4 Tahun Setelah Berpisah.

4 Tahun Setelah Berpisah.
Semakin Hari, Mas Seno Semakin Aneh.


__ADS_3

Selamat, membaca šŸ¤—


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Sayang, kau sudah bangun?"Tanya Seno.


Rana baru saja bangun di waktu sore hari. Dan dia melihat Seno yang sudah rapih.


"Iya, kau mau kemana, Mas?"


"Ke kantor SAR. Dika sedang ada janji dengan wanita yang sebenarnya tidak ingin pergi dengannya, jadi aku harus mengawasi latihan."


"Apa itu Aurel?"tanya Rana yang sudah bisa menebak.


Seno Mengangguk, lalu ia mendekati Rana dan duduk di sisi ranjang.


"Apa kau mau ikut?"


"Ikut kemana?"


"Ke kantor SAR, di rumah tidak ada siapapun, kau sendirian dan akan kesepian di sini, lebih baik kau ikut saja dengan ku."


"Tidak Mas, aku di rumah saja. Kau pergi untuk bekerja kan, lagipula aku sudah terbiasa ditinggal di rumah sendirian jadi tidak masalah kau pergilah."Sahut Rana.


Seno memasang wajah cemberut, padahal tadi dia berekspektasi Rana akan kegirangan Di saat dia mengajaknya ke Kantor.


"Kau kenapa Mas?"


"Tidak."


"Lalu kenapa cemberut seperti itu?"


"Aku, ingin mengajakmu ke kantor. Tapi kau malah menolaknya tentu saja aku cemberut karena merasa sedih,"ujar Seno, dengan wajah yang dibuat iba seperti anak kecil yang ditolak keinginannya.


"Kenapa dia jadi seperti ini, semakin hari aku semakin dibuat bingung dan tidak percaya dengan tingkah Mas Seno yang aneh. Tapi masih ada lucu juga jika, dia bersikap seperti anak kecil, selama bertahun-tahun aku melihat dia dengan sosok yang kaku, dingin, seperti patung. Tapi sekarang aku melihat dia, seperti melihat Dino." Batin Rana. Dengan terkekeh kecil.


"Setelah kau menolak ajakan suamimu ini, dan sekarang kau malah meledek suamimu ini?"Seno menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak meledek, Mas. Baiklah aku akan ikut bersamamu."


"Benarkah!"Seno dengan wajah berbinar.


Rana Mengangguk.


"Aku mau mandi dulu sebentar."


"Kalau begitu biar aku yang membantumu untuk mandi."Tawar Seno.


"Tidak perlu Mas,"tolak Rana dengan cepat,"Aku bisa mandi sendiri,"sambungnya. Dan segera menyingkap selimut untuk beranjak ke kamar mandi.


Namun dengan cepat, Seno menarik tangannya.


"Sudah ku bilang, aku akan membantumu mandi."


Dan pada akhirnya mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.


Tapi kali ini, Seno benar-benar membantu istrinya untuk mandi. Tidak ada ritual panas atau ah. Ah. Di dalam sana.


šŸāœØāœØāœØšŸ


"Kenapa dia lama sekali, ini sudah jam 5. Aku tidak boleh telat menjemput Neng Aurel,"kesal Dika.


Saat ini Dika sudah sangat rapih dengan kemeja berwarna Biru, celana bahan hitam dan rambut yang di sisir menyamping. Sudah seperti pak RT yang ingin pergi kondangan.


Dia sedang menunggu kedatangan Seno, untuk mengatur semua proses latihan yang baru akan selesai malam hari itu.


****


Beberapa menit kemudian.


Yang di tunggu-tunggu Dika datang.


Ya, Seno sudah datang tapi dia datang tidak sendiri, karena lelaki itu datang bersama istrinya.


Dengan wajah yang seperti taman bunga, Seno menggandeng Rana memasuki Kantor. Dan tentu saja kedatangan mereka menjadi pusat perhatian semua anggota SAR yang ada di sana.


Dika menggelengkan kepalanya.


"Cek,cek. Seno, apa tidak bisa kau meninggalkan istrimu ini di rumah walau untuk beberapa jam saja?"bisik Dika tepat di saat Seno melintas di hadapannya.


Seno menoleh, dan menjawab.

__ADS_1


"Tidak!"


"Aah, terserah kau saja. Nikmati apa yang sedang kau rasakan saat ini. Yang terpenting sekarang, aku bisa pergi berkencan, dan setelah aku berhasil menikahi gadis itu. Aku akan membalas dirimu."Kata Dika.


Seno terkekeh.


"Kau jangan memikirkan untuk membalas ku dulu, lebih baik kau pikirkan cara untuk membuat gadis itu suka dengan mu."


"Wahai Seno. Apa kau meremehkan Seorang Dika?"


"Tidak! Aku tau kau sangat hebat, tapi hatiku saja yang merasa tidak yakin."


Dika diam. Karena sebenarnya dia juga tidak yakin jika Aurel akan menerima dirinya dengan mudah.


"Selamat, sore pak Seno dan Bu Rana, kami tidak menyangka jika Anda datang bersama istri, pak Seno."Sapa salah satu teman Dika.


Rana mengangguk dan menyahuti sapaan mereka.


Berbeda dengan Seno, yang langsung memasang wajah kaku dengan hanya tersenyum tipis seperti biasa yang dia lakukan ketika berhadapan dan di sapa oleh rekan-rekannya.


"Kalau begitu aku pergi dulu, cepat lanjutkan latihan kalian. Dan aku berharap kalian semua bisa fokus pada latihan ini tidak terganggu dengan manusia yang tengah menjadi....!"ucapan Dika terhenti, karena dia mendapat tatapan tajam dari Seno.


"Aku hanya memberi semangat tidak lebih dari itu. Ya sudah aku pergi dulu Selamat sore."Sebelum Seno marah padannya, Dika segera berlalu keluar dari kantor.


***


"Cepat, kalian kembali ke lapangan. Saya akan segera ke sana."Titah Seno.


"Baik Pak!"dengan bergegas, mereka kembali menuju ke lapangan tempat mereka melakukan latihan. Dan Seno mengantar Rana terlebih dahulu, untuk beristirahat di ruangan pribadinya.


"Kau tunggu di sini, jika ada sesuatu yang kau inginkan dan butuhkan panggil aku,"ujar Seno sebelum meninggal Rana di ruangannya.


"Iya Mas, kau pergilah. Teman-teman sudah menunggu."


"Kenapa kamu memperdulikan mereka?"tanya Seno yang menunda langkah kakinya.


"Bukan memperdulikan Mas, tapi aku hanya kasihan jika mereka terlalu lama menunggumu untuk latihan."


"Itu sama saja dengan kau memperdulikan dan memperhatikan mereka,"ujar Seno.


"Baiklah, aku tidak jadi memperdulikan mereka. Terserah mereka mau menunggumu sampai berapa lama aku tidak peduli,"sahut Rana dengan kesal.


"Kau hanya boleh memperdulikan dan memperhatikan aku saja, jangan pernah membuat diriku cemburu dengan kau yang memperdulikan dan memperhatikan laki-laki lain, ingat itu,"ujar Seno. Dan dia mencium kening Rana, lalu pergi dari sana.


Rana menutup pintu. Ia menghela nafas panjang, setelah lelaki itu berlalu dari sana.


"Cemburu! hanya seperti itu saja dia bilang cemburu. Semakin hari d


Mas Seno semakin aneh saja,"gumam Rana.


***


Seno melakukan tugasnya memimpin latihan Timnya.


Tapi seperti apa yang Dika katakan. Mereka semua tidaklah fokus pada latihan, karena fokus mereka terganggu dengan Seno yang mondar-mandir ke ruangannya untuk melihat istrinya.


"Bukankah baru 10 menit yang lalu Pak Seno masuk ke ruangannya untuk memastikan keadaan istrinya? tapi kenapa sekarang dia balik lagi ke sana. Ingin melihat keadaan Bu Rana. Dan ini sudah ke 39 kali Pak Seno mandar mandir. Aku rasa Bu Rana akan baik-baik saja kan di sana,"ujar salah satu Tim Seno, yang ternyata menghitung seberapa banyak selalu mondar-mandir ke ruangannya.


"Biarkan saja, namanya juga sedang jatuh cinta. Pak Seno kan Sudah lama tidak bertemu dengan istrinya yang pergi ke luar negeri, tentu saja dia sangat merindukan istrinya, dan memanfaatkan waktu yang ada, ah. Aku jadi sangat merindukan istriku di rumah. Apa aku ajak istri ku ke sini saja ya."Sahut temannya yang tiba-tiba memiliki ide di luar angkasa.


"Coba saja kalau kau berani melakukan itu, itu sama saja kau tidak menghargai perasaan kami yang belum menikahi ini. Jangankan untuk memiliki istri dan bisa bermesraan, di lirik dengan seorang gadis dan janda pun kami tidak pernah merasakannya,"keluh temanya.


"Bersabarlah mungkin jodoh kalian sedang dalam proses pembuatan."


"Lebih baik aku tidak berjodoh sekali, kalau begitu."


āœØšŸšŸšŸšŸāœØ


Kabar Rana dikeluarkan dari rumah sakit Harapan sampai di telinga Windy.


Gadis itu merasa kasihan kepada Rana yang dikeluarkan secara paksa. Dan Windy pun sudah mengetahui bahwa Rana telah kembali ke kota ikut bersama dengan Seno. Meskipun dia bahagia dengan kabar bahwa Rana dan Seno kembali bersama tapi hatinya tidak merasa seperti itu.


Windy berniat untuk mengajak Rana bekerja di Rumah Sakit tempat dia bekerja saat ini mungkin saja dengan begini dia bisa menjalin hubungan baik dengan Rana.


Sepertinya Windy tidak mengindahkan peringatan yang di berikan Seno untuk menjauhi Rana.


Karena Windy berpikir dia hanya ingin berteman saja dengan Rana tanpa memiliki niat dan maksud apapun.


**


"Windy, kau mau pergi ke mana?"tanya Winda ketika melihat anaknya keluar dari kamar, padahal ia baru saja pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


"Keluar sebentar Mah, ada sesuatu yang harus aku lakukan."Sahut Windy.


"Apa benar, Wahyu ingin bekerja di Rumah Sakit tempatmu bekerja saat ini?"tanya Winda kembali.


"Benar, sepertinya Wahyu mulai bisa melupakan kejadian itu hingga Dia memutuskan untuk kembali bekerja. Tapi dia ingin bekerja di Rumah Sakit Kota ini agar dia tidak berjauhan dengan orang tuanya."


"Baguslah, setidaknya ada yang bisa menjagamu di rumah sakit itu."Ujar Winda.


"Kalau begitu aku pergi dulu mah."Pamit Windy.


"Berhati-hatilah di jalan. Jangan pulang terlalu malam."


Windy mengangguk dan ia pun secara berlalu dari rumahnya.


***


Ternyata Windy pergi untuk menemui Aurel. Dia meminta Gadis itu untuk menemaninya bertemu dengan Rana. Windy tidak memiliki cukup keberanian untuk datang menemui Rana seorang diri. Itulah sebabnya dia datang menemui Aurel dan meminta Gadis itu untuk menemaninya.


Aurel yang terlihat kesal dengan kedatangan Windy dan Windy yang keras kepala karena tidak mendengarkan peringatan Seno, menolak ajakan Gadis itu untuk menemui Rana.


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu karena aku sudah memiliki janji dengan seseorang."


"Seperti itu ya,"sahut Windy dengan wajah yang lesu.


"Windy, lebih baik kau pulang saja beristirahatlah dengan baik aku melihat gurat lelah di wajahmu. Kau pasti lelah karena seharian bekerja. Tidak perlu repot-repot untuk mendatangi Rana hanya karena ingin meminta maaf padanya atas kejadian beberapa waktu yang lalu, kau bisa meminta maaf kepada Rana melalui telepon kan?"


Windy Mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, maafkan aku yang sudah datang mengganggumu."


"Tidak masalah, dan maafkan aku juga karena tidak bisa mengantarmu untuk menemui Rana. Windy boleh aku bicara sesuatu padamu?"


Windy mengangguk.


"Tentu katakanlah apa yang ingin kau katakan."


"Sebelumnya aku meminta maaf karena aku harus mengatakan ini, aku tidak bermaksud untuk membela atau menyinggung siapapun tapi aku benar-benar harus mengatakan ini agar tidak terjadi salah paham antara kau Seno dan Rana."


Windy menatap Aurel dengan penuh tanya.


"Apa maksudmu, Aurel? apa kau juga berpikir bahwa aku akan merusak hubungan mereka berdua?"


"Tidak, Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku tahu kau adalah wanita baik dan tulus tidak mungkin kau melakukan hal seperti itu. Tapi alangkah baiknya juga jika kau mendengarkan apa yang dikatakan Seno karena aku pikir itu juga sesuatu yang baik, jauhilah Rana dan Seno."


Windy, merasa tersinggung dengan kata-kata yang di ucapkan Aurel.


"Aurel, aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan mereka, tidak lebih dari itu kau jangan salah paham."


"Maafkan aku Windy, tapi aku sangat yakin jika kamu pun mengerti kenapa aku memintamu untuk menjauh mereka."


Di saat yang bersamaan.


Dika datang dengan mobil warna putihnya.


Dia terkejut dengan kehadiran Windy di rumah wanita pujaannya.


Menyadari kedatangan Dika. Windy dan Aurel menghentikan pembicaraan mereka.


"Dokter Windy! kau ada di sini? angin apa yang membawamu sampai ke sini?"tanya Dika setelah dia berdiri di tengah-tengah Aurel dan Windy.


"Tidak, aku hanya ingin bertemu saja dengan Aurel, apa kau akan pergi dengan Aurel?"tanya Windy mengalihkan, agar Dika tidak terus bertanya padanya.


"Iya, aku akan pergi makan malam bersama Aurel, kau jangan ikut ya. Karena kami hanya pergi berdua,"ujar Dika. Sambil tersenyum melirik Aurel.


Windy tertawa kecil.


"Tentu saja tidak, aku tidak akan menggangu kalian. Kalau begitu aku permisi. Selamat menikmati makan malam kalian."Pamit Windy.


"Terima kasih Windy, berhati-hatilah di jalan."


Bersambung..


šŸāœØāœØāœØāœØāœØšŸ


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini šŸ™


Mohon dukungannya šŸ¤—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini šŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2