
Selamat! Membaca š¤
šāØāØāØš
Setelah mendengar cerita dari kedua pihak, Kartika dan Ridwan diam. Mereka tidak langsung merespon dan berucap apapun. Tapi mereka sungguh sangat prihatin atas apa yang terjadi pada Seno dulu.
"Jadi, pak Feri sudah berpulang?"tanya Ridwan dengan nada sedih.
"Benar Yah, ayah Feri sudah berpulang beberapa bulan setelah aku pergi."
"Saat itu, mereka pasti sangat berduka,"sahut Kartika. Lalu dia melirik ke arah Sarah.
"Sarah, kenapa kamu tidak mengatakan kabar ini pada kami?
Sarah tertunduk, diapun merasa bersalah akan hal ini."Maaf Bu, yah. Aku melakukan ini karena terpaksa, saat itu Rana dalam kondisi tidak baik-baik saja kan, aku berpikir akan semakin menyulitkan Rana untuk melupakan Seno jika dia kembali di libatkan dengan keluarga Seno."
"Tapi, apakah kamu harus menjadi kejam seperti ini!"Kartika sedikit marah,"Biar bagaimanapun juga Rana masih istri Seno, jika kamu melakukan hal seperti ini sama saja kamu menjerumuskan adikmu untuk menjadi istri yang tidak bertanggung jawab,"sambung Kartika, masih dengan nada marah.
Sarah tidak lagi menjawab, dia merasa salah tapi saat itu di punya alasan.
"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Di ributkan pun tidak akan mengembalikan keadaan, yang berlalu biarlah berlalu,"sahut Ridwan. Lalu dia beralih pada putri bungsunya.
"Rana, sekarang kamu sudah tahu kebenarannya. Ayah serahkan semuanya kepadamu. Apapun keputusan yang kamu ambil ayah akan mendukungnya."
Rana mengangguk.
"Terima kasih Yah."
"Tapi aku tetep tidak setuju jika Rana kembali pada Seno, seseorang yang sudah pernah melakukan kesalahan lalu di maafkan, dia akan mengulanginya lagi. Kamu jangan tertipu dengan Seno, Rana. Dia tidak pernah menghargaimu. Dan kata-kata cinta yang dia ucapkan itu hanya palsu, agar dirimu luluh dan kembali padanya, tapi Seno akan memperlakukan mu seperti dulu. Lebih baik lupakan Seno. Lihatlah Vir, dia sangat tulus padamu, kakak yakin dia akan menjadi pasangan yang terbaik dan selalu menghargai dan menyayangimu."
Semua terdiam. Baik Rana dan orang tuanya tidak ada yang menimpali ucapan Sarah.
Dan Sarah kembali bersuara namun kali ini dia tunjukkan pada Kartika.
"Ibu, aku yakin ibu pasti masih sangat marah dan membenci Seno kan! Ibu tidak mungkin memaafkan dan menerima lelaki itu kembali di keluarga kita?"
"Ibu belum bertemu Seno, jadi ibu masih belum bisa menilai jika dia bersungguh-sungguh atau tidak. Tapi, jika Seno memang sudah tidak perduli dan tidak mencintai Rana kenapa dia tidak menceraikan saja Rana, kenapa dia lebih memilih untuk mempertahankan Rana sampai saat ini?"
"Itu karena lelaki itu egois, dia dengan senaja menggantung status Rana. Karena dia jahat!"Sahut Sarah dengan berapi-api. Dia sangat bernafsu sekali untuk mengolok dan memaki Seno.
"Sudah, Sarah. Kamu jangan seperti ini,"Bima yang bertindak menenangkan istrinya.
"Biar, Mas. Aku ingin menyadarkan mereka semua terutama Rana."
"Sudah tidak ada yang perlu disadarkan. Rana tau apa yang harus dia lakukan, dan itu pasti yang terbaik untuknya. Lebih baik kau beristirahat, kamu pasti lelah karena menempuh perjalanan panjang."Ujar Bima. Dan dia segera menuntun Sarah menunju Kamar.
Rana menghela nafas panjang.
***
"Rana, kamu juga istirahatlah, seharian kamu bekerja pasti lelah,"ujar Ridwan pada Rana.
"Baik yah, aku permisi ke kamar."
Ridwan mengangguk dan Rana masuk kedalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar orang tuanya.
**
__ADS_1
Aurel sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau ikut dalam perdebatan keluarga Rana.
Setelah Rana masuk dan duduk di sebelahnya. Aurel berkata.
"Sepertinya Kakakmu benar-benar membenci Seno."
"Sepertinya begitu."Sahut Rana.
"Kak Sarah juga sepertinya sangat menyukai Vir, hingga dia mendukungnya."Aurel kembali berucap.
"Sudahlah. Aku mandi dulu,"kata Rana, yang kembali bangun.
"Ya, mandilah tidak ada yang melarang mu."
šāØšāØ
Keesokan harinya.
Di kediaman Mayang.
"Ini Nyonya, semua data-data, tentang gadis yang bernama Kirana ada di sini."Ujar seorang Pria berbadan besar, seraya memberikan Map besar kepada Mayang yang tengah duduk dengan anggunnya.
Tanpa merubah posisi anggun yang melekat pada dirinya, Mayang meraih Map berwarna coklat tersebut. Wanita cantik ini membuka Map dan membaca lembar demi lembar kertas putih yang ada di dalam Map tersebut.
Sesekali Mayang terlihat mengulas senyum, ketika membaca di lembar kedua dan ketiga. Tapi ekspresi wajahnya seketika berubah drastis setelah dia sampai di lembar ke 4.
Bak!
Mayang menutup Map tersebut dengan sangat kuat, padahal dia belum membaca semuanya, tapi Mayang sudah lebih dulu terpancing emosi.
"Jadi, wanita itu seorang janda?"Tanya Mayang dengan tatapan nyalang pada Pria yang baru saja memberikan data informasi tentang Rana, yang masih berdiri di hadapannya.
Karena Emosi yang sudah di ubun-ubun, Mayang sudah tidak lagi memperdulikan penampilan yang harus tetap terlihat anggun.
"Cepat! Panggil Vir, suruh dia pulang sekarang juga!"Titah Mayang, dengan nada membentak pada bawahannya.
"Ba.. Baik, Nyonya."
Dengan tergesa-gesa, Pria itu menjauh dari Mayang. Dia melakukan panggilan ke nomor Vir. Dan dengan nada memohon Pria itu meminta Vir untuk segera pulang, padahal Vir baru saja sampai di rumah sakit.
******
Setelah menunggu 20 menit lamanya.
Vir pun sampai, dengan wajah yang super Panik dan sedikit berlari. Vir menghampiri Mayang yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
"Ada apa, Mah? Kenapa tiba-tiba Mamah menyuruhku pulang? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Dan tanpa basa-basi lagi. Dengan menatap tajam ke arah Vir, Mayang bertanya.
"Apakah wanita itu janda? Wanita yang kau pilih itu seorang janda?"
Vir terdiam untuk beberapa saat, dia menyadari soal inilah yang membuat Mayang memintanya untuk segera pulang.
"Benar, Mah."Jawab Vir.
Mayang memijit pelipisnya, mungkin tiba-tiba dia merasa migrain setelah mendengarnya langsung dari Vir.
__ADS_1
"Vir, apa kamu sudah tidak waras! Mau menikahi janda?"
"Memangnya kenapa kalau Rana janda? tidak masalahkan, yang penting aku mencintainya dan aku akan menerima Rana apapun statusnya."
"VIR!"bentak Mayang dengan suara yang menggelegar.
Dia bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Vir.
"Kamu taukan Vir, keluarga kita ini keluarga terhormat?"
"Apa hubungannya Mah, dengan aku menikahi Rana tentu tidak akan membuat keluarga kita menjadi tidak terhormat kan. Kehormatan sebuah keluarga itu bukan di nilai dari. Dengan siapa kita bersanding Mah, tapi di nilai dari sikap dan perilaku kita."Sahut Vir, berharap ibunya mengerti.
"Tidak Vir, apa kata orang nanti, jika putra satu-satunya Keluarga Atmaja. Menikah dengan seorang janda?"Marah Mayang.
"Mamah tidak perlu memperdulikan apa kata orang. Dan....!"
"Tidak Vir,"potong Mayang.
"Tapi Mah."
"Mamah bilang tidak! Ya tidak,Vir. Kamu lihat dirimu di cermin, kamu tampan, berpendidikan tinggi, dari keluarga terhormat. Pasti banyak wanita yang masih gadis, dengan status sosial tinggi dan dari keluarga terhormat yang mau menikah dengan mu. Tidak dengan wanita itu."
Vir menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tidak mah, aku akan tetap memilih Rana apapun yang terjadi."Setelah mengatakan itu. Vir segera pergi dari hadapan Mayang tanpa memperdulikan teriakan dan panggilan ibunya.
"Vir, mamah akan mencari wanita yang tepat untukmu. Lupakan Rana. Lupakan wanita yang sangat tidak pantas untukmu itu Virgoun!"Teriak Mayang, pada Vir yang sudah menjauh dan tidak terlihat lagi.
"Nyonya tenangkan diri Anda."Ujar seorang wanita yang menjadi asisten pribadi Mayang.
"Lakukan apapun, agar Vir tidak bersama wanita itu."Kata Mayang.
"Baik, Nyonya."
****
Di tempat lain.
Seno yang sedang bertugas. Di kejutkan dengan kedatangan Windy. Tenyata Dokter Windy menawarkan diri untuk membantu korban yang ada di lokasi bencana tempat Seno bertugas.
"Seno, bagaimana dengan kabarmu? Oya. Aku tidak bisa menghubungi Rana, apa dia baik-baik saja?"sapa Windy, sekaligus bertanya tentang Rana. Yang sejak pulang dari rumah sakit tidak bisa dia hubungi.
"Baik."Sahut Seno singkat, dan tampa melihat.
"Seno. Aku...!"
"Dokter Windy, jika tidak ada hal yang penting yang ingin Anda tanyakan, saya permisi. Karena ada hal yang lebih penting yang harus saya kerjakan."Potong Seno. Yang tentu saja membuat Windy merasa sedih.
Bersambung..
āØšāØšāØšāØšāØ
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini š
Mohon dukungannya š
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini š
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ā¤ļøā¤ļøā¤ļø