
Selamat, membaca š¤
āØšššāØ
Rana menundukkan kepalanya di saat Seno melirik ke arahnya.
Seno menekan tombol merah di layar ponselnya. Ya, dia memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan dari seseorang yang dia kenal, dan dia juga langsung memblokir nomor itu agar tidak kembali menghubunginya.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya Mas? bagaimana kalau itu penting?"
"Tidak ada yang jauh lebih penting dari kebersamaan kita,"sahut Seno dan kembali duduk di sebelah istrinya.
"Dia Windy, kan?"tanya Rana.
Dan Seno mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Kenapa kau tidak mengangkatnya terlebih dahulu mungkin saja ada sesuatu yang penting yang ingin dia katakan atau tanyakan padamu."
"Apapun yang ingin dia katakan dan sampaikan padaku, itu sudah sangat tidak penting bagiku."
"Bagaimana kalau dia membutuhkan bantuanmu mengingat kaulah anggota tim penyelamat."
"Jika dia membutuhkan bantuanku dia bisa menghubungi kantor secara langsung kenapa harus menghubungiku, lagi pula dia menghubungiku ke nomor pribadiku bukan nomor kerja, tunggu!"Tiba-tiba Seno menyadari sesuatu," Dari mana dia mendapatkan nomor ponselku yang satu ini, apa ada seseorang yang memberikannya." Kata Seno sambil berfikir.
"Sudah Mas, tidak usah memikirkan itu mungkin saja Windy salah menghubungi orang."Ujar Rana yang, mencoba untuk tidak membahas soal Windy, padahal hatinya sangat penasaran.
Dan Seno pun mengangguk, karena dia pikir itu memang tidak terlalu penting, tapi dia tetap harus mencari tahu dari mana Windy mendapatkan nomor pribadinya.
***
Baru saja beberapa menit berlalu, nomor yang sama dengan foto profil yang sama juga, kembali menghubungi Seno namun kali ini di ponsel kerjanya.
Seno yang merasa sangat kesal ingin kembali memblokir nomor itu namun Rana melarangnya dan meminta lelaki itu untuk menjawabnya.
Rana penasaran apa yang membuat Windy menghubungi Seno di malam seperti ini, dan sudah puluhan kali juga Windy melakukan panggilan meskipun tidak ada satupun yang Seno jawab.
Dengan berat hati dan tidak ikhlas, Seno menjawab panggilan dari seseorang yang tidak ia duga dan harapkan itu.
"Halo, dengan tim SAR di sini, ada yang bisa saya bantu."Ucap Seno, ketika dia menjawab panggilan dari nomor yang di duga Windy.
("Halo Seno! ini benar kau kan.") Nada suara tergesa-gesa dan penuh kepanikan terdengar dari seberang sana.
"Tante Winda," Seno yang mengenali suara itu.
Ternyata yang menghubunginya Winda bukanlah Windy, Winda menghubungi Seno menggunakan nomor ponsel Windy.
"Ada apa? katakan ada kedaruratan apa?"tanya Seno yang tidak ingin berbasa-basi.
("Seno, tolong Windy Seno, Windy tiba-tiba menghilang dari kamarnya, dia hanya meninggalkan ponselnya saja tapi Tante tidak tahu dia pergi ke mana selarut ini. Tolong tante Seno. Tolong bantu Tante untuk mencari Windy")
"Jadi Tante ingin melapor soal orang hilang? Kalau begitu, Tante bisa menghubungi posisi saja."
__ADS_1
("Seno, kau tidak boleh seperti ini, bukankah kau juga sebagai Tim pencari. Kenapa kau bersikap tidak peduli seperti ini ketika seseorang membutuhkan pertolongan dan bantuanmu.")Winda sedikit marah.
"Aku sarankan, Tante menghubungi polisi terlebih dahulu dan membuat laporan, jika anak Tante itu benar-benar menghilang. Jangan langsung menghubungi pihak lain. Aku rasa Tante Winda sangat mengerti soal ini."
Tanpa ingin bicara lama-lama dengan Winda, Seno segera memutuskan panggilan Winda setelah ia menyarankan agar wanita itu melapor pada polisi terlebih dahulu.
"Mas, kenapa kau seperti itu? tante Winda sedang membutuhkan pertolongan, Windy hilang di larut malam seperti ini."Ujar, Rana yang mendengar semua percakapan antara Seno dan Winda, karena Seno membesarkan Volume di ponselnya.
"Aku sudah menyuruhnya untuk menghubungi polisi dan membuat laporan kan, karena memang seharusnya itu yang dia lakukan bukan malah menghubungiku seperti ini dan tiba-tiba memintaku untuk mencari anaknya, bukankah itu aneh."
Rana juga merasakan keanehan, kenapa Winda, malah menghubungi Seno ketika Windy hilang bukannya menghubungi polisi. Tapi tetap saja Rana merasa khawatir jika apa yang dikatakan Winda itu benar bahwa Windy tiba-tiba menghilang di malam hari seperti ini.
Melihat kegelisahan Rana dan Seno sangat paham jika istrinya ini memang memiliki kepekaan dan belas kasihan yang dalam pada orang lain. Dia pun memutuskan untuk menghubungi Dika dan meminta lelaki itu untuk mencari tahu apakah benar-benar Windy hilang dan meminta Dika untuk menghubungi Winda secara langsung agar wanita itu membuat laporan pada polisi.
"Aku sudah meminta Dika untuk mengurus semuanya, apa kau sudah merasa lega?"tanya Seno.
Rana mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita tidur, ini sudah larut."
Seno, membantu Rana untuk berbaring di atas ranjang dan dia pun ikut berbaring di sebelahnya sambil kembali memeluk istrinya. Akhirnya Seno bisa merasakan lega, karena Rana tidak merajuk di waktu yang lama hingga malam ini dia bisa memeluk istrinya.
āØššššāØ
Keesokan harinya.
Berita menghilangnya Windy, dengan cepat tersebar hanya dalam waktu semalam. Ternyata benar yang dikatakan Winda, tiba-tiba putrinya itu menghilang dari kamarnya. Winda tidak tahu Windy pergi ke mana, tanpa pamit pada orang tuanya di malam hari bahkan ia meninggalkan ponselnya.
"Ibu Winda tenang saja, kami akan segera melakukan pencarian kepada anak ibu jika sudah memasuki waktu satu kali 24 jam terhitung sejak anak Ibu tidak terlihat di Rumah."Ujar salah seorang polisi yang menerima laporan Winda.
"Kenapa lama sekali? kenapa harus menunggu waktu selama itu, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anak saya? apa kalian mau bertanggung jawab?"marah Winda.
"Tenanglah, Bu."
"Kenapa sejak tadi kalian hanya meminta saya untuk tenang dan tenang! anak saya tiba-tiba menghilang dan kalian dengan mudahnya meminta saya untuk tenang!"Winda semakin murka.
"Tante! tenang."Wahyu yang baru saja tiba setelah mendapat kabar bahwa Windy menghilang, dia bergegas ke Kantor Polisi menyusul Winda, dan langsung menenangkan wanita yang sedang emosi luar biasa itu.
"Ini semua gara-gara Seno, Wahyu. Semalam Tante, menghubunginya sampai puluhan kali, tapi dia tidak menjawab dan malah mengabaikan panggilan Tante, ini pasti karena Rana yang melarangnya untuk membantu Tante. Gadis itu benar-benar bermuka dua, di depan Windy dia bersikap seperti sahabat terbaik, tapi di belakang Windy dia seperti penjahat yang tidak punya perasaan."Histeris Winda dengan meracau.
"Tenang. Tante, jangan berteriak-teriak di depan umum seperti ini, belum tentu Rana bersalah , mungkin saja Seno yang benar-benar tidak ingin membantu Tante Winda untuk mencari Windy."Ucap Wahyu, berbisik.
"Maaf Pak, sebaiknya Anda bawa Tante Anda keluar dari kantor. Karena beliau mengganggu ketenangan di sini, Anda jangan khawatir, setelah satu kali 24 jam, kami akan segera melakukan pencarian pada saudari Windy."Ujar salah satu polisi kepada Wahyu.
"Baik pak, terima kasih dan mohon maaf jika tante Saya sudah membuat kegaduhan di sini."
"Tidak masalah, kami mengerti perasaan Ibu Winda saat ini."
**
Wahyu segera membawa Winda masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Windy, Di mana kamu Nak. Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa pamit kepada Mama, apa yang sebenarnya terjadi."Winda kembali Meracau.
"Tante , apa yang sebenarnya terjadi? apa ada sesuatu yang mencurigakan sebelum Windy menghilang, atau mungkin Windy hanya pergi ke suatu tempat dan dia lupa berpamitan pada tante."Ujar Wahyu, mengutarakan dugaannya .
"Tidak mungkin Wahyu, jika Windy pergi di malam hari seperti itu dia pasti berpamitan dengan Tante dan tidak mungkin jika dia meninggalkan ponselnya di dalam kamar."
"Tapi aku sudah ke Rumah Tante dan memeriksa seluruh kamar Windy, tidak ada tanda-tanda kerusakan di kamar itu yang menandakan ada seseorang datang di Rumah Tante, dan di pintu utama dan yang lainya pun tidak ada kerusakan. Aku rasa Windy pergi dari Rumah atas kemauannya sendiri, mungkin saja dia pergi ke Rumah temannya."
"Wahyu, kau tahu sendiri jika Windy tidak memiliki teman di kota ini. Semenjak kejadian 6 tahun yang lalu di menutup diri dari yang namanya teman, dia trauma memiliki teman dan sahabat, hanya Rana satu-satunya orang yang dianggap teman tapi Gadis itu malah mengkhianati Windy."Sahut Winda, menepis dugaan Wahyu
"Kenapa Tante terus-terusan menyalahkan Rana,"ujar Wahyu, yang tidak terima karena sejak tadi Winda selalu menyudutkan Rana bentar.
"Ini semua memang salah wanita itu Wahyu, jika saja wanita itu tidak hadir di antara Seno dan Windy. Mungkin saat ini Windy sudah bahagia tanpa harus hidup tertekan penuh dengan sejuta ketakutan karena masa lalunya yang buruk."
"Sudahlah Tante, lebih baik Tante pulang dan beristirahat di Rumah, biar aku yang mengurus semua ini. Sambil menunggu polisi melakukan pencarian aku yang akan mencari Windy."
Winda mengangguk menuruti permintaan Wahyu dan Wahyu pun segera membawa wanita itu pulang ke rumahnya.
āØš
Seno yang sedang melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit mendapat kabar dari Dika, bahwa Windy benar-benar menghilang.
Meskipun sedikit tidak percaya jika wanita itu tiba-tiba menghilang, tapi Seno tetap merasa prihatin.
"Jadi Windy benar-benar menghilang Mas?"tanya Rana.
"Yang aku dengar seperti itu, tapi entah kenapa aku tidak percaya jika wanita itu menghilang. Dia sudah besar mana mungkin tiba-tiba menghilang dari Rumah dia pasti pergi dengan sendiri kan."
Rana juga sedikit heran dengan berita Windy menghilang, kalau memang dia pergi dengan kemauannya sendiri, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dipikirkan Windy sampai ia memutuskan untuk menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak dan berpamitan kepada orang tuanya.
"Tapi, dimana Windy."
"Sudahlah, itu bukan urusan kita. Jadi kita tidak perlu membuang-buang energi untuk memikirkan mereka."Ujar Seno yang tetap terlihat masa bodoh dengan kabar apapun yang menyangkut mantan kekasihnya itu.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan pada dokter Ardi, Seno bergegas kembali ke kantor SAR dan meninggalkan Rana di rumah sakit itu karena mereka sama-sama harus menjalankan tugas masing-masing.
Berbeda dengan Seno yang terlihat masa bodo dan tidak mau peduli dengan berita apapun tentang Windy, Rana justru merasa penasaran dan khawatir dengan wanita itu. Biar bagaimanapun juga Windy adalah temannya tentu saja dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada gadis itu.
Rana memutuskan untuk menghubungi Aurel, siapa tau Aurel bisa membantu mencari tahu keberadaan Windy saat y
Bersambung...
šāØāØāØāØāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini š
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1