
Selamat! Membaca š¤
šāØšāØšāØš
"Aurel, apa ada sesuatu yang kau tahu tentang mereka berdua?"tanya Rana kembali, karena sesungguhnya Ia pun sangat penasaran dengan tatapan Windy yang tak biasa pada Seno, ia yakin ada sesuatu di antara mereka berdua.
"Rana, Windy adalah! Wanita masa lalu Seno."
"Maksudmu?"
"Windy, mantan kekasih Seno."
"Apa!"Rana benar-benar terkejut. Benar apa yang pepatah istilahkan, bahwa dunia ini memang hanya selebar daun kelor. Setelah sekian tahun Rana bersembunyi untuk melupakan semua masa lalunya kini takdir kembali menyeretnya ke masa itu bahkan ia pun harus terlibat oleh seseorang dari masa lalu suaminya.
"Rana, kau kenapa? ingat pesanku untuk jangan terpengaruh oleh apapun, mereka berdua hanyalah masa lalu dan Windy pun sudah melupakan semuanya begitu juga dengan Seno."Kata Aurel.
"Tapi sepertinya Windy belum melupakan Mas Seno, aku bisa tahu dari tatapan matanya. Aku sungguh tidak menyangka jika harus bertemu dengan Windy yang ternyata wanita yang pernah di cintai Mas Seno. Tapi Windy gadis yang baik aku tahu itu dia seseorang yang sangat tulus. Lalu kenapa mereka berpisah, bukankah Windy wanita yang sangat sempurna."
"Karena itu sudah takdir,"sahut Aurel.
Rana terdiam untuk beberapa saat.
"Rana!"Panggil Aurel yang merasa khawatir karena melihat Rana melamun,"Kau baik-baik saja kan?"
"Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir. Semua orang pasti memiliki masa lalunya sendiri."Sahut Rana dengan bijak.
"Jadi kau tidak mempermasalahkan jika Windy adalah mantan kekasih Seno?"
"Untuk apa aku mempermasalahkannya?"
"Ah kau benar juga, yang namanya masa lalu biarlah menjadi masa lalu."Aurel tersenyum lega karena Rana benar-benar tidak mempermasalahkan dengan status Windy yang sebagai mantan kekasih Seno, sebelumnya Aurel merasa khawatir akan hal ini.
****
Setelah memastikan keadaan sahabatnya baik-baik saja, Aurel berpamitan dari sana.
Dan saat ini Rana tengah duduk bersama Sarah dan Bima.
"Rana, kakak minta padamu untuk tidak terpengaruh oleh Seno. Kamu sudah mengambil keputusan bahwa kau akan berpisah dengan lelaki itu, sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari Seno, sekali ia pernah melakukan kesalahan pasti seterusnya ia akan berbuat seperti itu. Lupakanlah Seno dan jangan pernah menerimanya kembali dalam hidupmu."
Sepertinya Sarah benar-benar tidak akan pernah merestui hubungan Rana dan Seno.
Dan Rana memilih diam, ketika kakaknya itu membujuk dan meyakinkan dia untuk tidak lagi kembali kepada Seno.
__ADS_1
"Rana, pikirkan perasaan ibu dan ayah. Mereka pasti sangat kecewa kepadamu jika kau memberi kesempatan kepada lelaki itu, dan lihatlah dokter Vir. Selama bertahun-tahun dia menemani dan juga menunggumu. Apa kau akan mencampakkannya begitu saja?"Kata Sarah, memberi peringatan tegas kepada adiknya.
Rana menatap lekat Sarah.
"Kak, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk hidupku."
"Kakak tahu Rana, kau pasti bisa memilih apa yang terbaik untuk hidupmu. Kakak hanya mengingatkanmu untuk jangan salah memilih keputusan, jujur saja Kakak lebih mendukungmu jika kau tetap berada di keputusan awalmu yang ingin bercerai dengan Seno, tapi jika kau ingin kembali pada Seno. Maafkan kakak, karena kakak tidak akan pernah mendukungnya, kakak tidak akan pernah membiarkan lelaki yang sudah menyakiti dan merusak hidupmu kembali begitu saja."
"Tapi, Seno sudah menyesali semuanya. Apa salahnya jika kita memberi kesempatan satu kali lagi untuk Seno membuktikan bahwa ia benar-benar menyesal, dan dia juga sudah berjanji akan menghargai serta mencintai Rana. Lagi pula ini semua bukan sepenuhnya salah Seno, jika seandainya dulu kita memberitahu Rana apa yang terjadi pada Seno mungkin semua tidak akan seperti ini."Sahut Bima.
Namun sahutan dari Bima tidak diterima oleh Sarah. Ia akan tetap pada keyakinan dan pendiriannya untuk menolak Seno kembali dalam kehidupan adiknya.
"Kenapa kau jadi mendukung Seno seperti ini Mas Bima? Apa kau tidak tahu apa yang dulu laki-laki itu lakukan kepada adikku?"Marah Sarah.
"Aku tahu, tapi Seno sudah menyesali itu semua. Dan seperti apa yang aku katakan tadi bahwa ini semua bukan sepenuhnya salah Seno, kita pun salah Sarah, karena telah menyembunyikan kebenaran dari mereka berdua yang mungkin saja saat itu hubungan Seno dan Rana bisa diperbaiki lebih cepat, tidak harus menunggu sampai bertahun-tahun seperti ini dan menimbulkan kesalahpahaman serta kebencian di antara mereka berdua."
"Jadi sekarang kau menyalahkan aku, Mas Bima?"Sarah semakin tidak terima.
"Bukan seperti itu. Tapi....!"
"Aku permisi, lanjutkan lah perdebatan kalian jika kalian masih ingin berdebat. Aku ingin istirahat,"Rana memotong perdebatan suami istri itu. Dan ia segera berlalu menuju ke kamarnya.
"Rana! Kakak belum selesai bicara dengan mu."Panggil Sarah.
******
Di dalam kamar.
Rana tengah termenung, begitu banyak pertanyaan dan kekhawatiran yang menari-nari di kepala dan hatinya.
Windy! ketika Rana mengingat nama gadis itu, ia kembali diingatkan dengan kejadian kemarin di saat Windy tengah berkomunikasi dengan Seno, sangat terlihat dari kedua bola mata Gadis itu bahwa ia sangat mencintai Seno. Namun tidak dengan Seno yang justru sebaliknya, terlihat tidak peduli kepada Windy. Dan hal ini membuat Rana bertanya-tanya, apa yang menyebabkan keduanya berpisah.
Ting!
Di saat Rana tengah menerka-nerka apa yang membuat dia penasaran, satu pesan masuk ke dalam ponselnya.
Nomor asing. Itulah yang pertama Rana lihat dari layar ponselnya. Tapi karena penasaran Rana pun membuka isi pesan dari kontak yang tidak ia kenal tersebut.
(Rana, maafkan aku. Sepertinya aku baru bisa menjemputmu siang, karena pagi hari aku harus mengantar ibu ke rumah sakit. Tapi setelah aku mengantar Ibu aku akan segera menjemputmu,) dan ternyata Pesan itu dari Seno.
"Dari mana Mas Seno, tahu nomor ponselku? aku merasa tidak pernah memberikannya."Gumam Rana.
Karena khawatir dengan Lina, yang ingin diantar ke Rumah Sakit, Rana tidak menggubris dari mana Seno mendapatkan nomor ponselnya. Karena ia lebih memilih untuk cepat membalas pesan Seno guna menanyakan keadaan Lina.
__ADS_1
(Ibu jatuh di kamar mandi, dan sepertinya kakinya terkilir, tapi Ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit malam ini. Ibu memintanya besok pagi) balas Seno kembali, setelah Rana membalas pesan pertamanya.
(Baik Mas. Temani saja ibu, kau tidak usah menjemput).
(Tidak. Besok siang aku akan tetap menjemputmu)
Pesan di tutup dengan Seno yang ingin tetep menjemput Rana besok.
šāØšāØšāØš
Keesokan harinya.
Seno mengantarkan Lina ke rumah sakit. Dan ternyata Dokter menyarankan Lina agar di rawat selama beberapa hari kedepan.
"Bu, aku pulang dulu untuk mengambil beberapa baju ganti untuk ibu."Pamit Seno.
"Iya Nak, berhati-hatilah di jalan. Jika kau ingin menjemput Rana, jemput lah dulu dan jika kau ingin berangkat ke Kota XXX pergilah, ibu tidak apa-apa kau jangan khawatir ada Rana kan yang menemani ibu kan?"
Seno terdiam. Sebenarnya ia tidak tega jika harus meninggalkan Lina sendiri di rumah sakit. Tapi tidak ada pilihan lain, ia sudah bersumpah untuk mengutamakan tugasnya sebagai seorang penyelamat dari urusan pribadinya. Dan sore nanti Seno akan tetap berangkat bersama Timnya.
"Iya, aku akan meminta Rana untuk menemani ibu selama aku pergi."
Lina mengangguk seraya mengulas senyum.
Setelah Seno berlalu. Lina memutuskan untuk mengirim pesan kepada menantu kesayangannya itu, ia sangat bahagia ketika mendengar cerita dari Seno bahwa mereka sudah menghabiskan waktu bersama dan siang nanti Seno akan menjemput Rana untuk kembali pulang ke rumahnya.
šāØ
Sementara di tempat lain. Seno memilih untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu guna mengambil beberapa baju Lina yang tersimpan di rumahnya. Setelah itu dia berniat menjemput Rana dan kembali ke rumah sakit.
***
Setelah selesai dengan urusannya di rumah, Seno bersiap untuk kembali keluar, dia sudah tidak sabar ingin menjemput istrinya. Namun baru saja Seno menapakkan kaki keluar pintu ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang senaja datang ke rumahnya.
Selamat! Membaca š¤
āØšāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š¤
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø