
Selamat! Membaca š¤
āØšāØšāØšāØ
Setelah sekian lama saling diam, akhirnya Seno memilih untuk membuka suaranya terlebih dahulu dengan bertanya.
"Apa aku harus mengantarmu ke rumah Kak Sarah. Atau Aurel? "
Mendengar Seno bertanya pada dirinya, Rana pun mengalihkan wajah yang tengah menatap jalanan dengan memandang Seno.
"Ke rumah Aurel saja."Sahutnya.
"Apa kau lapar?"tanya Seno kembali.
"Tidak!"sahut Rana berbohong, padahal perutnya benar-benar merasa keroncong karena sejak siang ia belum makan apapun.
Melihat Rana yang sepertinya enggan untuk menimpali semua pertanyaannya, membuat Seno menjadi diam tidak berani lagi berucap dan bertanya apapun. Ia fokus berkendara hingga 30 menit kemudian mereka sampai di kediaman Aurel, dari rumah Seno ke rumah Aurel jauh lebih dekat dibanding rumah Sarah, Ini yang membuat Rana memilih untuk pulang ke rumah temannya agar ia bisa segera sampai dan tidak berlama-lama di dalam mobil bersama dengan Seno yang hanya membuatnya kaku dan canggung.
Dengan cepat Seno turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk istrinya, ia juga mengantar Rana sampai depan pintu rumah Aurel.
CKLEK...
Suara pintu terbuka sepertinya Aurel menyadari jika ada yang datang karena suara mobil Seno terparkir tepat di depan rumahnya.
"Rana, Seno!"kejut Aurel, sebenarnya dia terkejut bukan karena kedatangan dua orang ini,tapi ia terkejut karena mereka hampir saja amprok dengan dokter Vir yang baru saja beberapa lalu menit berpamitan.
"Ada apa Rel? Kenapa kau terlihat kaget seperti ini?"tanya Kirana.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut lelaki ini mengantarmu pulang,"sahut Aurel dengan melirik Seno.
Seno hanya diam saja tidak menimpa lirikan dari Aurel.
"Mas, Terima kasih sudah mengantarku ke sini, kau pulanglah Mas, kasihan ibumu di rumah sendirian,"ujar Rana.
"Baiklah! Selamat malam."
Rana hanya mengangguk dan sebelum Seno pergi dari sana ia sudah lebih dulu masuk ke dalam.
"Apa kau sudah menjelaskan apa yang ingin kau jelaskan kepada Rana?"tanya Aurel.
"Sudah."
"Baiklah, setidaknya kau sudah memberi penjelasan kepada Rana. Biarkan ia berpikir dan tenang, jika memang kalian masih berjodoh tentu kalian akan bisa bersama kembali. Jika kalian berpisah itu tandanya jodoh kalian memang hanya sampai di sini."
"Tapi aku akan tetap berusaha mempertahankan semuanya."Yakin Seno.
"Tidak masalah jika kau ingin terus berjuang, lakukanlah. Kalau begitu, saya permisi masuk. Silahkan kau kembali ke rumahmu, terima kasih sudah mengantarkan Rana pulang ke sini."Ujar Aurel, yang secara tidak langsung mengusir Seno.
Seno mengangguk dan ia pun pergi dari sana.
***
Setelah memastikan Seno benar-benar menghilang, Aurel menutup pintu dan ia segera berlari menghampiri Rana yang tengah berkutat di dapur.
"Rana, apa yang kau lakukan?"
"Aku lapar."
"Pulang dari sana kau terlihat kelaparan sekali, apa Seno tidak menawari mu makan?"
"Aku yang tidak mau. Sudahlah jangan bahas Mas Seno lagi."Sahut, Rana yang tengah memasak mie rebus.
"Baiklah, aku juga sudah tidak mau membahas tentang suamimu itu karena ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus kau ketahui saat ini juga,"kata Aurel dengan menggebu-gebu.
"Ada apa?"sahut Rana yang masih fokus dengan mie yang baru saja ia tuang ke dalam mangkok.
"Dokter Vir tadi datang ke sini."
"Aaaww... Panas!"pekik Rana, ketika kuah mie yang masih mengebul tumpah ke tangannya karena guncangan tangan akibat rasa terkejut.
"Ada apa? apa itu panas?"tanya Aurel.
__ADS_1
"Tidak! apa katamu tadi? dokter Vir datang ke sini?"tanya Rana, dengan serius setelah ia meletakkan mie di atas meja, rasa panas di tangan sudah tidak ia indahkan lagi. Karena ia lebih penasaran dengan kata-kata Aurel yang mengatakan Vir datang ke rumahnya.
"Iya."
"Dari mana dia tahu alamat rumahmu?"
"Dari Kak Sarah. Karena sebelum datang ke sini lelaki itu lebih dulu mendatangi rumah kakakmu setelah Ia mendapat kabar jika kau berada di kota ini."
"Apa dia mencari ku?"
"Tentu saja! mana mungkin dia datang ke sini untuk mencari ku, kau ini bagaimana."Sahut Aurel.
"Lalu, apa yang kau katakan padanya?"
Dan Aurel pun menjelaskan kepada Rana.
***
"Lelaki itu memang terlihat sangat baik dan tulus padamu Ran, apa kau tidak ingin membuka hatimu untuk Vir?"
"Entahlah! aku sendiri tidak tahu apakah aku harus membuka hatiku untuk Vir atau tidak, tapi yang jelas, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya selain sebagai seorang teman."
"Tapi dia mengatakan padaku, jika ia akan menunggumu sampai kapanpun."
Rana terdiam ia semakin dibuat bimbang dengan keadaan ini, sebenarnya ia sudah menolak Vir secara baik-baik, dan meminta lelaki itu untuk mencari wanita yang jauh lebih pantas, untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun seperti apa yang dikatakan Aurel, lelaki itu bertekad untuk menunggu Rana sampai kapanpun.
"Sudahlah! kau jangan memikirkan itu, nikmati saja hidup ini dengan mengalir apa adanya, jika kau memang tidak menyukai Vir Jangan pernah memaksakan diri untuk menyukainya."
Rana mengangguk.
Dan Aurel kembali bertanya.
"Lalu bagaimana dengan Seno? apa dia mengabulkan permintaanmu?"
Rana menggeleng.
"Apa kau tidak ingin memberi Seno kesempatan satu kali lagi?"
"Aku tidak mau memberi harapan kepada siapapun, karena sesungguhnya aku lebih nyaman hidup sendiri."
"Aku mengerti."
"Ya sudah, kita jangan lagi membahas dua lelaki itu."
"Sejak tadi kau yang membahasnya bukan."
Aurel hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu ia melirik mie yang masih berada di dalam mangkok yang belum disentuh oleh Rana sedikitpun.
"Rana, sepertinya mie itu sangat enak?"
"Benar."Sahut Rana.
"Bukankah kau bilang tidak boleh sering-sering mengkonsumsi mie instan?"
"Benar!"
"Dan bukankah baru beberapa hari yang lalu kau makan mie instan?"
"Benar!"
"Astaga Rana, kau selalu mengingatkan aku untuk tidak sering-sering mengkonsumsi makanan instan. Tapi kau sendiri sering mengkonsumsinya, bahkan belum ada 1 minggu yang lalu kau mengkonsumsinya, dan sekarang kau sudah mau memakannya lagi."Kata Aurel, dengan volume suara yang ia tinggikan.
"Lalu bagaimana dengan mie yang sudah ku buat ini?"
"Biar aku saja yang memakannya, karena terakhir kali aku makan mie instan sekitar 6 minggu yang lalu."Ujar Aurel penuh harap.
"Lalu aku? di kulkas tidak ada makanan yang bisa aku makan Rel, sedangkan aku sangat lapar!"
"Tenang! Aku akan memesan makanan online untukmu."Dengan cepat Aurel membuka ponselnya ingin memesan makanan siap saji di sebuah aplikasi yang tersedia di ponselnya.
Tapi sebelum ia melakukan itu pintu rumah sudah ada yang mengetuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Siapa yang datang?"tanya Rana dengan khawatir.
"Kau tunggu di sini aku akan melihatnya."
***
Beberapa detik kemudian, Aurel kembali masuk ke dalam dengan menenteng sebuah plastik berwarna putih dan ia meletakkannya di atas meja makan.
"Apa itu?"tanya Rana seraya melihat bungkusan yang baru saja Aurel bawah.
"Makanan."
"Cepat sekali! belum ada 5 menit kau memesan, tapi makanan sudah datang."
"Ini bukan aku yang memesannya."
"Lalu, siapa?"
"Seno, suamimu. Dia menyuruh Abang ojol datang ke sini untuk mengantarkan makanan ini padamu dilengkapi dengan pesan yang mengatakan, jika kau belum makan sejak siang tadi. Sepertinya lelaki itu sangat tahu jika kau tengah kelaparan sehingga dia memesan makanan sebanyak ini dan mengantarkannya ke sini."Jelas Aurel.
"Lebih baik kau yang habiskan makanan itu, biar aku yang memakan mie rebus ini."Sahut Rana dengan menarik kembali mangkok yang sebelumnya sudah berada di depan Aurel.
"Tidak bisa!"dengan cepat Aurel kembali merebut semangkok mie rebus yang sudah dingin itu,"kau tidak boleh sering-sering makan mie instan, lihatlah suamimu sudah membawakan makanan sehat yang begitu banyak. Kamu harus memakan ini."Sambungnya.
Rana pun mengalah dengan Aurel yang begitu bernafsu dengan mie instan dan ia lebih memilih untuk memakan makanan yang Seno belikan.
šāØšāØšāØš
Keesokan harinya.
"Rana, kau sudah berjanji padaku untuk menghabiskan waktu bersamaku selama beberapa hari kau ada di sini. Dan ingat! kau harus menepati janjimu itu kepadaku."
"Baiklah."
"Begitu dong, sekarang lebih baik kau bersiap-siap karena kita akan pergi ke tempat yang sering dulu kita kunjungi di saat kau belum menikah."
Dan tidak membutuhkan waktu lama, setelah mereka berdua bersiap-siap Aurel pun tancap gas menuju ke lokasi yang menjadi favorit mereka berdua beberapa tahun yang lalu.
Alun-alun kota. Inilah tempat favorit mereka berdua kala itu.
Rana dan Aurel seperti mengulang kembali masa-masa indah mereka berdua sebelum mengenal yang namanya cinta dan kecewa. Hanya ada teman dan sahabat.
"Rana, aku akan memborong semua jajanan yang ada di sini. Kamu ingat! Dulu kita sampai patungan hanya untuk membeli satu porsi bakso di sini, karena dulu kita harus berhemat dengan uang yang orang tua kita berikan untuk biaya pendidikan dan bekal kita selama satu bulan. Tapi sekarang, aku sudah bekerja, jadi aku bisa mentraktir mu sampai puas."Seru Aurel.
"Waaaah... Sepertinya kau sudah kaya sekarang?"
"Tidak juga, tapi aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku miliki saat ini. Dan sekarang aku akan memborong semua makanan yang pernah dulu kita idam-idamkan tapi tidak kesampaian."
"Baiklah!"Sahut Rana.
Wanita ini benar-benar kalap, dengan membeli semua makanan yang berjejer di gerobak yang berbaris hampir memenuhi alun-alun.
"Aku sangat merindukan cilok ini, setelah sekian tahun ternyata bapak ini masih berjualan di sini."Ujar Aurel yang berdiri di sisi gerobak cilok yang menjadi favorit mereka berdua beberapa tahun silam.
"Apa kau tidak pernah datang ke sini?"tanya Rana.
"Semenjak kau pergi aku sudah tidak pernah lagi menikmati kehidupan yang menyenangkan seperti ini, hari-hariku hanya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja. Karena aku hanya nyaman pergi denganmu dan bersenang-senang seperti ini, meskipun kita terlihat seperti anak kecil. Tapi aku tidak perduli yang penting aku bahagia, tapi sejak Kau pergi aku menjadi kesepian dan tidak memiliki teman."
Rana terdiam, saat itu ia memang meninggalkan semua yang ada di sini dengan begitu saja. Dia merasa bersalah pada sahabat yang sudah sejak dulu menemaninya dalam suka dan duka. Aurel sahabat terbaik, dia satu-satunya teman Rana saat bersekolah. Rana pindah ke kota ketika ia duduk di bangku SMA. dan hanya Aurel lah yang mau berteman dengan Rana, karena siswa-siswi di sana menolak berteman dengan Rana karena status sosial mereka yang jauh berbeda.
"Rana!"
Ketika Rana tengah merenung mengingat masa lalunya dengan Aurel, suara seseorang yang menyebut namanya, membuat Rana terkejut.
Bersambung..
šāØšāØšāØš
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya ya š¤
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø