan kata-katanya.
"Wahyu tutup mulutmu, jangan membuat kegaduhan, Ibu Kartika bisa salah paham dengan kata-katamu ini."Bisik Windy.
"Kau tidak perlu khawatir Windy, aku sangat yakin jika Ibu Kartika bisa menilai sendiri. Sulit untuk seseorang melupakan cinta pertamanya apalagi mereka berpisah tanpa ada celah dan memudarnya cinta, pada dasarnya kau dan Seno masih saling mencintai hanya takdir yang memisahkan kalian, sampai saat ini kau masih sendiri, tidak pernah membuka hati untuk lelaki lain, dan Seno bersikap dingin serta selalu menjauhimu itu adalah salah satu bukti bahwa dia marah padamu. Kenapa dia marah? karena dia masih sangat kecewa padamu yang meninggalkannya begitu saja dan kekecewaan itu timbul karena Seno masih menyimpan rasa kepadamu."Kata Wahyu.
"Omong kosong macam apa itu!"
Sebuah suara dari arah pintu masuk mengejutkan mereka semua.
"Seno!"Windy menatap Seno yang baru saja masuk.
"Akhirnya kau pulang juga."Kata Dika dengan lega.
Sementara Wahyu, sama sekali tidak merasa bersalah meskipun Seno sudah pulang. Lelaki itu tetap terlihat tenang di kursinya.
"Nak Seno sudah pulang, lalu di mana Rana, apa dia tidak ikut pulang?"tanya Kartika.
"Seno, maafkan aku. Aku hanya ingin bertemu dengan Rana."Ujar Windy yang merasa tidak enak hati.
"Padahal aku sudah melarangmu untuk tidak lagi bertemu dengan Rana."Sahut Seno.
"Kenapa? Kenapa kau melarang Windy bertemu dengan Rana? apa kau takut?"Timpal Wahyu dengan tersenyum miring.
Sepertinya Wahyu mempunyai niat ingin menjatuhkan Seno di hadapan Kartika.
"Aku hanya ingin menjaga Rana, istri ku."Sahut Seno.
"Menjaga Rana?"
Semua di buat bingung.
Seno mengangguk dan kali ini ia bicara pada Windy.
__ADS_1
"Ya, aku harus menjaga istriku. Karena jika kau terus-terusan menemui Rana. Ibumu akan semakin gila dengan permintaannya itu. Karena dia mengira kau memiliki hubungan erat dengan Rana padahal sebenarnya tidak kan? Kalian hanya kebetulan bertemu dan kau tidak mempunyai ikatan sahabat seperti Aurel dan Rana, jadi tidak sulit bukan untukmu menjauhi Rana."
"Apa maksudmu Seno?"Tanya Windy dengan getir.
"Windy, semakin kau mencoba untuk dekat dan akrab dengan Rana, itu akan semakin membuatnya tidak nyaman dan tertekan. Karena sikapmu yang seperti wanita bernasib malang, penuh dengan penderitaan dan kesedihan di mata Rana, akan membuatnya goyah. Dan itu akan semakin membuat tante Winda gencar membujuk Rana untuk meninggalkanku. Hingga Rana akhirnya menyerah. Tapi tentu saja aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi, aku mengenalmu sudah sejak lama, dan aku sangat yakin kau tidak mungkin melakukan apa yang seperti tante Winda inginkan. Tapi dengan sikapmu yang ingin terlihat berhubungan baik denganku dan Rana justru itu akan membuka peluang untuk tante Winda dan membuat semua orang salah paham. Sebenarnya aku tidak perduli dengan permintaan mamamu itu karena dengan cara apapun tante Winda memintaku untuk meninggalkan Rana. Aku tidak akan pernah melakukannya, Mamamu tahu itu, dan hal ini yang membuat Tante Winda membujuk Rana agar bersedia meninggalkanku dengan menggunakan alasan masa lalumu yang menyedihkan itu."Tegas Seno.
Windy bergetar ketika mendengar kata-kata Seno yang sangat menusuk di hatinya, sampai ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Seno, kau jangan munafik seperti ini, sebenarnya kau juga masih mencintai Windy kan? Mengakulah."Sahut Wahyu dengan sedikit membentak.
Seno terkekeh mendengar ucapan Wahyu, tapi dalam hatinya sungguh geram luar biasa. Ia sudah ingin menghajar Wahyu, namun untuk sementara dia tahan karena tidak mau menimbulkan keributan di Rumah mertuanya apalagi dengan kondisi Ridwan yang sedang sakit.
Seno menarik nafasnya dalam-dalam agar dia tetap bisa mengontrol emosi dan bicara dengan tenang tanpa menciptakan keributan.
"Wahyu, kenapa kau terlihat bernafsu dan begitu ngotot mengatakan bahwa aku masih mencintai Windy? Ada apa denganmu? jangan bilang kau juga salah satu orang yang mengharapkan aku dan Rana tidak bersama? tapi apa tujuanmu? tidak mungkin kan jika kau mendukung aku untuk bersama dengan Windy, karena dari wajahmu, kau juga sama sekali tidak menyukaiku kalau aku bersama Windy. Kau hanya mengharapkan perpisahanku dan Rana. Benarkan?"
Tiba-tiba wajah Wahyu memucat, ia gugup sampai meremas jari-jari tangannya.
"Kau bicara apa Seno? aku hanya mengungkapkan fakta yang sebenarnya di sini. Bahwa kau masih menginginkan Windy."
"Kau tahu apa tentangku? bahkan aku sama sekali tidak pernah mengenalmu sebelum ini. Aku tidak pernah mengobrol dan bersama denganmu. Tapi kenapa kau bisa menyimpulkan lelucon itu?"
DEG!
Wahyu semakin gugup.
"Cukup Seno, tolong maafkan Wahyu."Pinta Windy, dia tidak mau mendengar Seno lebih banyak bicara karena Windy tahu jika Seno akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hatinya bahwa lelaki itu memang sudah tidak memiliki rasa apapun padanya.
"Kalian yang memulainya terlebih dahulu, jadi aku yang bantu untuk menuntaskannya."Sahut Seno.
Bersambung..
āØššāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø