4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Tidak Ada Yang Mau Mengalah


__ADS_3

Selamat! Membaca šŸ¤—



šŸāœØšŸāœØšŸāœØšŸ


Seno semakin terdiam, mendalami apa yang di ucapkan Dika.


"Kau sudah mengerti kan apa yang aku maksud?"tanya Dika memastikan.


Seno mengangguk, sepertinya ia mulai terpengaruh dengan hasutan Dika.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"tanya Seno.


"Ya tentu saja kejar dia, ajak dia tinggal bersamamu. Dan jika dia menolak, kau yang ikut tinggal bersamanya, jika kau sudah tinggal bersama dengan Rana. Jangan lupa untuk melakukan apa yang aku katakan tadi, kau mengerti?"Dika menepuk pundak Seno.


Lelaki itu tersenyum dengan banggaan, merasa sudah memberikan saran yang menakjubkan kepada Seno.


"Lalu aku harus memulainya dari mana?"tanya Seno kembali.


"Astaga Seno, kau ini benar-benar harus disetir. Temui Rana, jangan biarkan ia lengah hingga memberi peluang dan ruang untuk dokter Vir selalu mendekatinya. Kau lihat? "Kata Dika seraya menunjuk jam dinding,"Ini sudah hampir jam istirahat dan waktunya makan siang, sekarang kau cepat temui Rana ajak dia makan siang bersama. Kau tahu kan jika dokter Vir juga ada di kota ini, jangan sampai dia yang terlebih dahulu melakukan itu pada Rana."


Baru saja Dika menutup mulutnya, Seno langsung bangun dari duduk.


"Kau kenapa? "Tanya Dika yang terkejut melihat Seno bangun dengan begitu gesit sampai membuat kursi terdorong kebelakang cukup kuat.


"Kenapa kau masih bertanya? bukankah kau yang menyuruhku untuk menemuinya dan mengajak makan siang?"


"Benar juga, kalau begitu cepatlah pergi jangan sampai dokter itu lebih dulu menemui istrimu."


Dengan secepat kilat, Seno meraih kunci mobil dan ia keluar dari kantor menuju parkiran lalu melaju ke rumah Aurel karena ia tahu Rana pasti ada di sana.


"Huf, dia sudah dewasa, tapi kenapa masih selalu aku ajarin soal sepele seperti ini. Dia hebat jika dalam tugas penyelamatan, tapi dia sangat jauh dari gelar suhu jika urusan cinta."Gumam Dika. Sambil menatap Mobil Seno yang secara perlahan menjauh lalu menghilang.


āœØšŸāœØšŸāœØ


Tidak membutuhkan waktu lama.


Seno sudah tiba di kediaman Aurel.


Namun baru saja ia memarkirkan mobil lelaki itu dikejutkan dengan sosok laki-laki yang tengah berdiri di teras rumah Aurel.


Dia adalah Vir, yang juga berkunjung ke rumah Aurel tentu saja untuk menemui Rana.

__ADS_1


"Ternyata apa yang dikatakan Dika benar, aku memang harus banyak belajar dari Dika. Dan kau Vir, lebih baik kubur dalam-dalam keinginanmu untuk memiliki Rana."


Pandangan mereka bertemu ketika Seno turun dari mobil dan dengan santai serta memegang teguh kata-kata Dika bahwa ia lebih berhak atas Rana dari dokter itu, Seno melangkah maju menghampiri Vir.


"Selamat siang Seno. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini?"sapa Vir terlebih dahulu.


"Saya juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, kenapa kau tidak kembali ke Kotak XXX, bukankah rumah sakit itu sangat membutuhkan kehadiran dokter sepertimu, mereka pasti merasa kehilangan karena sudah beberapa hari ini kau menghabiskan waktu di sini."


Vir mengulas senyum lalu ia menyahuti perkataan Seno.


"Aku akan kembali bersama Rana, jadi aku datang ke sini untuk mengajaknya kembali."


Tidak mau kalah, Seno pun tersenyum menimpali perkataan Vir yang menurutnya lucu.


"Kau aneh sekali dokter Vir, apa kau tidak sadar mengatakan itu di hadapan siapa?"


"Tentu saja aku sadar,"ujar Vir lalu ia menatap serius Seno,"aku tengah berhadapan dengan Pak Seno, calon mantan suami Rana."


"Calon mantan suami!"Seno mengulangi kata-kata Vir sambil terkekeh,"Berarti kau sudah tahu kalau saya dan Rana belum resmi berpisah, berarti ada juga sadar kalau Rana masih sah istri saya."Sambungannya.


"Itu tidak masalah bagiku. Karena itu hanyalah sebuah status yang sebenarnya kau sendiri yang menahan status itu, padahal orang yang kau ikat sudah tidak ingin lagi terikat denganmu. Yang terpenting bagiku adalah hati Rana, hati Rana bukan lagi milikmu itu yang membuatku tetap berdiri untuk Rana."


"Kau percaya diri sekali, apa kau pikir Rana juga menyukai mu?"tanya Seno yang sontak membuat Vir sadar, kalau cintanya memang belum diterima oleh Rana tapi Vir tidak menggubris itu, ia yakin suatu hari nanti Rana bisa membuka hati untuknya.


"Tidak masalah bagiku jika sekarang Rana belum membuka pintu hatinya untukku, karena aku sangat yakin suatu hari nanti Rana akan menerimaku."


Bukan cuma satu mobil, ternyata ada dua mobil yang datang.


Seno dan Vir memperhatikan kedua mobil yang terparkir di sisi jalan.


"Kenapa halaman rumahku jadi penuh seperti ini."Kesal Aurel yang baru turun dari mobi, dia kesal karena tidak dapat memarkirkan mobil di halaman rumahnya karena sudah ada dua mobil di sana, yaitu milik Seno dan Vir.


Melihat yang datang adalah Aurel, secara berebut kedua lelaki yang sempat terlibat perdebatan sengit itu menghampiri mobil Aurel.


Dan mereka berdua sama-sama memegang pintu mobil, ingin membukakan pintu untuk seseorang yang masih berada di mobil tersebut.


"Apa yang kalian lakukan?"tanya Aurel yang masih merasa kesal,"Apa kalian ingin membukakan pintu untuk seseorang yang duduk di sana?"sambungnya.


Meskipun Aurel sudah terlihat tidak bersahabat, baik Seno ataupun Vir tidak ada yang mau mengalah. Mereka masih tetap memegang pintu mobil siap untuk membukanya.


"Cepat keluarkan salah satu dari mobil ini, aku ingin parkir di situ."Aurel sudah meninggikan nada suaranya.


"Kau dengar itu?"ujar Seno yang ia tunjukkan untuk Vir.

__ADS_1


"Sepertinya gadis itu, berteriak untukmu."Sahut Vir.


"Dokter Vir, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepadamu. Tolong singkirkan tanganmu."


"Pak Seno, dengan tidak mengurangi rasa hormatku kepadamu. Tolong singkirkan juga tanganmu."Balas Vir, yang mengikuti kata-kata Seno.


"Apa-apaan mereka ini?"Aurel jadi tambah kesal.


Dan tiba-tiba ada pergerakan dari dalam mobil, seseorang yang ada di dalam sana ingin keluar.


Karena tidak ada yang mau mengalah, kedua lelaki itu secara bersamaan membuka pintu mobil untuk seseorang yang ada dalam.


"Ada apa ini?"satu pertanyaan dari manusia yang baru saja keluar dari Mobil.


"Wahyu!"kejut Vir.


Begitu juga dengan Seno yang tak kalah terkejut, karena yang keluar adalah wahyu bukan seseorang yang ia harapkan, padahal dia sudah mengembangkan senyum terbaiknya tapi sedetik itu juga langsung dia redupkan senyumnya ketika tahu siapa yang ia bukakan pintu.


"Iya ini aku, kenapa kau terkejut seperti ini Dokter Vir?"timpal Wahyu. Tak merasa bersalah.


Vir segera merilekskan tubuhnya.


Sementara Aurel tersenyum mensyukuri.


"Apa kalian pikir yang akan keluar dari mobil ini Rana?"


"Lalu di mana Rana?"tanya Seno tanpa basa-basi.


Aurel melirik mobil yang ada di belakang. Dan saat itu juga penumpang yang ada di mobil tersebut keluar. Seno mengulas senyum ketika melihat Rana.


Ya, ternyata Rana ada di mobil satunya bukan di mobil Aurel. Tapi senyum Seno seketika meredup ketika melihat sosok yang ada bersama Rana.


"Windy!"


Dia adalah Windy.


Bersambung..


āœØšŸāœØšŸāœØšŸāœØ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø


__ADS_2